Gadis Biasa Milik CEO Tampan

Gadis Biasa Milik CEO Tampan
Bab 23


__ADS_3

"Emangnya Ajeng kemana? Kenapa kamu gak ajak dia aja?" Tanya Shanin pada orang yang ada di seberang sana.


"Kalo tuh anak bisa, aku gak bakalan ajak kamu kali Sha." Ucap Gita.


Orang yang saat ini sedang berbicara dengan Shanin dalam sebuah panggilan adalah Gita, perempuan itu pagi-pagi sekali sudah menelepon Shanin.


Untungnya saja Shanin sudah selesai dengan urusannya di pagi hari dan kini dia sedang sarapan dengan telepon miliknya yang diletakkan antara telinga dan bahu, perempuan itu sibuk menyendokkan nasi goreng ke mulutnya.


"Tumben dia gak bisa, ada urusan apa emangnya?"


"Asal kamu tau ya, Sha! Ajeng sekarang udah punya pacar, tiap hari tuh pacarnya antar jemput dia ke toko, terus juga nanti hari minggu dia mau jalan sama pacarnya, mangkanya nolak ajakan aku." Jelas Gita panjang lebar dari seberang sana, Shanin bisa merasakan dengan jelas kejengkelan disana.


Shanin tidak begitu kaget saat mendengar bahwa temannya yang satu itu sudah mempunyai pacar, malah akan terasa aneh jika Ajeng belum mempunyai pacar dengan wajahnya yang cantik rupawan itu.


"Ya udah kamu juga cari pacar dong biar ada temen jalannya."


"Kalo aja cari pacar segampang balikin telapak tangan, mungkin pacar aku sekarang ini udah ada sepuluh."


"Sok-sokan banget kamu, kayak ada yang mau aja sama kamu."


"Itu kamu tau. Balik lagi ke pertanyaan aku yang tadi, kamu hari minggu bisa nggak temenin aku ke festival?"


"Sebenernya aku pengen sih, Git. Aku gak janji sama kamu, hari minggu nanti aku emang libur, tapi itupun kalo ada yang gantiin kerja di bagian pelayan hari itu."


"Loh? Emangnya di bagian itu cuma ada kamu aja selama ini?"


"Ada, teman baru aku satu lagi, tapi udah hari ini dia hilang gitu aja, bahkan keluarga udah lapor ke kantor polisi tadi siang."


"Hah?! Ilang? Kok bisa gitu, Sha? Bukannya dia udah gede ya? Kok bisa ilang sih?"  Pertanyaan beruntun dari Gita itu membuat Shanin pusing harus menjawab yang mana dulu.


"Kalo tanya tuh satu-satu aja kali Git, aku pusing mau jawab yang mana dulu."


"Terserah kamu deh mau jawab yang mana aja, dari yang paling gampang menurut kamu aja."


"Susah kalo aku harus cerita lewat telepon kayak gini, nanti deh aku ceritain kalo kita ketemu."


"Padahal tinggal cerita aja."


"Nggak ada waktu, teleponnya aku tutup ya, Git? Aku mau berangkat ke kafe sekarang."


"Ini masih lagi banget loh Sha."


"Aku juga tau, aku berangkat pagi-pagi kayak gini karena hari ini aku yang pegang kunci." Shanin menjelaskan alasannya berangkat kerja sepagi ini kepada Gita.


"Ohh gitu, bilang dong! Ya udah, bye bye! Jangan lupa buat kabarin aku kalo hari minggu kamu bisa."


"Iya-iya, bye!"


Setelah panggilan itu terputus, Shanin langsung bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah belakang dengan membawa piring kotor bekas dirinya sarapan tadi, meletakkan piring itu di tempat cucian piring dan langsung mencucinya.


Selesai dengan acara mencuci piring bekasnya tadi, Shanin kembali ke dalam kamar untuk mengambil tasnya dan juga bercermin di depan cermin untuk melihat penampilannya takut ada yang kurang.


"Semoga aja hari ini aku bisa pulang cepet."


Shanin berbicara pada dirinya sendiri walaupun sepertinya perkataan dia tadi terdengar cukup mustahil, perempuan itu kemudian memilih untuk keluar dari kontrak, memakai sepatu di teras kontrakannya dan menyala mesin motor kemudian melajukan motor tersebut membelah jalanan kota pagi ini.


