
Guru Sanusi berjalan pelan tapi pasti, semua mata tertuju padanya dan semua tamu undangan sesaat terdiam menanti pengumuman dari guru Sanusi
Berdiri di atas mimbar dengar sedikit gemetar karena gugup, bukan karena nerfes ataupun apa tapi lebih karena usia yang sudah menua
"Selamat malam" satu dua kata mulai keluar dari bibir guru Sanusi
"Saya ucapkan terima kasih, atas kehadiran kalian semua, dalam acara pernikahan putri saya, saya tak bisa membalas apa-apa pada semua tamu undangan yang ada, terima kasih dari saya, karena sudah menyempatkan waktunya untuk datang ke acara ini" guru Sanusi menarik nafas sebelum melanjutkan perkataannya
"Saya Sanusi Ali makfud sebagai ketua guru dari padepokan sutra putih menyatakan mundur dari jabatan saya, karena usia yang sudah semakin tua, saya ingin ada regenerasi dalam padepokan saya, dengan tenaga yang lebih muda dan lebih memiliki visi dan misi yang lebih baik" kembali guru Sanusi mengambil nafas sambil meminum air yang sudah di sediakan di atas mimbar
"Saya menunjuk Arda wiraswasta untuk menggantikan posisi saya, terima kasih" guru Sanusi menarik nafas pelan, merasa lega dengan semua perasaan yang telah berhasil di ungkapkan
__ADS_1
Arda gemetar, itu bisa dirasakan oleh Indri yang masih menggenggam tangan arda, perlahan Indri mengusap kembali kening Arda dengan sapu tangannya
Arda merasa lebih baik setelah sentuhan tangan indri mengusap keningnya yang berkeringat, itu membuat Arda yakin dengan apa yang menjadi pilihannya saat ini
"Kak cepat ke atas panggung, katakan yang menurut kakak itu yang terbaik, kakak pasti bisa" Indri mencoba meyakinkan arda, bahwa dia mampu memilih yang terbaik dalam hidupnya
Arda berjalan sambil melempar senyum kepada semua tamu undangan yang datang, yang menantikan pidato pertama dari Arda
"Terima kasih atas waktunya, dan terima kasih atas semua senior-senior saya, dan guru-guru saya yang telah banyak memberi saya ilmu sehingga saya bisa berdiri disini saat ini, saya Arda wiraswasta sangat berterima kasih pada guru saya, guru Sanusi yang telah memberi saya kesempatan untuk menjadi penerus beliau sebagai ketua guru dari padepokan sutra putih, ini memang mimpi saya dari awal saya bergabung dalam perguruan ini, dan mungkin kelak akan menjadi mimpi dari semua anak didik yang ada di dalam padepokan sutra putih" Arda kembali menarik nafas, semua tamu menunggu kelanjutan perkataan dari orang yang berdiri di atas mimbar
"Tapi" sebuah kata yang membuat semua orang semakin penasaran karena Arda tak melanjutkan perkataannya
__ADS_1
Semua orang menjadi diam, dalam hal ini bisa di ibaratkan siapa yang paling terdiam, dia yang akan pulang duluan, seperti yang sering kita dengar dari setiap guru sekolah dasar yang menjadi guru pengajar kelas satu
Indri yang kembali mendengar perkataan Arda yang sering dipotong di tengah kalimat, sebelum dia mengatakan kelanjutannya pun juga ikut penasaran
"Tapi beberapa akhir ini aku lebih menikmati hidupku sebagai petarung yang siap berada di garis depan, aku lebih memilih posisiku sebelumnya, menjadi barisan pertama penyerangan dalam padepokan sutra putih, dan aku yakin ada orang yang lebih pantas menjadi penerus dari guru Sanusi yaitu dia Yuba" Arda berkata sambil menunjuk ke arah yuba yang dirasa lebih mampu menjadi penerus dari ketua guru Sanusi
Semua orang melihat ke arah yuba yang sedang berdiri di atas kuwade pengantin bersama Afni, yuba yang mendengar perkataan Arda membuatnya sedikit kaget
Yuba melihat ke arah Afni yang ada di sebelahnya, Afni yang merasa yuba ingin bertanya sesuatu padanya hanya menganggukan kepalanya, tanda tidak ada yang perlu di khawatirkan
Yuba berjalan ke arah panggung menuju ke arah Arda berada, semua orang yang melihatnya tak mengetahui siapa sebenarnya menantu dari guru Sanusi tersebut
__ADS_1
Terdengar suara dari para tamu undangan menanyakan tentang siapa sebenarnya yuba, tapi mereka semua tak ada yang tau, yuba hanya tersenyum melihat kejadian itu dan terus berjalan