
"Yuba apa kau sudah siap" guru Sanusi menepuk pundak yuba memberi isyarat bahwa mereka akan melanjutkan perjalanan
"Aku siap guru" jawabnya sambil melihat wajah guru Sanusi
"Tatapan mu itu membuat ku takut, selain suka pada perempuan apa kau juga suka menatap laki laki seperti itu" balas guru Sanusi
"Hahahaha" guru bisa saja
"Lapor yang mulia ketua leviatan telah berhasil dikalahkan dan para penyusup itu sudah jauh masuk ke dalam istana kita" seorang iblis penjaga memberikan informasi kepada atasannya
"Apa kalian akan diam saja dan duduk manis di sini" kami siap menjalankan perintah yang mulia salah satu ketua iblis menanggapi perkataan raja iblis
"Bersiaplah di tempat dan posisi kalian masing-masing" siap yang mulia
"Yulia apa kau punya kekasih" jantung Yulia seperti tersambar petir mendengar perkataan yuba
"Apa maksudmu...???" Yulia tampak gugup membalas pertanyaan yuba
"Ya kalau kau punya kekasih kan aku tak mau dipukuli hanya gara gara mengganggu kekasih orang" yuba menanggapi nya dengan nada datar
"Aku.....aku....belum punya kekasih" Yulia menjawab dengan wajah tertunduk malu
__ADS_1
"Apa orang di luar sana buta tak bisa melihat gadis secantik dirimu" yuba berkata seperti orang tak punya dosa
Yulia yang mendengar perkataan yuba sangat berharap lebih dengan apa yang baru saja dikatakan oleh yuba
"Apa aku mengganggu perjalanan kalian" sosok tak terlalu tinggi tapi dengan aura yang sangat kuat duduk di atas pafiliun sebuah gedung
Semua mata mengarah pada sosok yang masih belum beranjak dari tempat asal dia nampak
"Seperti nya kita kedatangan tamu" kata yuba dengan nada mengejek karena merasa terganggu
"Apa kau tak pernah sekolah hingga kau tak bisa membedakan siap yang tamu siapa yang tuan rumah" iblis itu mulai menanggapi perkataan yuba
"Turun lah kalau kau memang berniat mengganggu kami" tatapan yuba mulai serius karena aura iblis itu sangat kuat
"Kenapa semua manusia terlalu serius menanggapi hal yang sepele" iblis itu menanggapi apa yang dia lihat pada yuba yang mulai serius
"Aku tak akan pernah serius jika hanya menghadapi mu, bahkan sepertinya aku tak harus turun tangan" sindiran iblis itu dibalas dengan sindiran pula oleh yuba
"Sombong sekali kau bocil" seketika iblis melesat ke arah yuba dengan pedang di tangannya
Seketika guru Sanusi mulai merapal mantra "elemen tanah beton pelindung" munculah tembok setinggi tiga meter di depan yuba
__ADS_1
"Lawanmu adalah aku" guru Sanusi bersiap dengan dua senjata di tangannya
"Orang tua seperti mu seharusnya duduk manis di rumah, menunggu ajal menjemput mu, tak perlu repot-repot mengantarkan nyawamu ke sini" iblis itu masih saja berlagak seperti makhluk paling kuat
Berhati-hatilah dia iblis yang sangat kuat, sisi kegelapan dalam diri yuba memperingatkan agar semua berhati-hati
"Guru Sanusi bukanlah orang yang lemah" sahut yuba
"Aku harap juga begitu" jawab sisi kegelapan dari dalam tubuh yuba
"Elemen air biasan cahaya penuh"
Guru Sanusi bermaksud mengakhiri pertarungan dengan cepat agar waktu tak banyak terbuang
Air yang dibiaskan dengan cahaya membuat warna pelangi muncul di sekitar guru Sanusi dan senjata yang dia genggam tak luput dari lapisan warna yang berkilau begitu indah
"Bersiaplah"
"Majulah"
Keduanya saling beradu pedang dan senjata dari kejauhan yuba menyaksikan pertempuran dua makhluk yang sama sama memiliki kekuatan seimbang
__ADS_1