Gadis Biasa Milik CEO Tampan

Gadis Biasa Milik CEO Tampan
Bab 21


__ADS_3

Karena keberadaan Nanda yang belum ditemukan sampai sekarang, Shanin jadi tidak mempunyai teman di bagian pelayanan, dirinya harus bekerja lebih keras lagi dari yang sebelum-sebelumnya.


Seperti siang ini, sedari tadi Shanin tidak henti-hentinya berjalan kesana kemari menghampiri pelanggan yang ingin memesan ataupun mengantarkan pesanan mereka.


"Istirahat dulu Sha." Ucap Kila saat Shanin berjalan di depan meja kasir.


"Lagi rame-ramenya Kil, nanti dulu."


Memang benar saat ini keadaan kafe sangat ramai mengingat kalau sekarang ini adalah jam makan siang atau jam nya orang-orang istirahat dari pekerjaannya.


"Selamat siang, ini buku menunya." Ucap Shanin ramah pada pelanggan.


Awalnya Shanin tidak mengenali pelanggan tersebut karena pelanggan itu sedari tadi terus menunduk sibuk dengan ponsel miliknya, tapi saat pelanggan itu mendongakkan kepalanya, barulah Shanin mengenali wajah itu.


Dia Daniel, lelaki yang kemarin menolongnya ketika motor miliknya mogok dan lelaki itu juga yang membayar biaya untuk memperbaiki motornya yang mogok itu.


"Daniel?" Tanya Shanin mencoba memastikan bahwa yang ada dihadapannya saat ini benar lelaki yang kemarin menolongnya.


"Loh, Shanin? Kamu kerja disini?"


"Ternyata emang bener kamu, aku kira salah orang. Iya aku kerja disini."


"Masa iya baru kemarin ketemu udah lupa sama muka saya."


"Cuma waspada aja, takutnya salah orang malah malu. Ngomong-ngomong kok kamu bisa ada disini, tempat kerja kamu ada di sekitar sini?" Tanya Shanin.


"Saya belum kerja, masih kuliah. Tadi gak sengaja aja lewat sini abis dari kampus dan liat kafe ini rame mangkanya mampir buat makan siang, kebetulan lagi lapar." Jelas lelaki itu.


"Oohh gitu. Oh iya, jadinya mau pesen apa nih? Jadi keasikan ngobrol kayak gini."


"Kamu yang ajak saya ngobrol, saya pesan ini sama ini aja." Jawab Daniel sambil menunjuk dua menu yang ada di dalam buku menu itu.


"Oke, kalo gitu bisa ditunggu sebentar ya." Ucap Shanin sambil mencatat pesanan Daniel di buku catatan kecilnya.


Setelah mengatakan itu Shanin langsung meninggalkan meja tersebut, berjalan ke arah juru masak untuk menyerahkan selembar kertas yang berisi pesanan Daniel tadi.


Sambil menunggu pesanan itu jadi, Shanin kembali melayani pelanggan yang lainnya. Shanin kembali mengeluarkan buku catatan kecil dari kantongnya untuk mencatat pesanan pelanggan yang saat ini sedang dia layani.


Setelah selesai mencatat perempuan itu kembali ke bagian juru masak untuk memberikan selembar kertas yang berisi pesanan milik pelanggan tadi dan kebetulan saat dirinya sampai di tempat juru masak, pesanan milik Daniel sudah siap untuk diantar.


Dengan senyum mengembang seperti biasanya, Shanin berjalan ke arah meja pelanggan dengan sebuah nampan yang ada di tangannya, meja pelanggan yang dimaksud adalah meja Daniel.


"Silahkan dinikmati, semoga suka sama makanan di kafe ini." Ucap Shanin sambil meletakkan pesanan milik Daniel di atas meja.


"Keliatannya sih enak nih." Balas Daniel.


"Iya, semoga seenak keliatannya. Kalo gitu aku permisi buat balik ke sana ya."


"Iya, Sha. Semangat kerjanya."


Sedangkan tanpa keduanya ketahui jika kini Samuel tengah memperhatikan mereka berdua, lelaki itu baru saja masuk ke dalam kafe dengan senyum tipis yang ada di bibirnya.

__ADS_1


Namun, senyum tipis itu langsung lenyap ketika melihat perempuan yang dia kenal tengah berinteraksi dengan lelaki yang kemarin dia temui sedang bersama Shanin di pinggir jalan.


