
Sampai sore hari keadaan kafe masih cukup ramai, bahkan Shanin dan juga pegawai lain belum sempat beristirahat, perempuan itu sempat memakan sebungkus roti saat sedang menunggu pesanan yang harus dia antar siap untuk diantarkan guna mengganjal perutnya yang masih kosong.
"Pacar kamu hari ini gak kesini, Sha?" Tanya Anna saat keduanya sedang sama-sama menunggu pesanan pelanggan yang sedang dimasak oleh juru masak kafe.
"Pacar aku? Siapa emangnya?" Tanya balik Shanin pada Anna karena tidak mengerti apa yang dimaksud oleh teman kerjanya itu.
"Ya si Samuel lah, siapa lagi." Ucap Anna sambil menatap kesal ke arah Shanin.
"Aku kan udah bilang kalo aku sama dia itu gak pacaran." Balas Shanin pada Anna.
"Iya deh, padahal kalian cocok satu sama lain loh Sha."
"Cocok satu sama lain dari mananya? Jangan aneh-aneh deh kamu Ann."
"Ih siapa yang aneh-aneh? Kan itu cuma menurut pendapat aku aja sih."
"Pendapat kamu yang jelek berarti."
Tanpa memberikan waktu kepada Anna untuk berbicara lagi, Shanin segera beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke arah meja pembatasan antara dirinya dan juga juru masak untuk mengambil pesanan pelanggan yang siap untuk perempuan itu antar.
Seperti biasanya, perempuan itu dengan hati-hati membawa nampan yang berisi pesanan pelanggan itu ke meja dimana di pelanggan berada. Shanin masih merasa tubuhnya lemas, tapi sudah lebih baik dari sebelumnya, mungkin karena dirinya yang sudah menyempatkan diri untuk memakan roti tadi.
Ngomong-ngomong Shanin jadi terpikirkan perkataan Anna tadi, memang benar Samuel sedari tadi tidak ada datang ke kafe seperti biasanya, entah kemana hilangnya lelaki itu, Samuel juga tidak mengirimkan satupun pesan kepada Shanin.
Selesai mengantarkan pesanan pelanggan tadi, Shanin kembali duduk di kursi yang dia duduki sebelumnya, entah kenapa kepalanya menjadi pusing sekali saat ini.
"Sha? Kenapa?" Tanya Anna yang tersirat rasa khawatir di wajahnya.
"Cuma pusing aja Ann, gapapa." Jawab Shanin sambil memijat pelan pelipisnya.
__ADS_1
"Itu tuh nggak cuma, tapi kamu lagi sakit. Mau pulang aja? Daripada kamu pingsan disini kan berabe." Ucap Anna.
"Nggak usah, bentar lagi juga aku pulang kok, udah tanggung." Tolak Shanin pada teman kerjanya itu.
"Ya udah kalo itu mau kamu, aku ambil air anget dulu buat kamu di belakang." Ucap Anna.
"Jangan Ann, nanti aku ambil sendiri aja." Lagi-lagi Shanin menolak niat baik Anna.
*Nggak ada penolakan, udah tunggu disini." Setelah mengatakan hal itu, Anna langsung melesat pergi dari sana, membawa langkah kakinya menuju ke area belakang untuk mengambil air hangat untuk Shanin.
Tidak lama dari itu, Anna sudah kembali dengan sebuah gelas yang ada di tangannya dan sesampainya di hadapan Shanin, Anna langsung menyodorkan gelas yang berisi air hangat itu kepada teman kerjanya.
"Kamu istirahat disini dulu aja Sha, nanti sisanya aku yang urus, udah gak terlalu rame kok." Ucap Anna sambil menatap ke arah Shanin yang sedang meminum air hangat yang tadi dibawakan oleh dirinya.
"Gak papa Ann, aku masih kuat kok, lagian itu cuma pusing biasa aja." Tolak Shanin ketika mendengar ucapan Anna, perempuan itu tidak ingin merepotkan orang lain.
"Pusing biasa apanya? Muka kamu kelihatan pucat banget loh Sha, udah duduk istirahat disini aja." Perintah Anna kepada Shanin.
"Iya udah santai aja." Setelah mengatakan itu Anna langsung membawa langkah kakinya menuju ke salah satu meja yang ada di sana yang baru saja diduduki oleh pelanggan dengan membawa buku menu seperti biasanya.