Seperti biasanya, butuh waktu sekitar tiga puluh menitan untuk dirinya sampai di tempat parkiran khusus karyawan di depan kafe tempat dirinya bekerja.


Perempuan itu dapat menghela nafas lega karena belum ada karyawan lain yang datang, itu tandanya dia datang tepat waktu untuk seseorang yang sedang memegang kunci.


Dengan langkah pasti Shanin langsung berjalan ke depan pintu kafe dan meraih kunci kafe itu yang ada di dalam tasnya, tangannya dengan cepat langsung membuka pintu kafe tersebut tanpa terlihat kesusahan sedikitpun.

__ADS_1


Tidak lama setelah dirinya datang ke kafe, beberapa karyawan pun mulai berdatangan, tapi ada satu karyawan yang asing di matanya, apakah itu karyawan baru?


"Masih pagi udah bengong aja Sha." Suara milik Kila itu menyadarkan Shanin dari lamunannya.


"Kamu nih bikin aku kaget aja."


"Lagian kamu pagi-pagi gini udah bengong, mikirin apa sih?"


"Gak mikirin siapa-siapa. Ngomong-ngomong dia siapa? Kok aku baru liat." Tanya Shanin sambil melirik ke arah orang yang dia maksud.


"Emangnya kamu gak lihat grup chat semalem?" Bukannya menjawab, Kila justru malah bertanya balik.


Mendengar pertanyaan dari Kila barusan membuat Shanin menggelengkan kepalanya, perempuan itu memang belum membuka aplikasi chat dari semalam.


"Ck! Mangkanya liat grup, dia itu karyawan pindahan dari cabang di kota sebelah buat bantuin kamu disini selama Nanda ilang."


Tidak aneh memang jika mendengar bahwa kafe ini memiliki cabang di kota lain, mengingat bahwa kafe ini lumayan besar dan banyak orang-orang tau tentang kafe tempat Shanin bekerja saat ini.


"Ohh gitu, padahal tinggal bilang karyawan baru aja sudah."


"Bukan karyawan baru Sha, tapi karyawan pindahan, sebelum ada kamu juga dia udah kerja di kafe ini kali."


"Ya maksud aku karyawan baru kafe yang ada disini, bukan di cabang lain."


"Iya-iya deh terserah kamu, tumben hari ini gak lap kaca?"


"Gak ah, aku lagi males."


"Males terus hidupnya, kayak aku dong produktif."


"Produktif dari mananya? Kalau kamu lupa ya, tiap pagi pas kamu datang ke sini, kamu langsung ke meja kasir dan duduk di sana sampai siang bahkan sampe malem, dimana letak produktif nya coba."


"Udah ah, kamu itu gak bisa ngertiin aku Sha." Ucap Kila dengan wajah melas penuh dramanya.


"Halo, aku Shanin." Shanin mengucapkan itu sambil menjulurkan tangannya berniat untuk berjabat tangan.


"O-oh hai Shanin, aku Anna." Balas karyawan baru itu dengan senyum manis di wajahnya.


"Aku ada di posisi yang sama kayak kamu, semoga kita bisa kerja sama ya."


"Iya semoga aja, setau aku kamu baru kerja di kafe ini ya?"


"Iya bener, aku baru mau seminggu kerja si kafe ini."


"Emang bener masih baru banget ya, aku mau kenalan lebih lanjut tapi kayaknya Kila udah jelasin semuanya sama kamu tadi."


"Kamu kenal sama Kila?"


"Ya pasti kenal dong, dulu kita sempat training bareng pas kafe ini pertama kali buka, tapi sayangnya aku sama dia ditempatin di tempat yang beda." Jelas Anna.


"Ohh gitu, aku baru tau."


"Wajar sih, lagipula gak penting juga buat kamu."


Shanin hanya tersenyum kikuk mendengar perkataannya perempuan yang beberapa menit lalu baru dia ketahui namanya itu.


"Oh iya aku juga tau soal temen kerja kalian yang hilang, semoga dia bisa cepet ketemu ya."