Suasana hati lelaki itu langsung merosot, entah kenapa dirinya merasa tidak senang saat melihat Shanin berinteraksi dengan lelaki lain, apalagi saat perempuan itu tersenyum kepada lelaki tadi.


Niat hatinya kesini untuk makan siang sekaligus bertemu dengan Shanin malah membuat suasana hatinya menjadi buruk.


Dengan wajah yang tidak bersahabat, lelaki itu mengedarkan pandangannya mencari meja yang kosong untuk dia tempati.


Kemudian tidak lama setelah lelaki itu mendudukkan dirinya di kursi yang ada disana, Shanin menghampiri dirinya dengan tangan yang membawa buku menu dan buku catatan kecil.


"Se-, loh Samuel? Tumben banget makan disini."


Awalnya Shanin ingin mengucapkan selamat siang seperti biasa dirinya menyapa kepada pelanggan lain, tapi kalimatnya terganti karena dirinya yang sedikit terkejut mendapati sosok Samuel yang kini tengah duduk di hadapannya itu.


"Lagi pengen aja, sekalian tadi lewat daerah sini."


"Oh gitu, oh iya ini buku menunya, silahkan diliat." Ucap Shanin sambil menyerahkan buku menu pada Samuel.


Lelaki itu pun menerima buku menu yang diberikan oleh perempuan yang ada di depannya, dia kemudian membukanya dan melihat-lihat berbagai menu makanan juga minum yang ada disana.


Setelah menemukan apa yang akan dia pesan, Samuel langsung menyerahkan kembali buku menu itu kepada Shanin dan mengatakan makanan juga minuman apa yang ingin dia pesan.


Sedangkan Shanin di hadapannya kini tengah sibuk menuliskan pesanan milik Samuel di buku catatan kecil miliknya.


"Udah ini aja? Nggak ada yang mau di tambah lagi?" Tanya Shanin saat baru saja mencatat pesanan Samuel di buku catatan kecil miliknya.


"Tidak ada." Jawab Samuel singkat, dia masih dalam suasana hati yang buruk.


"Oke kalo gitu kamu bisa tunggu pesanannya sebentar."


Setelah mengatakan itu Shanin melenggang pergi meninggalkan meja tempat dimana Samuel berada, Shanin sama sekali tidak merasa aneh dengan sikap Samuel kepadanya karena memang lelaki itu sudah biasa seperti itu kepadanya.


Selepas kepergian Shanin barusan, Samuel menghela nafasnya kasar, entah kenapa lelaki itu merasa kesal sekarang ini, sebenarnya ada apa dengan Samuel?


Lelaki itu memilih untuk membuat ponsel pintar miliknya sambil menunggu pesanan yang dia pesan tadi datang.


Tapi disaat dirinya mencoba untuk mengalihkan pikiran dengan bermain ponsel, tiba-tiba saja matanya kembali menangkap sosok Shanin yang kini sudah kembali berada di dekat lelaki yang tidak dia kenali tadi, sepertinya lelaki itu sudah bersiap untuk pergi.


Samuel terus memperhatikan gerak-gerik keduanya, mulai dari keduanya yang mengobrol dan melempar senyum satu sama lain, hal itu semakin membuat Samuel jengkel tanpa alasan, atau mungkin ada alasan lain yang tidak dia sadari? Seperti rasa cemburu misalnya.


Sampai akhirnya Samuel melihat lelaki yang tidak dia kenali itu meninggalkan tempat duduknya dan keluar dari dalam kafe, sebelum lelaki itu benar-benar keluar dari dalam sana, dia menyempatkan diri untuk melambaikan tangan kepada Shanin sebagai tanda perpisahan.


Melihat hal itu membuat Samuel jengah, matanya kini kembali memperhatikan Shanin yang sedang membereskan meja bekas lelaki tadi.


Karena dirinya yang secara terang-terangan memperhatikan perempuan itu, tatapan keduanya pun bertubrukan saat Shanin menolehkan kepala ke arahnya, hal itu tentu saja langsung membuat Samuel salah tingkah di tempatnya dan langsung mengalihkan pandangan ke arah lain.


"Samuel? Kamu ada disini?" Suara yang tidak asing itu menyapa indera pendengaran milik Samuel.


