Gadis Biasa Milik CEO Tampan

Gadis Biasa Milik CEO Tampan
Bab 12


__ADS_3

Berbeda dengan keadaan Shanin saat berada di toko tadi, berlaga kuat dan ikhlas menerima dirinya dipecat, sesampainya di kontrakan perempuan itu langsung masuk ke dalam kamar dan menenggelamkan wajahnya pada bantal.


Terdengar suara tangisan yang tertahan karena tertutup oleh bantal tersebut, Shanin tidak tau lagi apa yang harus dia lakukan kedepannya


Perempuan itu tau betul bagaimana susahnya mencari kerja sekarang ini, ditambah dia sudah tidak mempunyai tabungan lagi sekarang ini, tadi dia hanya berbohong kepada kedua temannya agar mereka berhenti mengkhawatirkan dirinya.


Memang beberapa hari lalu dia sempat memegang kartu ATM milik Samuel di tangannya, tapi sehari sebelum lelaki itu pergi meninggalkannya, Shanin sudah mengembalikan kartu ATM itu ke pemiliknya.


"Ayah, ibu, aku gak tau lagi harus apa sekarang ini." Itu adalah perkataan dari dalam hati Shanin sambil menatap ke arah atap-atap kamarnya.


Di usianya yang tergolong masih cukup muda ini, seharusnya Shanin menikmati masa-masa mudanya atau dia bisa melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi sebagaimana keinginannya dulu, tapi nyatanya itu hanya angan-angan semata saja.


Di tengah lamunannya tiba-tiba sebuah notifikasi dari ponsel miliknya terdengar. Ternyata pemberitahuan dari email nya tentang lowongan pekerjaan dari salah satu perusahaan.


Dahi milik Shanin mengerut merasa bingung, pasalnya selama ini tidak pernah ada notifikasi seperti ini masuk ke email nya, tapi kenapa hal itu bisa sangat bertepatan dengan kejadian dimana dirinya baru saja dipecat.


Karena rasa penasaran yang besar di dalam dirinya, perempuan itu akhirnya menekan layar ponsel miliknya untuk melihat lebih rinci lowongan pekerjaan itu.


Melihat nama perusahaannya saja langsung membuat Shanin tidak percaya diri dan sadar diri, dia tidak mungkin akan masuk ke dalam perusahaan bidang properti yang terkenal itu.


Perempuan itu menghela nafasnya kasar dan kemudian mulai beranjak dari tidurnya, dia harus membersihkan diri dan mencari makanan untuk dirinya makan malam ini.


***


Di tempat lain lelaki yang menjabat sebagai CEO muda di perusahaannya masih tetap berkutat dengan berkas-berkas yang ada di hadapannya.


Terdengar ponsel pribadi miliknya berdering menandakan bahwa ada seseorang yang memanggil di seberang sana, satu tangannya dia ulurkan untuk meraih ponsel yang berbunyi itu dan segera mengangkatnya.


"Halo? Ada apa?"


"Selamat siang pak, saya hanya ingin memberitahu jika saya sudah mengirimkan informasi lowongan kerja ke email yang bapak berikan tadi sesuai dengan perintah anda." Jelas seseorang yang ada di seberang sana.


"Baiklah, terimakasih."


Tanpa harus mendapatkan balasan dari si lawan bicaranya yang ada di seberang sana, Samuel sudah mematikan panggilan itu secara sepihak.


Lelaki itu langsung kembali lagi berfokus ke berkas-berkas yang harus dia kerjakan agar cepat selesai sambil menunggu informasi selanjutnya dari orang suruhan tentang Shanin.


Baru saja lelaki itu kembali berkutat dengan berkas-berkas yang ada di depannya, pintu ruangannya tiba-tiba saja terbuka dan menampilkan sosok lelaki dengan perawakan tinggi sepertinya, Regard.


Lelaki yang merupakan kakak kandung Samuel itu dengan santainya duduk di sofa yang ada di ruangan itu tanpa mengatakan sepatah katapun, entah apa maksud kedatangan lelaki itu kesini.


"Apa kau tidak punya tangan untuk mengetuk pintu terlebih dahulu?" Pertanyaan itu Samuel layangkan guna menyindir saudara laki-laki nya itu.


