
Setelah perkataan itu, mobil taksi itu melaju ke tempat yang dituju tadi, yaitu mall. Selain berencana untuk membeli ponsel, Samuel juga berencana untuk membeli beberapa baju untuknya dan bahan makanan untuk dimasak oleh perempuan yang sudah menolongnya itu.
Tidak ingin berlama-lama di keramaian, setelah mendapatkan semua barang yang lelaki itu inginkan. Kini dia sudah kembali terduduk di dalam taksi yang berbeda dan sudah bersiap untuk meninggalkan tempat ramai itu.
Setelah mendapatkan ponsel yang lelaki itu langsung mengetikkan nomor ponsel sekertaris nya. Samuel merupakan tipe orang yang hafal nomor-nomor yang sekiranya penting, contohnya nomor ponsel sekretaris pribadinya.
"Halo?" Suara itu berasal dari orang yang ada di seberang sana.
"Saya Samuel, apakah benar ini Freya?"
"Hah?? Pak Samuel?! Bagaimana bi-"
"Simpan dulu berbagai pertanyaan yang ada di pikiran kamu, saya hanya minta tolong untuk urus kantor sementara waktu selama saya tidak ada disana." Samuel dengan cepat memotong ucapan orang yang ada di seberang sana.
"B-baik pak, tapi kenapa?"
"Ikutin saja perintah yang saya berikan, secepatnya saya akan kembali."
"Baiklah pak, sekarang bapak ada dimana? Seluruh orang kantor khawatir dengan keadaan anda."
"Saya baik-baik saja, tapi saya minta tolong kepada kamu untuk mengirimkan uang seratus juta ke rekening saya yang biasa."
"Ah, baik pak kalau begitu, ada lagi yang bisa saya bantu?"
"Tidak ada, saya tutup panggilannya."
Setelah mengatakan itu, Samuel langsung menutup panggilan tanpa menunggu jawaban dari lawan bicaranya yang ada di seberang sana, setelahnya lelaki itu langsung memasukkan ponsel pintarnya itu ke dalam kantong celananya dan memutuskan untuk pulang ke kontrakan milik Shanin.
Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk lelaki itu sampai di kontrakan milik perempuan yang sudah rela memberikan tumpangan kepadanya.
Merogoh kembali ponsel yang ada di kantong celananya, untuk melihat jam berapa sekarang ini, jarum jam menunjukkan ke arah jam satu, tapi pintu kontrakan masih tertutup rapat dan juga belum ada motor milik Shanin di depan, perempuan itu belum pulang.
Kembali melangkahkan kaki menuju ke depan pintu dan mengambil kunci yang ada di atas pintu tersebut, yang disimpannya tadi, kemudian membukanya.
Teringat pesan Shanin yang mengatakan jika perempuan itu belum juga pulang di jam satu siang, dia disuruh untuk memasak mie instan saja untuk makan siang.
__ADS_1
Karena Samuel sudah merasa lapar dan pada akhirnya memilih untuk berjalan ke arah dapur, membuka lemari yang didalamnya terdapat beberapa mie instan.
Sebenarnya Samuel tidak pernah memasak sendiri, bahkan hanya untuk sekedar memasak mie instan pun tidak pernah. Meskipun begitu, dia tau caranya karena pernah melihat temannya memasak mie saat masih kuliah di luar negeri, tapi belum pernah mencobanya sendiri.
Untuk memastikan apakah cara yang lelaki itu lakukan benar apa tidak, Samuel membalik bungkus mie instan itu, yang dibelakangnya terdapat langkah-langkah untuk memasaknya.
Yang harus dia lakukan pertama kali adalah mendidihkan air ke dalam panci, dengan cepat lelaki itu mencari dimana panci tersimpan.
Setelah mendapatkan panci itu, dia kemudian menuangkan air yang ada di dalam teko secukupnya ke dalam panci tersebut sesuai dengan petunjuk yang ada di kemasan.
Dan kini saatnya untuk menyalakan api kompor, dengan hati-hati lelaki itu menyalakan kompor yang diatasnya sudah terdapat panci yang terisi air.
Kompor sudah berhasil dinyalakan, tinggal menunggu sampai air yang ada di panci mendidih. Saat Samuel sedang menunggu air mendidih, tiba-tiba ponsel miliknya yang dia letakkan di atas meja belajar tadi berbunyi.
Segera lelaki itu mengambil ponsel miliknya yang berbunyi untuk mengetahui siapa yang menelponnya, disana terpampang jelas nama sekretaris pribadinya, orang yang menelpon dirinya.
