
Setelah menempuh waktu beberapa menit, akhirnya keduanya pun sampai yang dituju. Shanin masih belum mengetahui tempat apa yang akan ditunjukkan oleh Samuel padanya.
Begitu sampai disana, Samuel langsung turun dari kursi pengemudinya dan membukakan pintu mobil untuk Shanin. Sedangkan Shanin yang melihat apa yang dilakukan oleh Samuel kepadanya hanya dapat menerima hal itu.
"Ini tempatnya?" Tanya Shanin pada Samuel untuk memastikan dengan nada menyiratkan sebuah keraguan disana.
Shanin sedikit bingung ketika matanya melirik ke kiri kanan yang tampak begitu sepi dan juga tempat ini tidak terlihat seperti tempat yang sering dikunjungi oleh orang-orang.
"Ayo ikuti saya." Ajak Samuel.
Mendengar ajakan dari lelaki itu, mau tidak mau Shanin harus mengikutinya dari belakang, Samuel berjalan mengikuti jalan batu taman setapak disana.
Shanin dengan hati-hati berjalan disana karena memang dia sedang berjalan di atas bebatuan, perempuan itu ikut berhenti ketika melihat Samuel juga berhenti di depannya.
Bola mata Shanin terbelalak melihat apa yang kini ada di depannya, sebuah taman yang sudah dihiasi oleh berbagai lampu dan juga sebuah meja yang sudah terisi dengan berbagai makanan diatasnya.
Lampu kelap-kelip yang tergantung menerangi taman yang mulai redup, mencoba untuk memastikan apa yang ada di depannya saat ini, Shanin beberapa kali mengerjap-erjapkan matanya.
"Woahh." Kata itu spontan keluar dari mulut Shanin, perempuan itu takjub melihat apa yang ada di depannya saat ini.
"Kamu suka?" Tanya Samuel.
Mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Samuel membuat Shanin langsung memalingkan wajahnya ke arah lelaki tersebut dan mengangguk dengan cepat, sebuah senyuman juga terukir manis di wajah si perempuan.
"Ini semua kamu yang nyiapin?" Tanya Shanin sambil menatap ke arah Samuel yang ada disampingnya.
Samuel membalas pertanyaan dari Shanin dengan sebuah gelengan kepala. "Pegawai saya yang menyiapkannya." Ucap lelaki itu.
Jawaban dari Samuel barusan dibalas dengan beberapa anggukan kepala oleh Shanin, perempuan itu kini kembali mengedarkannya ke penjuru taman yang sangat indah malam ini karena dihiasi banyak sekali lampu kelap-kelip.
Kini keduanya sudah duduk berhadap-hadapan di meja yang sudah tersedia tadi dengan beberapa hidangan makan malam diatasnya, entah kenapa keadaan jantung Shanin saat ini berdebar lebih cepat dari biasanya, perempuan itu lagi-lagi gugup tanpa alasan.
"Jangan gugup seperti itu, kamu tidak akan saya apa-apa kan. Kita hanya makan malam saja dan setelahnya mungkin dapat langsung pulang atau jalan-jalan sebentar." Ucap Samuel sambil menatap Shanin dengan lembut.
"O-oh iya, aku gak gugup kok." Perempuan ini memang tidak pandai bersandiwara, dia mengatakan tidak gugup dengan perkataan yang terbata-bata.
Samuel hanya tersenyum kecil mendengar balasan yang diberikan oleh Shanin itu, entah kenapa sekarang ini apapun yang dilakukan oleh Shanin selalu membuat Samuel gemas, apakah ini yang dinamakan dengan cinta?
"Baiklah baiklah saya percaya, kalau begitu ayo kita mulai acara makan malamnya, makan yang banyak untuk malam ini." Ucap Samuel.
Shanin menganggukan kepalanya menanggapi ucapan dari Samuel itu, kini perempuan itu sudah meraih sendok dan juga garpu miliknya dan mulai makan malam dengan tenang setelah sebelumnya perempuan itu sempat berdoa sebelum makan.
