Gadis Biasa Milik CEO Tampan

Gadis Biasa Milik CEO Tampan
Bab 24


__ADS_3

Shanin dapat bernafas lega karena hari ini dia dapat pulang sore, tidak seperti kemarin dan perempuan itu kini sudah bersiap untuk pulang.


"Anna, aku pulang duluan ya." Pamit Shanin kepada teman kerjanya yang baru itu.


"Oh iya Sha, hati-hati di jalan."


Perempuan itu kemudian keluar dari dalam kafe dengan membawa sebuah tas yang dia bawa tadi dia bawa dari rumah tadi pagi.


Dia tidak mampir terlebih dahulu ke meja kasir untuk sekedar berpamitan dengan Kila, karena teman kerjanya yang satu itu sedang ada di kamar mandi sekarang ini.


Shanin menghela nafasnya pasrah saat dirinya melihat sosok Samuel yang kini tengah bersandar di mobil hitam miliknya yang terparkir.


Pura-pura tidak melihat keberadaan lelaki itu, Shanin memilih untuk jalan ke arah parkiran khusus karyawan dimana motor miliknya terparkir, semoga saja Samuel tidak melihat dirinya.


Namun sepertinya harapan Shanin itu pupus, dia dapat mendengar suara langkah kaki yang mengejarnya dari belakang dan semakin mendekat ke arahnya.


"Shanin, tunggu sebentar." Dan benar saja, suara milik Samuel masuk ke dalam indera pendengarannya.


Karena saat ini suasana hatinya sedang ada dalam keadaan baik, maka dari itu perempuan itu pun menghentikan jalannya ketika suara Samuel menyapa indera pendengaran, menyuruh berhenti.


"Ada apalagi sih, Sam? Kamu kayak orang pengangguran tau." Ucap Shanin sambil menatap ke arah Samuel yang kini sudah ada di depannya.


"Pekerjaan saya sudah selesai, lagipula ini sudah waktunya pulang jam kantor."


"Iya-iya terserah kamu, ada apa nyuruh aku berhenti?" Tanya Shanin.


"Hari ini kamu sibuk?"


Bukannya menjawab pertanyaan dari Shanin, lelaki itu malah balik bertanya membuat Shanin mengerutkan keningnya.


"Sekarang aku udah selesai kerja dan mau langsung pulang ke kontrakan, pengen istirahat." Jawab Shanin jujur.


"Udah makan malam?" Tanya Samuel sekali lagi yang membuat Shanin jengah.


"Sebenernya kamu mau ngapain tanya-tanya kayak gitu? Langsung ke intinya aja." Ucap Shanin karena mulai merasa kesal, waktunya harus terbuang sia-sia begitu saja.


"Saya mau ajak kamu makan malam sekalian jalan-jalan." Balas Samuel cepat.


Ucapan Samuel itu tentu saja semakin membuat Shanin bingung, sebenarnya apa yang terjadi pada lelaki itu? Kenapa dia mendadak menjadi aneh begini?


"Gak ada angin gak ada hujan tiba-tiba ngajak jalan-jalan, tujuan kamu aja aku buat apa? Keliatan aneh aja gitu."


Lelaki itu tidak langsung menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Shanin, dirinya sempat berpikir untuk mencari alasan yang masuk akal, tidak mungkin juga kan jika dia menjawab hanya karena ingin mengajak perempuan itu jalan.


"Sebagai tanda terimakasih saya. Ya, sebagai tanda terimakasih saya karena saat itu kamu sudah baik kepada saya."


"Bukannya udah? Pas kamu kasih kartu ATM kamu ke aku."


"Itu beda."


"Sama aja, kamu sendiri juga yang bilang ke aku kalo kartu itu sebagai rasa balas budi kamu ke aku." Ucap Shanin.


Mendengar ucapan dari Shanin membuat Samuel pasrah, dirinya tidak tau lagi harus mengunakan alasan apa sekarang ini.


"Ya udah terserah kamu. Tapi kalau saya jawab hanya karena ingin mengajak kamu jalan-jalan, apa kamu mau?"


Shanin semakin dibuat bingung dengan tingkah lelaki yang ada di depannya kini.


"Kenapa kamu gak ajak perempuan yang tempo hari makan siang di kafe sama kamu." Balas Shanin dengan malas, suasana hatinya menjadi buruk saat mengingat kejadian tempo hari itu.


"Perempuan tempo hari?" Samuel mengatakan itu sambil mengerutkan keningnya.


"Gak usah pura-pura lupa, aku sendiri yang layani kalian berdua waktu itu dan aku tau kalo dia bukan sekretaris kamu, aku inget gimana muka sekretaris kamu itu."


Jelas Shanin agar Samuel dapat mengingatnya, kini Shanin semakin yakin jika memang banyak perempuan yang dekat dengan lelaki itu.


