Gadis Biasa Milik CEO Tampan

Gadis Biasa Milik CEO Tampan
Bab 57


__ADS_3

Saat ini mobil mewah milik Samuel sudah memasuki gang terakhir menuju kontrakan Shanin, sedangkan si perempuan pemilik kontrakan itu kini tengah tertidur di kursi penumpang yang ada di sebelah kursi pengemudi, Samuel dapat memaklumi hal tersebut karena lelaki itu tau jika keadaan Shanin saat ini sedang sakit dan mungkin juga perempuan itu terlalu kelelahan.


Tidak lama dari itu mobil milik Samuel sudah terparkir beberapa meter dari kontrakan Shanin, mobil itu terparkir di tempat yang biasa di gunakan oleh lelaki itu saat sedang berkunjung ke kontrakan Shanin, karena mobil itu tidak akan muat jika sampai tepat ke depan kontrakan perempuan itu.


Lelaki itu membuka sabuk pengaman miliknya terlebih dahulu karena akan keluar dari dalam mobil, ada rasa tidak tega di dalam hati Samuel untuk membangunkan Shanin yang sedang tertidur, terlihat jelas di wajah perempuan itu raut kelelahan tapi lebih baik perempuan itu pindah ke kamar milik perempuan itu sendiri agar merasa lebih nyaman.


Dengan perasaan berat hati, Samuel menepuk-nepuk pelan pipi perempuan itu agar terbangun dari tidurnya dan dapat berpindah tempat tidur ke tempat yang lebih nyaman daripada kursi mobil miliknya yang tentu saja bukan tempat yang nyaman untuk seseorang tidur di sana.


"Sha, bangun dulu sudah sampai. Kamu bisa lanjut tidur di kamar kamu nanti." Ucap Samuel sambil menepuk-nepuk dengan pelan pipi Shanin yang masih terasa hangat di kulitnya.


Tidak mendapatkan respon apapun dari Shanin, membuat Samuel kembali berusaha untuk membangunkan perempuan itu. "Sha? Bangun sebentar, kita sudah sampai di kontrakan kamu." Ucap Samuel sekali lagi.


Terdengar suara lenguhan yang keluar dari bibir Shanin, perempuan itu mulai menggeliat dari tidurnya dan mulai membuka kedua matanya yang tadi terpejam dengan perlahan, menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam indera penglihatannya.


"Oh? Udah sampe Sam?" Tanya Shanin dengan suara serak khas bangun tidurnya.


"Sudah, ayo turun, tidurnya bisa kamu lanjut di dalam kontrakan nanti." Ucap Samuel sambil keluar lebih dulu dari mobil miliknya dan lelaki itu langsung memutari mobil miliknya ke arah pintu mobil yang didalamnya terdapat Shanin yang sedang membuka sabuk pengamannya sendiri.


Pintu mobil terbuka dan keluar lah Shanin dari dalam sana dengan perlahan, Samuel dengan sigap memegang bahu milik perempuan itu dan menuntunnya untuk berjalan ke arah kontrakan milik perempuan itu dengan hati-hati.


"Mana sini kunci kontrakannya? Biar saya yang buka."

__ADS_1


Mendengar perkataan Samuel, tanpa banyak bicara lagi Shanin langsung merogoh tas selempang miliknya dan mencari kunci kontrakan miliknya yang dia simpan di sana, setelah menemukan benda tersebut, Shanin langsung menyerahkan kunci tersebut kepada Samuel.


Melihat Shanin yang menyodorkan kunci kontrakan yang sempat dia pinta tadi, Samuel langsung meraihnya dan langsung membuka pintu kontrakan Shanin yang terkunci itu menggunakan kunci yang diberikan oleh Shanin tadi.


Saat pintu berhasil terbuka, Samuel dan juga Shanin langsung masuk ke dalam kontrakan perempuan itu. Samuel langsung menuntun Shanin untuk masuk ke dalam kamar, perempuan itupun hanya pasrah diperlakukan seperti itu.


"Kamu istirahat dulu atau jika ingin melanjutkan tidur yang tadi juga tidak apa-apa. Tapi, apa kamu sudah makan Shanin?" Tanya Samuel saat Shanin baru saja membaringkan tubuhnya di atas kasur miliknya.


Mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Samuel barusan membuat Shanin menggelengkan kepalanya sebagai sebuah jawaban, perempuan itu belum sempat untuk makan siang ataupun malam, tadi di kafe dia hanya sempat mengganjal perutnya dengan sebungkus roti.


Terdengar helaan nafas panjang dari mulut Samuel. "Gimana gak sakit kalau makan saja kamu tidak sempat Shanin." Ucap Samuel sambil menatap dalam manik milik Shanin.


Shanin yang ditatap seperti itupun langsung mengalihkan pandangannya, entah kenapa wajah Samuel sedikit menakutkan baginya untuk sekarang ini.


"Nggak ada, aku gak lagi mau makan apa-apa." Balas Shanin yang membuat Samuel sedikit kesal.


"Kamu harus makan Shanin, agar cepat sembuh."


"Tapi mulut aku rasanya hambar, aku gak mau makan apa-apa dulu buat sekarang." Balas Shanin yang masih tetap pada pendiriannya.


"Itu wajar, kan kamu sedang sakit sehingga mulut kamu terasa hambar. Tidak ada penolakan apapun lagi, saya akan pesan makanan sesuai dengan keinginan saya sendiri." Ucap lelaki itu panjang lebar sebelum akhirnya pergi keluar dari dalam kamar Shanin, meninggalkan perempuan itu sendirian di dalam kamar.

__ADS_1


Shanin yang melihat tingkah laku tidak jelas dari Samuel pun hanya menggelengkan kepalanya, perempuan itu kemudian memilih untuk kembali memejamkan matanya yang terasa sangat berat untuk saat ini.


Sedangkan di sisi lain, Samuel yang baru saja keluar dari dalam kamar Shanin langsung merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya yang ada di sana. Seperti yang dikatakan oleh lelaki itu sebelumnya, Samuel akan memesan makanan untuk Shanin dan juga dirinya karena memang lelaki itu juga sama halnya dengan Shanin yang belum makan.


Karena memang pada awalnya niat Samuel datang ke kafe yaitu untuk makan sekaligus bertemu dengan Shanin, tapi ternyata tanpa Samuel ketahui jika Shanin hanya bekerja sampai sore hari ini, untungnya saja lelaki itu tidak telat datang, bahkan Samuel datang di waktu yang tepat ketika Shanin akan terjatuh saat berjalan menuju parkiran khusus para karyawan.


Tidak lama setelah Samuel memesan makanan melalui ponsel miliknya, terdengar suara pintu kontrakan yang diketuk, lelaki itu yakin jika yang mengetuknya adalah pengirim makanan yang dia pesan melalui aplikasi tadi.


"Sudah saya bayar melalui aplikasi, terimakasih pak, ini ada sedikit tip dari saya." Ucap Samuel saat pengantar makanan tadi memberikan dua kantong plastik kepadanya.


"Tip nya kebanyakan Mas." Balas si pengantar makanan itu ketika menerima tip yang diberikan oleh Samuel.


"Tidak apa-apa, ambil saja."


"Terimakasih Mas, kalo gitu saya duluan."


Setelah itu Samuel langsung kembali masuk ke dalam kontrakan milik Shanin dengan dua kantong plastik yang ada di telapak tangan lelaki itu, sampainya di ruang tengah, Samuel meletakkan kedua plastik itu di atas meja dan kemudian Samuel langsung mencari satu makanan yang khusus dia beli untuk Shanin, yaitu bubur ayam karena memang permainan itu sekarang ini sedang dalam keadaan sakit.


Samuel dengan sendirinya mengambil mangkuk dan juga sendok dari dapur yang ada di kontrakan Shanin dan lelaki itu juga menyiapkan mangkuk dan memindahkan bubur yang tadi dia pesan di atas mangkuk


Selesai dengan itu semua, Samuel kemudian mulai kembali menuangkan bubur tersebut ke dalam mangkuk dan setelah selesai langsung lelaki itu bawa ke meja Bu Yuli di ruang guru.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2