Mereka berdua fokus dengan makan malamnya masing-masing, walaupun sesekali Shanin bertanya tentang ini itu kepada Samuel, lelaki itu hanya menjawab sekenanya dan kembali lagi fokus kepada makanan miliknya.
__ADS_1
"Sam, abis ini langsung pulang kan?" Tanya Shanin sambil menatap ke depan dimana Samuel berada.
"Kita mampir ke mall sebentar tidak apa-apa? Ada sesuatu yang harus saya beli." Ucap Samuel.
"Apa yang mau kamu beli?" Tanya Shanin penasaran.
"Kamu tidak perlu tau, cepat habiskan makan malam milikmu agar kita bisa pulang tidak sampai larut malam." Balas Samuel.
Shanin yang mendengar perkataan dari Samuel barusan mendengus kesal karena lelaki itu tidak memberitahunya tentang apa yang akan lelaki itu beli di mall nanti.
Perempuan itu kemudian memilih untuk melanjutkan kegiatan makan malamnya sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Samuel, begitupun dengan lelaki yang ada di hadapannya juga melakukan hal yang sama.
Beberapa menit setelah, hidangan makan malam keduanya sudah habis dan mereka berdua pun sudah beranjak dari kursi, berjalan beriringan ke arah dimana mobil hitam milik Samuel berada.
"Berarti abis dari mall kita langsung pulang kan?" Tanya Shanin memastikan saat perempuan itu baru saja masuk ke dalam mobil dan Samuel yang sudah siap untuk melajukan mobil miliknya.
"Kita ke kantor saya dulu, ada berkas yang perlu saya ambil." Balas Samuel.
Terdengar helaan nafas panjang dari Shanin yang membuat Samuel sedikit menyunggingkan senyum tipis di bibirnya.
"Kalo gitu kita bakalan kemaleman pulangnya Sam." Keluh Shanin.
"Saya hanya becanda, setelah dari mall saya akan langsung mengantarkan kamu ke kontrakan, tenang saja." Ucap Samuel yang mulai menyalakan mesin mobilnya dan melajukan mobil tersebut meninggalkan kawasan taman tadi.
"Lagian emangnya gak bisa besok aja ke mall nya?" Tanya Shanin yang kini sudah memalingkan wajahnya ke arah luar.
Lagi-lagi Shanin harus kembali mendengus kesal dan memilih untuk diam disepanjang perjalanan menuju ke mall, sedangkan Samuel juga ikut terdiam dan fokus dengan kegiatan menyetirnya.
Butuh waktu beberapa menit untuk keduanya sampai di parkiran mall dan Samuel kini tengah memilih tempat yang cocok untuk memarkirkan mobil hitam miliknya itu.
Mesin mobil telah mati dan kedua manusia itu pun secara bersamaan keluar dari dalam sana, Samuel berjalan terlebih dahulu dan diikuti oleh Shanin yang berlari kecil di belakang lelaki itu untuk menyamakan langkah kaki keduanya.
"Tungguin dong Sam, masih untung mau aku temenin kesini." Gerutu Shanin sambil mensejajarkan langkahnya dengan Samuel.
"Jalan kamu yang lambat." Balas lelaki itu seadanya.
Shanin yang mendengar balasan dari Samuel langsung menajamkan tatapannya kepada lelaki itu walaupun dia tau kalau Samuel tidak sadar dengan apa yang dirinya lakukan.
Meskipun sudah malam, pusat perbelanjaan bukannya semakin sepi malah semakin ramai. Orang-orang berlalu lalang kesana kemari dengan kantong belanjaan yang ada di tangannya, walaupun ada beberapa yang berjalan kesana kemari dengan tangan kosong, mungkin orang-orang itu baru akan berbelanja sama hal dengan Samuel dan juga Shanin.
Shanin menggeryitkan keningnya heran ketika Samuel malah membawa langkahnya untuk masuk ke dalam sebuah toko tas perempuan, ada perlu apa lelaki itu datang ke tempat ini?
