Gadis Biasa Milik CEO Tampan

Gadis Biasa Milik CEO Tampan
Bab 10


__ADS_3

Setelah seharian sibuk bekerja di toko bunga tempatnya bekerja, Shanin akhirnya dapat kembali pulang ke kontrakannya di sore hari.


Seperti biasa perempuan itu pulang ke kontrakan menggunakan motor Vespa matic kesayangan miliknya, motor itu membelah jalanan kota di sore hari yang terik ini.


Butuh waktu beberapa menit untuk sampai ke kontrakannya, Shanin memarkirkan motor miliknya seperti biasanya di depan kontrakan.


Shanin menggeryitkan dahi nya karena kebingungan melihat kontrakannya begitu sepi tidak seperti kemarin-kemarin yang memang ada Samuel yang menempati, apakah lelaki itu belum juga pulang semenjak di hotel tadi?


Karena sudah terlanjur lelah sehabis bekerja, Shanin memilih untuk melupakan hal itu, paling juga Samuel akan pulang beberapa menit lagi pikirannya.


Perempuan itu sedikit berjinjit untuk meraih kunci yang ada di atas pintu, tempat biasa dirinya dan juga Samuel menyimpan benda itu disana saat hendak pergi keluar.


"Huft, dia kemana sih?"


Monolog Shanin sambil mendudukkan dirinya di kursi yang ada di ruang tamu, kemudian melirik ke arah jarum jam yang sudah menunjukkan pukul setengah lima sore.


"Mandi dulu aja deh, gerah juga kerja seharian yang pelanggannya banyak."


Setelah mengatakan kepada dirinya sendiri, Shanin beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam kamar untuk mengambil handuk yang biasanya dia gunakan.


Tidak membutuhkan waktu yang lama bagi Shanin untuk melakukan ritual membersihkan dirinya di kamar mandi, beberapa menit kemudian dia sudah keluar dari ruangan itu dengan keadaan yang lebih segar dari sebelumnya.


Memilah baju-baju miliknya yang ada di lemari, baju tidur dengan motif minions menjadi pilihannya. Setelah menyelesaikan aktivitas nya tadi, perempuan itu kembali keluar dari dalam kamar dan melirik ke setiap sudut kontrakan yang masih sunyi, Samuel belum juga pulang.


***


Di sebuah rumah mewah dikawasan elit, terlihat ketiga lelaki yang memiliki paras tampan dengan umur yang berbeda-beda sedang duduk di ruang keluarga yang ada di rumah itu.


Asap dari kopi yang masih terlihat di atas gelas, dan beberapa pelayan yang siap siaga di belakang mereka.


"Jangan menghilang kembali, perusahaan masih butuh sosok dirimu."


Si lelaki yang paling tua membuka suara, perkataan itu ditunjukkan kepada lelaki yang paling muda yang ada disana, sedangkan si anak sulung hanya terdiam dengan tatapan tidak sukanya yang ditunjukkan kepada si bungsu.


"Tidak akan dan saya tau soal itu, lagipula tidak ada yang bisa mengurus perusahaan selain saya."

__ADS_1


Yang paling muda mengatakan hal tersebut sambil melirik ke arah kakaknya berada, si kakak yang dilirik oleh adiknya pun menggertakkan giginya disana.


Si paling muda itu adalah Samuel dan si kakak yang sedari tadi melayangkan tatapan tajam ke si bungsu adalah Regard, keduanya masih sama-sama sengit dalam bersaing.


"Kamu benar, selama kamu menghilang, perusahaan sangat berantakan, bahkan beberapa partner bisnis memutuskan kerja sama."


Perkataan sang ayah sebenarnya tidak sama sekali bertujuan untuk menyindir si sulung yang selama ini mengurus perusahaan sementara waktu.


Tapi entah kenapa Regard yang mendengar hal itu semakin dibuat kesal, berbeda dengan Samuel yang semakin menatap remeh ke arah kakak kandungnya itu.


"Bukankah selama aku menghilang, jabatan saya diganti oleh Regard sementara waktu?"


"Dari mana kamu tau?"


"Sekretaris saya."


"Jadi dia selama ini sudah tau keberadaan kamu?"


