Gerbang Dunia Lain

Gerbang Dunia Lain
segar , indah dan enak di pandang


__ADS_3

Setelah beberapa saat menunggu, guru Sanusi dan Yuba juga belum terlihat keluar dari dalam lingkaran dimensi, Afni sempat khawatir karena kedua orang yang dia sayangi belum juga muncul dari dalam lingkaran dimensi


"Dimana kau, apa kau tak kembali...????" Afni berharap harap cemas di samping lingkaran dimensi dan sesekali menengok ke dalam


Guru Sanusi muncul dari dalam lingkaran dimensi membuat senyum di wajah Afni terlihat melingkar di wajahnya


Tapi rasa cemas juga masih ada dalam hatinya karena matanya juga masih belum terlepas dari arah lingkaran dimensi


"Kau menunggu yuba....????" Perkataan ayahnya membuat lamunannya memudar dan bergegas menghadapkan wajahnya pada orang yang berbicara


"Iya" hanya itu jawaban yang bisa keluar mewakili semua rasa gundah dalam hatinya


"Aku juga menunggunya waktu berada didalam lingkaran dimensi tapi dia juga tak kunjung datang, maka aku putuskan untuk keluar terlebih dahulu, tapi ayah yakin dia pasti datang" kembali guru Sanusi berkata untuk menenangkan hati putrinya yang sedang risau

__ADS_1


MENUNGGU MEMANG SUATU PEKERJAAN YANG MENYEBALKAN APALAGI MENUNGGU ANTRIAN ORANG DALAM KAMAR MANDI, DI LUAR SUDAH MONDAR MANDIR MENAHAN SESUATU YANG SUDAH INGIN SEGERA KELUAR, DI DALAM SEDANG ASYIK MEMBACA KORAN ATAU BAHKAN MEMBACA E-BOOK DARI SEBUAH NOVEL


Yang di tunggu akhirnya datang juga, sosok lelaki bertubuh besar dan berotot kini muncul dari dalam lingkaran dimensi, membuat raut wajah yang sebelumnya terlihat layu kini seperti tanaman yang baru saja tersiram oleh air hujan, segar indah dan enak di pandang


Dia adalah Afni yang kembali memancarkan kecantikannya dengan raut wajah yang sangat disukai semua orang, melihat sosok manusia yang baru saja muncul dari dalam lingkaran dimensi Membuat nya berdiri dari posisi duduk nya dan berlari memeluk lelaki tersebut


Kembali ciuman terlihat diantara keduanya tanpa rasa malu, tanpa rasa canggung, dan tanpa rasa ragu, bahkan mereka tak perduli adegan itu dilakukan di depan semua orang yang melihat ke arah mereka berdua


Dengan rasa malu Afni berjalan menuju ke arah ayahnya dan segera memeluknya sambil berbisik "aku setuju ayah" sebelum akhirnya senyum kembali tergambar di wajahnya


Ayahnya hanya tersenyum mendengar perkataan dari putrinya, karena selama ini, hanya kali ini putrinya bertingkah konyol


Beberapa hari telah berlalu, kepulangan guru Sanusi dan semua rombongan sudah di dengar oleh semua ketua guru padepokan

__ADS_1


Sebuah senyum di suatu ruangan terlihat jelas dan seakan senyuman itu menggambarkan sebuah kebahagiaan


Senyuman itu berasal dari lelaki separuh abad yang sering disebut dengan nama ketua guru dirman, sosok nya memang paling tua diantara semua ketua guru padepokan yang lainnya


Dia bangkit dari tempat duduknya dan bergegas keluar dari ruang kerjanya, langkahnya melewati beberapa ruangan yang tampak penuh dengan semua murid yang sedang serius dalam studi pembelajaran


Langkahnya terhenti di halaman gedung di tempat parkir, dan setelah itu dia menaiki salah satu mobil dan pergi meninggalkan area gedung


Di rumah kediaman guru sanusi, Afni masih repot beres-beres rumah, menata kembali setiap barang yang selesai dia bersihkan


Karena ditinggal kan hampir satu bulan, membuat rumah dari guru Sanusi seperti rumah hantu, sarang laba-laba dimana mana dan debu mulai menghinggapi setiap perabot yang ada di rumah itu


Guru Sanusi hanya duduk sambil mengecek satu persatu file yang ada di halaman kotak masuk email nya, isinya hanya tugas-tugas dari anak didik yang berada dalam perguruan yang dia pimpin

__ADS_1


__ADS_2