
Kini Shanin dan Samuel berakhir di sebuah pusat perbelanjaan untuk belanja bahan masakan yang nantinya akan Shanin masak, padahal sebelumnya Shanin sudah meminta Samuel untuk pergi ke pasar tradisional saja, tapi lelaki itu menolaknya dan Shanin lah yang akhirnya harus mengalah.
Keduanya berjalan beriringan menelusuri setiap rak-rak bahan makanan, Shanin berniat untuk masak telur balado dan ayam goreng saja yang praktis karena sekarang sudah sore. Perempuan itu mengambil bahan-bahan masakan seperti daging ayam, telur dan juga rempah-rempah sebagai bumbu pendukung.
"Udah cuma belanja itu aja?" Tanya Samuel saat lelaki itu melihat ke arah keranjang belanjaan yang dibawa oleh Shanin.
"Iya udah, lagian cuma buat aku sama kamu doang, aku juga belum gajian kalo belanja banyak-banyak." Balas Shanin.
"Memangnya siapa yang bilang kalo belanjaan ini kamu yang bayar? Saya yang akan membayarnya."
"Nggak usah, cuma segini doang aku masih mampu buat bayar kok." Ucap Shanin.
Tanpa membalas ucapan Shanin, Samuel langsung merebut keranjang belanjaan yang ada di tangan perempuan itu kemudian membawanya ke arah kasir untuk membayarnya, sedangkan Shanin di tempatnya masih terbengong melihat hal itu.
Shanin kemudian melangkahkan kakinya untuk menyusul Samuel yang ada di depannya menuju ke tempat kasir, perempuan itu tidak memberikan penolakan apapun seperti sebelumnya, lagipula mau menolak pun sepertinya akan percuma karena Samuel sangat keras kepala dan tidak ingin mengalah.
"Biar aku aja Sam yang bayar, totalnya juga gak bakalan sampe seratus ribu." Ucap Shanin saat dirinya berhasil menyamakan langkahnya dengan Samuel.
"Tidak usah, saya yang akan bayar, sebagai gantinya kamu yang masak untuk saya, jadi tidak usah merasa tidak enak." Balas Samuel yang pada akhirnya membuat Shanin mengangguk setuju.
Saat keduanya sampai di tempat kasir, Samuel langsung meletakkan keranjang belanjaan tadi untuk dihitung totalnya oleh sang kasir yang ada di sana, sedangkan Shanin hanya memperhatikan hal itu. Karena belanjaannya tidak begitu banyak, hanya sebentar untuk menghitung totalnya.
Dan sesuai dengan perkiraan Shanin tadi jika totalnya tidak sampai seratus ribu, hanya delapan puluh ribuan, Samuel langsung membayarnya dengan kartu ATM miliknya karena memang lelaki itu sangat jarang membawa uang tunai.
Setelah selesai mengurus pembayarannya belanjaan tadi, kini Shanin dan juga Samuel berjalan beriringan menuju ke lobi dimana mobil milik Samuel terparkir di sana, sedangkan motor milik Shanin harus kembali dibawa oleh orang suruhan Samuel seperti kemarin.
"Sini aku aja yang bawa plastiknya." Shanin menawarkan diri untuk membawa plastik yang berisi belanjaan tadi.
"Ini berat, biar saya saja yang membawanya." Tolak Samuel sambil terus berjalan, begitupun dengan Shanin.
__ADS_1
"Berat apanya sih, cuma segitu doang."
"Udah diem, kalo jalan lihat ke depan." Ucap Samuel.
Shanin yang mendengar hal itu mendengus kesal, perempuan itu kemudian menuruti perkataan Samuel untuk melihat ke depan saat sedang berjalan. Tidak lama dari itu keduanya sudah sampai di lobi tempat mobil milik Samuel terparkir, lelaki itu langsung meletakkan plastik belanjaan tadi di kursi belakang.
Tanpa perlu di suruh lagi oleh si pemilik mobil, Shanin tanpa basa-basi langsung masuk dan duduk di kursi penumpang yang ada di depan, di samping kursi pengemudi, begitupun dengan Samuel yang duduk di kursi pengemudi.
Mobil Samuel pun meninggalkan area lobi keluar dari dalam mall tersebut dan mulai masuk ke jalan raya, melaju ke arah kontrakan milik Shanin berada. Keduanya dipenuhi keheningan, sampai pada akhirnya "Sam, aku nyalain musik ya?" Shanin meminta izin kepada Samuel.
