
Ramai, itulah satu kata yang menggambarkan suasana sekarang ini. Shanin dan Gita sudah berada di tempat festival berlangsung, Shanin kira kalau acara festivalnya tidak akan seramai ini atau memang perempuan itu saja yang baru tau jika memang festival pada biasanya seramai ini?
"Gila, rame banget Sha." Takjub Gita yang berdiri di sebelah Shanin.
"Bener, rame banget, aku kira emang segini wajar-wajar aja buat sebuah festival."
"Biasanya gak se rame ini sih Sha, tahun-tahun sebelumnya juga biasa-biasa aja."
"Terus ini kita mau ngapain lagi?" Tanya Shanin pada Gita, karena memang sebelumnya perempuan itu belum pernah ke acara seperti ini.
"Jajan dulu yuk, aku pengen kunyah sesuatu. Abis itu baru kita ke depan panggung sana, bakalan ada band kampus yang tampil." Ucap Gita sambil menunjuk ke arah dimana disana terdapat sebuah panggung besar.
"Kunyah aja tuh jari kamu." Usul Shanin.
"Yang bener aja, yuk buruan antri beli takoyaki." Ajak Gita pada Shanin.
Gita berjalan terlebih dahulu ke arah penjual takoyaki yang ada disana, mau tidak mau Shanin yang ada di belakangnya harus mengikuti setiap langkah perempuan itu.
Keduanya mengantri untuk menunggu giliran mereka memesan karena memang orang-orang yang ingin membeli takoyaki sangat banyak.
"Git, kamu aja deh yang antri, aku males, biar punya kita disatuin aja."
"Ya udah tunggu bentar." Walaupun dengan rasa malas, Gita tetap menurutinya.
"Oke, makasih, Aku tunggu di sana ya." Ucap Shanin sambil menunjuk ke arah tempat yang tidak begitu ramai.
"Iya, tunggu disana aja, awas ilang."
"Aku bukan anak kecil kali."
Setelah mengatakan itu, Shanin langsung melenggang pergi dari sana menuju ke tempat yang dia tunjuk tadi. Semakin sore festival ini semakin ramai di datangi oleh orang-orang, bahkan Shanin sampai dibuat pusing melihat kerumunan orang di depannya saat ini.
Perempuan itu memilih untuk membuka ponsel miliknya sambil menunggu Gita selesai membeli takoyaki, di layar ponsel miliknya terpampang tiga panggilan tidak terjawab dari Samuel.
Mungkin suara dering ponselnya tidak terdengar di tempat ramai ini, ditambah dengan ponselnya yang sedari tadi disimpan di dalam tasnya. Tapi yang membuat Shanin bingung yaitu ada tujuan apa lelaki itu menelpon dirinya?
Niat hati yang ingin menelpon balik ke nomor lelaki itu Shanin urungkan, dia berniat untuk menelpon balik Samuel nanti saja saat sudah sampai di kontrakan, jika sekarang pasti tidak akan terdengar jelas, mengingat sekarang ini benar-benar bising.
"Shanin?"
Mendengar namanya dipanggil, Shanin langsung menolehkan kepalanya ke arah sumber suara, matanya langsung menangkap perawakan tinggi seorang lelaki yang dia kenal, dia Daniel.
__ADS_1
"Loh, Daniel?"
"Iya ini aku, sama siapa disini Sha?" Tanya Daniel pada perempuan itu.
"Sama temen, tuh temen aku lagi antri mau beli takoyaki." Jawab Shanin sambil menunjuk ke arah Gita yang sedang mengantri.
"Ohh sama temen kamu, aku kira sama pacar."
"Pacar dari mana deh, kalo kami disini sama siapa?" Tanya balik Shanin pada Daniel.
"Sendiri aja, kebetulan ini kampus tempat aku kuliah."
"Kamu kuliah disini ternyata, temen aku juga yang lagi antri disana kuliahnya disini."
"Pantesan gak asing sama muka dia, kayak pernah liat tapi lupa dimana." Balas Daniel.
"Wajar sih kalo jarang liat, dia ambil kelas karyawan soalnya, biasa masuk malem."
