
Kini Samuel dan Shanin sudah duduk di meja sebuah restoran untuk makan malam, setelah tadi sore mereka mampir sebentar ke taman kota.
Makan malam keduanya dipenuhi keheningan, keduanya tidak ada yang berniat membuka suara, fokus pada makanan mereka masing-masing yang ada di atas piring.
"Abis ini pulang ya?" Ucap Shanin disela kegiatan makan malamnya kepada Samuel.
Mendengar perkataan yang keluar dari mulut perempuan yang ada di depannya membuat Samuel mendongakkan kepalanya dan menghentikan kegiatan makannya.
"Iya, kita langsung pulang." Balas Samuel seadanya.
Kemudian setelah mendapatkan jawaban itu, Shanin kembali lagi ke kegiatannya yang sempat tertunda tadi, begitupun dengan Samuel yang kembali fokus pada makan malamnya.
Tidak sampai tiga puluh menit, hidangan yang tadinya ada di hadapan mereka kini telah habis tidak tersisa, Shanin benar-benar merasa kenyang saat ini.
Walaupun tadi perempuan itu sempat menolak ajakan Samuel dengan keras, tapi kenyataannya dia lah yang paling banyak makan makanan yang dipesan oleh lelaki yang ada di hadapannya kini.
Setelah Samuel menyelesaikan pembayaran makan malam tadi, keduanya bangkit dari kursi dan bersiap untuk berjalan keluar dari dalam restoran itu.
"Kamu mau anterin aku dulu?" Shanin tiba-tiba bertanya saat keduanya sudah sampai di depan restoran.
"Iya, saya antar kamu ke kontrakan dulu, setelah itu saya pulang ke rumah."
"Terus mobil kamu?"
"Maksud saya, setelah selesai mengantarkan kamu, saya akan kembali ke kafe untuk mengambil mobil milik saya." Jelas Samuel.
"Mending gak usah anterin aku kalo gitu, aku bisa pulang sendiri." Ucap Shanin.
"Saya tetap akan mengantar kamu pulang, ayo." Ajak Samuel kepada Shanin untuk berjalan menuju ke parkiran restoran itu dimana motor milik Shanin berada.
Dengan hati yang dongkol, Shanin tetap mengikuti langkah Samuel dari belakang menuju ke arah parkiran tempat motor miliknya terparkir.
"Udah siap?" Tanya Samuel pada Shanin yang kini sudah terduduk di jok belakang.
"Udah." Balas Shanin seadanya.
Setelah mendengar jawaban dari perempuan yang ada di belakangnya, Samuel kemudian langsung menancap gas motor itu dan melajukan motor tersebut, membelah jalanan malam hari.
"Kapan kamu libur kerja?" Tanya Samuel tiba-tiba.
"Hari minggu nanti, ada apa?"
"Saya ingin mengajak kamu pergi ke suatu tempat." Balas Samuel.
"Aku gak bisa, aku udah ada janji sama Gita."
"Gita?" Samuel sedikit kebingungan mendengar nama itu.
"Temen kerja aku pas masih di toko bunga."
Shanin dapat melihat jika lelaki yang kini ada di depannya mengangguk-anggukan kepalanya mengerti dan setelah itu tidak ada lagi pembicaraan diantara mereka berdua.
"Kamu masih inget kan arah kontrakan aku?" Tanya Shanin memastikan.
"Masih, saya bukan pelupa." Jawab Samuel.
"Ohh ya udah, takutnya aja kamu udah lupa."
Setelah itu tidak ada lagi percakapan antara keduanya, Shanin sibuk memandangi jalanan-jalanan. Sedangkan Samuel, lelaki itu masih fokus mengendarai motor milik Shanin.
Kira-kira tidak sampai sepuluh menit lagi keduanya akan masuk ke dalam gang terakhir menuju ke kontrakan Shanin.
Di tengah kegiatan melihat jalanan yang ada di samping kanannya, Shanin merasakan tetesan air yang jatuh ke lengannya yang tidak sedang tertutup apapun karena memang seragam kerjanya berlengan pendek.
Rintik-rintik kecil itu ternyata adalah air hujan, belum terlalu deras, tapi sepertinya akan hujan deras karena Shanin mulai mendengar gemuruh suara petir dari langit.
