
Hari Senin adalah hari sibuknya setiap orang, maka dari itu setelah sibuk dengan kegiatannya, orang-orang pasti butuh asupan di siang hari untuk mengembalikan energinya.
Karena itulah keadaan kafe siang ini begitu ramai, seluruh karyawan di kafe itu tidak henti-hentinya bekerja, Shanin salah satu contohnya, tapi perempuan itu tidak mengeluh seperti biasanya, mungkin karena suasana hatinya yang sedang baik kali ini.
"Rame banget deh Sha." Ucap Anna saat keduanya kini sedang menunggu pesanan pelanggan selesai disajikan oleh juru masak.
"Iya Ann rame, wajah aja sih karena emang ini hari senin." Balas Shanin pada teman kerjanya itu.
"Padahal bawa bekal ke kantor pasti bakalan lebih hemat."
"Kalo pada bawa bekal yang ada kafe kita yang sepi." Ucap Shanin.
"Bener juga sih."
Ting!
Lonceng yang menandakan jika pesanan siap untuk diantarkan ke pembeli, itu pesanan pelanggan yang harus Anna bawa, sedangkan Shanin harus menunggu sebentar lagi untuk membawa pesanan milik pembeli.
Terlihat Anna yang meraih nampan berisi pesanan tersebut dan membawanya ke arah meja si pelanggan dengan hati-hati takut minuman dan makanan yang ada di atasnya tumpah.
Tidak lama setelah itu, lonceng kembali berbunyi yang menandakan jika pesanan milik pelanggan sudah siap untuk diantar, kini giliran Shanin yang membawanya.
Perempuan itu kemudian meraih nampan yang berisi pesanan pelanggan itu dan membawanya dengan hati-hati ke arah meja si pelanggan.
"Silahkan dinikmati." Ucap Shanin saat perempuan itu baru saja meletakkan pesanan milik pelanggan ke atas meja.
Shanin memberikan senyum tipisnya sebelum melenggang pergi dari hadapan si pelanggan untuk kembali menyimpan nampan yang tadi dia gunakan untuk membawa pesanan.
Saat dirinya yang sedang berjalan ke arah juru masak untuk menyimpan nampan, ada pelanggan yang baru saja masuk ke dalam kafe dan memilih untuk duduk di salah satu kursi yang ada di sana.
Maka dari itu Shanin dengan cepat menyimpan nampan yang dia bawa tadi kemudian mengeluarkan buku catatan kecil dari kantong seragamnya dan meraih buku menu yang tadi sempat dia simpan dengan asal di atas meja kasir.
Setelah berhasil meraih buku menu tadi, perempuan itu pun langsung berjalan ke arah si pelanggan yang barusan datang dan menyebrangkan buku menu itu pada pelanggannya.
Mencatat apa saja yang dipesan oleh pelanggan itu di buku catatan kecil miliknya dan mengucapkan kata-kata andalan untuk pelanggan agar menunggu pesanannya sebentar, kemudian berjalan ke arah juru masak dengan membawa selembar kertas yang berisi pesanan pelanggan tadi, menyerahkannya pada juru masak.
Shanin yang sedang menunggu pesanan milik pelanggan selesai disajikan pun dibuat kebingungan melihat Anna yang berjalan kearahnya dengan wajah kesalnya.
"Kenapa Ann? Gak enak banget tuh muka dilihatnya."
"Itu tuh Sha, masa ada pelanggan yang ngotot kalo pesanannya salah, padahal dia sendiri yang tadi pilih."
"Loh, terusnya gimana?"
"Ya aku tunjukkin aja deh catatan pesanan dia tadi, eh ternyata dia nya yang salah. Udah salah ngotot pula, gak minta maaf lagi." Ucap Anna dengan wajah kesal yang begitu kentara di wajahnya.
"Udahlah gapapa Ann, sabar aja."
"Ini juga aku udah sabar, kalo gak sabar udah aku cakar kali orangnya."
"Ya jangan dicakar juga dong."
"Lagian bikin aku kesel aja." Balas Anna.
__ADS_1
"Aku ke kamar mandi dulu Sha, mau cuci muka." Setelah mengatakan itu Anna kemudian melenggang pergi ke arah belakang dimana kamar mandi berada.
Shanin hanya dibuat geleng-geleng kepala melihatnya, kemudian setelah itu dia memilih untuk duduk sambil menunggu pesanan yang harus dia antar selesai disajikan.
Setelah menunggu sekitar dua puluh menit, akhirnya lonceng penanda pesanan sudah siap untuk diantar selesai juga, perempuan itu kemudian langsung meraih nampan tersebut dan mengantarkannya ke meja si pelanggan yang memesan tadi.
Setelah pelanggan yang beramai-ramai di saat jam makan siang tadi, akhirnya saat jarum jam menunjukkan ke angka tiga siang, para pelanggan mulai bepergian meninggalkan kafe karena telah selesai dengan acara makan siangnya dan juga harus kembali lagi bekerja.
Shanin dapat bernafas lega karena akhirnya perempuan itu dapat duduk dengan tenang sambil meminum air mineral dingin yang dia beli tadi, karena tadi siang Shanin belum makan, perempuan itu pun beranjak dari duduknya hendak pergi ke belakang mengambil bekal yang ada di dalam tas selempang nya.
"Mau kemana Sha?" Tanya Kila.
"Ambil kotak bekal aku di belakang, lapar tau Kil." Jawab Shanin sambil melangkahkan kakinya ke arah belakang.
Tidak lama dari itu Shanin kembali lagi duduk di kursinya tadi dengan satu tangan yang membawa sebuah kotak bekal yang perempuan itu siapkan sendiri tadi pagi.
"Kalian gak bawa bekal?" Tanya Shanin pada kedua teman kerjanya, Kila dan Anna.