Waktu terus berlalu sampai pada akhirnya kini waktunya Shanin untuk pulang karena perempuan itu memang hanya kerja sampai sore untuk hari ini. Badannya sudah merasa lebih baik dari sebelumnya, setidaknya Shanin masih kuat untuk membawa motor miliknya sampai ke kontrakan.
"Kamu yakin Sha mau pulang sendiri aja? Atau kamu telepon aja si Samuel." Saran Kila pada teman kerjanya yang sedang tidak enak badan itu.
"Aku masih kuat kok Kil, nggak usah repot-repot." Ucap Shanin.
"Jangan sungkan kayak gini Sha, kamu sama sekali gak ngerepotin." Balas Kila karena melihat Shanin yang selalu saja menolak dengan alasan tidak enak saat ditawari sesuatu.
"Iya Kil, tapi ini beneran aku udah nggak kenapa-kenapa. Ini aku pulang dulu ya, bilangin sama Anna aku pulang duluan." Ucap Shanin sebelumnya dirinya pergi dari sana.
__ADS_1
"Iya nanti aku bilangin, hati-hati di jalannya. Kalo emang ngerasa pusing lagi kamu bisa berhenti dulu di pinggir jalan terus telepon ke aku atau Ann." Ucap Kila sambil menatap ke arah Shanin.
"Siap, bye bye Kil." Setelah mengucapkan hal itu, Shanin langsung pergi keluar dari dalam kafe dengan membawa tas selempang miliknya seperti biasanya.
Namun saat dirinya berjalan menuju ke parkiran motor miliknya, tubuhnya tiba-tiba saja terhuyung, kepalanya tiba-tiba kembali pusing, entah apa yang sebenarnya.
"Shanin!" Suara keras dan tidak ading itu datang dari arah sebelah kanan Shanin.
Tidak lama dari itu Shanin mulai merasakan sentuhan hangat pada punggungnya guna menopang tubuhnya yang tadi aja. Perempuan itu langsung dapat mengenali siapa dibalik suara itu, dia adalah Samuel, lelaki yang menahan tubuhnya yang hendak terjatuh adalah Samuel.
"Kamu tidak kenapa-kenapa?" Tanya Samuel dengan raut wajah yang tersirat rasa kekhawatiran.
"Sam? Oh ini aku gak kenapa-kenapa, cuma pusing aja dikit." Balas Shanin.
"Pusing dikit sampai ingin terjatuh? Badan kamu juga hangat Shanin." Ucap Samuel yang memang tadi sempat memegang punggung dan juga tangan Shanin sehingga lelaki itu dapat tau jika suhu tubuh Shanin sedang berada di atas rata-rata, perempuan itu demam.
"Kita ke dokter saja ya? Kamu sepertinya terkena demam." Sambung lelaki itu.
"Nggak usah, Sam. Kalaupun aku demam, ini cuma hal biasa, paling dibawa tidur juga udah sembuh." Lagi-lagi Shanin menolak bantuan dari orang lain, perempuan itu terlalu merasa tidak enak hati pada siapapun.
"Tapi demam juga namanya sakit, kita ke rumah sakit saja." Ucap Samuel sekali lagi.
"Jangan, aku gak mau. Aku mau pulang aja, Sam." Balas Shanin sambil melanjutkan langkahnya ke arah parkiran motor miliknya dengan perlahan.
Melihat hal itu, Samuel dibuat jengah dengan perilaku perempuan itu, bisa-bisanya Shanin berinisiatif untuk membawa motornya sendiri dalam keadaan tubuhnya yang jauh dari kata baik-baik saja.
"Masuk ke mobil saya, bisa saya antar kamu ke kontrakan. Dalam keadaan kamu yang seperti ini saya tidak yakin kamu akan selamat sampai ke kontrakan kamu itu." Ucap Samuel sambil menggenggam tangan Shanin dan menuntun perempuan itu sampai ke mobilnya.
Shanin tidak banyak protes karena memang dirinya benar-benar lemas, perempuan itu juga tidak memikirkan motor miliknya karena paling nanti itu akan menjadi urusan Samuel.
__ADS_1
BERSAMBUNG.