"Maksud kamu Celine?"


"Ya mana aku tau, aku aja gak kenal sama dia."


"Dia cuma teman saya, tidak lebih dari itu."

__ADS_1


"Mau lebih dari itu pun aku gak peduli." Jawab Shanin cuek.


"Kamu bisa lihat sendiri kemarin saya tidak beraksi lebih saat duduk dengan dia, bahkan kami berdua hanya ngobrol-ngobrol kecil."


"Aku gak bisa liat itu."


"Yakin tidak melihatnya? Padahal kemarin mata kamu terus-terusan menatap ke arah meja saya." Jawab Samuel dengan percaya dirinya.


"Perasaan kamu aja kali! Orang aku liatin perempuan yang sama kamu kemarin, cantik soalnya." Elak Shanin.


"Kamu juga tidak kalah cantik."


Sontak saja balasan yang diberikan oleh Samuel barusan membuat Shanin membulatkan matanya, apa yang barusan lelaki itu bilang?!


Entah kenapa mendengar Samuel mengatakan hal itu, wajah Shanin langsung terasa panas secara tiba-tiba.


"Muka kamu merah, kamu sakit?"


Dan boom! Pertanyaan yang dilontarkan oleh Samuel itu semakin membuat Shanin salah tingkah. Entah lelaki itu benar-benar bertanya atau hanya sekedar menyindirnya karena wajahnya yang bersemu setelah lelaki itu puji.


"Gak, udah ih kamu pergi, aku juga mau pulang."


Karena sudah kepalang malu, Shanin memilih untuk langsung melenggang pergi dari hadapan lelaki itu menuju ke arah parkiran khusus karyawan dimana motor miliknya terparkir disana.


"Hei! Shanin, kamu belum jawab ajakan saya tadi."


"Aku gak mau!" Balas Shanin dengan sedikit berteriak karena jarak keduanya yang berjauhan.


"Hari ini aja Sha, hanya makan malam, tidak jadi jalan-jalan." Bujuk Samuel kepada Shanin sambil ikut menyusul Shanin yang kini berjarak beberapa meter di depannya.


"Aku pengen cepat-cepat pulang, lagipula aku bawa motor sendiri."


"Kita pergi makan malamnya pake motor kamu."


"Kalo ngomong gak pernah dipikirin lagi, terus nasib mobil kamu gimana? Mau ditinggal gitu aja disini?"


"Iya, mobilnya saya tinggal disini nanti saya ambil lagi."


"Jangan gila ya, aku mau pulang aja."


"Bukan masalah traktir atau nggak nya, aku masih punya uang kok kalo cuma sekedar buat beli makanan doang mah."


"Terus yang jadi masalah apa sekarang?"


"Aku nya yang gak mau, aku pengen cepat-cepat pulang, mau istirahat." Kata Shanin sekali lagi.


"Saya yang bawa motornya, jadi kamu tidak perlu capek-capek."


"Emangnya kamu bisa bawa motor?" Tanya Shanin menyakinkan.


"Kemampuan yang saya punya banyak."


"Ck, sombong banget." Ucap Shanin sambil memutar bola matanya malas.


"Bukan sombong, tapi saya hanya bicara sesuai fakta yang ada."


Malas mendengar kata-kata yang keluar dari mulut lelaki itu lagi, Shanin memilih untuk pasrah.


"Ya udah nih, bawa motornya." Ucap Shanin dengan malas sambil menyodorkan kunci motor yang ada di tangannya.


Melihat hal itu membuat Samuel terbengong sebentar, dirinya sedikit kebingungan saat melihat Shanin yang menyodorkan sebuah kunci motor milik perempuan itu ke hadapannya.


"Maksudnya? Jadi kamu mau makan malam sama saya?" Tanya Samuel mencoba meyakinkan apa yang sedang terjadi.


"Iya, cepetan deh. Kalo gak jadi, aku mau pulang." Ucap Shanin sambil berusaha mengambil kembali kunci yang kini sudah berada di tangan Samuel.


"Jadi!"


Balas Samuel dengan semangat, lelaki itu langsung naik ke atas jok motor matic milik Shanin, layaknya seorang anak kecil.


Shanin dibuat ternganga melihat kelakuan lelaki yang ada di depannya saat ini yang seperti anak kecil itu.

__ADS_1


"Kenapa melamun disitu? Ayo!"


Tanpa memberi sepatah katapun untuk membalas ajakan dari Samuel barusan, Shanin langsung naik ke jok belakang motor itu.


"Udah siap?" Samuel memastikan keadaan penumpangnya yang ada di belakang.


Shanin berdeham untuk membalas pertanyaan yang dilontarkan oleh Samuel yang kini ada di depannya, mendengar respon dari Shanin, Samuel langsung menyalakan mesin motor dan menancap gas.


