Gadis Biasa Milik CEO Tampan

Gadis Biasa Milik CEO Tampan
Bab 37


__ADS_3

Jam makan siang telah terlewatkan, para pelanggan yang datang di jam makan siang pun sudah mulai berpergian karena harus kembali bekerja lagi.


Saat inilah waktunya para karyawan kafe untuk istirahat, beberapa menit yang lalu Shanin sudah memesan makanan lewat ponsel pintar miliknya karena perempuan itu cukup malas keluar dari kafe di tengah teriknya matahari hari ini.


Sedangkan kedua teman kerjanya yaitu Kila dan Anna sedang memakan bekal bawaan mereka dari rumah, keduanya pun sempat menawarkan bekal mereka kepada Shanin agar dapat makan bareng-bareng, tapi Shanin secara halus menolaknya.


"Makanannya belum datang juga Sha? Ini aja makan bekal aku dulu." Tawar Anna.


"Iya Sha, daripada nunggu lama." Setuju Kila.


"Kalian aja deh, bentar lagi nih makanan punya aku datang." Ucap Shanin sambil menatap ke arah layar ponsel miliknya


"Ya udah kalo gitu." Balas Kila.


Dan benar saja, tidak sampai lima menit dari itu, terdengar dering dari ponsel milik Shanin berbunyi, menandakan bahwa adanya sebuah panggilan, panggilan itu berasal dari nomor si pengirim makanan milik Shanin.


"Halo Pak? Udah ada dimana?"


"Udah di depan mba, ambil ke sini aja ya."


"Oke-oke pak, tunggu sebentar disitu." Balas Shanin.


Setelah memutuskan panggilan tadi, Shanin langsung membawa langkah kakinya keluar dari dalam kafe, sesampainya di luar kafe, kepala Shanin celingak-celinguk mencari keberadaan orang yang mengantarkan makanan miliknya.


Akhirnya Shanin mendapati orang yang dia cari sedang duduk di atas salah satu motor yang ada di pinggir jalan dekat kafe.


"Mba Shanin ya?" Pengiriman itu memastikan.


"Iya Pak." Jawab Shanin.


Pengiriman itu pun menyerahkan satu kantong plastik yang kemudian diterima oleh Shanin.


"Udah saya bayar lewat aplikasi ya pak, makasih banyak." Ucap Shanin.


"Iya mba sama-sama."


Setelah itu Shanin langsung melenggang pergi dari sana untuk kembali masuk ke dalam kafe dengan plastik kantong yang berisi makanan miliknya.


"Udah datang Sha?" Tanya Anna yang baru saja menghabiskan bekalnya.


"Iya nih baru aja." Jawab Shanin sambil menunjukkan kantong plastik yang ada di tangannya.


"Ya udah makan dulu aja Sha, keburu ada pelanggan yang datang lagi, hari ini kamu kerja sampe malem kan?".


"Iya Ann, sampe malem, besok kamu libur ya?"


"Iya, kan kemarin aku udah bilang ke kamu sama Kila." Jawab Anna.


"Jangan lupa semur dagingnya ya Ann, sepupu kamu katanya besok nikah." Ini bukan suara yang berasal dari mulut Shanin, melainkan dari Kila yang kini ikut bergabung.


"Iya-iya tenang aja Kil, nanti aku bungkus buat kamu." Balas Anna.


Shanin hanya memperhatikan kedua teman kerjanya itu yang sedang mengobrol, dirinya sibuk dengan kegiatannya sendiri, yaitu memakan makanan yang dia pesan lewat online tadi.


Terdengar suara pintu kafe yang terbuka, Shanin tidak dapat melihat siapa yang datang karena posisinya yang membelakangi pintu kafe, tapi Shanin yakin jika yang membuka pintu kafe barusan adalah pelanggan.

__ADS_1


"Aku aja Sha yang layani." Ucap Anna sambil beranjak dari tempat duduknya.


Shanin hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, perempuan itu kembali melanjutkan kegiatan makan siangnya, membiarkan pelanggan yang barusan datang Anna yang melayani.


