Gadis Biasa Milik CEO Tampan

Gadis Biasa Milik CEO Tampan
Bab 42


__ADS_3

Semalam Samuel langsung pulang dari kontrakan Shanin saat keduanya selesai dengan kegiatan makan malamnya, karena keadaan yang semakin malam.


Padahal awalnya Samuel berniat untuk membantu Shanin untuk membereskan bekas makan malam keduanya, tapi lagi-lagi perempuan si pemilik kontrakan itu menolak dengan mentah-mentah tawaran dari Samuel.


Kini seperti biasanya Shanin kembali berangkat ke kafe tempat dirinya bekerja, hari ini Shanin pulang sore karena memang Anna sudah kembali bekerja.


Motor milik Shanin yang sedang perempuan itu kendarai sudah memasuki kawasan kafe dan tinggal memarkirkannya di tempat parkir khusus karyawan seperti biasanya.


Perempuan itu juga dapat melihat beberapa motor karyawan yang sudah terparkir di parkiran itu, setelah berhasil memarkirkan motor miliknya, Shanin kemudian turun dari jok motor dan melepaskan helm yang dia kenakan.


Shanin mulai membawa langkah kakinya untuk masuk ke dalam kafe dan hal pertama yang perempuan itu lihat adalah Kila yang tengah duduk santai sambil memainkan ponsel miliknya di kursi kasir.


"Santai amat Bu bos." Ucap Shanin saat dirinya sampai di hadapan Kila.


Kila yang mendengar ucapan Shanin barusan mendongakkan kepalanya, untuk menatap ke arah Shanin, mengalihkan perhatiannya sebentar dari layar ponsel.


"Belum ada pelanggan yang datang ini, mending aku santai-santai dulu, soalnya kalo udah siang gak bakalan bisa kayak gini." Balas Kila yang kemudian kembali memainkan ponsel miliknya.


Memang benar apa yang dikatakan oleh Kila barusan, nanti siang pasti tidak akan ada waktu untuk bermain ponsel sambil duduk santai, jangankan melakukan hal itu, untuk sekedar duduk sebentar pun rasanya sangat sulit.


"Si Anna belum datang Kil?" Tanya Shanin.


"Belum, mabok katering nikahan kali dia." Jawab Kila asal.


"Gak sampe mabok juga kali Kil, emangnya kamu." Ucap Shanin.


"Iya-iya deh terserah kamu." Balas Kila dengan wajah kesal miliknya.


Shanin tertawa kecil melihat hal itu, pagi-pagi begini dirinya sudah berhasil membuat Kila kesal. Perempuan itu kemudian memilih untuk berjalan ke arah belakang seperti biasanya untuk menyimpan tas selempang miliknya dan mengambil lap di tempat biasa.


Setelah menyimpan dan mendapat lap yang dia butuhkan untuk mengelap kaca jendela juga meja-meja pelanggan, Shanin langsung melangkahkan kakinya kembali keluar dari area belakang.


"Baru sampe Ann?" Tanya Shanin saat perempuan itu baru saja keluar dari area belakang dan berpas-pasan dengan Anna yang ingin ke area belakang.


"Iya Sha, barusan banget." Jawab Anna.


Mendengar jawaban dari Anna, Shanin pun mengangguk paham dan kemudian keduanya kembali berjalan ke tujuannya masing-masing, Shanin yang hendak keluar dari area belakang dan Anna yang baru saja akan memasuki area belakang.


Shanin memulai kegiatannya dengan mengelap meja-meja yang tampak berdebu, kali ini biarkan dirinya yang membersihkan meja dan Anna yang membersihkan kaca jendela.


"Sha, lap satunya kok gak ada?" Anna tiba-tiba datang dari arah belakang sambil bertanya demikian kepada Shanin.


"Di tempat biasa gak ada emang Ann? Perasaan kemaren masih ada deh." Jawab Shanin.


"Beneran gak ada Sha, apa dibawa tikus?" Tebak Kila.


"Disini kan gak ada tikus, pake ini dulu aja deh, biar aku cari dulu lap satunya." Ucap Shanin sambil menyodorkan sebuah lap yang dia gunakan untuk mengelap meja barusan.