Ucapan Shanin itu dibalas dengan anggukan kepala sebagai tanda mengerti oleh Daniel, kemudian setelah itu keduanya dipenuhi keheningan.
"Kalo aku gabung sama kalian berdua boleh?" Tanya Daniel tiba-tiba.
"Eh? O-oh aku sih boleh-boleh aja, nanti aku coba bilang ke temen aku."
"Loh Sha? Dia siapa?" Tanya Gita sambil melirik ke arah Daniel.
"Oh ini temen aku Git, kuliah disini juga dia. Kalo dia ikut gabung sama kita gapapa kan?"
"Gapapa kok, gabung aja. Kita belum kenalan, nama aku Gita." Ucap Gita sambil menjulurkan telapak tangannya.
Melihat apa yang dilakukan oleh Gita, Daniel langsung meraih uluran telapak tangan perempuan itu.
"Daniel, salam kenal Git." Balas Daniel.
Setelah itu tautan tangan keduanya terlepas, Gita langsung menyodorkan takoyaki yang dia beli tadi ke arah Shanin.
"Nih Sha takoyaki nya."
"Makasih, Git. Kamu mau Dan?" Tawar Shanin pada Daniel.
"Nggak, aku kurang suka sama takoyaki." Daniel menolak tawaran dari Shanin barusan.
__ADS_1
"Ohh gitu." Shanin berucap sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Kayaknya kita enaknya cari tempat duduk dulu deh, gak enak juga makan sambil berdiri gini." Ucap Gita.
Ucapan Gita barusan disetujui oleh Shanin yang mengangguk setuju dengan apa yang diucapkan oleh Gita barusan.
"Tapi aku gak tau tempat duduk yang enak di sekitar kampus sini, aku ngampusnya kan cuma pas malem doang." Ucap Gita.
"Aku tau, di taman dekat fakultas hukum, disana tempat enak, gak terlalu rame juga sekarang." Ini adalah suara milik Daniel yang nimbrung ke dalam obrolan antara Shanin dan Gita.
"Nah, untungnya ada Daniel disini." Ucap Shanin.
Lelaki itu kemudian berjalan terlebih dahulu di depan kedua perempuan itu, langkah kakinya kemudian diikuti oleh Shanin dan juga Gita dari belakang.
"Enak juga ya suasana kampus kalian, keliatan masih asri." Shanin tiba-tiba membuka percakapan antara ketiganya.
"Aku juga setuju sih sama yang kamu bilang, tapi kalo pas malem suasana beda lagi, jadi horor." Balas Gita.
"Bener apa yang dibilang Gita, kampus nya kalo pas malem-malem suasananya beda banget." Daniel ikut berucap.
"Ngomong-ngomong kamu fakultas apa Dan?" Tanya Gita kepada Daniel.
"Fakultas teknik, kalo kamu?" Tanya balik Daniel pada Gita.
"Kalo aku fakultas ekonomi." Jawab Gita.
Setelah percakapan itu, ketiganya sama-sama diam dalam perjalanan menuju ke taman yang dekat dengan fakultas hukum untuk mereka duduk-duduk disana.
Mereka melewati jalan setapak menuju ke taman itu, benar apa yang dikatakan oleh Daniel tadi jika disekitar sini cukup sepi, tidak seperti di depan tadi.
Tidak lama dari itu, ketiganya sudah sampai ke taman yang dituju, mereka bertiga langsung memilih kursi taman yang akan mereka duduki.
"Aduh akhirnya bisa duduk juga." Ucap Gita saat dirinya mendudukkan diri pada kursi taman.
"Lebay kamu Git, padahal tadi juga di motor kamu cuma duduk doang." Balas Shanin.
Mendengar ucapan dari Shanin barusan membuat Gita mencebikan bibirnya kesal, padahal yang dikatakan oleh Shanin memang benar.
"Duduk Dan." Ucap Shanin saat melihat Daniel masih berdiri sambil menatap ke arah dua perempuan itu.
Mendengar perkataan yang keluar dari mulut Shanin, Daniel langsung ikut mendudukkan dirinya di kursi kamar itu, mereka berbincang-bincang kecil disana sambil menunggu acara utama dari festival ini berlangsung.
__ADS_1
BERSAMBUNG.