"Sha, itu pelanggan barusan kayaknya temen kamu deh." Ucap Kila pada Shanin yang masih sibuk dengan makanannya.


"Hah? Temen aku siapa?" Shanin bertanya sambil menolehkan kepalanya ke arah belakang untuk melihat siapa teman Shanin yang dimaksud oleh Kila barusan.


Samuel, ternyata orang yang dimaksud oleh Kila adalah Samuel. Lelaki itu kini tengah menundukkan kepalanya melihat-lihat menu yang ada di dalam buku menu dengan Anna yang ada di sampingnya.


Shanin tidak berniat untuk menghampiri Samuel saat ini, perempuan itu memilih untuk melanjutkan kegiatan makan siangnya yang sebentar lagi akan habis.


"Gak kamu samperin?" Tanya Kila.


"Emangnya kamu gak lihat aku lagi ngapain Kil?" Shanin balik bertanya sambil memperlihatkan makanannya.


"Ya siapa tau gitu." Balas Kila.


Terdengar suara langkah kaki yang semakin mendekat ke arah mereka berdua, langkah kaki itu milik Anna yang berjalan ke arah juru masak, yang secara tidak langsung harus melewati kedua teman kerjanya yang sedang berada di meja kasir.


Anna yang sudah sampai di tempat juru masak pun langsung menyerahkan selembar kertas yang berisi pesanan milik Samuel pada si juru masak disana.


Sambil menunggu pesanannya siap diantar, Anna memilih untuk kembali bergabung dengan kedua teman kerjanya.


"Sha, kamu makannya masih lama?" Anna bertanya."


"Bentar lagi, kenapa emangnya?"


"Pesanan barusan kamu aja yang anter ya, tadi pelanggannya sendiri yang minta, kalian kenal?"


"Pacaran mata kamu Kil, enak aja kalo ngomong, gak mungkin lah aku pacaran sama dia! Orang kita cuma temenan doang." Balas Shanin dengan raut wajah kesalnya.


"Iya-iya deh percaya, udah cepetan abisin makannya, keburu pesanan dia selesai dibikin." Ucap Kila.


"Sabar bentar lagi, lagian pasti pesanannya juga baru dimasak." Balas Shanin sambil kembali menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.


Sampai suapan terakhir makanan, Shanin langsung beranjak dari tempatnya duduk setelah merapihkan bekas makannya barusan.


Perempuan itu kemudian berjalan ke arah belakang berniat untuk mencuci tangannya di wastafel, selesai mencuci tangan, Shanin kembali bergabung dengan kedua teman kerjanya.


Baru saja Shanin mendudukkan dirinya di atas kursi, lonceng dari arah juru masak berbunyi yang menandakan jika makanan sudah siap untuk diantar membuat Shanin menghela nafasnya pasrah dan kembali beranjak dari duduknya.


Melihat Shanin yang menghela nafas pasrah membuat Kila dan Anna yang melihatnya tertawa kecil.


"Sabar Sha, ambil dulu pesanannya terus anterin." Ucap Anna.


"Iya Ann aku juga tau." Balas Shanin.


Setelah mengatakan itu Shanin langsung berjalan ke arah juru masak, meraih nampan yang sudah berisi pesanan Samuel disana, perempuan itu kemudian membawa dengan hati-hati nampan tersebut ke arah meja dimana Samuel berada.


Shanin mengembangkan senyumannya miliknya seperti biasa saat dirinya baru saja sampai di hadapan Samuel, perempuan itu kemudian dengan hati-hati memindahkan pesanan milik lelaki itu dari nampan ke atas meja.


"Silahkan dinikmati, semoga suka dengan menu yang anda pesan." Shanin berucap formal layaknya kepada seorang pelanggan biasa.


Samuel kemudian menganggukkan kepalanya mendengar ucapan perempuan yang kini masih berada di hadapannya.

__ADS_1


"Apakah masih sibuk?" Tanya Samuel sambil menatap ke arah Shanin.


Mendengar pertanyaan yang dilayangkan oleh Samuel barusan membuat Shanin mengerutkan keningnya kebingungan.


