Gadis Biasa Milik CEO Tampan

Gadis Biasa Milik CEO Tampan
Bab 58


__ADS_3

Shanin baru saja selesai memakan bubur yang dibelikan oleh Samuel tadi, walaupun sempat harus dipaksa terlebih-lebih dahulu oleh lelaki itu karena memang perempuan itu menolak untuk makan, tapi ternyata perutnya tidak dapat menampung lagi bubur tersebut sehingga buburnya tidak bisa perempuan itu habiskan.


"Kamu gak pulang Sam?" Tanya Shanin pada Samuel yang kini tengah duduk di samping tempat tidur Shanin, lelaki itu tadi sempat menyeret kursi dari ruang tengah ke dalam kamar Shanin untuk dirinya duduk di sana sambil mengawasi Shanin.


"Sebentar lagi saya pulang, saya masih ingin ada disini." Ucap Samuel sambil menatap ke arah Shanin.


Alasan yang diucapkan Samuel barusan tidak sepenuhnya salah, lelaki itu memang masih ingin berada disini karena dirinya masih ingin merawat dan juga m ngawasin Shanin yang masih sakit, tidak tega rasanya jika meninggalkan perempuan itu sendirian di keadaannya yang sedang tidak baik-baik saja seperti ini.


"Tapi ini udah malem Sam, besok juga kamu harus kerja kan?" Tanya Shanin.


"Iya, memang besok saya harus berangkat ke kantor karena masih ada kerjaan yang perlu saya urus." Jawab Samuel.


"Nah kan, udah kamu pulang sekarang aja." Ucap Shanin kepada Samuel.


"Kamu terlihat seperti sedang mengusir saya." Balas lelaki itu.


"Eh bukan kayak gitu maksud aku, ini kan udah malem terus juga besoknya kamu harus kerja, jadi mending kamu pulang aja." Ucap Shanin yang disertai dengan raut wajah panik miliknya, perempuan itu takut jika Samuel sakit hati mendengar perkataan Shanin yang terkesan mengusir lelaki itu.


"Iya-iya saya paham, tapi saya masih ingin berada disini, menjaga kamu yang sedang sakit." Ucap Samuel.


"Ya ampun Sam, aku tuh udah gak kenapa-kenapa, udah lumayan sedikit mendingan juga, kamu gak usah khawatir." Ucap Shanin.


"Mending kamu pulang aja terus istirahat, besok kan harus kerja." Shanin melanjutkan ucapannya.


"Baiklah saya akan pulang, tapi dengan syarat jika ada apapun atau kamu butuh apapun nanti bisa langsung hubungi saya saja." Amanat Samuel kepada Shanin sebelumnya lelaki itu pergi dari sana.


"Iya-iya Sam, lagian juga abis ini aku mau langsung tidur."


"Bagus kalau begitu, oh dan satu lagi, jika besok pagi keadaan kamu masih seperti ini, jangan berangkat ke kafe tempat kerja kamu itu." Ucap Samuel memperingati Shanin.


"Tapi aku gak sakit yang seserius itu Sam, cuma demam biasa." Balas Shanin.

__ADS_1


"Nurut apa kata saya, biar saya yang memintanya izin ke tempat kerja kamu itu nantinya." Ucap Samuel sekali lagi.


Mendengar hal itu membuat Shanin mendengus kesal, mau menolak pun rasanya akan percuma karena lelaki itu benar-benar keras kepala dan tidak ingin kalah dari siapapun itu, termasuk Shanin.


"Iya-iya nanti kalo pagi masih kayak gini aku gak bakalan masuk kerja." Ucap Shanin dengan pasrah.


"Kalau begitu saya pulang dulu, ingat pesan-pesan dari saya barusan." Samuel mengucapkan itu layaknya seorang ibu yang sedang menitipkan anaknya di taman kanak-kanak.


"Iya Sam, udah sana pulang."


"Pintunya jangan lupa dikunci setelah saya keluar." Ucap Samuel yang setelahnya membawa langkah kakinya untuk pergi dari sana.


Shanin yang masih terbaring di atas kasurnya pun mulai bangkit dan mengganti posisinya menjadi duduk di atas kasur, perempuan itu sudah merasa lebih baik dari sebelumnya.


Kemudian Shanin mulai beranjak dari kasurnya dan berjalan ke arah pintu kontrakan, perempuan itu masih dapat melihat cahaya dari lampu mobil milik Samuel yang tidak lama dari itu mulai menghilang dari pandangannya.