"Saya pikir kita tidak perlu formal seperti itu."


Malas untuk menanggapi jawaban yang diberikan oleh sang kakak, Samuel lebih memilih untuk kembali mengalihkan perhatiannya ke berkas-berkas yang harus dia kerjakan.


"Aku dengar-dengar salah satu pegawai dari posisi desain mengundurkan diri." Lanjut Regard yang masih tidak ditanggapi oleh Samuel.


"Ck, kau sendiri bahkan tidak punya sopan santun Sam." Sang kakak menyindir balik sang adik karena tidak menanggapi perkataannya.

__ADS_1


"Jika kedatangan kau kesini hanya untuk mengganggu saya bekerja, lebih baik keluar dari sini." Samuel mengatakan itu tanpa melirik sedikit pun pada kakaknya.


"Lihat? Kau bahkan mengusir kakakmu sendiri."


Saat ini Regard benar-benar sangat menyebalkan, membuat Samuel lagi-lagi berusaha untuk tidak peduli dengan keberadaan sang kakak itu.


"Sepertinya banyak yang harus direnovasi di ruangan ini."


"Kemarin saat aku menempati ruangan ini benar-benar panas."


Lelaki yang lebih tua itu terus saja berceloteh layaknya seorang perempuan, dia mengomentari apa saja yang dapat dia komentari disini.


Sampai-sampai Samuel dibuat jengah dengan tingkah laku kakaknya itu, lelaki yang lebih tua itu bahkan sudah bangkit dari duduknya di sofa tadi dan mulai mengelilingi sudut-sudut di ruangan kerja milik Samuel.


Samuel menghela nafas panjang karena jengah melihat kelakuan sang kakak, sampai akhirnya lelaki itu meletakkan berkas yang ada di genggamannya dengan kasar ke atas meja.


"Sudah saya bilang anda lebih baik keluar dari sini, keberadaan anda terlalu berisik."


Lagi-lagi Samuel berkata seperti itu karena memang dirinya sudah benar-benar jengah dengan keberadaan sang kakak yang berisik disini.


"Wah, tenang-tenang. Lagipula saya akan keluar, masih ada yang perlu saya urus diluar, sampai jumpa di rumah pak CEO."


Setelah mengatakan hal itu, Regard langsung melenggang pergi keluar dari dalam ruang kerja Samuel itu dan saat itu juga Samuel dapat bernafas lega karena sang kakak sudah meninggalkan ruang kerja miliknya.


***


"Ini Sha kembaliannya."


Shanin meraih uang kembalian yang disodorkan oleh Bu Aminah, dia sedang berada di warung makan Bu Aminah untuk membeli nasi dan tidak lupa juga dengan lauknya untuk makan malamnya.


Perempuan itu membawa kedua kakinya untuk melangkah keluar dari dalam warung dengan sebuah kantong plastik yang berisi makanan di tangan kanannya.


Kali ini Shanin tidak sedang membawa motor Vespa matic kesayangannya itu, perempuan itu memilih untuk berjalan kaki hitung-hitung mencari udara segar walaupun pada kenyataan udara disini sudah tercemar oleh polusi.


"Permisi Bu."


"Tumben jalan kaki Sha."


Shanin menyapa ibu-ibu yang sedang berkumpul di pinggir gang dan dibalas oleh senyuman oleh mereka, ada juga salah satu tetangganya yang berkata demikian kepadanya.


"Lagi pengen aja Bu, itung-itung olahraga biar sehat." Perempuan itu membalas perkataan dari tetangganya itu dengan tawa kecil di belakangnya.


"Kalo gitu saya duluan ya, ibu-ibu."


Setelah mengatakan itu Shanin kembali melangkahkan kaki menuju ke kontrakannya, saat baru saja kakinya menginjak lantai dingin kontrakannya.


Ponsel miliknya yang ada di tangan kirinya sedari tadi berbunyi, tertera nama Ajeng disana, ada apa anak itu tiba-tiba menelponnya?


Untuk menutupi rasa penasarannya, perempuan itu kemudian dengan cepat langsung mengangkat panggilan dari Ajeng yang berada di seberang sana.


"Halo Jeng? Ada apa?"

