
Hari ini Shanin harus pulang malam karena memang tidak ada yang bisa bergantian kerja dengannya seperti biasa, sekarang jarum jam sudah menunjukkan ke angka sembilan dan kafe juga sudah tutup.
Beberapa orang sudah pulang lebih dulu darinya, ini karena hari ini adalah jadwal Shanin membawa kunci karena besok adalah hari jumat.
"Belum pulang juga?"
Shanin sedikit terperanjat karena merasa kaget mendengar suara itu saat dirinya baru saja mengunci pintu kafe dan berniat untuk jalan ke arah parkiran dimana motor miliknya berada.
"Astaga! Bikin kaget aja!"
"Kamu ngapain malem-malem ada disini?" Tanya Shanin pada Samuel, ya suara tadi adalah suara milik Samuel.
"Sengaja, saya tunggu kamu dari sore disini karena yang saya tau kamu pulang kerjanya sore." Jelas Samuel.
"Ya ampun, mau ngapain tungguin aku? Kenapa gak langsung masuk aja ke kafe?"
"Ingin buat kejutan." Balas Samuel singkat.
Shanin dibuat ternganga mendengar jawaban yang diberikan oleh lelaki itu, apa katanya? Membuat kejutan? Sepertinya lelaki itu berhasil membuat kejutan karena memang Shanin sedikit terkejut dengan kehadirannya.
"Yang bener aja? Aku capek, pengen pulang sekarang, lebih baik kamu juga pulang ke rumah kamu."
"Saya antar kamu pulang."
"Aku bawa motor sendiri."
"Saya ikutin kamu dari belakang, sekarang udah malam, bahaya buat perempuan di jalanan semalam ini."
"Berlebihan banget sih, temen-temen kerja aku yang lain juga udah biasa pulang jam segini, mereka gak kenapa-kenapa tuh."
"Lebih baik mencegah daripada mengobati."
"Ck! Terserah kamu."
Setelah mengatakan itu Shanin melenggang pergi begitu saja dari hadapan lelaki itu, berjalan ke arah parkiran khusus karyawan dimana motor miliknya berada.
Shanin sendiri tau jika lelaki tadi mengikutinya dari belakang, terdengar langkah kaki yang mengikuti di belakangnya.
"Mending kamu pulang aja deh, Sam. Besok kamu harus berangkat ke kantor lagi kan?"
"Saya sudah biasa bergadang, ini bukan masalah besar bagi saya."
Shanin menghela nafasnya panjang, bagaimana lagi cara agar lelaki itu tidak mengikutinya? Dan kenapa tiba-tiba lelaki itu selalu ada di sekitarnya?
"Sebenernya kamu mau apa sih? Aneh banget kayak gini."
"Dari awal kan saya sudah bilang kalau saya mau antar kamu pulang."
"Bukan itu maksud aku, akhir-akhir ini aku ngerasa kamu terus ada di sekitar aku."
"O-oh itu, itu sepertinya kamu yang pikiran. Itu karena kebetulan perusahaan saya ada di sekitar sini dan juga saya sering berada di sekitar sini." Samuel beralasan seperti itu dengan sedikit gugup.
"Ohh gitu, oke."
Tidak lagi mempedulikan Samuel, Shanin memilih untuk meraih helm miliknya yang bertengger di kaca spion motor dan memakainya kemudian setelah itu Shanin langsung menaiki motornya, siap untuk pergi dari tempat itu.
__ADS_1
"Minggir, aku mau lewat." Ucap Shanin saat melihat Samuel yang menghalangi jalannya.
Samuel tidak bisa berkutik apapun, mendengar perintah yang diberikan oleh Shanin, lelaki itu tanpa banyak bicara langsung menyingkir dari tempatnya.
Shanin langsung melajukan motornya meninggalkan lelaki itu yang masih terdiam di tempatnya, setelah motor Shanin meninggalkan beberapa meter, lelaki itu baru tersadar dan langsung berlari ke arah mobil miliknya.
Samuel langsung memacu gas mobil miliknya menyusul Shanin yang melesat tadi, walaupun sedikit mustahil untuk dirinya yang sedang mengendarai mobil dapat mengejar Shanin yang mengendarai motor di depannya.
