
Tidak lama setelah Nanda mengantarkan pesanan ke meja Samuel tadi dan Shanin yang kini sudah lebih membaik dari sebelumnya.
Pelanggan satu demi satu berdatangan entah hanya sekedar memesan minuman ataupun sengaja datang kesini untuk makan siang, Shanin dan juga Nanda sedari tadi terus mondar-mandir untuk melayani setiap pelanggan.
Tanpa Shanin sadari sedari tadi dirinya terus diperhatikan oleh seseorang yang kini sedang meeting di tengah keramaian kafe.
Samuel tidak dapat mengalihkan pandangannya pada perempuan yang sempat memberikannya tempat tinggal itu.
"Pak?"
"H-hah? Bagaimana?" Samuel cukup terkejut karena suara sekretarisnya yang mengagetkan dirinya itu.
"Maaf membuat bapak kaget, tapi saat ini kita sedang meeting, kelihatannya bapak kurang fokus sekarang ini."
"Tidak apa-apa, lanjutkan saja."
Samuel berusaha untuk memfokuskan dirinya pada kegiatan meeting kali ini, tapi pikirannya berkali-kali melenceng memikirkan perempuan yang entah kenapa membuatnya menjadi seperti ini.
"Sha! Sini bantuin aku."
Panggil Nanda kepada Shanin, perempuan itu meminta temannya untuk menghampirinya untuk membantu membereskan meja yang baru saja ditinggal oleh pembeli sebelumnya dan akan diduduki oleh pembeli yang baru saja datang.
"Biar aku aja yang bawa ke belakang, kamu urus ini."
Diam-diam Samuel mendengarkan percakapan kedua perempuan itu disela-sela acara meeting nya.
Dapat lelaki itu lihat, satu dari dua perempuan yang sedari tadi dia perhatikan meninggalkan Shanin yang sebelumnya perempuan itu memberikan sebuah buku menu dan buku catatan kepada Shanin.
Terlihat Shanin yang tersenyum ramah di sana, tapi perempuan itu tidak dapat menutupi raut wajah kelelahannya yang terpatri disana.
Tidak lama dari itu, dapat Samuel lihat Shanin meninggalkan meja pembeli, berjalan ke arah belakang kafe ini, setiap gerak-gerik Shanin terus diawasi oleh Samuel.
Sedangkan di tempat lain, di tempat juru masak berada, Shanin dan Nanda kini berdiri berhadapan sambil menunggu pesanan pembeli tadi matang.
"Kamu kenal sama cowok yang duduk di dekat jendela itu, Sha? Dari tadi liatin kamu terus tau."
"Yang duduk di dekat jendela? Yang mana sih?"
"Itu loh yang pake kemeja biru jas hitam."
Mendengar perkataan dari Nanda membuat Shanin berpikir berusaha mengingat siapa lelaki yang dimaksud oleh teman kerjanya itu. Dia langsung teringat akan Samuel, pasti lelaki itu.
"Nggak deh kayaknya, aku gak kenal sama pembeli itu."
"Apa mungkin cuma perasaan aku aja kali ya? Tapi dia ngeliatin kamu terus, Sha."
"Perasaan kamu aja kali, udah ah jangan ngobrol terus, tuh pesanannya mau selesai."
Kini keduanya membawa nampan masing-masing yang berisi pesanan dari pembeli tadi, Shanin berjalan duluan di depan Nanda dengan hati-hati.
***
"Aduhh, capek banget."
Shanin bergumam demikian saat baru saja dirinya duduk di kursi yang ada di belakang kafe, sekarang waktunya untuk dia pulang ke kontrakan.
Perempuan itu kemudian meraih ponsel miliknya yang sedari pagi belum dia buka karena terlalu sibuk dengan kerjaannya.
Saat dirinya baru saja melihat layar ponsel tersebut, terpampang nama Gita dan Ajeng dengan keterangan panggilan tidak terjawab beberapa jam yang lalu.
__ADS_1
Shanin mengerutkan keningnya merasa bingung, kenapa kedua temannya itu menelponnya sampai beruntun seperti ini?
