Gadis Biasa Milik CEO Tampan

Gadis Biasa Milik CEO Tampan
Bab 11


__ADS_3

Entah kenapa hari ini Shanin benar-benar tidak memiliki semangat untuk melakukan berbagai kegiatan, sedari tadi pun ketika sedang melayani pembeli, Shanin harus memaksakan senyuman di wajahnya agar tetap terlihat ramah.


"Senyum dong Sha, cemberut terus perasaan dari tadi aku perhatiin." Ucap Gita yang tiba-tiba saja menyenderkan tubuhnya ke meja kasir yang cukup tinggi itu.


"Perasaan kamu aja kali. Udah ih sana kerja, ngapain coba disini?"


"Suka-suka aku dong mau kemana aja, lagian gak ada pesanan yang harus aku kerjain."


"Ohh, Ajeng kemana kalo gitu?"


"Tuh masih di belakang, dari tadi sibuk sama handphone nya, lagi kasmaran."


Lagi-lagi Shanin hanya bisa ber-oh ria, untungnya saja pelanggan di hari ini tidak terlalu ramai, Tuhan sepertinya mengerti jika dirinya sedang tidak mood untuk melakukan apapun termasuk melayani pelanggan.


"Udah ih sana Git, males aku liat muka kamu disitu."


Memang pada dasarnya Shanin sedang tidak ingin diganggu oleh siapapun, Gita yang sedari tadi berdiri di depan wanita itu pun mencibir saat mendengar perkataan dari Shanin.


"Iya-iya ini aku mau balik ke belakang, lagian disini tempatnya panas."


Setelah mengatakan itu, Gita lgsung kembali masuk dengan melesat ke belakang toko yang sudah terdapat di sana.


Setelah kepergian Gita dari hadapannya, Shanin kembali menenggelamkan wajahnya di lipatan tangannya yang ada di meja kasir.


Tidak lama dari itu, terdengar suara pintu toko yang terbuka yang membuat Shanin kembali mengangkat kepalanya untuk melihat siapa pelaku yang membuka pintu tersebut.


Yang sudah bisa dipastikan jika yang membuka pintu tersebut adalah salah satu pelanggan di toko ini, mau tidak mau Shanin harus kembali menampilkan senyum terbaiknya yang dibuat-buat.


"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?" Sapaan ramah dari Shanin kepada pelanggan yang baru saja masuk tadi.


"Siang, saya ingin melihat-lihat terlebih dulu."


"Ah baiklah, bisa lihat di sebelah sana."


Shanin mengatakan itu sambil telapak tangannya mengarahkan ke arah dimana ada bunga-bunga yang berjejeran.


***


Sedangkan di tempat lain, Samuel sudah kembali dengan pekerjaannya seperti dulu. Saat ini dia sedang bergelut dengan berbagai macam berkas yang ada di atas mejanya.


Beberapa hari meninggalkan pekerjaan di kantor membuat berkas-berkas menumpuk di mejanya, memang benar walaupun posisi nya sementara waktu diganti oleh Regard, tapi sang kakak itu benar-benar tidak berguna.


Tuk.. Tukk... Tuk...


Di tengah fokus Samuel yang sedang bergelut dengan berkas-berkas yang ada di hadapannya, tiba-tiba saja pintu terketuk dan tidak lama kemudian terbuka, terlihat perawakan tinggi ramping milik sekretaris pribadinya.


"Ada apa?" Tanya Samuel tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas-berkas di hadapannya.


"Saya hanya ingin memberi tau jika Devina salah satu karyawan di posisi desain mengundurkan diri hari ini."


"Itu pilihan dia, kenapa harus diberitahu ke saya?"


"Bukan begitu pak, tapi dia merupakan desainer terbaik di perusahaan ini dan kita juga harus membuat rancangan baru untuk musim depan." Jelas sang sekretaris panjang lebar.


Mendengar penjelasan itu akhirnya membuat Samuel mendongakkan kepalanya sambil meletakkan asal berkas-berkas yang ada di tangannya.


"Memangnya tidak ada desainer lain yang bisa diandalkan?"


"Masih ada tapi kemungkinan hasilnya tidak akan sebagus yang kita rencanakan."