Tapi untungnya saja jalanan malam ini tidak ramai sehingga memudahkan dirinya untuk mengejar motor Shanin yang ada di depannya.
Di tengah kegelapan malam tapi untungnya saja ada cahaya dari lampu jalan yang membantunya melihat keberadaan motor yang sedang Shanin kendarai kini telah ada di depannya.
Lelaki itu langsung menurunkan kecepatan laju mobilnya yang tadinya di atas rata-rata menjadi normal, Samuel mengerutkan dahinya saat melihat Shanin yang menepikan motornya di pinggir jalan membuat Samuel ikut menghentikan mobilnya.
Tidak lama dari itu Samuel melihat Shanin yang berjalan ke arah mobilnya, sepertinya perempuan itu menyadari jika dia diikuti dari belakang oleh lelaki itu.
"Aku kan udah bilang buat pulang aja, udah malem." Shanin langsung berucap saat Samuel baru saja menurunkan kaca mobilnya.
"Memangnya kamu pikir saya mau kemana? Ini memang arah ke rumah saya, tempat tinggal kita searah."
Samuel memang berkata jujur jika rumahnya dengan kontrakan Shanin searah tapi itu tidak sepenuhnya benar, niat utama Samuel adalah mengantarkan Shanin dengan selamat sampai ke kontrakan perempuan itu.
"Ya udah kalo gitu kamu jalan duluan." Ucap Shanin.
"Saya mau mampir dulu ke sana, iya ke sana." Jawab Samuel dengan gugup sambil menunjuk ke arah minimarket yang ada di seberang jalan.
"Oh ya udah."
Setelah mengatakan itu Shanin langsung melenggang pergi meninggalkan Samuel yang tersenyum kikuk disana sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Terlihat Shanin yang langsung menancap gas motornya meninggalkan tempat itu, Samuel dapat bernafas lega setelah kepergian perempuan itu.
"Ck! Sialan! Kenapa Shanin berkendara begitu cepat?"
Lelaki itu berkata demikian saat matanya tidak lagi menemukan Shanin yang tadi ada di depannya karena harus menjaga jarak.
Samuel memilih untuk melajukan mobilnya seperti biasa, dirinya memilih untuk langsung pulang ke rumah saja, syukur-syukur jika di jalan nanti dirinya kembali bertemu dengan perempuan itu.
Sedangkan di tempat lain, Shanin menghela nafas lega saat tidak melihat keberadaan mobil Samuel yang mengikutinya dari belakang sedari tadi.
"Huft, lagian ngapain sih Samuel ikutin aku?" Monolog Shanin.
Ya, perempuan itu mengetahui jika sedari tadi dirinya diikuti oleh Samuel dari belakang, bahkan lelaki itu masih tetap mengikutinya saat dirinya menegur lelaki itu tadi, malah Samuel beralasan jika dirinya ingin pulang dan mampir terlebih dahulu ke minimarket.
Pembohong yang ulung, jelas-jelas Shanin melihat jika lelaki itu tidak mampir sedetik pun ke minimarket itu dan memilih untuk langsung kembali mengikuti Shanin dari belakang.
Shanin merasakan adanya sebuah getaran dari saku celananya, berasal dari ponsel miliknya yang ada di sana, memang tadi dirinya tidak menyimpan ponsel tersebut di dalam tas seperti biasanya, perempuan itu memilih untuk menyimpan ponselnya di dalam saku celana.
"Halo? Kenapa Kil?" Shanin mengangkat panggilan itu setelah menepikan motor miliknya di tepi jalan.
"Kamu udah pulang belum, Sha?"
"Ini aku lagi ada di jalan, ada apa?"
"Kakaknya Nanda tadi kasih tau ke aku kalo tadi siang keluarga mereka udah lapor ke kantor polisi dan polisi langsung proses laporan mereka." Jelas teman yang satu tempat kerja dengan Shanin itu dari seberang sana.
__ADS_1
"Bagus dong kalo gitu, gimana? Ada perkembangannya nggak?" Tanya Shanin penasaran.