Tanpa menunggu lama lagi, perempuan itu langsung menelpon balik Ajeng, jika kalian bertanya kenapa tidak Gita saja yang di telepon balik? Jawaban adalah karena Shanin tau perempuan itu sangat sulit untuk mengangkat telepon.
"Halo? Ajeng, ada apa tadi kamu sama Gita telepon aku?"
"Halo, Sha? Kamu abis dari mana aja? Tadi siang niatnya aku sama Gita mau ajak kamu makan siang." Jelas Ajeng dari seberang sana.
"Maaf ya, aku baru sempet buka handphone, hari ini aku kerja lembur."
"Ternyata kamu lagi kerja ya? Maaf ya aku sama Gita gak tau, nggak apa-apa, kita masih bisa ketemu kapan-kapan."
"Besok mau nggak? Aku cuma kerja setengah hari." Usul Shanin.
"Beneran? Ini bukan karena kamu ngerasa gak enak terus bolos kerja demi aku sama Gita kan?"
"Ya nggak lah, aku beneran cuma kerja setengah hari. Lagipula aku gak bakalan sampe segitunya harus bolos kerja demi kalian."
"Oke deh kalo gitu, nanti kamu datang ke toko aja ya? Aku sama Gita selesai kerjanya agak sore."
"Iya nanti aku langsung kesana pas udah selesai kerja, aku tutup telepon nya ya Jeng? Aku harus pulang sekarang takut terlalu malem."
"Iya Sha, hati-hati dijalan."
Setelah itu panggilan keduanya pun terputus, Shanin langsung kembali memasukan ponsel pintar miliknya itu ke dalam tas nya lagi dan beranjak dari duduknya.
Perempuan itu berjalan ke arah luar, menghampiri Kila yang masih terjaga di tempat kasir dan disana juga masih ada Nanda yang sedang mengelap meja.
"Aku pulang duluan ya, Nan, Kil." Pamit Shanin pada kedua temannya.
"Eh? Mau pulang sekarang? Kalo gitu hati-hati Sha." Ucap Nanda.
"Iya, kalian juga hati-hati pulangnya nanti. Aku duluan ya, bye bye!"
Setelah mengatakan itu Shanin langsung melangkahkan kakinya keluar dari dalam kafe menuju ke tempat parkiran khusus karyawan.
Perempuan itu sesekali memijat pelan lengannya yang terasa pegal sambil berjalan ke arah motornya yang terparkir.
Sampai di samping motor Vespa matic miliknya, perempuan itu langsung meraih helm yang tadi bertengger di kaca spion motornya. Baru saja perempuan itu akan memakai helm miliknya, tiba-tiba saja sebuah suara mengagetkan dirinya.
"Shanin."
Mendengar namanya dipanggil, Shanin langsung menolehkan kepalanya ke arah sumber suara. Perempuan itu dibuat terkejut dengan siapa yang memanggilnya barusan, dia Samuel.
"Ada apa?" Tanya Shanin datar.
"Bisa kita berdua bicara sebentar?"
"Gak bisa, aku gak kenal sama kamu."
"Sha, saya mohon." Samuel memohon kepada Shanin.
"Tapi aku gak bisa, kamu orang asing, aku gak boleh deket-deket sama orang asing."
Setelah mengatakan hal itu, Shanin dengan cepat memakai helm miliknya ke kepalanya dan naik ke atas motor miliknya, berusaha untuk mengeluarkan motor itu dari dalam parkiran.
Melihat perempuan itu kesulitan untuk mengeluarkan motor miliknya, Samuel berinisiatif untuk membantu Shanin dengan cara menarik bagian belakang dari motor itu.
Merasakan adanya tarikan dari belakang membuat Shanin menoleh, sorot mata keduanya bertubrukan satu sama lain, tapi dengan cepat Shanin memutus kontak mata itu.
__ADS_1
"Lepas, aku bisa sendiri."
Shanin berkata demikian sambil tangannya berusaha melepaskan tangan milik Samuel dari motornya. Lelaki yang ditolak itu pun hanya bisa pasrah dan menurut untuk melepaskan tangannya dari motor sang perempuan tanpa banyak bicara lagi.
