Gadis Biasa Milik CEO Tampan

Gadis Biasa Milik CEO Tampan
Bab 36


__ADS_3

Setelah kepulangan Samuel dari kontrakannya, Shanin langsung membersihkan dirinya, perempuan itu tidak melanjutkan pekerjaannya di laptop.


Setelah mandi dia langsung memakai pakaian khas rumahan yang nyaman digunakan ketika tidur, perempuan itu kemudian meraih laptop miliknya yang ada di meja belajar dan membawanya masuk ke dalam kamar.


Malam ini Shanin berinisiatif untuk kembali melanjutkan kegiatan menonton salah satu anime kesukaannya yang memiliki banyak sekali episode, entah kapan Shanin dapat menamatkan anime itu.


Mencari posisi yang nyaman di atas kasur, perempuan itu kemudian langsung menyalakan layar laptopnya, mengetikan sesuatu di atas keyboard dan muncul lah anime kesukaannya disana.


"Nonton kayak gini rasanya gak seru kalo ga ada cemilan." Ucap Shanin pada dirinya sendiri.


Shanin kemudian berpikir cemilan apa yang cocok untuk sekarang ini, padahal sebenarnya Shanin sudah kenyang karena baru saja selesai makan malam bersama dengan Samuel tadi, tapi mulutnya seakan ingin mengunyah sesuatu.


Perempuan itu memilih untuk beranjak dari kasur miliknya dan berjalan ke arah dapur, membuka pintu kulkas yang ada disana untuk melihat ada makanan apa di dalam sana yang bisa dia jadikan cemilan.


Kosong, tidak ada makanan apapun yang bisa dia jadikan sebagai cemilan, sepertinya besok dia harus pergi ke minimarket setelah pulang kerja.


Karena tidak mendapatkan apa yang dia cari di dalam kulkas, Shanin memilih untuk kembali lagi masuk ke dalam kamarnya dengan tangan kosong.


"Aduh mana besok kerja sampe malem lagi." Keluh Shanin.


Perempuan itu kembali fokus dengan tontonan yang kini ada di layar laptopnya, sampai matanya mulai terasa berat dan memilih untuk tidur setelah dirinya mematikan layar laptopnya yang masih menyala tadi.


Pagi hari pun telah tiba, Shanin dibuat kelimpungan karena dirinya yang telat bangun pagi ini, hal itu terjadi karena semalam dirinya tidur sampai larut malam.


"Ya ampun kenapa bisa kesiangan kayak gini?" Tanya Shanin pada dirinya sendiri sambil berlari ke dalam kamar mandi setelah menyempatkan diri untuk meraih handuk yang tergantung di belakang pintu.


Karena sudah kesiangan, Shanin mandi dengan secepat kilat, yang penting tubuhnya basah kena air. Setelah selesai dengan kegiatan mandinya yang singkat itu, Shanin kemudian langsung kembali masuk ke dalam kamar dan memakai seragam kerjanya.


Tidak ada waktu untuk Shanin sarapan apalagi untuk sekedar berdandan, setelah selesai mengenakan pakaiannya dan merapikan rambutnya yang di ikat seperti biasanya, perempuan itu langsung meraih tas selempang dan kunci motor dengan asal.


"Loh, belum berangkat Sha?" Tanya Bu Ayu tetangganya yang sedang menjemur pakaian.


"Iya Bu kesiangan, aku berangkat kerja dulu ya." Pamit Shanin yang langsung melajukan sepeda motornya meninggalkan kontrakan miliknya.


Walaupun dalam keadaan yang sedang terburu-buru, Shanin tetap berusaha untuk melajukan motornya dengan hati-hati membelah jalanan kota pagi ini menuju ke kafe tempat kerjanya.


Sedangkan di tempat lain, di kafe tempat Shanin bekerja sudah ada Anna dan juga Kila seperti biasa keduanya tengah sibuk dengan kegiatan masing-masing.


Kila yang terlihat sedang mengotak-atik komputer di hadapannya, sedangkan Anna sedang sibuk mengelap kaca jendela kafe.


Setelah selesai dengan pekerjaannya mengelap kaca jendela, Anna kemudian membawa langkah kakinya mendekat ke arah Kila dengan membawa sebuah lap di tangannya yang perempuan itu gunakan untuk mengelap kaca jendela tadi.


"Shanin belum datang juga Kil? Ada chat gak sama kamu anaknya?" Tanya Anna pada Kila.


"Nggak ada Ann, tadi aku telepon juga gak aktif nomornya." Jawab Kila dengan jari yang masih bergerak kesana kemari di atas keyboard.


"Kesiangan kali anaknya." Ucap Anna sambil berjalan ke arah belakang untuk menyimpan lap dan mencuci tangannya.


Tidak lama setelah kepergian Anna dari hadapan Kila, pintu kafe terbuka dan menampilkan sosok Shanin yang sepertinya baru saja berlari, terlihat dari bagaimana perempuan itu bernafas, seperti sedang berebut oksigen.