Karena sudah tidak lagi melihat cahaya lampu mobil milik Samuel, Shanin kemudian dengan cepat langsing mengunci pintu tersebut sesuai dengan perintah Samuel padanya tadi dan setelah itu Shanin kembali masuk ke dalam kamarnya.


Perempuan itu kembali membaringkan tubuhnya di atas kasur dan mulai memejamkan matanya di sana, benar apa yang dikatakan oleh Samuel padanya jika Shanin memerlukan istirahat yang cukup.


Pada keesokan harinya, Shanin terbangun karena suara ketokan pintu yang terdengar berulang kali sehingga mengganggu tugasnya, butuh beberapa menit untuk Shanin menyadarkan diri.


Dan di rasa sudah lebih cukup tenaga untuk bangun dari tempat tidurnya, perempuan itu langsung beranjak dari sana dengan hati-hati dan mulai melangkah kakinya untuk keluar dari dalam kamar tentu saja sebelum itu dia harus membuka pintu kamarnya terlebih dahulu.


Shanin sudah berhasil keluar dari kamar, suara ketukan pintu itu masih terdengar, perempuan itu kemudian membawa dirinya untuk mendekat ke arah pintu kontrakan dan tanpa pikir panjang lagi, Shanin langsung membuka kunci pintu kontrakan itu dan saat pintu terbuka, terpampang lah perawakan tinggi milik Samuel yang sudah rapih dengan kemeja kerjanya.


Perempuan itu memperhatikan Samuel dari atas sampai bawah, mata milik Shanin menangkap sebuah kantong plastik yang ada di tangan kanan lelaki itu.


"Kamu tidak mau menyuruh saya masuk?" Tanya Samuel kepada Shanin yang masih terbengong di hadapannya itu.


"Oh iya masuk dulu Sam." Shanin mengatakan itu sambil menggeser tubuhnya dari pintu agar memberikan ruang untuk Samuel masuk ke dalam kontrakannya.

__ADS_1


"Kamu gak ke kantor?" Tanya Shanin saat keduanya sudah berada di dalam kontrakan.


"Saya pergi ke kantor agak siang." Jawab lelaki itu seadanya.


"Oh gitu, terus kamu mau ngapain kesini?" Tanya Shanin sekali lagi.


"Membawakan bubur untuk kamu sarapan." Jawab Samuel sambil menyodorkan sebuah kantong plastik yang lelaki itu bawa tadi.


"Nggak perlu repot-repot kayak gini juga kali Sam, kamu kan harus berangkat ke kantor, lagipula nanti aku bisa beli sendiri ke depan." Ucap Shanin.


"Saya tidak merasa direpotkan, lagipula arah kontrakan kamu kan searah dengan kantor saya, hanya tinggal berbelok sebentar saja." Balas lelaki itu.


"Tapi tetep aja aku ngerasa gak enak karena ngerepotin kamu gini." Ucap Shanin sekali lagi.


"Sudah jangan bilang seperti itu lagi, lebih baik kamu makan buburnya keburu dingin." Ucap Samuel sambil membuka bungkus kantong plastik yang dia bawa tadi.


"Belinya cuma satu? Buat kamu nya mana?" Tanya Shanin saat Samuel hanya mengeluarkan satu bungkus bubur ayam dari kantong plastik tadi.


"Ini hanya untuk kamu, saya sudah sarapan di rumah tadi." Jawab Samuel.


"Oh kayak gitu, ya udah aku makan ya?" Izin Shanin kepada Samuel sebelum dirinya memakan bubur ayam tersebut.


"Iya Shanin makan saja tidak apa-apa." Ucap lelaki itu.


Mendengar ucapan dari Samuel, Shanin langsung meraih bubur ayam yang sudah dibukakan oleh Samuel tadi dan memakannya, dirinya tidak perlu repot-repot untuk mengambil sendok ataupun mangkuk karena bubur ayam nya sudah diberi wadah dan juga sendok sendiri dari penjualnya.


"Kamu hari ini tidak berangkat ke kafe tempat kerja kamu itu kan?" Tanya Samuel memastikan.


"Iya aku gak berangkat kerja dulu, nanti aku minta izin ke temen aku." Jawab Shanin di sela-sela kegiatan makannya.


"Bagus kalau begitu." Ucap Samuel.

__ADS_1


Setelah itu tidak ada lagi pembicaraan diantara keduanya, Shanin yang sibuk dengan sarapannya dan juga Samuel yang tadi sempat mengeluarkan ponselnya yang kemudian dimainkan oleh lelaki itu.


BERSAMBUNG.


__ADS_2