Gadis Biasa Milik CEO Tampan

Gadis Biasa Milik CEO Tampan
Bab 33


__ADS_3

Pagi ini Shanin menjadi lebih semangat untuk berangkat ke kafe tempat kerjanya, entahlah sejak saat Samuel memberikan laptop kepadanya, suasana hati Shanin menjadi sangat baik.


Seperti biasanya kini Shanin sudah siap untuk berangkat ke kafe tempat kerjanya, tas selempang miliknya sudah terisi dengan kotak bekal untuk makan siangnya.


Selesai memakai sepatu miliknya, perempuan itu kemudian langsung memakai helm miliknya dan naik ke atas motor, melajukan motor matic miliknya itu dengan kecepatan normal seperti biasa.


Sesampainya Shanin di parkiran kafe tempatnya bekerja, perempuan itu langsung memarkirkan sepeda motornya di tempat biasa dirinya memarkirkan motor.


Perempuan itu kemudian langsung berjalan ke arah kafe dan masuk ke dalamnya, belum ada Anna dan juga Kila disana, kemungkinan di belakang sudah ada karyawan lain.


"Eh Bu Gendis." Ucap Shanin saat dirinya baru saja masuk ke dalam area belakang dan mendapati sosok Bu Gendis yang sedang berdiri di depan kulkas.


"Baru datang Sha?" Tanya Bu Gendis pada perempuan muda itu.


"Iya Bu baru aja datang, kayaknya aku kepagian deh." Jawab Shanin sambil menaruh tas selempang miliknya.


"Iya nih, biasanya Kila yang datangnya pagi banget."


Shanin hanya membalas perkataan perempuan tua dengan sebuah anggukan tanda menyetujui hal itu, perempuan itu kemudian memilih untuk kembali keluar dari area belakang itu, tidak lupa untuk meraih lap yang biasanya dia gunakan.


Saat dirinya baru saja keluar dari area belakang, pintu kafe terbuka menampilkan sosok Kila yang ada di ambang pintu sana, perempuan itu masuk ke dalam kafe dengan wajah yang berseri-seri.


"Kenapa kamu? Seneng banget keliatannya." Tanya Shanin pada teman kerjanya yang baru datang itu.


"Aku lagi seneng, jangan rusak mood aku ya Sha." Jawab Kila.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Kila barusan membuat Shanin memutar bola matanya malas, lagipula siapa memangnya yang ingin mengganggu perempuan itu? Dasar terlalu percaya diri.


"Gak ada kerjaan banget aku rusak mood kamu." Balas Shanin yang sedang mengelap meja di depannya.


Terdengar Kila yang mendengus kesal karena perkataan Shanin barusan, teman kerja Shanin itu pun membawa langkah kakinya ke arah belakang untuk menyimpan barang bawaannya.


Shanin yang melihat apa yang dilakukan oleh teman kerjanya itu pun hanya tertawa geli, entah kenapa membuat Kila kesal dapat membuatnya merasa senang, perempuan itu pun kembali melanjutkan kegiatannya mengelap meja tadi.


Tidak lama dari itu terdengar suara langkah kaki dari belakang, ternyata langkah kaki itu adalah langkah kaki milik Kila yang baru saja keluar dari area belakang dan berjalan ke tempat kasir berada.


"Si Anna kemana deh tumben belum datang." Ucap Kila saat dirinya baru saja duduk di kursi yang ada di belakang meja kasir.


"Kalo anaknya gak ada dicariin, kalo anaknya ada ribut terus." Balas Shanin.


"Itu tandanya kita sahabat sejati tau Sha."


"Halah, sahabat sejati dari mananya?"


"Emangnya kamu gak bisa liat pake mata kamu sendiri?" Kila malah balik bertanya.


"Males aku, ngapain juga liatin kalian berdua."


"Ya udah terserah kamu."


Setelah perkataan Kila barusan, keduanya diselimuti oleh keheningan. Shanin yang masih mengerjakan pekerjaannya yaitu mengelap meja, sedangkan Kila yang ada di tempat kasir sana sedang memainkan ponsel miliknya.


