Gerbang Dunia Lain

Gerbang Dunia Lain
mesra mesranya


__ADS_3

"**Aku juga merasakan firasat yang sama denganmu" jawabnya sambil menatap lelaki itu


"Mungkin tak akan lama lagi semua akan tau" sambung lelaki itu sambil memandang ke arah teras depan rumah


" Apapun yang akan terjadi itu sudah di takdir kan, kita sendiri tau itu pasti akan terjadi tinggal menunggu waktu saja" jawabnya sambil menyodorkan kopi hitam pada lelaki di depan nya


"Kau benar apapun itu kita akan tanggung konsekuensinya" lelaki itu menjawab sambil meminum kopi buatan wanita tua itu


"Panas.....panas...... Kau membuat kopi apa membuat air panas...???" Tanya lelaki itu sambil menyulurkan lidahnya ke depan


"Jangan kira aku membuatnya dengan air dingin bisa kembung nanti perutmu" jawabnya dengan santai


Merekapun tertawa di akhir obrolan nya


..................


"Yulia terima kasih telah merawat ku selama aku tidak sadarkan diri dan aku sekarang ingin pergi ke rumah guru Sanusi, aku ingin melihat keadaan nya" kata yuba sambil menggenggam tangan Yulia


Yulia tampak tersenyum,, hatinya senang sekali karena yuba menggenggam erat tangan nya


"Sepertinya mereka lagi mesra mesranya" obrolan Suster Suster rumah sakit yang melihat yuba menggenggam tangan Yulia

__ADS_1


Kini yuba berjalan pelan menuju rumah guru Sanusi, ia masih memikirkan apa pertanyaan yang tepat untuk memulai pembicaraan


Di rumah guru Sanusi keadaan nya tampak sepi daun di halaman masih berserakan dan rumah seperti tak berpenghuni


"Paman guru apa anda ada di rumah,,??" Teriak yuba sambil mengetuk pintu rumah nya


Tak berselang lama pintu pun terbuka dan dia melihat paman guru Sanusi sedang dalam keadaan tidak baik


"Bagaimana keadaan paman,,??" Tanya yuba


"Mungkin kurang begitu baik karena kau tau sendiri aku baru di tinggal Putri ku" jawab nya dengan nada pilu


"Oh iya kau mau berlatih ya ....???"


"Bukan paman aku kesini membawakan makanan buat paman" jawab yuba


Padahal itu adalah strategi ke dua agar yuba bisa berbicara dengan guru Sanusi yang memang sangat perlu teman bicara agar beban nya sedikit bisa terbagi


"Kebetulan yuba paman juga belom makan dari kemaren" sahutnya sambil mempersilahkan Yuna duduk di ruang tamu


"Paman seharusnya bisa menjaga diri paman, ada atau tiada ada Afni agar paman bisa kembali seperti dulu, walaupun itu sulit tapi di sekitar kita masih banyak orang yang membutuhkan kita paman" ungkap yuba sambil membuka bungkus makanan yang ia bawa

__ADS_1


Mendengar ucapan yuba guru Sanusi hanya tersenyum tipis


"Oh iya paman, wanita iblis itu berkata kalau kita ingin menyelamatkan Afni kita harus datang ke neraka, itu sepertinya kita tak harus datang dalam kondisi mati tapi pasti ada gerbang menuju ke neraka tanpa kita harus mati dulu, bila itu benar maka Afni juga masih hidup" yuba mengakhiri pertanyaan nya dengan tatapan serius ke arah guru Sanusi


"Kau benar, aku tau orang yang bisa membantu kita kesana" guru Sanusi sudah mulai menemukan semangat nya kembali setelah beberapa hari larut dalam kesedihan


"Kapan kita akan ke sana paman,,??" Tanya yuba dengan antusias


"Kita tidak bisa ke sana dengan kekuatan kita yang sekarang yuba, itu sama saja kita bunuh diri, kita harus menghimpun kekuatan dan meningkatkan kekuatan kita terlebih dahulu" jawabnya sambil memikirkan jauh di angan angan nya


"Bukankah kau sudah membuka gerbang ke empat, elemen apa yang kau miliki,,,???" Tanya guru Sanusi


"Aku belum tau paman karena hari ini aku juga baru keluar dari ruang perawatan" jawab yuba sambil tersenyum ternyata aku sudah masuk gerbang ke empat makanya kekuatan ku seperti berbeda dari sebelumnya


"Carilah tempat yang ada air ,udara , tanah dan angin yang berhembus kencang cobalah berkonsentrasi dan temukan elemen yang cocok dengan tubuh mu" ungkap guru Sanusi


"Baiklah paman aku pergi sekarang" jawab yuba


"Bila kau sudah menemukan elemen yang cocok dengan mu, kembalilah aku disini akan menyiapkan semuanya dan aku akan minta bantuan para teman-teman padepokan lainnya yang rela dan tulus membantu karena ini masalah hidup dan mati" Sambung guru Sanusi


"Baik , permisi paman**"

__ADS_1


__ADS_2