Dengan nafas yang ngos-ngosan Shanin berjalan mendekat ke arah Kila sambil menenteng tas selempang yang harusnya dia kaitkan ke bahu nya.


"Kil, aku kesiangan." Ucap Shanin setelah berhasil mengatur deru nafasnya.


"Iya aku tau." Balas Kila.


"Kamu gak kaget atau gimana gitu?" Tanya Shanin.


"Nggak ah, ngapain juga? Aku udah bisa nebak kalo kamu kesiangan Sha." Jawab Kila.


Mendengar jawaban yang diberikan oleh Kila barusan membuat Shanin mendengus kesal dan memilih untuk berjalan ke arah belakang untuk menaruh tas bawaannya.

__ADS_1


Saat sudah sampai di area belakang, sorot mata Shanin menangkap perawakan tinggi ramping milik Anna, teman kerja Shanin itu sedang mencuci tangan di wastafel.


"Loh? Baru datang kamu Sha?" Tanya Anna saat dirinya baru saja berbalik badan dan melihat keberadaan Shanin yang sedang menaruh tasnya.


"Iya Ann, aku kesiangan." Jawab Shanin.


"Ya ampun, aku kira kamu sakit mangkanya gak masuk kerja." Ucap Anna yang kini sedang mengeringkan tangannya pada sebuah lap.


"Semalem aku bergadang, mangkanya bisa kesiangan kayak gini."


"Emangnya kamu begadang sampe jam berapa? Terus ngapain sampe begadang segala?" Tanya Anna dengan penuh rasa penasaran.


"Aku gak sadar deh bergadang sampe jam berapa semalem, aku begadang karena nonton anime kesukaan aku." Jawab Shanin sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Udah tau besoknya masih harus kerja, kenapa rela begadang segala?"


"Semalem aku bosen soalnya, terus juga aku belum selesai dan kayaknya gak bakalan selesai nonton semua episode anime kesukaan aku." Jelas Shanin yang dibalas dengan helaan nafas panjang oleh Anna.


"Oh iya, maaf ya Ann gara-gara aku kesiangan jadi gak bisa bantu kamu beres-beres kafe." Ucap Shanin sambil menatap Anna dengan wajah tidak enaknya


"Gapapa Sha, yang penting jangan tiap hari kayak gini." Balas Anna.


"Nggak lah, kalo aku tiap hari kayak gini bisa-bisa dipecat." Ucap Shanin.


Anna kemudian membalas perkataan Shanin barusan dengan anggukan setuju, perempuan itu kemudian meninggalkan Shanin yang masih ada di area belakang.


Shanin yang ditinggal pergi oleh teman kerjanya itu pun langsung berlari kecil untuk menyusul langkah kaki milik Anna, keduanya keluar dari area belakang dan memilih untuk duduk di kursi yang dekat dengan meja kasir.


"Pagi-pagi gini beli sarapan dimana ya yang ada di sekitar sini?" Tanya Shanin pada kedua teman kerjanya.


"Kamu belum sarapan Sha?" Tanya Kila.


"Masih tetep keliatan cantik kok." Puji Anna.


"Aku nggak butuh pujian itu sekarang Ann, yang aku butuh itu warung makan yang udah buka pagi ini."


"Jam segini mah belum ada yang buka Sha, beli roti aja buat ganjel perut, nanti makan siang baru makan nasi." Ucap Kila yang sudah tau tentang tempat-tempat yang ada di sekitar kafe tempat kerja mereka bertiga.


Sepertinya Shanin harus mengikuti usulan dari Kila barusan, padahal sebenarnya Shanin tidak terlalu suka dengan makanan yang disebut roti itu, tapi tidak apa-apa karena keadaannya sedang terpaksa.


"Ya udah deh aku ke minimarket depan dulu." Ucap Shanin sambil beranjak dari kursi tempatnya duduk.


Perkataan Shanin barusan dibalas dengan anggukan oleh kedua teman kerjanya, perempuan itu kemudian membawa langkah kakinya ke area belakang untuk mengambil uangnya yang ada di dalam tas selempang miliknya, tapi hal itu ditahan oleh suara milik Kila.


"Katanya mau ke minimarket depan, tapi kok malah mau balik lagi ke belakang sih Sha?" Tanya Kila sambil menatap ke arah Shanin.


"Ya aku mau ambil uang dulu di dalam tas aku Kil, kan tas nya ada di belakang." Jawab Shanin sambil memutarkan bola matanya malas.


"Oh gitu, ya udah sana." Usir Kila.


Setelah mendapat pengusiran dari teman kerjanya, Shanin kemudian melanjutkan langkahnya ke tempat yang dituju olehnya yaitu area belakang.


Sesampainya di area belakang, perempuan itu langsung merogoh tas selempang yang dia simpan tadi dan mengambil dompet miliknya yang ada di dalam sana.