"Nggak, tadi pagi aku males siapin." Jawab Anna.
"Kalo kamu Kil? Gak bawa juga?"
"Nggak Sha, aku juga lagi males." Jawab Kila yang tadi ditanya oleh Shanin.
"Ohh gitu, ya udah makan bareng-bareng aja." Tawar Shanin sambil menyodorkan kotak bekalnya.
"Kamu aja deh, aku udah makan roti tadi." Balas Kila.
"Iya Sha kamu aja, aku masih kenyang abis makan gorengan di depan."
Shanin menikmati acara makan siangnya yang sebenarnya bisa saja masuk ke dalam makan sore mengingat jika kini sudah jam tiga sore.
"Oh iya, hari ini kamu kerja sampe sore doang ya Sha?" Tanya Anna.
"Iya Ann, sampe jam lima doang."
"Bentar lagi dong."
"Dua jam kalo ditunggu-tunggu malah jadi lama." Ucap Shanin.
"Bener Sha yang kamu bilang, tapi anehnya pas lagi liburan malah terasa cepat banget." Kila ikut bergabung ke dalam percakapan.
"Kan, aku aja kemaren perasaan cuma pergi ke festival doang, udah malem lagi aja." Shanin membenarkan.
"Mangkanya waktunya jangan di tunggu-tunggu terus, tau-tau nanti udah malem lagi aja, besoknya harus masuk kerja lagi deh.
Setelah itu ketiganya dipenuhi keheningan, Shanin yang kembali berfokus dengan bekal bawaannya yang sedang dia makan.
Beginilah suasana kafe, jika para pelanggan tadi sudah bepergian maka kafe akan menjadi sangat sepi, paling hanya ada satu, dua atau tiga pelanggan yang akan datang, biasanya kafe akan kembali ramai saat sudah masuk waktunya makan malam.
Terdengar suara pintu kafe yang terbuka, menampilkan sosok pelanggan yang datang, ketiga perempuan yang ada disitu mengalihkan pandangan mereka ke arah pintu kafe.
Mungkin teman-teman Shanin akan merasa jika pelanggan yang barusan datang adalah pelanggan biasa, berbeda dengan Shanin yang mengenali siapa pelanggan yang baru datang itu, dia adalah Daniel.
__ADS_1
"Biar aku aja." Ucap Shanin saat melihat Anna yang hendak beranjak dari duduknya.
"Oke deh kalo gitu." Balas Anna.
Shanin kemudian langsung berjalan meninggalkan kedua temannya menuju ke arah meja Daniel berada dengan membawa sebuah buku menu di tangannya.
"Selamat siang menuju sore, ini buku menunya." Sapa Shanin sambil menyodorkan sebuah buku menu ke hadapan lelaki itu.
"Oke tunggu sebentar ya Sha." Setelah mengatakan itu Daniel kemudian membolak-balikkan halaman buku menu.
Daniel mulai menyebutkan apa saja makanan dan minuman yang akan dia pesan, sedangkan Shanin sibuk mencatat apa saja pesanan Daniel di buku catatan kecil miliknya.
"Kalo gitu pesanan bisa ditunggu sebentar ya, Dan." Ucap Shanin sebelum dirinya melenggang pergi dari hadapan Daniel menuju ke arah juru masak.
Perempuan itu kemudian kembali duduk bergabung dengan kedua temannya tadi sambil menunggu pesanan milik Daniel selesai dibuat oleh juru masak.
"Kamu kelihatan akrab sama dia Sha, kenal?" Anna langsung bertanya pada Shanin saat Shanin baru saja mendudukkan dirinya.
"Iya kita kenal, itu orang yang pas waktu itu nolongin aku pas motor aku mogok." Jawab Shanin.
"Oh yang pas kamu telepon aku itu?" Tanya Kila.
"Iya Kil."
Kedua teman kerja Shanin yang ada di hadapannya itu mengangguk-angguk mengerti, tidak lama setelah itu lonceng dari arah juru masak berbunyi menandakan jika pesanan sudah siap untuk diantar ke pelanggan.
Tanpa berucap apapun, Shanin langsung beranjak dari tempat duduknya menuju ke arah juru masak untuk mengambil nampan yang berisi pesanan Daniel tadi.
Shanin kemudian melangkahkan kaki menuju ke arah meja Daniel berada sambil membawa nampan di tangannya dengan hati-hati.
"Silahkan dinikmati, semoga kamu suka sama menu-menu yang ada disini." Ucap Shanin saat perempuan itu selesai meletakkan semua pesanan Daniel di atas meja.
"Makasih Sha." Balas Daniel.
"Sama-sama, kalo gitu aku balik lagi ke sana dulu ya."
"Kalo aku minta kamu buat temenin disini boleh gak?" Tanya Daniel.
Mendengar pertanyaan dari Daniel barusan membuat Shanin berpikir sebentar, perempuan itu menimbang-nimbang jawaban apa yang akan dia berikan.
Shanin pikir tidak ada salahnya jika perempuan itu menemani Daniel disini, lagipula sedang tidak ada pelanggan yang harus dia layani.
"Oke, tapi kalo nanti ada pelanggan aku pergi ya." Balas Shanin.
"Iya gapapa."
Kemudian Shanin langsung duduk di kursi yang ada di hadapan Daniel, memperhatikan lelaki itu yang sedang memakan pesannya tadi.
"Kamu udah makan Sha?" Tanya Daniel di tengah kegiatan makannya.
"Udah, baru aja tadi, belum ada dua puluh menit." Jawab Shanin.
Mendengar jawaban dari perempuan yang ada di depannya, Daniel mengangguk-anggukan kepalanya mengerti.
__ADS_1
BERSAMBUNG.