"Aamiin, kalo gitu aku mau beresin meja yang ada di sana dulu ya." Pamit Shanin sambil menunjuk ke arah meja yang sedang berantakan saat ini.


"Ada yang bisa aku bantu?" Tanya Anna.

__ADS_1


"Nggak usah, cuma sedikit doang ini."


Setelah mengatakan itu Shanin langsung melenggang pergi dari tempat tadi ke arah dimana ada meja berantakan yang dia maksud.


Shanin pun mulai membereskan meja yang berantakan, padahal seingatnya semalam semua meja yang ada disini sudah dibersihkan. Tapi entahlah, mungkin perempuan itu hanya salah liat semalam..


Satu demi satu pelanggan mulai berdatangan seiring dengan waktu yang bertambah siang membuat pelanggan menjadi ramai.


"Ann, kamu urus yang ini dulu ya, aku mau ke toilet dulu."


Tanpa perlu menunggu balasan dari Anna, Shanin langsung melenggang pergi begitu saja ke kamar mandi karena ingin buang air kecil.


Setelah urusannya selesai, perempuan itu langsung kembali ke tempatnya dan menjalankan pekerjaannya seperti biasanya.


"Dari mana Sha?"


"Abis dari kamar mandi Kil, kenapa? Kangen kamu sama aku?"


"Amit-amit deh, orang aku cuma tanya aja."


Shanin membalas perkataan Kila dengan tertawa kecil dan dia langsung kembali melayani pelanggan lain yang datang saat ini.


Dengan senyum ramah yang terukir di wajahnya, perempuan itu dengan lincah berjalan kesana kemari, mulai dari menyerahkan buku menu, memberikan selembar kertas pesanan kepada juru masak dan membawa pesanan yang sudah jadi ke meja pelanggan.


"Sel- Gita?! Kamu ngapain disini?"


Shanin terkejut ketika mendapati wajah temannya yang kini tengah duduk di salah satu meja pelanggan yang ada di sana.


"Biasa aja kali, Sha. Aku kesini ya mau makan lah, emangnya mau ngapain lagi."


"Emangnya kamu gak kerja?"


"Kalo kamu lupa aku ini kerja di toko bunga yang memperbolehkan karyawannya memegang kendali kapan buka dan tutupnya toko itu." Jelas Gita.


"Iya deh yang si paling dikasih wewenang sama bosnya."


"Udah-udah, mana sini buku menunya, aku udah lapar."


Mendengar perkataan itu dari Gita membuat Shanin dengan cepat menyerah buku menu kepada perempuan itu dan langsung diterima oleh Gita.


"Makanan enak gak disini?" Gita tiba-tiba berkata demikian.


"Menurut aku sih enak, tapi tergantung selera masing-masing sih." Jawab Shanin seadanya.


Gita hanya mengangguk-anggukan kepalanya mendengar jawaban dari Shanin, perempuan itu kemudian mulai memilih minuman dan juga makanan yang ingin dia pesan.


"Udah nih segini aja?" Shanin memastikan.


"Iya udah segitu dulu."


"Oke kalo gitu kamu tunggu dulu disini sebentar."


"Eh, kamu temenin aku disini emangnya gak bisa?" Pertanyaan dari Gita membuat Shanin mengurungkan niatnya untuk berjalan ke arah juru masak.


"Aku harus nyerahin catatan pesanan ini dulu Git, terus juga masih ada pelanggan lain yang perlu aku layani. Maaf ya, tapi kalo pelanggannya udah mulai sepi aku kesini lagi." Balas Shanin dengan tidak enak.


Meskipun merasa berat hati, Gita tetap menganggukan kepalanya dan membiarkan temannya itu pergi meninggalkan dirinya di meja ini.


"Mangkanya kamu mending cari pacar aja deh kayak yang aku bilang waktu pagi."


"Udah ah sana kamu kesana kalo cuma mau ngomongin masalah pacar-pacar mulu." Gita kesal mendengar perkataan temannya itu.

__ADS_1


Shanin yang berhasil membuat Gita kesal langsung melenggang begitu saja sambil menahan bibirnya yang ingin tertawa saat ini juga.


BERSAMBUNG.


__ADS_2