"Sam, mau ujan." Ucap Shanin pada lelaki yang ada di depannya.
"Kalo saya ngebut tidak apa-apa? Takut hujannya semakin deras." Izin Samuel pada Shanin.
"Iya, tapi hati-hati ya." Balas Shanin.
Setelah mendengar perizinan dari perempuan yang ada di belakangnya, Samuel langsung menaikan kecepatan laju motor milik Shanin yang sedang dia kendarai sekarang.
Sesuai dengan perkiraan tadi, tidak sampai sepuluh menit, kini motor yang sedang membawa keduanya sudah masuk ke dalam gang terakhir menuju ke kontrakan Shanin.
Rintik hujan yang turun semakin deras, untungnya saja kontrakan Shanin tinggal berjarak beberapa meter di depan.
Motor milik Shanin akhirnya berhenti pas di depan kontrakan Shanin, karena cuacanya yang sedang hujan, lelaki itu langsung menaikan motor tersebut ke teras depan kontrakan Shanin.
"Ujan nya makin gede, masuk dulu aja."
__ADS_1
Karena hujan yang semakin deras, Shanin berinisiatif untuk menyuruh Samuel masuk ke dalam kontrakannya dulu sambil menunggu hujan reda.
"Tunggu disini, aku bikin teh anget dulu." Ucap Shanin saat keduanya baru saja masuk ke dalam kontrakan.
Shanin meletakkan tas miliknya dengan asal, sedangkan Samuel duduk di kursi yang ada di depan meja belajar yang ada disana.
Sambil menunggu Shanin yang sedang membuatkan teh hangat, sorot mata milik Samuel terus melihat-lihat ke sekeliling mengamati setiap sudut kontrakan ini, tidak ada yang berubah setelah dirinya tinggal beberapa hari yang lalu.
"Ini minum dulu." Ucap Shanin sambil meletakkan secangkir teh di atas meja belajar di samping Samuel.
Suara milik Shanin itu menyadarkan Samuel dari kegiatannya yang mengamati isi kontrakan tadi.
"Terimakasih, saya minum ya." Balas Shanin dengan tangan yang meraih cangkir yang berisi teh yang dibuatkan oleh Shanin tadi.
Hujan diluar bukannya semakin mereda malah semakin deras, tidak terlihat akan segera berhenti. Samuel yang memang bajunya basah karena terkena guyuran air hujan tadi, mulai merasa kedinginan.
Lelaki itu menggosok-gosokan telapak tangannya untuk menghasilkan rasa hangat, hal itu tentu saja disadari oleh Shanin.
"Baju kamu basah, mau ganti baju dulu? Seingat aku disini masih ada baju kamu yang dulu kita beli di pasar." Jelas Shanin.
Karena seingatnya di dalam lemari masih ada sepasang pakaian milik Samuel, lengkap dengan dalamnya yang sempat mereka berdua beli kala itu.
"Baiklah, dimana bajunya?" Tanya Samuel saat dirinya selesai menyesap teh hangat yang ada dalam cangkir.
"Tunggu disini sebentar, aku ambil dulu di dalem lemari."
Setelah mengatakan itu, Shanin langsung bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah kamar, lebih tepatnya ke arah lemari yang ada di dalam kamar itu, meninggalkan Samuel yang kini kembali menikmati teh hangat buatan Shanin tadi.
Tidak lama dari itu, Shanin sudah kembali lagi dengan pakaian yang akan digunakan oleh Samuel dan langsung menyerahkan pakaian itu kepada lelaki itu.
"Pake nya di kamar mandi ya, masih inget kan kamar mandinya dimana? Sekalian mandi aja biar gak sakit." Ucap Shanin.
"Iya, saya masih ingat." Balas Samuel sambil berdiri dari tempat duduknya dan kemudian langsung berjalan ke arah kamar mandi yang ada di belakang.
Sambil menunggu Samuel yang selesai mandi, Shanin memilih untuk masuk ke dalam kamar dan juga mengganti pakaiannya yang juga sedikit basah.
Setelah selesai mengganti pakaiannya, Shanin langsung keluar dari dalam kamar dan perempuan itu memilih untuk duduk di kursi yang ada disana sambil memainkan ponsel miliknya.