"Shanin, ada yang ingin saya bicarakan dengan kamu." Samuel kembali menahan perempuan itu.
"Aku gak ada waktu, aku harus cepet-cepet pulang."
"Saya mohon Shanin, hanya sebentar."
"Ck, awas deh minggir." Decak Shanin karena lelaki itu menghalangi motornya yang hendak jalan."
"Atau kita ngobrol di kontrakan kamu aja? Supaya kamu bisa pulang sekarang juga."
"Gak bisa, udah sana pergi, aku gak kenal sama kamu." Shanin berujar dengan wajah tidak bersahabat.
"Oke kalo gitu, besok saya akan kesini lagi untuk bicara sama kamu."
"Gak ada yang harus dibicarain antara kita, anggap aja kita gak saling kenal. Aku orang asing buat kamu, begitupun kamu orang asing buat aku." Jelas Shanin.
"Kita saling kenal dan tolong kamu dengar penjelasan saya sebentar."
"Kamu gak perlu jelasin apapun ke aku, lagipula itu bukan urusan aku, aku gak peduli apapun tentang kamu."
Setelah mengatakan itu, Shanin langsung menancap gas motornya, melaju meninggalkan lelaki yang sekarang masih menatapnya dari belakang.
Di perjalanan hati Shanin dibuat kalut, entah ada apa sebenarnya dengan hatinya saat ini? Dada nya selalu merasa sesak jika berhadapan dengan Samuel.
Ini hanya sekedar dia merasa sakit hati kan? Sakit hati karena lelaki itu pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah katapun setelah dibantu oleh dirinya.
Bukannya Shanin perhitungan terhadap lelaki itu, tapi setidaknya tanpa mengucapkan kata terimakasih kasih pun Shanin dapat menerimanya, setidaknya lelaki itu mengucapkan salam perpisahan kepadanya.
Motor yang Shanin kendarai terus melaju di atas kecepatan rata-rata membelah jalanan kota malam ini, sedangkan pikirannya sedang berkelana kemana-mana, hal ini dapat membahayakan dirinya.
Dan bertepatan dengan itu, sebuah mobil di depannya mengerem mendadak yang menyebabkan Shanin dibelakangnya hilang kendali sampai akhirnya terjatuh ke bahu jalan.
"Awhss..." Shanin sedikit meringis merasakan sakit pada siku nya.
Karena keadaan malam ini yang cukup ramai, beberapa orang berdatangan menghampiri dirinya untuk membantu dirinya yang jatuh dari motor.
"Mba? Mba nggak kenapa-kenapa?" Ucap seorang bapak-bapak saat Shanin berhasil berdiri.
Motor miliknya sudah dibantu oleh orang lain yang ada di situ, begitupun dirinya.
"Saya gak kenapa-kenapa pak, cuma lecet dikit aja."
"Syukur kalo kayak gitu, lain kali hati-hati ya nak." Kali ini seorang ibu-ibu yang berucap.
"Iya Bu, tadi saya kurang fokus terus mobil di depan ngerem mendadak bikin saya hilang kendali. Makasih ya bapak ibu udah bantuin saya."
Shanin mengatakan itu sambil sedikit membungkukkan tubuhnya ke beberapa orang yang ada di sana.
Setelah itu orang-orang tadi langsung pergi meninggalkan dirinya, rasa perih di siku nya tadi masih terasa, mungkin nanti akan dia beri obat merah di kontrakan agar segera membaik.
Tanpa Shanin ketahui jika Samuel mengikutinya dari belakang, ketika melihat perempuan yang dia ikuti terjatuh dari motor, lelaki itu langsung menghentikan mobil miliknya.
Samuel berniat untuk menghampiri perempuan itu dan menolongnya, tetapi hal itu tertahan mengingat jika perempuan itu tidak ingin diganggu oleh dirinya saat ini.
Lelaki itu membiarkan orang-orang yang ada disana membantu Shanin, terlihat perempuan itu meringis sampai memegang siku tangannya, kemungkinan siku perempuan itu lecet karena tadi terjatuh dari motornya.
__ADS_1
BERSAMBUNG.