__ADS_1


"Hai Sha, aku mau kasih tau ke kamu kalo sepupu aku lagi butuh pelayan di kafe nya, siapa tau kamu tertarik buat ngelamar disana." Jelas Ajeng yang berada di seberang sana.


"Beneran kamu Jeng?" Shanin tidak dapat menutupi rasa antusiasnya ketika mendengar perkataan temannya itu.


"Iya beneran, lagipula ngapain juga aku becanda. Jadi gimana nih? Kamu mau nggak?"


"Kok kamu tanya kayak gitu sih, ya pastinya aku mau dong Jeng, kamu juga kan tau sendiri kalo aku baru aja dipecat."


Terdengar suara Ajeng yang tertawa kecil di seberang sana.


"Iya juga sih, tapi aku mau pastiin aja ke kamu. Ya udah kalo gitu besok kamu datang ke tempat yang alamatnya aku kirim di chat ya, nanti aku bilang juga ke sepupu aku biar gak usah kasih kamu training segala macem."


"Gak perlu sampe segitunya juga kali Jeng, kalo gak terima juga gak kenapa-kenapa kok."


"Gak bisa gitu dong Sha, nanti aku paksa sepupu aku supaya terima kamu kerja disana."


"Iya-iya terserah kamu aja maunya gimana, makasih banyak ya."


"Ngapain bilang makasih segala sih, udah semestinya aku bantu kamu kali Sha. Ya udah ya aku mau makan dulu, kamu juga jangan lupa makan."


Pada dasarnya Ajeng memang mempunyai pribadi yang lembut walaupun perempuan itu terlihat sangat cuek dengan orang lain bahkan dia tidak akan bicara jika tidak diajak bicara terlebih dahulu oleh lawan bicaranya.


"Aku juga baru aja sampe ke kontrakan abis beli makanan di depan nih. Ya udah kalo gitu, bye bye!"


Setelahnya panggilan itu pun terputus, saat Shanin baru saja hendak masuk ke dalam kontrakannya, tiba-tiba saja suara milik Pak Agung tetangganya menghentikan niatnya itu.


"Kamu dipecat dari tempat kerja mu Sha? Maaf ya tadi bapak gak sengaja denger obrolan kamu sama temen kami di telepon."


"Eh? Nggak apa-apa pak, iya tadi siang aku baru aja dipecat dari tempat aku kerja."


"Ya ampun, tapi tadi bapak juga denger kalo kamu mau ngelamar kerja di tempat temen kamu ya?"


"Kalo semisalnya nanti kamu gak keterima disana, kebetulan di pabrik bapak juga lagi ada lowongan kerja, siapa tau kamu tertarik." Lanjut tetangga Shanin tersebut.


Senyum Shanin mengembang mendengarnya, entah apa yang pernah dia perbuat dulu sampai-sampai saat ini dia bisa dikelilingi oleh orang-orang yang baik hati.


"Iya, makasih banyak ya pak. Nanti kalo semisalnya aku gak terima disana, aku pasti coba buat ngelamar di pabrik bapak."


"Saya doain kamu diterima, soalnya kerja di pabrik itu lebih berat."


"Aamiin, kalo gitu aku masuk dulu ya pak."


"Iya, udah sana makan biar gak sakit dan semangat buat lamaran kerja besok."


Perkataan dari pak agung itu pun dibalas dengan senyuman oleh Shanin yang kemudian perempuan itu masuk ke dalam kontrakan miliknya.


Shanin sangat bersyukur bisa dikelilingi dengan orang-orang baik di sekitarnya, meskipun dia belum sebaik itu sehingga terkadang perempuan itu merasa tidak enak jika harus terus menerus merepotkan orang-orang yang ada di sekitarnya.


Sebisa mungkin perempuan itu melakukan semuanya dengan sendiri selagi dia masih bisa atau mampu untuk itu, dulu sebelumĀ  kedua orang tuanya pergi, mereka selalu mengajarkan Shanin untuk hidup dengan mandiri.


Hal itu tentu saja Shanin tanamkan dalam dirinya sampai sekarang ini, lagipula jika ada orang yang terlalu baik padanya, dia akan bingung harus membalas dengan cara apa kebaikan itu.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2