"Sekarang lagi nggak, karena gak ada pelanggan lain selain kamu, emangnya kenapa?" Shanin bertanya pada Samuel.


"Tolong temani saya disini." Ucapan Samuel barusan terdengar seperti sebuah perintah yang tidak dapat Shanin tolak.


"O-oh oke." Jawab Shanin yang kemudian duduk di sebuah kursi yang ada di hadapan Samuel.


Sedangkan Samuel langsung menikmati kegiatan makannya tanpa mempedulikan kehadiran Shanin di hadapannya, bahkan lelaki itu tidak basa-basi barang sekalipun menawarkan makanan-makanan kepada Shanin.


Entahlah, lagipula Shanin tidak berharap untuk itu, mungkin saja lelaki itu tadi melihat dirinya yang baru saja selesai makan, maka dari itu tidak menawarinya makan.


"Kamu Sakit?" Pertanyaan tiba-tiba dari Samuel barusan membuat Shanin terperanjat dari lamunannya.


"H-hah? Sakit? Siapa yang sakit?"


"Kamu sakit? Muka kamu kelihatan pucat." Samuel mengulang kembali pertanyaannya.


"Masa sih? Nggak ah, aku gak kenapa-kenapa." Jawab Shanin.


"Kantung mata kamu juga kelihatan gelap, Sha." Ucap Samuel.


"Ah itu mungkin karena semalem aku bergadang." Balas Shanin.


"Kamu bergadang semalam? Karena menyelesaikan pekerjaan yang saya berikan?"


Mendengar pertanyaan Samuel barusan, Shanin sontak menggelengkan kepalanya tanda jika bukan itu yang menyebabkan Shanin bergadang.


"Bukan, bukan karena itu, pekerjaan yang kamu kasih ke aku gak aku lanjut semalem. Ini aku bergadang gara-gara nonton anime kesukaan aku." Jawab Shanin sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Terdengar helaan nafas kasar dari lelaki yang ada di hadapan Shanin saat ini setelah mendengar jawaban yang diberikan oleh perempuan itu.


"Jangan membuang-buang waktu untuk hal yang tidak penting." Balas Samuel yang kemudian melanjutkan kembali kegiatan makan siangnya.


Saat ini Shanin tidak tau lagi harus berbuat apa, sebenarnya perempuan itu takut jika Samuel akan marah karena laptop yang diberikan oleh lelaki itu malah dia gunakan untuk menonton.


"Sam? Kamu gak marah kan laptopnya aku pake buat nonton?" Tanya Shanin dengan nada takut-takut.


Hanya gelengan kepala lelaki itu yang didapat oleh Shanin, yang membuat perempuan itu semakin gusar dibuatnya, walaupun gelengan kepala bermakna tidak, tapi tetap saja pasti Samuel akan marah padanya, melihat bagaimana respon lelaku itu padanya.


"Beneran Sam?" Shanin memastikan.


Terdengar suara dentingan antara piring dan juga sendok yang diletakkan dengan sedikit kasar oleh Samuel, lelaki itu kemudian menatap dengan intens mata Shanin.


"Laptop itu sudah menjadi milik kamu, jadi terserah kamu mau diapakan laptop itu." Jawab Samuel.


"Beneran deh ini kali pertama dan terakhir aku pake laptop kamu buat nonton anime, besok dan seterusnya nggak lagi." Ucap Shanin.


"Laptop itu punya kamu Shanin, saya tidak masalah kamu gunakan untuk apa saja laptop itu, yang penting ingat dengan waktu dan kondisi tubuhmu."


Saat ini Samuel layaknya menjadi seorang Ayah yang sedang memarahi putrinya, Shanin yang ada di hadapan lelaki itu menggunakan kepalanya tanda mengerti walaupun sebenarnya Shanin masih sedikit takut dengan Samuel saat ini.


Setelah itu tidak ada lagi percakapan antara keduanya, Samuel yang melanjutkan kegiatan makan siangnya dan Shanin yang memilih untuk bungkam di hadapan lelaki itu.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2