Tidak lama dari itu, Samuel keluar dari dalam kamar mandi sudah dengan pakaian yang berbeda dan tampak lebih segar dari yang sebelumnya.
"Udah selesai mandinya?"
Pertanyaan dari Shanin itu hanya dibalas dengan anggukan oleh Samuel, lelaki itu kemudian ikut duduk di dekat Shanin.
"Hujannya tambah deras, kayaknya gak bakalan berhenti dalam waktu dekat." Ucap Shanin tiba-tiba.
"Semoga saja dapat berhenti sebentar lagi." Balas Samuel.
"Tapi kalo gak berhenti juga gimana?" Tanya Shanin kepada Samuel.
"Kalau saya menginap disini satu malam tidak apa-apa?"
Sontak saja pertanyaan yang dilontarkan oleh Samuel membuat Shanin terdiam sesaat, sebenarnya tidak masalah jika Samuel harus menginap di kontrakannya, lagipula lelaki itu juga pernah bermalam disini.
"Eumm.. gak kenapa-kenapa sih, aku gak masalah kalo cuma semalam, lagipula kamu pernah nginep disini juga kan?"
"Kalau begitu malam ini saya akan tidur disini." Ucap Samuel sambil menatap ke arah Shanin.
"Eh, tapi kayak pas dulu ya, kamu gak boleh macem-macem." Ingat Shanin pada Samuel.
"Memangnya macam-macam seperti apa yang kamu maksud?"
"Udah intinya kamu boleh tidur disini, tapi gak boleh lewati batas yang udah aku buat di atas kasur nanti." Jelas Shanin.
"Kalau saya melewatinya?"
"Kamu siap-siap aja aku tendang." Ancam perempuan itu pada lelaki yang ada di sampingnya.
Mendengar perkataan yang keluar dari mulut perempuan itu membuat Samuel tersenyum kecil, sangat kecil sehingga Shanin sendiri pun tidak menyadari hal itu.
"Besok kamu masih kerja?" Tanya Samuel tiba-tiba pada Shanin.
"Iya, kan aku udah bilang tadi kalo liburnya hari minggu."
"Saya lupa."
"Kalo kamu? Masih kerja juga besok?" Tanya balik Shanin pada Samuel.
"Masih, tapi hanya setengah hari." Jawab Samuel.
"Kayaknya kerja di kantoran enak ya? Hari sabtu kerjanya cuma setengah hari tapi gajinya gede."
__ADS_1
"Kamu mau kerja di kantoran juga?" Tanya Samuel.
Pertanyaan yang diberikan oleh Samuel tadi membuat Shanin menatap ke arah lelaki itu, kenapa suara miliknya terdengar serius ketika mengatakan hal itu?
"Nggak lah, lagipula aku gak mau berharap lebih, mana bisa lulusan SMA kayak aku kerja kantoran kayak gitu." Ucap Shanin dengan mata yang masih terfokus pada ponsel miliknya.
"Pendidikan tidak menjadi sebuah patokan, Shanin."
"Tapi setau aku perusahaan-perusahaan kayak gitu tuh cuma ngambil karyawan yang lulus dari perguruan tinggi atau universitas aja Sam."
"Perusahaan saya tidak seperti itu, jika kamu ingin melamar disana silahkan saja."
"Nggak deh, aku pasti bakalan kalah saing sama pelamar lainnya yang pendidikannya lebih dari aku." Ucap Shanin.
"Lagipula aku udah terbiasa sama kerjaan kayak gini dan aku juga merasa kalo kerjaan ini cocok sama keadaan aku." Lanjutnya.
"Tapi lebih enak menjadi orang kantoran, Sha. Walaupun saya tidak menutup kemudian jika orang yang kerja di perkantoran itu banyak sekali beban yang harus mereka tanggung." Jelas Samuel sambil menyesap kembali teh hangatnya yang masih tersisa tadi.
"Semua pekerjaan bakalan terasa enak kalo kitanya ikhlas, aku ikhlas ngejalanin kerjaan aku yang sekarang ini, mangkanya aku ngerasa kalo kerjaan aku enak."