"Polisi nemuin handphone milik Nanda di semak-semak dekat trotoar yang arahnya ke minimarket, handphone dia mati karena baterainya habis, kemungkinan Nanda jatuhin handphone itu dalam keadaan hidup sampai akhirnya mati karena habis baterai, tapi cuma itu yang bisa polisi temuin hari ini, di daerah itu juga gak ada CCTV yang bisa jadi bukti kuat lainnya." Jelas Kila panjang lebar kepada Shanin.
Shanin mencoba membuat skenario di kepalanya tentang kejadian yang menimpa Nanda, perempuan itu dapat sedikit membayangkan bagaimana kejadian yang mungkin saja benar-benar terjadi pada teman kerjanya saat itu.
"Semoga besok polisi dapat nemuin bukti lainnya ya, kita jangan pernah berhenti buat doain Nanda ya, Kil?"
"Aku gak pernah berhenti berdoa buat dia, Sha. Aku terus berdoa semoga dia cepat ketemu dan dalam keadaan baik-baik aja, karena jujur aja aku sedikit takut karena lihat berita pembunuhan yang lagi marak di televisi."
Benar apa yang dibilang oleh Kila, memang belakangan ini sedang marak-maraknya pembunuhan, bahkan pembunuhnya bukan seseorang yang kenal dengan korban.
Shanin segera menggelengkan kepalanya mencoba untuk menghilangkan pikiran buruk itu dari dalam kepalanya.
"Kamu jangan berpikiran buruk kayak gini Kil, aku yakin Nanda bakalan baik-baik aja disana."
"Iya, semoga aja, aku tau dia orang baik dan juga perempuan yang kuat."
"Iya, aku juga tau tentang itu. Kila, teleponnya aku tutup ya? Aku masih di jalan soalnya, takut terlalu malam sampe ke kontrakannya."
"Aku sampe lupa kalo kamu sekarang ini masih di jalan, Sha. Iya, kamu hati-hati ya di jalannya."
"Iya, bye bye!"
Panggilan pun terputus, Shanin kembali memasukkan ponsel miliknya itu ke dalam tas dan kembali menyalakan mesin motor miliknya kemudian langsung kembali melajukan motornya membelah jalanan kota malam ini.
Tidak memakan waktu sampai lima belas menit, kini Shanin sudah mematikan mesin motor miliknya tepat di depan kontrakan miliknya.
"Tumben pulangnya malem, Sha? Biasanya sore motor kamu udah ada di depan." Ucap Bu Gendis, tetangga Shanin.
Saat Shanin baru saja melepaskan helm dari kepalanya, tiba-tiba pertanyaan itu dilontarkan oleh tetangganya yang ternyata masih ada di luar kontrakan malam-malam begini.
"Iya, Bu. Hari ini aku lembur, banyak kerjaan soalnya."
"Oh gitu, ibu baru sadar kalo seragam kamu beda sama seragam toko bunga tempat kamu kerja, tempat kerja kamu pindah?"
"Aku udah pindah tempat kerja Bu dari tiga hari yang lalu."
"Pantesan, saya baru tau." Ucap Bu Gendis.
Shanin membalas perkataan tetangganya itu dengan sebuah senyuman tipis dan mulai membuka sepatu miliknya dari kaki.
"Aku masuk dulu ya Bu, udah malem soalnya." Pamit Shanin sebelum dirinya masuk ke dalam kontrakan."
"Oh iya masuk aja, ibu juga bentar lagi mau masuk."
Setelah mendengar perkataan itu, Shanin langsung meraih kunci kontrakan yang ada di dalam tasnya dan membuka pintu kontrakan itu.
Perempuan itu langsung menghempas tas selempang miliknya asal-asalan dan memilih untuk langsung masuk ke dalam kamar, merebahkan dirinya di atas kasur.
"Aduh aku males banget buat mandi malem-malem gini, tapi kalo gak mandi badan aku lengket."
Monolog Shanin saat dirinya benar-benar merasa malas untuk beranjak dari atas kasur dan melakukan kegiatan membersihkan diri seperti yang biasanya dia lakukan sehabis pulang kerja.
"Mana udaranya dingin banget, pasti airnya juga dingin." Monolog nya sekali lagi.
__ADS_1
Dengan terpaksa Shanin harus beranjak dari kasurnya dan meraih handuk yang tergantung di sana kemudian dirinya langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk melakukan aktivitas membersihkan diri.
BERSAMBUNG.