Gadis Biasa Milik CEO Tampan

Gadis Biasa Milik CEO Tampan
Bab 18


__ADS_3

Keesokan harinya Shanin sangat malas untuk bangun dari tidurnya, tubuhnya masih terasa pegal-pegal karena kemarin kurang beristirahat.


Tapi mau tidak mau perempuan itu harus segera beranjak dari kasur empuknya itu, tidak mungkin juga kan dia akan izin untuk tidak bekerja padahal dirinya saja baru bekerja dua hari yang lalu.


Tring... Tring... Tring...


Saat Shanin mencoba untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam matanya dan memulihkan kesadaran sepenuhnya, tiba-tiba saja ponsel miliknya yang berada di atas nakas di sampingnya berbunyi tanda adanya seseorang yang menelpon.


Dengan mata yang setengah terpejam, Shanin menjulurkan tangannya untuk meraih benda yang berbunyi tadi, saat berhasil mendapatkannya, Shanin langsung melihat siapa yang menelponnya sepagi ini.


Ternyata nama Kila yang baru kemarin dia simpan terpampang disana, hal itu membuat Shanin mengerutkan keningnya merasa bingung.


"Halo?" Tanya Shanin dengan suara khas orang bangun tidur.


"Halo, ini aku Kila Sha. Kamu baru bangun ya?"


"Iya Kil, aku baru aja bangun nih. Ada apa?"


"Kemarin kan kuncinya dibawa sama Nanda, tapi hari ini anak itu izin gak masuk kerja kamu bisa gak mampir dulu ke rumahnya sebelum berangkat ke sini?" Jelas perempuan yang ada di seberang sana.


"Emangnya rumah dia dimana?"


"Nanti aku kirim alamatnya ya, tapi rumah dia lebih dekat sama kontrakan kamu karena satu arah."


"Ya udah langsung kamu kirim aja, aku mau mandi dulu."


Setelah itu panggilan keduanya pun terputus, Shanin dengan terpaksa harus beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan ke arah kamar mandi.


Butuh waktu beberapa menit untuk perempuan itu menyelesaikan semua urusannya sebelum berangkat ke tempat kerja, mulai dari mandi pagi, membereskan kasur, memakai seragam dan juga menyiapkan bekal untuk dirinya sendiri.


Sekarang Shanin sudah siap untuk berangkat ke rumah Nanda sesuai dengan perintah dari Kila, teman kerjanya itu pun sudah memberikan alamat rumah Nanda


Kebetulan saat masih bekerja di toko bunga Shanin pernah mengantarkan bunga pesanan pelanggan ke kawasan tempat tinggal Nanda, jadi perempuan itu sudah lumayan mengetahui alamat rumah teman kerjanya itu.


Butuh beberapa menit untuk Shanin menempuh perjalanan ke tempat tinggal teman kerjanya itu, perempuan itu menghentikan motor miliknya tepat di depan sebuah rumah yang menurutnya cukup mewah itu.


Shanin memastikan kalau dia tidak salah alamat dengan cara kembali melihat dengan teliti alamat yang dikirimkan oleh Kila tadi dan ternyata memang benar ini rumahnya.


Tapi kenapa Nanda memilih untuk capek-capek bekerja? Sedangkan Shanin sendiri yakin jika biaya perawatan rumah milik temannya itu pun pasti setara dengan gajinya sebagai karyawan selama sebulan.


Tidak ingin menghabiskan waktu yang lebih lama, Shanin kemudian langsung turun dari motornya dan berjalan ke arah gerbang rumah yang tertutup itu.


"Permisi!"


Shanin sedikit meninggikan suaranya agar terdengar oleh orang yang ada di dalam sana.


"Iya, tunggu sebentar."

__ADS_1


Terdengar suara jawaban yang seperti milik seorang laki-laki yang ada di dalam sana dan saat gerbang itu sedikit terbuka, muncullah seorang lelaki yang berseragam seperti seorang satpam berdiri di sana.


Lagi-lagi Shanin dibuat sedikit terkejut mengetahui bahwa teman satu tempat kerja dengannya itu memiliki seorang satpam di rumahnya.


"Mba nya ada urusan apa ya?" Tanya sang satpam.


"Oh ini pak, aku temennya Nanda, Nanda nya ada?"


"Ohh temennya non Nanda, silahkan masuk kalo gitu." Satpam itu langsung memberikan jalan kepada Shanin untuk masuk.


"Nggak usah pak, cuma ada urusan sebentar doang kok, bisa minta tolong panggilin Nanda nya?" Tolak Shanin pada sang satpam.


"Ya udah kalo gitu, saya panggil non Nanda nya dulu, tunggu sebentar ya."


Setelah mengatakan itu si satpam itu langsung meninggalkan Shanin yang masih ada di depan gerbang dengan sesekali perempuan itu melirik ke arah dalam untuk melihat lebih jelas rumah teman kerjanya itu.


Tidak lama dari itu, saat Shanin masih asik dengan kegiatan mengamati rumah milik teman kerjanya itu, matanya menangkap seorang perempuan cantik yang berjalan menghampirinya dengan pakaian yang terkesan santai, dia Nanda.


"Udah lama Sha?"


"Gak kok Nan, baru aja. Mana sini kuncinya, aku mau langsung ke kafe keburu kesiangan."


