
Sesuai dengan prediksi Shanin bahwa siang hari, lebih tepatnya waktu istirahat orang-orang kantor, kafe menjadi sangat ramai.
Shanin sedang membawa sebuah nampan yang berisi makanan dan juga minuman pesanan pembeli, perempuan itu harus mengantarkan nampan itu ke meja tempat pembeli berada.
"Duhh."
Suara itu mengambil atensi dari beberapa orang yang ada disana, termasuk Shanin. Suara itu ternyata berasal dari Nanda yang sekarang keadaannya sedang berantakan, ah lebih tepatnya seragamnya saja yang kotor karena terkena tumpahan minum yang dia bawa.
"Aduh, maafin anak saya ya Mba, nanti minumnya saya ganti deh."
Terlihat seorang pelanggan yang sepertinya ibu dari anak yang menyenggol Nanda tadi meminta maaf.
"Iya gak kenapa-kenapa Bu."
Setelahnya Nanda kembali ke belakang restoran untuk membenahi pakaiannya dan mengambil minuman yang baru.
Sedangkan Shanin, perempuan itu kembali sibuk dengan pekerjaannya. Sedari tadi Shanin mondar-mandir kesana kemari untuk mengantarkan, mengambil dan menawarkan menu-menu makanan dan minum kepada para pelanggan yang datang.
"Nan, kamu gak apa-apa pake seragam basah kayak gitu?" Tanya Shanin saat dirinya dan Nanda berpas-pasan di dapur.
"Gak apa-apa deh, lagian aku gak bawa seragam ganti."
"Tapi itu bisa lengket loh, kan ada gulanya."
"Iya juga ya, udahlah gak apa-apa Sha, hari ini juga aku pulang cepet."
Shanin hanya mengangguk-anggukan kepalanya menanggapi perkataan dari Nanda, keduanya kembali pada pekerjaan masing-masing.
Sama halnya dengan Shanin dan juga Nanda, Kila tidak kalah sibuknya dengan kedua teman kerjanya itu, perempuan itu sedari tadi tidak ada henti-hentinya melayani pelanggan yang ingin membayar pesanan.
"Sha! Sini deh." Suara milik Kila yang cukup keras memanggil nama Shanin.
Karena merasa di panggil oleh teman kerjanya itu, Shanin buru-buru menghampiri Kila di tempat kasir.
"Ada apa Kil?" Tanya Shanin saat dirinya baru saja sampai di hadapan Kila.
"Ini tadi yang tumpah minuman apa? Ada orang yang mau ganti rugi nih." Jelas Kila.
"Coba kamu tanya Nanda deh, itu tadi dia yang pegang soalnya."
"Ohh gitu, bantu panggil Nanda dong Sha, ini masih banyak yang mau bayar."
"Iya-iya sebentar aku panggil dulu anaknya."
Setelah mengatakan itu Shanin langsung melangkahkan kakinya menuju ke arah belakang, untuk menemui Nanda yang berada disana.
"Nanda, kamu dipanggil sama Kila tuh."
"Mau ngapain dia panggil aku?" Tanya Nanda keheranan.
"Udah ih sana samperin aja orangnya, aku males jelasin."
__ADS_1
"Iya-iya."
Keduanya kemudian berjalan beriringan keluar dari dalam dapur, Nanda yang berjalan ke arah kasir dan Shanin yang memilih untuk menghampiri meja kosong bekas pembeli tadi yang diatasnya terdapat piring-piring dan gelas-gelas bekas yang harus dia bereskan.
***
Sedangkan di tempat lain, di sebuah gedung tinggi, seorang lelaki di sebuah ruangan yang memiliki interior mewah sedang duduk menghadap ke arah balkon menikmati pemandangan yang ada di bawahnya sambil menyesap secangkir kopi, dia Samuel.
Sudah terhitung dua hari ini dia dibuat tidak fokus bekerja karena pikirannya yang terus menerus memikirkan perempuan yang pernah memberikan tumpangan tempat tinggal kepadanya.
Samuel sudah berkali-kali berusaha untuk menghilangkan pikirannya tentang perempuan itu, tapi berkali-kali juga perempuan itu kembali singgah dalam pikirannya.
"Permisi pak."
Di tengah lamunan Samuel, tiba-tiba saja suara lembut milik sekretaris pribadinya itu memasuki indera pendengarannya, entah sejak kapan perempuan itu masuk, dia tidak menyadarinya.
Samuel hanya berdeham untuk membalas perkataan dari sekretaris pribadinya itu, lelaki itu terlalu malas hanya untuk sekedar mengucapkan kata 'ada apa?'
"Siang ini kita harus melanjutkan meeting kemarin yang belum diselesaikan. Meeting nya pun masih sama, tempatnya berada di luar kantor." Jelas sang sekretaris.
"Kamu atur lagi jadwal dan tempatnya." Perintah Samuel.
"Baiklah, di tempat yang kemarin tidak apa-apa?"
Mendengar perkataan dari sekretaris pribadinya membuat Samuel terdiam sejenak, lelaki itu memikirkan bagaimana jika dirinya harus kembali bertemu dengan Shanin di tempat yang sama seperti kemarin.
"Bagaimana pak?"
"Baiklah, kalau begitu saya permisi."
Sekretaris pribadinya itu langsung melenggang pergi meninggalkan dirinya sendirian di ruangan itu, Samuel memilih untuk kembali meraih secangkir kopi miliknya tadi dan kembali menyesapnya.