"Ya udah sini, lap satunya kamu cari dulu, siapa tau kemaren kamu lupa simpan atau jatuh dimana gitu." Anna berucap demikian sambil meraih sodoran lap dari Shanin.


"Oke, lanjutin meja aja ya, nanti kaca jendela biar jadi urusan aku." Shanin mengatakan itu sebelum dirinya melenggang pergi ke arah belakang.

__ADS_1


Gagal sudah rencana Shanin hari ini yang ingin bertukar tugas dengan Anna, Shanin yang mengelap meja dan Anna yang mengelap kaca jendela.


Saat sudah di area belakang, Shanin mulai mengedarkan pandangannya untuk melihat keberadaan lap tersebut, tapi matanya tidak juga menemukan keberadaan benda tersebut.


Perempuan itu melangkahkan kakinya ke arah kamar mandi yang menjadi tempat tujuannya yang kedua, saat pintu kamar mandi terbuka, sorot mata Shanin dapat langsung menangkap keberadaan benda tersebut yang sedang tergantung disana.


Shanin lupa jika kemarin dirinya sempat mencuci lap tersebut dan tidak mengembalikannya lagi ke tempat semula, lagipula mau kemana lagi hilangnya benda itu jika karena bukan ulah dirinya sendiri.


Tidak ingin lama-lama, perempuan itu langsung meraih lap tersebut dan keluar dari sana, keluar dari area belakang dan berniat untuk langsung menuju ke kaca jendela.


"Ketemu Sha?" Tanya Anna saat Shanin baru saja keluar dari area belakang.


"Ketemu di kamar mandi, aku lupa kalo kemaren lap nya sempat aku cuci." Jawab Shanin.


"Dasar pikun."


Shanin yang mendengar perkataan dari Anna hanya mampu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil cengengesan, perempuan itu kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan Anna menuju ke arah jendela untuk mengelap kaca jendela itu.


Butuh waktu beberapa menit untuk Shanin menyelesaikan pekerjaan, setelah dirasa kaca jendela nya sudah bersih, perempuan itu kemudian berjalan ke arah belakang untuk menaruh kembali lap nya di tempat biasa.


Tapi sebelum menaruh lap kotor tersebut, Shanin mencucinya terlebih dahulu di kamar mandi agar lebih bersih dibandingkan sebelumnya.


"Tau gak sih kamu Ann? Kemaren tuh ada kejadian yang heboh banget sih menurut aku di kafe ini."


Samar-samar suara Kila terdengar sampai area belakang oleh Shanin, Shanin yang mendengar suara samar-samar itu pun langsung berlari menghampiri kedua temannya yang kini sedang membicarakan sesuatu.


Shanin tidak akan membiarkan mulut bawel milik Kila menceritakan apa yang terjadi kemarin kepada Anna, teman kerjanya yang satu itu memang tidak bisa mengunci mulutnya.


"Gak heboh juga kali Kil, masa makanan tumpah aja sampe seheboh itu menurut kamu." Ucap Shanin sambil memberikan tatapan mengancam kepada Kila.


"Bukan itu loh Sha, yang pas pagi-pagi itu." Kila sepertinya tidak memiliki rasa takut sedikitpun melihat tatapan tajam yang Shanin layangkan.


"Kejadian apaan sih emangnya?" Anna bertanya karena penasaran.


"Itu yang aku bilang tadi, Kila tuh berlebihan, orang gak sampe heboh begitu." Jawab Shanin.


"Bukan yang itu, tapi yang pagi-pagi kamu ditembak sama teman kamu itu loh Sha. Terus kamu tau gak Ann apa yang bikin lebih heboh?"


"Hah? Shanin ditembak sama temannya? Yang suka makan siang disini itu?" Pertanyaan bertubi-tubi dari Anna itu dibalas dengan anggukan kepala oleh Kila.


"Terus yang lebih bikin heboh apa lagi?" Anna kembali bertanya.


"Shanin nolak pernyataan cinta dari temannya itu, kasian banget tau cowoknya, keliatan kecewa banget denger kata-kata Shanin." Jawab Kila.