Terdengar suara pintu kafe yang kembali terbuka, kini sosok Anna berada di ambang pintu sana, perempuan itu datang dengan membawa sebuah tas jinjingan di tangannya.

__ADS_1


"Tumben baru datang Ann?" Tanya Shanin saat Anna berjalan mendekat ke arahnya.


"Iya nih Sha, tadi ban motor aku kempes, untungnya aja dekat sama tempat tambal ban yang udah buka pagi-pagi gini." Jelas Anna.


"Pantesan, tapi untungnya ada tukang tambal ban yang buka jam segini, biasanya belum pada buka."


"Iya kan untung aja, coba aja kalo tadi gak ada, bisa-bisanya kesiangan aku." Balas Anna.


"Kil, nih ada baru datang kok gak disapa? Tadi pas Anna nya belum datang ditanyain terus." Ucap Shanin pada Kila yang berada di meja kasir.


"Dih siapa yang tanyain dia terus? Orang aku baru tanya sekali ke kamu." Balas Kila dari meja kasir.


"Iya-iya deh percaya." Ucap Shanin.


"Kenapa Kil tanyain aku? Kangen ya kamu?" Goda Anna.


"Gak banget deh Ann, mending aku kangen sama Dilan."


"Halah, bilang aja kali kalo kangen sama aku." Ucap Anna.


"Kepedean banget kamu." Balas Kila yang mulai merasa kesal.


Melihat Kila yang mulai kesal, Shanin dan Anna pun tertawa kecil, memang benar-benar menyenangkan menggoda teman kerjanya yang satu itu sampai kesal.


"Aku ke belakang dulu." Pamit Anna sebelum perempuan itu melangkahkan kakinya ke arah belakang.


"Kil, soal Nanda gimana?" Shanin teringat pada teman kerjanya yang hilang itu.


"Mungkin gak kalo yang culik dia itu orang yang kenal sama dia?"


"Mungkin aja, tapi pihak keluarga sama polisi belum nemuin bukti apapun, kasusnya masih abu-abu."


Terdengar helaan nafas kasar milik Kila tanda sebuah rasa kecemasan di hatinya, mereka berdua sangat mengkhawatirkan keadaan Nanda saat ini, sudah lima hari semenjak perempuan itu menghilang tapi belum ada bukti apapun yang bisa didapatkan oleh polisi.


"Kenapa kalian berdua jadi pada murung gini?" Tanya Anna yang baru saja keluar dari area belakang sambil membawa sebuah kain lap di tangannya.


"Gak kenapa-kenapa." Jawab Kila.


"Yang bener nih?" Tanya Anna memastikan.


"Iya Ann gak kenapa-kenapa, kamu mau lap kaca jendela aja ya, biar aku yang lap meja." Ucap Shanin.


"Iya ini juga aku mau lap kaca doang niatnya." Balas Anna yang kemudian perempuan itu berjalan ke arah kaca jendela kafe.


Mereka bertiga sibuk dengan kegiatannya masing-masing, Shanin yang mengelap meja, Anna yang mengelap kaca jendela dan Kila yang sedang membuka komputer di meja kasir seperti sedang memeriksa sesuatu disana.


Beberapa karyawan lain pun mulai berdatangan ketika hari sudah semakin siang, Shanin dan Anna pun sudah selesai dengan kegiatan mereka masing-masing.


Kini keduanya tengah duduk di kursi yang ada di dekat meja kasir sambil menunggu pelanggan yang datang, walaupun sebenarnya pagi-pagi seperti ini sangat sedikit pelanggan yang datang ke kafe.


"Besok kamu libur ya Ann?" Tanya Shanin.


"Nggak jadi Sha, aku minta liburnya diundur jadi lusa." Jawab Anna.

__ADS_1


"Loh? Kenapa pengen diundur?" Kali ini bukan pertanyaan dari Shanin, melainkan dari Kila yang ikut bergabung.


"Lusa sepupu aku ada yang nikahan, biar aku bisa ke acaranya dari pagi." Jelas Anna pada kedua teman kerjanya.


