Gadis Biasa Milik CEO Tampan

Gadis Biasa Milik CEO Tampan
Bab 26


__ADS_3

Setelah obrolan panjang semalam, pagi ini keduanya sudah bersiap untuk pergi ke kafe tempat Shanin bekerja, tentu saja dengan niatan yang berbeda, Shanin yang berniat bekerja dan Samuel yang berniat untuk mengambil mobilnya yang terparkir di parkiran kafe semalaman.


Tapi sebelum keduanya benar-benar pergi ke kafe tempat kerja Shanin, mereka berdua mampir terlebih dahulu di pedagang bubur ayam untuk sarapan pagi ini.


"Gak masalah kan kalo kita makan disini?" Tanya Shanin memastikan pada Samuel, takut-takut jika lelaki itu tidak terbiasa dengan tempat seperti ini.


"Tidak masalah."


Jawaban singkat yang diberikan oleh Samuel itu dibalas dengan anggukan kepala oleh Shanin, kemudian perempuan itu jalan terlebih dahulu mendekat ke arah gerobak pedagang bubur ayam tersebut.


"Bang, bubur ayamnya dua ya, yang satu jangan pake kacang sama yang satunya...


"Kamu bubur nya campur aja Sam?" Tanya Shanin kepada Samuel sebelum dirinya melanjutkan perkataannya kepada si pedagang bubur ayam.


"Iya, punya saya campur."


"Oke, berarti yang satunya gak usah pake kacang, terus yang satunya campur aja ya bang." Ucapan Shanin barusan ditunjukkan kepada si penjual bubur ayam tersebut.


Setelah mengatakan pesanannya kepada penjual tadi, Shanin memilih untuk duduk di salah satu kursi yang ada disana sambil menunggu pesanan bubur ayam miliknya jadi.


Sedangkan Samuel masih berdiri tegak di tempat sampai saat ini membuat Shanin kebingungan.


"Ngapain masih disitu? Sini duduknya, berdiri disitu kayak anak ilang aja." Tegur Shanin kepada Samuel yang berdiri beberapa langkah di depannya.


Mendengar panggilan dari Shanin, Samuel langsung melangkahkan kakinya mendekat ke arah perempuan itu dan ikut duduk di kursi yang ada disampingnya.


Untungnya saja pembeli di pagi ini tidak ramai, tidak seperti biasanya ketika Shanin lewat di depan sini saat pagi hari hendak berangkat ke tempat kerja pasti pembeli bubur ayam disini ramai sedang mengantri.


Tidak sampai menghabiskan waktu sepuluh menit, si penjual sudah berjalan ke arah mereka berdua dengan membawa sebuah nampan yang di atasnya terdapat dua buah mangkuk yang berisi bubur ayam pesanan milik Shanin dan Samuel.


"Ini yang tidak pakai kacang dan ini yang campur." Ucap si penjual saat dirinya meletakkan kedua mangkuk ke atas meja sambil memberitahu yang mana saja bubur ayam yang pakai kacang dan tidak.


"Terimakasih pak." Ucap Shanin sambil tersenyum ke arah penjual tadi.


"Dimakan buburnya, gak bakalan abis kalo cuma diliatin kayak gitu." Ucap Shanin saat melihat lelaki yang kini ada dihadapannya hanya menatap bubut ayam yang tersaji di hadapannya.


Samuel hanya berdeham menanggapi perkataan yang dilontarkan oleh Shanin barusan, kemudian lelaki itu mulai menyuapkan bubur ayam tersebut ke mulutnya, begitupun dengan Shanin, perempuan itu melakukan hal serupa.


Keduanya pun fokus pada bubur ayam yang ada di dalam mangkuk masing-masing, tanpa berniat untuk membuka sebuah pembicaraan di tangah kegiatan sarapan pagi ini.


Sampai beberapa menit kemudian, bubur ayam yang ada di mangkuk milik Samuel sudah habis terlebih dahulu, sedangkan milik Shanin tinggal tersisa sedikit lagi..


Melihat bubur ayam milik Samuel yang sudah habis, Shanin mempercepat kegiatan memakan bubur ayamnya agar mereka bisa dengan cepat melanjutkan perjalanan menuju ke kafe tempat Shanin bekerja sebelum kesiangan.


"Udah abis kan? Ayo berangkat sekarang."


Ajak Shanin saat dirinya baru saja selesai menghabiskan bubur ayam yang ada di mangkanya dan langsung beranjak dari kursi yang dia duduki tadi.


Mendengar ajakan dari Shanin, Samuel pun ikut beranjak dan berjalan di belakang perempuan itu yang kini ada di samping penjual tadi, berniat untuk membayar bubur ayam mereka.