Samuel yang mendengar itupun hanya menganggukkan kepalanya setuju dan Shanin mulai menyalakan lagu untung mengusir suasana hening yang ada disekitarnya tadi, sambil menikmati lagu yang terputar, mata Shanin terasa sangat berat dan pada akhirnya perempuan itu sudah tidak kuat lagi kemudian memejamkan matanya.
Ternyata apa yang dilakukan oleh Shanin disadari oleh Samuel yang ada di sampingnya, walaupun sedang menyetir lelaki itu menyempatkan dirinya untuk melihat ke arah Shanin, lebih tepatnya hanya melirik untuk memastikan.
Butuh waktu sekita dua puluh lima menit untuk mobil Samuel datang ke kontrakan Shanin, tidak benar-benar sampai di pintu kontrakannya juga sih, seperti biasanya mobil itu diparkiran di tempat yang cukup luas karena tidak mungkin juga diparkiran di depan kontrakan.
"Loh? Udah sampe daritadi?" Pertanyaan inilah yang dilayangkan oleh Shanin saat dirinya masih setengah sadar.
"Iya, dari beberapa menit yang lalu." Jawab Samuel.
"Kok gak bangunin aku sih, Sam?"
"Kamu terlihat kelelahan, jadi saya biarkan saja." Balas lelaki itu apa adanya.
Shanin memilih untuk tidak menjawabnya, perempuan itu kemudian membuka sabuk pengamannya dan setelah itu keluar dari dalam mobil lelaki itu, begitupun dengan Samuel yang setelahnya menyempatkan diri untuk mengambil plastik belanjaan tadi dari kursi penumpang yang ada dibelakang.
Keduanya berjalan beriringan menuju ke arah kontrakan Shanin, sesampainya di depan pintu kontrakan, sang pemilik langsung membuka pintu yang terkunci itu dengan kunci yang dia pegang.
"Kamu disini aja, biar aku yang masak di dapur." Ucap Shanin sambil mengambil alih plastik yang ada di tangan Samuel.
__ADS_1
"Saya ingin ikut."
"Nggak usah, udah diem aja disini." Setelah mengatakan itu Shanin langsung berjalan ke arah dapur dan meletakkan plastik belanjaan tadi di atas meja yang ada di sana.
Perempuan itu mulai mengeluarkan satu persatu bahan makanan yang dirinya dan juga Samuel beli tadi, tidak ingin membuang-buang waktu, Shanin langsung melancarkan aksinya yaitu memasak.
Jangan pernah berpikiran jika Samuel menurut dengan perintah Shanin beberapa menit yang lalu, lelaki itu tetap nekad menyusul Shanin yang ada di dapur, mungkin saja Samuel bisa membantu perempuan itu walaupun tidak banyak.
"Kan udah aku bilang tunggu di sana aja, Sam." Ucap Shanin saat dirinya melihat sosok Samuel yang sudah berada di dalam dapur.
"Saya bosan, lagipula saya bisa saja membantu kamu agar bisa lebih cepat selesai." Balas lelaki itu.
"Terserah kamu deh, ya udah kalo gitu bantu aku potong bawang merah."
"Yang ini?" Tanya Samuel sambil mengangkat beberapa siung bawang merah yang ada di tangannya.
"Iya, nih pisaunya." Balas Shanin sambil menyodorkan sebuah pisau dapur kepada Samuel.
Samuel pun menerima pisau yang disodorkan oleh Shanin itu dan mulai memotong bawang merah tadi sebisanya.
"Sam potongnya bukan gitu, ah maksud aku iris, tipis-tipis aja diiris nya." Ucap Shanin saat melihat Samuel yang mengiris bawang merah dengan ukuran yang besar-besar.
"Memangnya itu berpengaruh pada masakan?"
"Ya iyalah, ini tuh buat dijadiin bawang goreng sama aku. Kayak gini nih cara ngirisnya." Ucap Shanin sambil mencontohkan bagaimana mengiris bawang merah dengan benar.
Samuel pun memperhatikan apa yang dilakukan oleh Shanin, tapi Samuel malah dibuat salah fokus oleh wajah Shanin yang terlihat semakin cantik dalam keadaan seperti ini baginya.
BERSAMBUNG.
__ADS_1