Perkataan itu membuat Samuel menghela nafas panjang yang kemudian menyandarkan tubuhnya ke belakang kursi.


"Nanti akan saya urus, kamu bisa keluar dari sini sekarang."


Sang sekretaris pribadinya itu pun tanpa banyak bicara lagi langsung keluar dari dalam ruangan milik sang atasan sesuai dengan perintah yang diberikan oleh atasannya tersebut.


Selepas kepergian sang sekretaris, Samuel memijat pelipisnya pelan guna sedikit menghilangkan rasa pening di kepalanya.


Samuel benar-benar tidak akan pernah meninggalkan perusahaan lagi jika akibatnya akan seperti ini, banyak pekerjaan yang tidak terurus, belum lagi lelaki itu harus mencari orang baru untuk ditempatkan di bagian desain, hal itu tentu saja bukan hal yang mudah.


Di dalam otaknya kini sedang memikirkan bagaimana caranya untuk mendapatkan seorang desainer baru dengan cepat, karena beberapa bulan lagi akan masuk ke peluncuran produk baru di perusahaannya.


Di tengah lamunannya, lelaki itu tiba-tiba teringat dengan sosok perempuan yang beberapa hari yang lalu dengan baik hatinya memberikan tumpangan kepada dirinya.


Tapi bukan itu poin utamanya, Samuel teringat saat pertama kali dia datang ke kontrakan kecil itu, kemudian mendapati lembaran-lembaran desain komik di atas meja belajar milik perempuan itu.

__ADS_1


Sebuah ide muncul di dalam otaknya, dia mempunyai satu rencana agar perempuan itu datang dengan sendirinya ke perusahaan miliknya untuk melamar pekerjaan di sana.


Dengan cepat dia meraih ponsel pintar miliknya yang sudah dipulihkan seperti ponselnya yang dulu mati terendam di sungai, lelaki itu mencari satu nomor di sana.


Setelah menemukan nomor telepon yang lelaki itu cari, dia kemudian langsung memanggil nomor seseorang di seberang sana dan tidak lama dari itu, panggilan tersebut langsung diangkat oleh seseorang di seberang sana.


Samuel pun langsung mengatakan apa tujuannya kepada seseorang di seberang sana, yang langsung disetujui oleh lawan bicaranya.


Sebuah senyuman tipis terbit di bibirnya sambil menatap layar ponsel yang baru saja selesai dia gunakan untuk menelpon orang di seberang sana barusan.


***


Sedangkan di tempat lain, suasana hati milik Shanin masih sama, dia benar-benar sedang tidak bergairah untuk melakukan apapun ditambah lagi semakin siang para pelanggan semakin banyak berdatangan yang membuatnya harus terus berpura-pura tersenyum.


"Terimakasih, ditunggu untuk kedatangan kembali ke toko kami." Shanin mengucapkan itu sambil mengerahkan uang kembalian kepada pelanggan yang ada di depannya.


Setelah kepergian sang pelanggan tadi, masih ada pelanggan-pelanggan lain di dalam toko yang mesti dia layani.


Perempuan itu berkali-kali menghembuskan nafas kasar hari ini, ah rasanya dia ingin menangis, anggap saja ini terlalu berlebihan, tapi memang seperti inilah kebiasaan perempuan itu saat sedang tidak mood.


"Ini mba, saya ingin membeli buket bunga yang ini."


Seorang pelanggan datang ke hadapannya sambil membawa sebuah buket bunga di tangannya, yang sebelumnya buket tersebut dipajang di atas rak-rak bunga yang ada di sana.


"Ah baik Bu, saya hitung harganya terlebih dahulu ya."


Dengan cekatan Shanin langsung melakukan tugasnya, membungkus dan juga menghitung harga buket bunga tersebut.


"Totalnya, Rp. 137.000."


Perempuan itu menerima uang yang diulurkan oleh pelanggan yang ada di seberangnya, satu lembar berwarna merah dan satu lembar berwarna biru.


Shanin kemudian mencari uang kembalian di dalam laci dan setelah mendapatkannya perempuan itu segera mengembalikan uang kembalian tersebut pada sang pelanggan beserta dengan buket bunga yang sempat dia bungkus tadi.