Shanin mengambil selembar uang dengan pecahan dua puluh ribu, sepertinya dua puluh ribu akan cukup karena dirinya hanya akan membeli satu roti di minimarket yang harganya tidak terlalu mahal.


"Ada yang mau titip sesuatu gak?" Tanya Shanin pada kedua temannya sebelum perempuan itu pergi ke minimarket.


"Aku sih nggak ada, gak tau tuh si Kila." Jawab Anna.


"Aku juga nggak." Kila ikut menjawab.

__ADS_1


"Oke deh, aku ke minimarket depan dulu kalo gitu." Ucap Shanin.


Setelah perempuan itu mengatakan hal tadi, Shanin langsung melenggang pergi dari hadapan kedua teman kerjanya keluar dari dalam kafe.


Shanin tidak perlu menggunakan motor miliknya yang sudah terparkir untuk pergi ke minimarket karena memang jarak minimarket dan kafe tempatnya bekerja masih bisa ditempuh dengan jalan kaki.


Saat sampai di minimarket, Shanin langsung mencari rak yang berisikan roti-roti seperti biasanya, dia meraih satu bungkus roti yang menurutnya akan terasa enak, karena memang sebelumnya Shanin belum pernah mencoba roti yang itu.


Setelah mendapat roti yang dia butuhkan, Shanin kemudian langsung mengantri sebentar di depan kasir untuk membayar roti miliknya yang tadi dia ambil dari rak.


Selesai membayar roti miliknya, Shanin kemudian langsung keluar dari minimarket tersebut dan berniat untuk kembali ke kafe tempat kerjanya.


Namun terjadi sedikit kendala saat dirinya keluar dari dalam minimarket tidak sengaja menabrak bahu orang lain yang berjalan berlawanan dengannya.


"Loh Samuel?" Shanin sebenarnya sedikit terkejut saat mendapati sosok Samuel yang kini ada di hadapannya, orang lain yang dia tabrak barusan adalah Samuel.


"Pagi, habis belanja?" Tanya Samuel pada Shanin yang masih mencerna apa yang terjadi.


"O-oh iya ini abis beli roti, kalo kamu disini mau belanja juga?"


"Memangnya orang-orang datang ke minimarket untuk apa? Tidak mungkin kan jika saya bekerja disini." Ucap Samuel.


Mendengar perkataan Samuel barusan membuat Shanin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, entah kenapa pertemuan tidak sengaja seperti ini terasa aneh.


"Bener juga apa yang kamu bilang, kalo gitu aku pergi duluan ya, harus balik lagi ke kafe soalnya." Ucap Shanin.


"Iya silahkan, hati-hati." Balas Samuel.


Shanin kemudian melangkahkan kakinya menuju ke kafe tempatnya bekerja, awalnya perempuan itu merasa sedikit aneh ketika melihat Samuel yang ada di sekitar sini, tapi tidak lama dari itu Shanin langsung mengingat jika perusahaan milik Samuel memang ada di sekitar sini, lelaki itu yang bercerita sendiri padanya.


"Lama banget Sha, minimarketnya udah pindah ya?"


Itulah suara pertama yang menyapa Shanin saat dirinya baru saja masuk ke dalam kafe dengan tangan yang membawa sebuah roti yang dia beli tadi, suara itu milik Kila.


"Ada insiden kecil tadi, perasaan gak selama itu deh." Balas Shanin.


"Lama buat sekedar beli roti pagi-pagi gini."


"Iya-iya deh maaf."


"Beli rotinya cuma satu doang?" Kali ini Anna yang bertanya.


"Iya, kamu mau?" Shanin balik bertanya.


"Nggak, cuma tanya aja. Emangnya cukup bikin kenyang roti sekecil itu?"


"Lumayan lah, lagian sarapan gak perlu sampe kenyang Ann, aku juga gak terlalu suka sama roti, ini aja terpaksa harus makan roti." Jelas Shanin.


"Ohh gitu, aku biasanya gak kenyang makan roti itu kalo cuma satu." Balas Anna.


"Sama Ann, aku juga, rotinya kecil sih tapi lumayan mahal buat ukuran roti sekecil itu. Kayaknya emang wajar buat harga segitu karena rasanya enak banget, apalagi yang rasa cokelat." Kila ikut menyetujui apa yang Anna katakan.


"Kalian yang perutnya kayak karung kali." Ucap Shanin.


"Asal aja." Balas Kila dengan cepat.


Sedangkan Shanin hanya terkekeh melihatnya, perempuan itu kemudian kembali duduk ke kursi tempat duduknya tadi yang berada di sebelah Anna dan mulai memakan roti yang dia beli tadi.


Sepertinya Shanin dapat setuju dengan pendapat Kila tadi yang mengatakan jika rotinya enak walaupun ukurannya kecil dan cukup mahal untuk ukuran sekecil itu, Shanin yang tidak menyukai roti pun dapat mengakui jika roti yang sedang dia makan sekarang memang enak.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2