"Memang apa yang dibilang sama kamu itu tidak salah, tapi selagi kita masih kerja di tempat yang lebih bagus, kenapa tidak di coba?"
"Eumm.. aku emang dari awal gak ada niatan kerja di kantoran kayak gitu sih, cuma sekedar kagum aja sama orang-orangnya." Ucap Shanin sambil menatap ke arah Samuel.
"Apa yang membuat kamu kagum?" Tanya Samuel sambil balik menatap ke arah Shanin, kini keduanya saling bertatapan sekarang ini.
"Mereka kelihatan keren aja di mata aku, pakaian mereka setiap harinya selalu rapih dan juga mereka kayak punya kharisma sendiri." Jawab Shanin sejujurnya.
"Kalo gitu saya juga kelihatan keren dan berkharisma dong di mata kamu?" Tanya Samuel dengan senyum miringnya.
"Nggak buat kamu." Jawab Shanin singkat.
"Ini namanya tidak adil, seharusnya saya juga masuk ke kriteria yang kamu bilang tadi tentang orang-orang kantoran."
"Iya-iya deh biar kamu seneng." Ucap Shanin dengan malas sambil memutar bola matanya.
"Tapi kamu yakin tidak ingin mencoba untuk melamar di perusahaan saya?" Tanya Samuel sekali lagi mencoba memastikan pada Shanin.
"Nggak, aku nggak mau kerja di perusahaan kayak gitu, aku udah nyaman sama kerjaan aku yang sekarang."
"Kalau semisalnya saya langsung menerima kamu begitu saya di perusahaan saya, kamu mau?"
"Maksud kamu apaan? Aku tetap nggak bakalan mau, Sam." Jawab Shanin yang tetap teguh dengan pendiriannya.
Tersirat guratan kekesalan di wajah milik perempuan itu, Samuel dapat melihatnya.
"Apa yang membuat kamu tidak mau?" Tanya Samuel mencoba mengulik apa alasan dibalik itu semua.
"Aku ngerasa gak pantas buat itu, aku cuma orang dengan pendidikan dasar yang emang gak seharusnya ada disana." Jelas Shanin.
"Itu tidak menjadi suatu masalah, Sha. Kalau begitu jika saya menawarkan kepada kamu untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, kamu mau?"
Sontak saja pertanyaan dari Samuel itu membuat Shanin terdiam sejenak, dirinya kembali teringat pada keinginan dulu ketika ayahnya masih ada, perempuan itu sangat ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, tapi semuanya tinggal menjadi angan-angan setelah kepergian ayahnya.
"Sha?"
Suara milik Samuel itu membuat Shanin terperanjat dari lamunannya.
"Eh? Apa tadi?"
"Saya tanya malah melamun, kamu kalau saya suruh untuk menempuh pendidikan ke perguruan tinggi mau apa tidak?"
"Nggak, aku udah mengubur keinginan itu. Sekarang aku harus fokus kerja buat biayain hidup aku sendiri."
"Saya tidak bilang kalau kamu harus membiayai pendidikan kamu sendiri."
"Terus maksud kamu apa?"
"Saya yang urus semua biaya yang kamu perlukan selama menempuh pendidikan di perguruan tinggi."
Sontak saja perkataan dari Samuel itu membuat Shanin membulatkan matanya, apa perempuan itu tidak salah dengar tadi? Lelaki itu bersedia untuk membiayai pendidikannya?
"Kamu kalo ngomong jangan ngaco deh, Sam. Kita gak punya hubungan apa-apa sampe kamu harus membiayai pendidikan aku." Ucap Shanin sambil memalingkan wajahnya.
"Apa kita harus punya hubungan terlebih dahulu agar saya dapat membiayai pendidikan kamu?"
"Udah ih jangan bahas itu lagi, aku mau tidur sekarang."
"Kamu kalo mau tidur masuk aja ke kamar, aku duluan." Lanjutnya.
Setelah mengatakan hal itu, Shanin langsung beranjak dari tempat duduknya dan melangkah kaki ke arah pintu kamar, meninggalkan Samuel yang kini tengah menatapnya dari belakang tanpa perempuan itu ketahui.
__ADS_1
BERSAMBUNG.