"Nih, maaf ya jadi ngerepotin kamu gini." Ucap Nanda dengan raut wajah tak enaknya sambil tangan kanannya yang menyerahkan sebuah kunci pada Shanin.


"Gak apa-apa, kalo gitu aku jalan sekarang ya."


Shanin menanggapi perkataan teman yang satu tempat kerja dengannya itu dengan sebuah acungan jari jempolnya, kemudian perempuan itu kembali ke motornya dan mengendarai motor itu membelah jalanan pagi hari menuju ke kafe tempat kerjanya.


Ternyata saat Shanin sampai di kafe, beberapa karyawan sudah menunggu dirinya disana, menunggu pintu kafe itu terbuka oleh kunci yang sedang di bawanya saat ini.


Dengan sedikit berlari, Shanin menghampiri ke arah pintu kafe itu yang sudah ada beberapa karyawan yang menunggu disana.


"Maaf ya bikin kalian nunggu."


"Gak apa-apa Sha, ini aja masih untung kamu mau ambil kuncinya di rumah Nanda." Balas Mas Tio.


Shanin kemudian dengan cepat langsung membuka pintu itu dengan kunci yang dia bawa tadi, setelah pintu terbuka, para karyawan yang sudah menunggu untuk masuk tadi langsung masuk ke dalam ruangan itu.


"Tadi si Nanda ada di rumahnya, Sha?" Tanya Kila saat keduanya berjalan beriringan ke arah belakang.


"Iya, ada. Tadi aku sempet kebingungan cari rumah dia, mangkanya lama."


"Bingung kenapa? Perasaan aku udah kasih map yang sesuai."


"Ternyata itu perumahan elit Kil, aku gak nyangka Nanda punya rumah di situ." Jawab Shanin seadanya.


"Bener juga sih, pas awal aku main ke rumah dia juga aku gak nyangka kalo itu rumahnya."

__ADS_1


"Dari penampilannya aja dia emang kelihatan anak orang berpunya, tapi kenapa ya mau-maunya kerja disini? Aku kalo jadi dia sih mending santai aja di rumah." Shanin berkata realistis.


"Anak itu emang agak aneh, selama temanan sama aku juga dia masih agak tertutup."


Shanin hanya mengangguk-anggukan kepalanya menanggapi perkataan yang dilontarkan oleh Kila, kini keduanya sudah sampai di area belakang.


Lebih tepatnya di tempat yang mana biasanya mereka gunakan untuk menyimpan barang bawaan, setelah selesai menyimpan barang bawaannya yang berupa tas itu, Shanin langsung kembali melangkahkan kakinya ke depan.


"Kalo aku minta pelanggan hari ini gak terlalu ramai, salah gak ya?"


Pertanyaan itu tiba-tiba ada di dalam pikiran Shanin saat perempuan itu memang ke arah deretan kursi-kursi yang masih kosong di depannya.


Bukan tanpa alasan Shanin berkata demikian, itu karena dirinya merasa jika pelanggan siang ini ramai maka dirinya akan bekerja keras sendirian mengingat bahwa teman yang memiliki bagian yang sama dengannya tidak masuk kerja.


Untuk mengisi kesibukan sambil menunggu pelanggan yang datang, Shanin memilih untuk mencari keberadaan lap yang kemarin dia gunakan untuk mengelap kaca.


Seingatnya, kemarin saat di selesai mengelap kaca, dia kembali menaruh lap itu kembali ke tempat semula, yang mau tidak mau perempuan itu harus kembali ke belakang untuk menemukan lap itu.


"Cari apa Sha?"


Suara asing terdengar oleh indera pendengaran milik Shanin, ternyata itu suara milik Bu Gendis, salah satu karyawan yang menempati juru masak.


Sebenarnya Shanin sudah mengetahui semua nama karyawan di toko itu, tapi perempuan itu hanya sekedar mengenal namanya, tidak pernah berinteraksi secara langsung dengan sebuah perkataan.


"Oh ini, aku cari lap yang kemarin sempet aku pake buat lap kaca depan." Jelas Shanin memberi jawaban kepada perempuan itu.


"Ohh lap itu, di bawah situ kayaknya kemarin sore saya liat."


Setelah mendengar perkataan dari Bu Gendis, Shanin langsung kembali mencari lap yang dia butuhkan tadi.


"Iya ada nih Bu, aku ke depan dulu ya."


"Iya Sha."


Shanin kemudian keluar dari area belakang dengan sebuah lap yang ada di genggamannya, suasana kafe saat ini masih sama seperti sebelum dirinya tinggal ke belakang, belum ada pelanggan satupun.


"Mau ngapain Sha?"


Saat Shanin melewati meja kasir untuk menuju ke jendela yang akan dia lap, pertanyaan dari Kila yang kini sudah berada di tempat kasir menyapanya.


"Ke depan, lap kaca yang berembun tuh." Balas Shanin sambil menunjuk ke arah jendela yang dia tuju.


"Ohhh..." Kila mengangguk-anggukan kepalanya paham.


Setelah menjawab pertanyaan yang tadi dilayangkan oleh teman kerjanya itu, Shanin kembali melanjutkan langkahnya menuju ke jendela tadi.


Saat dia sampai di sana dan mulai mengelap dengan perlahan kaca jendela itu, matanya melirik ke arah langit yang hari ini nampak gelap, tidak secerah kemarin-kemarin, sepertinya hari ini akan turun hujan.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2