Pertanyaan dari ayahnya itu hanya dibalas dengan sebuah anggukan oleh Samuel, sedangkan sang ayah dan sang kakak menatap tidak percaya ke arahnya.


"Saya sengaja melakukan itu, agar Regard dapat merasakan jabatan saya di kantor."


Balasan yang diberikan oleh Samuel itu tentu saja langsung membuat Regard naik pitam mendengarnya, lelaki itu sedari tadi sudah menahan emosinya dan kini sepertinya sudah siap untuk meledak.


"Apa maksud kamu?!" Regard berkata demikian dengan suara yang sedikit meninggi.


"Tidak ada maksud apa-apa, bukankah saya baik karena memberikan kamu kesempatan untuk menempati posisi itu walaupun hanya sementara?"


Regard dibuat semakin geram mendengarnya perkataan dari Samuel, tapi tidak mungkin dia lepas kendali sekarang ini dan melayangkan sebuah pukulan pada wajah sang adik di hadapan ayahnya.


"Tidak usah terbawa emosi, lebih baik kalian berdua kembali ke kamar masing-masing dan setelah itu kita makan malam bersama."


Si paling tua yang ada disana akhirnya kembali mengangkat suara sambil beranjak dari sofa tempat duduknya dan berjalan ke arah tangga untuk naik ke lantai dua, dimana kamarnya berada.


Sepeninggalan sang ayah yang pergi ke kamarnya, suasana di ruang keluarga masih terasa begitu panas, Regard dengan tatapan tajamnya dan Samuel dengan wajah santainya.

__ADS_1


"Apa maksud perkataan mu tadi, Samuel?"


"Bukankah saya benar? Selama ini kamu memang menginginkan jabatan saya di kantor."


Setelah mengatakan itu Samuel mengangkat secangkir kopi yang ada di atas meja dan menyesapnya, lelaki itu benar-benar terlihat sangat tenang.


Kemudian lelaki itu melirik ke arah jam tangannya yang sudah menunjukkan jam setengah enam sore, pikirannya melayang kepada perempuan yang sudah memberikannya tumpangan tempat tinggal selama ini.


Apakah perempuan itu sedang mengkhawatirkannya sekarang ini? Dengan cepat Samuel menggelengkan kepalanya untuk mengusir pikirannya itu dan memilih untuk menyesap kopi miliknya kembali.


***


Sedangkan disisi lain, Shanin tengah terduduk di kursi yang ada di depan meja belajarnya dengan raut wajah khawatir menunggu kedatangan seseorang, sesekali melirik ke arah jarum jam yang terus berjalan.


"Tuh orang kemana sih?" Shanin sedikit menggerutu.


Setelahnya dia beranjak dari duduknya dan berjalan keluar dari dalam kontrakan, terlihat langit yang mulai menggelap diluar sana.


Terdengar bunyi helaan nafas panjang milik Shanin, perempuan itu kembali melangkahkan kakinya masuk ke dalam kontrakan dan tidak lupa mengunci pintu kontrakannya itu.


Ah, dia baru teringat jika dia sempat menyimpan nomor ponsel milik Samuel di ponsel pintarnya. Dengan cepat dia meraih ponsel miliknya yang tadi tergeletak begitu saja di atas meja belajarnya tadi dan langsung mencari nama Samuel disana.


Tut... Tut.. Tut...


Shanin menggeryitkan dahi nya karena nomor ponsel Samuel yang tidak bisa dihubungi, sebenarnya kemana perginya lelaki itu?


Perempuan itu kembali menghela nafas beratnya dan memilih untuk masuk ke dalam kamar, dia harus segera tidur agar besok bisa bangun untuk kembali bekerja.


Malam yang sepi itu pun sudah terlewat, Shanin harus kembali menjalankan aktivitasnya seperti biasa, walaupun pagi ini terasa sangat sunyi seperti beberapa hari yang lalu ketika belum ada Samuel yang menumpang di kontrakannya.


"Kenapa aku jadi sedih gini?"


"Dulu juga kan aku udah biasa sendirian. Ayo lah Shanin, hidup seperti beberapa hari yang lalu sebelum Samuel ada."


Sebelum keluar dari kontrak untuk berangkat ke tempat kerjanya, Shanin menyakinkan dirinya bahwa semuanya akan baik-baik saja tanpa sosok lelaki itu.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2