"Pelan-pelan bawa motornya, aku kurang yakin sama kamu." Akhirnya Shanin kembali membuka suara.


"Tenang aja, saya pastikan kamu aman." Jawab Samuel.


"Awas aja kalo sampe aku gak aman, ngomong-ngomong kita mau makan dimana?" Tanya Shanin penasaran.


"Saya belum ada rencana mau ke mana, kalo kamu ada ide?"


"Gimana sih? aku kira kamu ngajak aku makan udah tau tempat makannya mau dimana, aku juga gak tau soal itu." Balas Shanin dengan sedikit rasa kesal.


"Kalo gitu kita ke taman kota dulu aja jalan-jalan."


"Taman kota? Tadi kan kamu bilang cuma makan malem aja, Sam."


"Sekalian sama jalan-jalan." Balas Samuel singkat.


Mendengar jawaban yang diberikan oleh Samuel dengan wajah santainya itu membuat Shanin menghela nafasnya panjang, kini perempuan itu hanya dapat menuruti apa yang diinginkan oleh lelaki itu.


"Jangan lama-lama tapi, aku pengen cepat-cepat pulang buat istirahat, besok harus kerja lagi." Ucap Shanin.


"Iya, saya janji sama kamu, jam delapan malam nanti, kamu udah ada di kontrakan."


"Kalo lewat dari jam delapan gimana?"


"Udah percaya aja sama saya."


Shanin hanya mengangguk-anggukan kepalanya mendengar ucapan Samuel tadi, walaupun dirinya tidak yakin kalau lelaki itu akan memulangkannya jam delapan.


"Udah sampe, ayo turun."


"Iya sebentar."


Motor milik Shanin sudah terparkir di area parkiran khusus motor yang ada di taman kota, keduanya kemudian memilih untuk jalan menuju ke kursi taman yang ada disana.


Taman kota sore ini terlihat ramai ditambah dengan beberapa tenda milik pedagang yang berjejer di pinggir jalan membuat mata kalap ingin membeli semuanya.


"Abis ini kita mau ngapain?" Tanya Shanin saat keduanya sudah duduk di kursi taman.


"Beneran cuma gini doang? Tau gitu aku mending tadi langsung pulang ke kontrakan buat istirahat."


"Memangnya kamu ingin jalan-jalan kemana? Agar saya bisa atur waktu untuk itu, sekarang kita jalan-jalan di taman dulu." Usul Samuel sambil menatap ke arah sorot mata milik Shanin.


"Aku gak punya rencana kemana-mana sih, yang aku mau itu tidur." Jawab Shanin seadanya.


Keduanya dilanda keheningan, sebelum pada akhirnya Shanin mendengar suara milik penjualan kue pukis yang ada disana.


Perempuan itu sontak berdiri dan berniat untuk menghampiri pedagang itu, tapi karena gerakan tiba-tiba dari Shanin itu membuat Samuel yang ada di sampingnya menahan pergerakan tangan miliknya, lebih tepatnya menahan tubuh Shanin agar tidak pergi.


"Mau kemana?"


"Tuh, aku mau beli jajan disana." Jawab Shanin sambil tangannya yang menunjuk ke arah dimana tukang kue pukis itu berada.


Setelah mendapat jawaban dari pertanyaan yang membuatnya penasaran barusan, Samuel kemudian ikut berdiri dari duduknya dan berjalan sejajar dengan Shanin ke arah dimana gerobak kue pukis itu berada.


"Terimakasih kasih pak." Ucap Shanin saat dirinya sudah berhasil meraih satu kantong plastik yang berisi kue pukis dan dirinya bersiap untuk bayar, perempuan itu kemudian mengeluarkan dompetnya dari dalam tas, tapi hal itu langsung tertahan karena Samuel lebih dulu menyodorkan uang lembaran seratus ribu kepada pedagang tadi.


"Ini pak, ambil aja kembaliannya." Ucap Samuel sambil menyodorkan uang lembaran seratus ribu itu.


Sontak saja perlakuan yang dilakukan oleh Samuel barusan membuat Shanin membulatkan matanya, bukan karena dia tidak ingin ditraktir oleh lelaki itu, tapi karena perkataan terakhir yang dilayangkan oleh lelaki itu, bukankah uang kembaliannya masih tersisa banyak? Kue pukis nya saja tidak sampai dua puluh ribu.


Karena masih berada di depan pedagang itu, tentu saja Shanin tidak berani untuk berkata secara langsung disana.


"Ayo." Ajak Samuel.

__ADS_1


Mau tidak mau perempuan itu mengikuti langkah Samuel yang kembali ke kursi taman tadi sambil membawa sekantong plastik yang berisi kue pukis tadi.


BERSAMBUNG.


__ADS_2