Waktu terus berjalan, kini jarum jam sudah menunjukkan ke angka jam 1 dan sekarang Samuel serta sekretaris pribadinya tengah berada di dalam mobil untuk menuju ke kafe yang kemarin untuk melanjutkan kembali meeting yang kemarin belum diselesaikan.
Sedangkan dilain tempat tapi dengan waktu yang sama, Shanin tengah membereskan barang-barang bawaannya. Perempuan itu bersiap untuk pulang dari kafe, hari ini dia hanya bekerja setengah hari.
"Nan, Kila kemana?"
Tanya perempuan itu saat baru saja keluar dari area belakang restoran sambil melampirkan tas di bahunya, Shanin sudah siap untuk meninggalkan tempat ini.
"Dia ke kamar mandi dulu." Jawab Nanda.
"Ya udah deh aku titip salam aja sama kamu buat Kila, aku pulang duluan."
"Iya nanti aku bilangin, hati-hati di jalan Sha, jangan sampe jatuh lagi."
"Iya, bye Nan!"
Sebelum benar-benar meninggalkan tempat itu, Shanin menyempatkan diri untuk melambaikan tangan ke arah teman kerjanya itu.
Tepat saat Shanin sudah berada di tempat parkir karyawan, sebuah mobil hitam sedang di parkiran di parkiran khusus kendaraan roda empat yang ada di sebelah.
__ADS_1
Awalnya perempuan itu tidak peduli dengan kedatangan mobil itu, dia pikir mungkin itu hanya mobil milik orang asing yang ingin mampir ke kafe.
Tapi dirinya dibuat sedikit terkejut dengan sosok seorang lelaki tinggi yang baru saja keluar dari dalam mobil itu, lelaki yang sangat amat dia kenali, lelaki yang pernah tinggal bersamanya beberapa hari, lelaki yang dengan teganya pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun kepada dirinya.
Shanin memilih untuk cepat-cepat menyembunyikan wajahnya di balik helm dan berusaha untuk tidak peduli dengan lelaki itu.
"Duh! Kenapa dia kesini lagi sih?!" Gerutu Shanin dalam hati.
Di sisi lain, Samuel juga sama dibuat terkejut karena berpas-pasan dengan perempuan yang beberapa hari ini menghantui pikiran di parkiran.
Sebenarnya tidak aneh jika Samuel bertemu dengan Shanin disini, mengingat jika perempuan itu bekerja di tempat ini, tapi Samuel tidak pernah menyangka akan tidak sengaja dengan perempuan itu di parkiran.
Mata keduanya sempat beradu, sebelum si perempuan dengan cepat mengalihkan pandangan tersebut. Jika si perempuan berusaha untuk mengalihkan pandangannya, berbeda dengan Samuel yang masih betah menatap perempuan yang berjarak beberapa meter darinya.
"Pak? Ayo."
Sekali lagi suara milik sekretaris pribadinya menyadarkan Samuel dari lamunannya. Samuel berjalan terlebih dahulu di depanĀ yang diikuti oleh sekretarisnya dari belakang.
Yang secara otomatis lelaki itu melewati Shanin yang kini masih berada di atas motor miliknya, perempuan itu terus menunduk untuk menghindari tatapan mata dari Samuel.
Sedangkan Samuel, sedari tadi tatapannya tidak bisa lepas dari perempuan itu, yang awalnya menatap ke arah wajah Shanin, kini berpindah ke objek lain yaitu tangan Shanin yang terlilit oleh perban.
Dapat Samuel tebak jika perban itu digunakan oleh Shanin untuk menutupi lukanya akibat jatuh dari motor saat kemarin malam, Samuel yakin soal itu.
"Huft."
Shanin dapat menghela nafas lega saat lelaki yang sangat dia hindari itu pergi menjauh darinya, entah kenapa Shanin masih belum siap jika harus kembali berdekatan dengan lelaki itu.
"Loh, Sha? Belum pulang?"
Tiba-tiba saja sebuah suara lelaki mengagetkan dirinya, lelaki itu terlihat sedang menjinjing sebuah plastik hitam yang dia yakini berisikan sampah yang hendak lelaki itu buang.
"Eh Mas Tio, ini baru aja mau ngeluarin motor dari sini." Jawab Shanin.
"Bisa gak keluarin nya? Mau saya bantu?" Tawar Mas Tio.
"Bisa kok Mas, tenang aja."
"Ya udah kalo gitu saya ke sana dulu."
"Iya."
Setelah kepergian Mas Tio dari hadapannya, Shanin dengan hati-hati mengeluarkan motornya dari parkiran. Saat motornya sudah berhasil dikeluarkan, perempuan itu segera mengendarai motornya menuju ke kontrakannya.
Sore ini dia sudah memiliki janji dengan kedua temannya, Ajeng dan Gita. Sebenarnya Gita menyuruh dirinya untuk ke toko yang dulu sempat menjadi tempatnya bekerja.
Tapi Shanin menolak hal itu, perempuan itu memilih untuk pulang ke kontrakannya terlebih dahulu, beristirahat sebentar, membersihkan diri dan juga berganti pakaian dengan yang lebih nyaman.
Cuaca siang ini benar-benar panas, rasa panas itu menusuk ke kulitnya yang tidak tertutup oleh apapun. Polusi udara siang ini pun terlihat sangat jelas, mengingat kalau kota ini merupakan kota metropolitan yang tidak aneh jika polusi tersebar dimana-mana.
BERSAMBUNG.
__ADS_1