"Coba kamu pilih salah satu tas disini yang sesuai dengan selera kamu."
__ADS_1
Ucapan tiba-tiba dari Samuel itu membuat Shanin tersadar dari lamunannya dan dengan cepat menatap ke arah Samuel dengan kening yang lagi-lagi harus mengerut kebingungan.
"Hah? Aku?" Tanya Shanin untuk memastikan apa yang baru saja dirinya dengar sambil menunjuk ke arah dirinya sendiri.
"Iya Shanin, saya bicara kamu."
"O-oh gitu, tapi buat apa?" Lagi-lagi Shanin mengeluarkan pertanyaan yang ada di dalam kelapanya.
"Jangan banyak tanya, lakukan saja apa yang saya katakan tadi."
Mendengar hal itu sontak saja langsung membuat Shanin melakukan apa yang dikatakan oleh Samuel sebelumnya pada dirinya. Mata perempuan itu mulai menelisik satu persatu jajaran tas yang ada di toko itu untuk menemukan yang sesuai dengan seleranya.
Sorot matanya langsung menangkap ke salah satu koleksi tas selempang berwarna cream disana, tas itu seakan langsung menarik perhatian milik Shanin untuk membelinya.
"Sam, tas selempang yang cream itu menurut kamu bagus gak?" Tanya Shanin pada Samuel yang ada di sampingnya sambil menunjuk ke arah dimana tas yang dimaksud oleh dirinya berada.
"Yang kecil itu?" Tanya Samuel memastikan.
"Bukan, yang disebelahnya, yang lebih gede dari itu tapi gak gede-gede banget." Jelas Shanin pada Samuel.
"Oh yang di samping tas warna hitam itu?" Tanya Samuel sambil menunjuk ke arah objek yang dia maksud.
Shanin mengangguk-anggukan kepalanya sebagai jawaban. "Iya yang itu, bagus gak menurut kamu?" Shanin bertanya sekali lagi.
"Bagus, kamu mau yang itu?"
"Iya, itu sesuai sama selera aku tapi terserah kamu sih mau pilih yang mana, emangnya buat apa sih?" Tanya Shanin penuh dengan rasa penasaran.
"Buat kamu, mangkanya saya suruh kamu buat pilih sendiri." Ucap Samuel sambil menatap lembut ke arah Shanin.
Shanin yang mendengar perkataan dari Samuel itu pun lagi-lagi dibuat menganga tidak percaya, jadi lelaki itu mengajaknya kesini untuk itu? Ck, benar-benar tidak ada romantis romantisnya, harusnya kan lelaki itu membeli sendiri dan menghadiahinya kepada Shanin.
"Gak perlu repot-repot deh Sam, tas aku masih ada beberapa yang masih kepake."
"Tapi dari beberapa tas kamu yang masih bisa kamu pakai itu tidak ada satupun pemberian dari saya."
"Bener juga sih, tapi kan kamu udah beliin aku sepatu waktu itu." Balas Shanin.
"Itu sepatu dan ini tas Shanin, keduanya adalah hal yang berbeda."
Memang benar apa yang dikatakan oleh Samuel barusan, Shanin tidak memiliki alasan lagi untuk menolak pemberian lelaki itu dan memilih untuk pasrah saja dengan apa yang akan dilakukan oleh Samuel selagi itu tidak merugikan dirinya.
Setelahnya Samuel langsung memanggil pegawai yang ada di toko itu untuk membungkusnya tas yang tadi ditunjuk oleh Shanin, lelaki itu juga langsung menyelesaikan pembayarannya.
__ADS_1
Selesai dengan urusan membeli tas, kini keduanya sudah kembali lagi masuk ke dalam mobil hitam milik Samuel yang sempat terparkir tadi dan langsung melaju meninggalkan kawasan mall tersebut menuju ke arah kontrakan Shanin berada.
BERSAMBUNG.