"Terimakasih atas kunjungannya, ditunggu kunjungannya kembali." Shanin mengatakan itu dengan senyum yang mengembang di bibirnya, sebuah senyum palsu.


Setelah pelanggan itu keluar dari dalam toko, Shanin kemudian menyibukkan diri dengan merapihkan lembaran uang yang ada di dalam laci untuk mengisi waktu luangnya sambil menunggu pelanggan lainnya melakukan pembayaran kepada dirinya.


Saat di tengah aktivitas merapihkan lembaran uang di dalam laci, terdengar langkah kaki yang berjalan ke arahnya dari samping, ternyata itu Ajeng.


"Aku? Mau ngapain dia manggil aku?"


"Ya nggak tau, udah sana samperin dulu, kasir biar aku yang jaga."


"Iya-iya bentar, nih jaga kasir yang bener."


Setelah mengatakan itu Shanin langsung berjalan ke arah ruangan milik sang atasan, sedangkan di bagian kasir sudah ada Ajeng yang menggantikannya.


Perempuan itu dibuat bingung karena tidak ada angin tidak ada hujan sang atasan memanggilnya, biasanya si bos memanggil dirinya ke ruang miliknya hanya untuk menerima gaji di akhir bulan, ini bahkan masih tengah bulan.


Tidak ingin memikirkan sesuatu yang buruk, perempuan itu dengan cepat membuang pikiran buruk yang sempat terbesit di pikirannya.


Sebelum masuk ke dalam ruangan tersebut, Shanin menyempatkan diri untuk mengetuk pintu terlebih dahulu dan setelahnya langsung membuka pintu yang berwarna coklat tersebut.


Saat pintu terbuka, mata perempuan itu langsung menangkap sosok sang atasan yang sedang duduk di kursi kerjanya.


Dengan gugup perempuan itu membawa langkahnya untuk mendekat ke arah sang atasan.


"Duduk."


Mendengar perintah dari sang atasan, tanpa banyak bicara lagi, Shanin langsung menurutinya dengan jari-jari kedua tangannya yang saling bertaut mengisyaratkan sebuah rasa gugup.


"Siang pak. Ada apa ya bapak panggil saya kesini."


"Jadi begini, Shanin. Akhir-akhir ini saya sering melihat kamu pergi di tengah jam kerja kamu dan itu tidak kamu lakukan sekali atau dua kali, tapi sering." Perkataan sang atasan membuat Shanin semakin gugup dan pikiran buruk yang sempat di pikirkan tadi datang kembali.


"Saya tidak butuh karyawan yang tidak disiplin seperti itu, maka dengan terpaksa saya harus memecat kamu sebagai karyawan di toko ini." Lanjut sang atasan.


Nafas milik Shanin tercekat mendengarnya, dirinya dipecat dari pekerjaan satu-satunya yang menjadi satu-satunya harapan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.


"Tap-


"Tidak ada tapi-tapian, keputusan saya sudah bulat. Ini uang pesangon dari toko ini, semoga kedepannya kamu bisa lebih disiplin lagi."


Perkataan dari Shanin dengan cepat langsung dipotong oleh sang atasan yang sebenarnya lagi menjadi mantan atasannya, sang mantan atasan itu kemudian memberikan sebuah amplop yang berisi uang pesangon ke hadapan Shanin.

__ADS_1


Shanin hanya pasrah dan mencoba untuk ikhlas menerimanya, lagipula ini memang murni kesalahan dirinya. Perempuan itu dengan berat hati beranjak dari duduknya dengan sebuah amplop putih di tangannya yang tadi diserahkan oleh sang mantan atasan.


"Baik pak, terimakasih dan maaf atas kesalahan saya selama ini."


Di tengah rasa kecewa di dalam hatinya, perempuan itu masih menyempatkan diri untuk tersebut saat berpamitan kepada mantan atasannya.


Yang kemudian langkah kaki miliknya membawa dirinya untuk keluar dari dalam ruangan tersebut dengan raut wajah yang lesu tidak bersemangat.


Setelah menutup pintu ruangan itu, Shanin mengangkat tangannya yang terdapat sebuah amplop putih disana, menatap nanar ke arah amplop itu dan menghela nafasnya kasar.


Dengan langkah berat, Shanin menghampiri tempat dimana kasir berada, disana masih ada Ajeng yang sedang melayani seorang pelanggan.