"Ini neng kembaliannya." Ucap si penjual sambil menyerahkan uang kembalian pada Shanin.


"Makasih bang."


Setelah mengatakan itu Shanin langsung berjalan ke arah motor miliknya berada dan langsung memakai helm miliknya.


"Mau aku yang bawa atau kamu?" Tanya Shanin kepada Samuel.

__ADS_1


"Saya saja." Jawab Samuel singkat.


Tanpa ingin menunggu lama lagi, Shanin langsung menyerahkan kunci motornya pada lelaki itu dan Samuel pun langsung naik ke atas motor saat dirinya sudah mendapatkan kunci dari Shanin.


Begitupun dengan Shanin yang ikut naik ke atas jok belakang motor itu dan berpegangan pada bahu milik lelaki yang ada di depannya.


"Sudah siap?" Tanya Samuel sebelum dirinya menjalankan motor tersebut.


"Iya udah, ayo jalan."


Mendengar ajakan dari Shanin, Samuel pun langsung menancap gas motor dan melakukannya dengan kecepatan normal menuju ke kafe tempat perempuan itu bekerja.


Tidak sampai menghabiskan waktu selama tiga puluh menit keduanya sudah sampai di tempat parkiran khusus karyawan di depan kafe tempat Shanin bekerja.


Shanin yang ada di jok belakang pun turun terlebih dahulu, kemudian diikuti oleh Samuel yang juga turun dari motor milik perempuan itu setelah memarkirkan motor tersebut dengan benar.


"Saya harus pergi sekarang, takut terlalu siang karena sebelum ke kantor saya harus mencari baju ganti terlebih dahulu." Ucap Samuel sambil menyerahkan kunci motor milik Shanin kepada pemiliknya.


"Iya udah sana."


Setelah mendengar perkataan itu keluar dari mulut Shanin, lelaki itu langsung berjalan ke parkiran sebelah dimana mobil miliknya terparkir disana.


Lelaki itu masih mengenakan baju yang semalam Shanin berikan untuk baju ganti karena memang tidak ada baju lain yang bisa dia pakai sehingga mengharuskan Samuel mengganti bajunya terlebih dahulu sebelum ke kantor.


Sedangkan Shanin, setelah mobil Samuel yang tadi melintas di hadapannya tidak terlihat lagi oleh matanya, perempuan itu kemudian langsung berjalan ke arah pintu kafe dan masuk ke dalamnya.


Ternyata sudah banyak karyawan yang datang, Kila dan juga Anna misalnya, kedua teman kerjanya itu sudah berada di tempatnya masing-masing.


"Pagi." Sapa Shanin saat memasuki kafe.


"Tadi cowok di depan yang bareng kamu siapa, Sha?" Bukannya sebuah sapaan yang diterima oleh Shanin, melainkan pertanyaan lain yang dilayangkan oleh Kila.


"Kamu tadi liat?"


"Ya liat dong, orang dari sini keliatan jelas banget." Balas Kila.


Sontak saja balasan dari Kila itu membuat Shanin langsung mengarahkan pandangannya ke arah dimana motor miliknya sedang terparkir dan benar apa yang dikatakan oleh Kila barusan jika tempat itu terlihat sangat jelas dari meja kasir.


"Dia cuma temen aku."


"Ohh cuma temen, semalam dia nginep di kontrakan kamu?"


Pertanyaan yang dilontarkan oleh Kila barusan tentu saja membuat Shanin membulatkan matanya, bagaimana teman kerjanya ini bisa tau?!


"Y-ya nggak lah, lagipula dapet pikiran dari mana kamu tanya kayak gitu." Shanin mengelak.


"Kemarin aku tau kalo cowok itu tunda mobilnya disini, aku kira cuma mau sampe malem, ternyata sampe pagi pun mobil itu masih ada disitu." Jelas Kila.


"O-oh itu, itu karena kemarin dia ngeluh sakit perut dan malas kena macet, mangkanya pulang sama aku dan tadi berangkat kesini nya numpang ke aku." Jelas Shanin yang tentu saja berisi kebohongan.


"Gitu ternyata ceritanya, oke."


Shanin dapat bernafas lega saat Kila tidak lagi mengulik lebih jauh tentang lelaki itu, Shanin kemudian melangkahkan kakinya ke arah belakang untuk menaruh tas bawaannya.


Selesai menyimpan tas miliknya tadi, Shanin langsung kembali ke depan untuk membantu Anna yang sedang mengelap meja disana, tapi perempuan itu berinisiatif untuk mengelap kaca saja.


Sebelum benar-benar keluar dari area dapur, Shanin menyempatkan diri untuk meraih sebuah lap tergantung di tembok sana dan kemudian membawa lap tersebut ke depan untuk mengelap kaca yang berembun.