Lagi-lagi Shanin harus dibuat menghela nafas pasrah di pagi hari seperti ini. Perempuan itu tidak lagi peduli tentang apa yang akan dikatakan oleh Kila, toh yang dibilang oleh teman kerjanya itu memang sesuai dengan kenyataannya.


"Terus-terus lanjutannya gimana?" Tanya Anna yang semakin terlihat penasaran.


"Ya si cowok keliatan pura-pura gak kenapa-kenapa gitu, tapi kan raut wajahnya gak bisa bohong kalo dia lagi kecewa." Ucap Kila seakan-akan dirinya pandai dalam membaca ekspresi.


"Nyesel aku kemarin libur, harusnya aku liat itu kemarin." Ucap Anna.

__ADS_1


"Lebih bagus kamu gak liat Ann, daripada nanti aku tambah pusing denger kalian berdua yang ngomong terus kemaren." Balas Shanin.


"Buat hadapin Kila aja rasanya kepala aku mau pecah." Lanjutnya.


Kedua teman kerja Shanin itu malah tertawa kecil melihat Shanin yang tampak frustasi sekarang ini, padahal yang ditolak cintanya adalah Samuel, tapi kenapa malah Shanin yang frustasi?


"Oh iya Sha, terus itu pas malem gimana?" Tanya Kila tiba-tiba.


"Ya gak gimana-gimana." Jawab Shanin seadanya.


"Halah bohong, jalan-jalan dulu kan kalian?" Tebak Kila.


Sedangkan Anna hanya memperhatikan pembicaraan kedua teman kerjanya yang ada di hadapannya saat ini karena dia tidak paham dengan apa yang mereka bicarakan, sepertinya dia ketinggalan banyak cerita kemarin.


"Nggak, aku langsung pulang ke kontrakan."


"Yang bener? Kamu tinggal dia di depan kafe gitu aja atau kamu usir?"


"Awalnya aku usir dia, tapi dia tetep maksa buat ikut aku ke kontrakan, ya udah deh."


"Ya udah deh gimana maksudnya? Dia ikut ke kontrakan kamu jadinya?"


"Gak perlu aku jelasin lagi juga kayaknya kamu udah paham deh Kil." Ucap Shanin yang kini mulai duduk di salah satu kursi yang ada disana.


Memang benar apa yang dikatakan oleh Shanin, tanpa dijelaskan lebih lanjut pun Kila sudah paham dan tau apa yang terjadi pada akhirnya.


Perempuan itu hanya berpura-pura tidak mengerti dan mengetahui apa-apa agar Shanin mau bercerita sendiri, tapi pada kenyataannya Shanin tidak menjelaskan sesuai dengan harapannya.


"Eh Ann, gimana nih daging semur aku? Kamu gak lupa kan?" Kila tiba-tiba kembali memulai pembicaraan dengan topik lain.


"Aman Kil, ada di dalam tas aku, nanti jam makan siang aja dimakannya." Balas Anna.


"Bagus deh kalo kamu gak lupa, aku soalnya lagi pengen banget semur daging, kayaknya aku ngidam deh." Ucap Kila asal.


"Astaga Kil, itu anak siapa?" Shanin bertanya dengan mata yang membulat karena terkejut.


"Becanda doang kali Sha, serius amat."


"Ck, aku kira beneran."


"Ya kamu pikir aja sendiri, aku lagi deket sama cowok aja nggak."


"Ya kan gak ada yang tau."


"Udah-udah, gak capek apa dari tadi adu mulut terus?" Anna mencoba untuk menengahi keduanya.


"Kila yang mulai duluan tuh." Ucap Shanin sambil menunjuk Kila layaknya seorang anak kecil.


"Asal aja kamu Sha, kamu duluan kali." Balas Kila tidak mau kalah.


"Ya ampun, udah kalian semua diem, masih pagi ini jangan ribut-ribut." Ucap Anna yang pusing melihat kedua teman kerjanya itu yang sering ribut.

__ADS_1


Mendengar perkataan Anna, kedua perempuan yang tadi sedang beradu mulut itu langsung terdiam, tapi dari tatapan keduanya masih tersirat rasa dendam di dalam hatinya masing-masing.


BERSAMBUNG.


__ADS_2