Saat Shanin sampai di kasir, saat itu juga bertepatan dengan Ajeng yang baru saja selesai melayani pelanggan tadi.


Teman kerja Shanin itu pun menggeryitkan dahi nya bingung melihat raut wajah lesu dari temannya yang baru saja dipanggil oleh sang atasan tadi.


"Pak bos manggil kamu ada urusan apa, Sha?"


"Aku dipecat."


Balasan singkat dari Shanin itu pun membuat Ajeng terkejut, dapat dilihat dari pupil matanya yang membesar tanda terkejut.


"Kamu serius?!"


Ajeng sedikit menaikan suaranya, untuk saja sedang tidak ada pelanggan saat ini, suara Ajeng itu sepertinya terdengar sampai belakang yang membuat Gita memunculkan dirinya dari arah belakang.


"Ada apa sih Jeng teriak-teriak?" Ini pertanyaan yang dilontarkan oleh Gita yang baru saja datang dari arah belakang.


"Shanin dipecat, Git."


"Hah?!"


"Sha, yang dibilang Ajeng beneran?" Gita bertanya untuk memastikan perkataan dari Ajeng tadi.


Pertanyaan dari Gita itu hanya dibalas dengan sebuah anggukan lesu oleh Shanin, perempuan itu benar-benar sudah tidak tau ingin berekspresi seperti apa lagi saat ini.


"Kok bisa sih, Sha? Mau aku bantu bicara ke pak bos supaya kamu gak jadi di pecat?"


"Gak usah Jeng, ini salah aku juga kok, gak apa-apa."


"Tapi seenggaknya kamu usaha dulu, Sha." Kali ini Gita yang berbicara.


"Enggak usah, Git. Aku udah terima keputusan ini kok, aku sadar kalo ini kesalahan aku juga."


Mendengar perkataan Shanin, membuat kedua temannya itu bungkam. Mata milik Gita sudah berkaca-kaca saat itu juga, perempuan itu memang sangat emosional."


"Kok kamu yang nangis sih Git? Kan aku yang dipecat, aku gak kenapa-kenapa kok."


Setelah mengatakan itu, Shanin mendekatkan diri ke arah Gita dan memeluk tubuh milik temannya itu.


"Kita udah lama kerja bareng Sha, terus juga aku tau kalo kamu butuh biaya buat hidup kamu."


Perkataan dari Gita itu membuat hati Shanin terenyuh nyeri, benar apa yang dikatakan oleh teman kerjanya itu.


"Kita masih bisa ketemu diluar kok dan kamu tenang aja, aku bisa cari kerja di tempat lain abis ini."


"Tapi cari kerja gak semudah itu Sha." Ajeng ikut masuk ke dalam pembicaraan itu.


"Aku tau, tapi gak ada salahnya aku coba dulu. Aku masih punya sisa tabungan buat biaya hidup aku selama belum dapat pekerjaan baru, kalian berdua tenang aja."


Shanin mencoba untuk menyakinkan kedua temannya itu jika dia baik-baik saja, perempuan itu tidak ingin terlihat lemah di hadapan kedua temannya.


"Janji ya, abis ini kita masih bisa ketemu di tempat lain?"


"Iya Jeng, kalian bisa chat aku aja kalo pengen ketemuan."


"Kamu juga kalo butuh sesuatu jangan sungkan buat bilang ke kita Sha, siapa tau kita bisa bantu kamu." Ucap Gita.


"Iya-iya, kalo ada apa-apa aku pasti langsung bilang ke kalian."


"Jangan iya-iya terus, kamu kan suka gak enakan orangnya."


Perkataan dari Ajeng itu hanya dibalas dengan anggukan kepala oleh Shanin, memang benar apa yang dikatakan oleh Ajeng tadi, Shanin itu merupakan perempuan yang tidak ingin merepotkan orang lain, merasa tidak enak jika harus merepotkan orang lain.


Sedangkan tanpa Shanin ketahui jika ada alasan lain di balik pemecatan dirinya, mantan atasannya itu tidak jujur mengatakan alasan pemecatan karyawannya itu, ada alasan lain yang tidak bisa dia beritahu kepada Shanin.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2