
Yuba yang masih memakai baju pengantin berdiri di samping Arda, semua mata melihat ke arahnya, itu bukan tatapan biasa, itu adalah tatapan tanda tanya, bagaimana bisa lelaki yang belum teruji kekuatannya bisa menjadi ketua guru dalam sebuah padepokan
"Aku yuba samudra mengucapkan terima kasih atas amanah yang diberikan kepada saya, aku berjanji akan menjaga perdamaian dunia ini dengan taruhan nyawaku" perkataan yuba membuat seluruh tamu undangan bertepuk tangan, entah itu karena spontan ataupun terpaksa, tapi sudah membuat yuba gembira
Indri yang masih tak percaya dengan apa yang dia dengar dan dia lihat, terlihat sedikit tersenyum dan sesekali menggelengkan kepala
Semua acara telah dilewati dengan tak ada satupun masalah, meskipun ada sedikit kejutan tapi itu sepertinya tak mempengaruhi jalannya acara
Setelah acara selesai Arda bergegas menuju ke arah Indri yang terlihat duduk sendirian di tepian kolam
"Hey apa yang kau lakukan disini...???" Arda mulai membuka pembicaraan diantara mereka
"Sedang menikmati waktu" hanya itu jawabnya sambil tersenyum
"Aku sebenarnya masih penasaran dengan apa yang kakak katakan di atas panggung tadi" Indri kembali berkata
"Apa yang membuatmu penasaran, itu semua jalan yang aku pilih" balas Arda sambil memandang ke arah Indri
"Tapi bukankah itu mimpi kakak, mimpi yang sudah ada di depan mata kakak, tapi kakak menolaknya, pasti ada alasan di balik semua itu" balas Indri karena masih kurang puas atas apa penjelasan dari Arda
__ADS_1
"Apa kau mau tau alasannya" Arda berkata kembali
"Kalau kakak tidak keberatan aku mau mendengarnya" balas Indri sambil melihat ke arah Arda
"Alasannya adalah kamu, aku ingin selalu bersamamu, kapanpun aku akan menjagamu, bukankah kau pernah bilang jika salah satu kriteria yang kau inginkan adalah lelaki yang tidak seperti ketua guru panca" Arda berkata sambil memandang mata indri dan menggenggam kedua tangannya, dia yakin atas apa yang dia pilih, meskipun jika perasaan nya di tolak oleh Indri pun dia akan terima dengan besar hati
Indri sangat kaget dengan apa yang Arda katakan, tapi hatinya sangat tersentuh dengan apa yang dilakukan Arda bukanlah hal yang kecil
Dia bisa saja menjabat sebagai ketua guru dalam padepokan sutra putih dan bisa dengan mudah dia melamar Indri, dengan begitu seorangpun tak ada yang berani mendekati Indri dengan status Arda sebagai ketua guru, tapi semua itu tidak dilakukan Arda
Membuat Indri semakin tak bisa menahan rasa bahagia, karena dia tak menyangka sudah diperjuangkan oleh seorang lelaki dengan begitu besar
"Besok pagi aku akan membawa semua keluarga ku untuk melamar mu" perkataan Arda terdengar jelas di telinga Indri membuat indri tersenyum tersipu
Arda dan Indri saling menatap, rasa bahagia terlihat diantara wajah keduanya
................
Pintu dikamar sebuah ruangan yang sudah di hias sedemikian romantis oleh Arda, Indri, Yulia dan Eowyn kini terlihat sudah tertutup
__ADS_1
Itu berarti pemilik dari kamar tersebut sudah masuk di dalamnya, lampu di kamar masih menyala tanda pemilik kamar itu masih terjaga
Entah apa yang dilakukan pemilik kamar sehingga jam segini masih terjaga dari tidurnya, dan sedikit melirik ke dalam, dua orang masih terlihat saling terdiam di masing-masing sudut kamar
"Apa aku bisa melakukan itu...???" Salah satu dari mereka bertanya
"Aku juga sedikit gugup" jawabnya dengan lembut
"Apa perlu lampu ini aku matikan....??" Kembali dia bertanya
"Sepertinya itu lebih membantu" jawabnya kembali
"Kalau begitu aku matikan dalam hitungan ke tiga!!!" Kembali perkataan itu terdengar
"Satu, dua, tiga"
setelah lampu di kamar itu tak lagi menyala suara ah,,, uh,,ah,,,uh,,,, khas olahraga malam terdengar di dalam kamar tersebut.
Note; terima kasih semua, mohon maaf jika banyak sekali salah kata atau ketik yang saya tuliskan, sekali lagi terima kasih, sampai jumpa di karya saya selanjutnya
__ADS_1
**SELESAI**