__ADS_1


"Kamu udah datang dari tadi Ann?" Shanin membuka percakapan antara keduanya saat masing-masing dari mereka tengah sibuk dengan kegiatan mengelapnya.


"Lumayan sih, ada kali tiga puluh menit yang lalu."


"Pagi banget, aku jam segitu baru selesai sarapan."


"Tapi kata Kila sebelum kamu datang tadi, dia bilang kalo kamu rajin datang pagi." Ucap Anna di tengah kegiatan mengelap mejanya.


"Bener juga sih, cuma hari ini datang kesiangan gara-gara tadi pagi aku sarapan di luar."


"Emangnya di rumah kamu gak ada yang masak?" Tanya Anna.


"Aku tinggal di kontrakan, Ann."


"Ohh pantesan, gak apa-apa lah anak kosan atau kontrakan telat semenit dua menit, tapi kalo telatnya satu jam sih kelewatan.


Shanin membalas perkataan Anna barusan dengan tertawa kecil. "Kalo kamu gimana? Tinggal di rumah atau ngontrak juga?" Tanya balik Shanin pada Anna.


"Tinggal di rumah, itupun baru beberapa hari setelah aku pindah tempat kerja ke sini. Sebelum aku pindah kerja disini, aku ngontrak." Jelas Anna.


Shanin menanggapi perkataan tersebut dengan anggukan dari kepalanya, keduanya kembali fokus pada kegiatan masing-masing yang sedang mengelap meja dan kaca.


"Aku ke belakang dulu." Ucap Kila sambil membawa lap kotor di tangannya.


Sepeninggalan Kila ke belakang, Shanin langsung mempercepat pekerjaannya yang sedang mengelap kaca itu agar cepat selesai.


Tangan miliknya dengan lihai mengelapkan lap tadi di permukaan kaca jendela yang kini ada di hadapannya.


Dirasa jika kaca jendela yang ada di depannya saat ini sudah bersih, perempuan itu kemudian kembali lagi ke belakang untuk menyimpan lap tadi ke tempat semula dan mencuci tangannya yang dipastikan sudah kotor.


Setelah selesai mencuci tangan, Shanin kemudian keluar dari area belakang menuju ke arah meja kasir tempat dimana Kila berada, dirinya menyeret salah satu kursi pelanggan untuk dirinya duduk sambil menunggu pelanggan datang.


"Kil, keluarga Nanda udah kasih kabar tentang dia lagi gak ke kamu?" Tanya Shanin saat dirinya baru saja mendudukkan diri di atas kursi.


"Belum, Sha. Kakaknya belum ngabarin aku lagi sejauh ini, mamahnya juga sama aja, gak ada informasi lebih lanjut dari mereka." Jawab Kila yang mencoba menjelaskan kepada teman kerjanya itu.


"Huft, kemana ya dia?" Shanin menghela nafas kasar di awal.


"Tiap malam tidur aku gak tenang karena pikiran buruk yang bisa aja terjadi sama Nanda terus muncul di otak aku."


Wajar saja jika Kila merasa demikian, bukan karena berlebihan ataupun terlalu lebay, tapi Shanin paham jika Kila dan Nanda sudah berteman cukup lama, sehingga Kila merasakan kesedihan dan juga kekhawatiran yang lebih besar dari dirinya yang baru beberapa kali bertemu dengan Nanda.


"Pas hari dimana Nanda hilang, dia sempat chat kamu?" Tanya Shanin pada Kila.


"Terakhir aku dapet pesan dari dia tuh pas pagi-pagi, dia kabarin ke aku kalo gak bisa masuk kerja dan nyuruh aku buat ambil kunci kafe di rumahnya, sampai akhirnya aku nyuruh kamu buat ambil ke sana, setelah itu gak ada lagi pesan masuk dari dia." Jelas Kila panjang lebar pada Shanin yang ada di depannya.


"Sama sih, aku juga terakhir liat dia pas ambil kunci kafe itu, pagi itu dia masih keliatan baik-baik aja."


"Kakaknya juga bilang kayak gitu, tampang Nanda kayak biasanya sehari-hari. Jadi gak mungkin kalo dia yang kabur dari rumah, ada seseorang yang emang sengaja culik dia."


"Kita juga sekarang gak bisa ngelakuin apa-apa sih, Kil. Cuma bisa tunggu informasi dari polisi dan juga keluarga Nanda."


"Iya, Sha."


Setelah itu keduanya diterpa keheningan, entah pikiran keduanya yang berkelana kemana. Karena tidak ada kegiatan membuat Shanin sedikit mengantuk yang membuatnya menguap berkali-kali.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2