"Ada apa lagi?"
"Saya sudah transfer uang sesuai dengan yang bapak minta tadi."
"Begini pak, besok lusa akan ada rapat besar dengan partner bisnis dari Thailand yang dulu sempat saya beritahu dan bos besar sudah memerintahkan Pak Regard untuk menggantikan posisi bapak sementara." Jelas sekretarisnya panjang lebar di seberang sana.
Sebelumnya Samuel sudah dapat menduga apa yang akan terjadi, rencana ini memang sudah diatur oleh sang kakak, yang sedari dulu ingin mengambil posisinya.
"Ini keputusan yang diberikan oleh ayah saya secara langsung?"
Percakapan itu terus berlanjut sampai-sampai Samuel tidak sadar kalau tadi dia sedang memasak mie di dapur.
Beberapa menit setelahnya lelaki itu baru tersadar karena mencium aroma gosong dari arah dapur, Samuel pun langsung bangkit dari kursi yang tadi sempat dia duduki sambil berbincang dengan Freya, sekertaris pribadinya yang ada di seberang sana.
"Nanti kita lanjut, masih ada yang perlu saya urus."
Tanpa menunggu balasan dari orang yang ada di seberang sana, Samuel dengan segera berjalan ke arah dapur dan benar saja, panci yang tadinya terisi oleh air kini sudah menghitam karena gosong, tapi untungnya saja tidak sampai menimbulkan percikan api.
***
__ADS_1
Waktu terus berjalan, sampai akhirnya menunjukkan pukul dua belas siang, waktunya istirahat untuk makan siang.
"Sha! Ayo keluar cari makan."
Itu ajakan dari Gita yang sedang berjalan ke arah Shanin dengan Ajeng yang mengikutinya dari belakang, mereka sudah akur kembali.
"Kalian aja berdua, aku mau pulang ke kontrakan dulu, makan siang disana." Balas Shanin untuk menjawab ajakan dari kedua temannya itu.
"Loh? Tumben banget Sha?" Kali ini Ajeng yang mengeluarkan suara.
"Kemarin Tante aku bawain aku banyak masakan, sayang kalo gak abis hari ini, pasti besoknya basi." Shanin mencoba untuk menjelaskan sesuatu yang jelas-jelas sebuah kebohongan.
"Oh gitu, ya udah deh. Aku sama Gita duluan ya."
"Iya hati-hati."
Setelah kepergian dua temannya dari dalam toko, Shanin melangkahkan kakinya ke arah loker untuk mengambil tas miliknya yang ada di dalam sana.
Setelah mendapatkan tas tersebut, Shanin langsung bergegas keluar dari toko dan mengendarai motornya membelah jalanan siang ini.
Butuh waktu beberapa menit untuk Shanin sampai ke gang kontrakannya berada, sebelum benar-benar sampai ke kontrakan.
Shanin lagi-lagi mampir terlebih dahulu ke warung makan Bu Aminah berniat membeli lauk untuk makan siang hari ini.
Butuh waktu yang cukup lama karena warung makan Bu Aminah siang ini sedang ramai mengingat ini adalah jam makan siang orang-orang, Shanin pun dengan sabar mengantri untuk mendapatkan gilirannya dengan sesekali melirik ke arah jam tangan yang sedang dia gunakan, sudah menunjukkan pukul satu siang lebih.
Waktu istirahatnya sudah habis dan seharusnya dia sudah kembali ke toko untuk kembali bekerja, tapi sepertinya Shanin harus menyiapkan alasan lain karena telat datang.
Akhirnya satu kantong plastik yang berisi ikan bakar sudah ada di tangannya, dengan cepat Shanin mengendarai motornya menuju ke kontrakan miliknya, Samuel pasti sudah menunggu disana.
Diparkiran nya motor Vespa matic itu di depan kontrakan, Shanin mengernyit keningnya heran karena mencium aroma gosong yang entah berasal dari mana.
Terlihat pintu kontrakan yang sedikit terbuka, Shanin langsung masuk ke dalam kontrakan dan tidak melihat satu orangpun di dalam sana, matanya langsung tertuju ke arah dapur yang berasap.
Shanin dibuat ternganga dengan apa yang dilihatnya saat ini, keadaan dapur miliknya yang gosong karena abu hitam dan seorang lelaki yang hanya terdiam memandangi apa yang terjadi di depannya.
__ADS_1
BERSAMBUNG.