Ternyata suara itu adalah milik Celine, teman masa kecilnya dulu, keduanya sempat dekat tapi hanya sekedar dekat karena hubungan keluarga saja, keluarga Samuel dan juga keluarga Celine cukup dekat.


"Boleh aku ikut duduk disini?" Tanya perempuan itu.

__ADS_1


Tanpa menunggu jawaban dari lelaki yang ada di hadapannya, Celine langsung duduk begitu saja di kursi yang ada di hadapan Samuel dengan senyum menawannya.


"Kamu sendirian aja disini? Udah lama banget kita gak ketemu tau, terakhir kali kita ketemu pas acara makan malam perayaan kenaikan jabatan kamu."


Perempuan yang ada di depan Samuel itu tidak berhenti mengoceh semakin membuat Samuel jengah dan enggan untuk menjawab pertanyaan dari nya.


Merasa diabaikan oleh lelaki yang ada dihadapannya, Celine kembali memutar otak mencari topik obrolan lainnya.


"Oh iya, aku sempat ikut sedih pas kamu mengalami kecelakaan kemarin dan dinyatakan hilang, tapi syukurlah sekarang kamu udah baik-baik aja."


"Terimakasih sudah bersimpati kepada saya." Balas Samuel seadanya.


"Sa-


"Permisi, ini pesanan anda tuan."


Ucapan dari Celine tadi terpotong oleh kedatangan Shanin yang membawa sebuah nampan yang diatasnya berisi pesanan milik Samuel tadi.


Shanin sengaja mengubah bahasanya menjadi lebih formal, tidak seperti sebelumnya. Akan terlihat tidak sopan jika dirinya berbicara menggunakan bahasa yang sesantai tadi kepada Samuel yang berstatus sebagai pelanggan di hadapan perempuan yang saat ini ada di hadapan lelaki itu.


"Terimakasih." Ucap Samuel.


Baru saja Shanin akan membalikkan badannya untuk kembali ke tempatnya, tiba-tiba saja suara milik perempuan yang ada di hadapan Samuel menginterupsinya.


"Hei mau kemana? Aku belum pesan apa-apa, mana buku menunya?"


"A-ah iya, maaf nyonya. Saya hendak mengambil buku menunya dulu dan menyimpan nampan ini, permisi."


Setelah mengatakan hal itu, Shanin langsung meninggalkan meja tersebut dengan sedikit berlari untuk mengembalikan nampan ke tempat juru masak dan mengambil buku menu.


Tidak memerlukan waktu yang lama untuk Shanin melakukan hal itu, kini Shanin sudah kembali ke hadapan Samuel dan juga perempuan yang tidak di kenalnya itu.


"Ini nyonya buku menunya." Ucap Shanin sambil menyerahkan buku menu pada sang perempuan.


"Gitu dong dari tadi." Balas si perempuan itu.


Sedangkan Samuel yang saat ini ada di hadapannya juga tampak tidak peduli dan memilih untuk fokus pada makanan yang ada di hadapannya.


"Saya pesan ini dan ini, sudah itu saja." Ucap perempuan itu sambil menunjuk beberapa menu yang ada di buku menu tadi.


Mendengar hal itu membuat Shanin mengeluarkan buku catatan kecil miliknya dan menulis pesanan yang dipesan oleh perempuan yang ada di hadapannya itu di buku catatan kecil miliknya.


"Baiklah, kalau begitu bisa ditunggu sebentar pesanan."


Setelah mengatakan itu Shanin langsung melenggang pergi dari hadapan keduanya, dirinya berjalan ke arah juru masak dan kemudian menyerahkan selembar kertas yang berisi catatan pesanan seperti biasanya.


Karena tidak ada lagi pelanggan yang perlu dia layani saat ini, perempuan itu memilih untuk berdiri menyenderkan tubuhnya pada pembatas antara dirinya dan bagian juru masak.


Hari yang benar-benar melelahkan, semoga saja Nanda segera ditemukan agar dirinya mempunyai partner bekerja lagi dan entah kenapa saat dirinya melihat Samuel bersama perempuan yang tidak dikenalnya tadi membuat dirinya tiba-tiba kesal.


Sebanyak itukah perempuan yang dekat dengan Samuel? Kemarin sekertaris nya dan sekarang dengan perempuan yang tidak dia kenal. Tapi, kenapa Shanin peduli dengan Samuel yang dekat dengan banyak perempuan? Bukankah itu hak dia untuk dekat dengan siapa saja?

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2