"Ohh gitu." Balas Shanin dan juga Kila secara berbarengan.


"Oh iya Kil, kok aku gak pernah liat pak bos disini ya? Terakhir aku liat pas aku melamar kerja disini." Tanya Shanin pada Kila.


"Dia emang jarang kesini Sha, paling pas akhir bulan sama pas ada perekrutan karyawan. Selebihnya dia urus kafe ini dari jauh karena emang kafe ini cuma usaha sampingannya aja sih yang aku tau, dia punya perusahaan di bidang arsitektur." Jelas Kila yang mampu membuat Shanin dan juga Anna takjub mendengarnya.


"Wow keren banget, aku baru tau, pas di kafe tempat aku kerja sebelumnya juga gak ada karyawan yang tau soal ini loh."


"Beneran Ann?" Tanya Shanin.


"Iya beneran Sha, lagipula aku gak begitu dekat juga sih sama karyawan yang lain, mereka terlalu menutup diri gitu." Ucap Anna.


Shanin dan Kila yang mendengarnya pun mengangguk-anggukan kepala tanda mengerti, pantas saja saat Anna baru datang ke kafe ini perempuan itu lebih banyak diam.


"Pantesan pas baru pindah kesini kamu kelihatan pendiem banget Ann." Ucap Kila yang disetujui oleh Shanin.


"Aku masih ngerasa asing aja sih di tempat baru."


"Sama sih Ann, pas aku baru kerja disini juga kayak takut buat interaksi sama karyawan lain, untungnya aja ada Nanda sama Kila yang gampang berbaur dan selalu ajak aku ngomong." Jelas Shanin.


"Nanda? Karyawan yang aku gantiin disini ya?" Tanya Anna.


Pertanyaan dari Anna itu pun hanya dibalas dengan anggukan oleh Shanin dan juga Kila.


"Emangnya dia kemana? Pindah kerja atau berhenti kerja?" Tanya Anna penasaran.


"Dia masih jadi karyawan disini Ann, tapi sekarang anak itu hilang." Jawab Kila dengan raut wajah yang kembali sendu.


"Hah? Hilang gimana maksudnya?"


"Panjang ceritanya kalo aku ceritain secara detail." Ucap Kila, sedangkan Shanin hanya menatap keduanya.


"Ceritain langsung ke intinya aja Kil."


"Pas hari itu dia izin gak masuk kerja karena ada urusan keluarga katanya, dan Shanin yang aku suruh ke rumah dia soalnya kontrakan Shanin seuarah sama rumah dia buat ambil kunci kafe karena kebetulan pas hati itu giliran dia yang pegang kunci." Ucapan Kila sedikit terjeda.


"Ternyata kata kakaknya pas siangnya Nanda izin buat ke minimarket dekat kompleknya dan setelah itu Nanda gak ada kabarnya lagi, pihak keluarga udah lapor ke polisi tapi polisi juga belum menemukan bukti yang jelas." Lanjutnya dengan suara yang mulai terisak.


"Udah Kil jangan nangis, Nanda pasti baik-baik aja." Ucap Shanin yang mencoba untuk menguatkan Kila meskipun dirinya sama sedihnya dengan perempuan itu.


"Ya ampun, aku turut prihatin dengernya, semoga dia bisa cepet ditemuin dalam keadaan yang baik-baik aja ya." Ucap Anna.


Kila pun langsung menghapus sisa air mata di wajahnya, perempuan itu tidak boleh berlarut-larut dalam kesedihan, dirinya harus tetap yakin jika temannya itu akan baik-baik saja dimana pun keberadaannya.


"Udah Kil jangan sedih lagi, kita sering-sering aja doain supaya Nanda cepat ketemu." Ucap Anna sambil menatap prihatin ke arah Kila.


Kila pun menganggukan kepalanya sebagai jawaban dari perkataan Anna barusan, air mata yang ada di wajahnya pun sudah dihapus, hanya tinggal menyisakan mata yang sedikit memerah karena baru selesai menangis.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2