
"Dia selalu merepotkan saja" guman Arda yang tampak kesal melihat yuba yang masih tergelatak
Tak perlu waktu lama karena memang tak ada luka serius yang di alami oleh yuba, kini yuba sudah bisa membuka matanya secara perlahan lahan
"Kak yuba" dengan nada khawatir Yulia menggenggam erat kedua tangannya sendiri
Yuba yang untuk kedua kalinya di selamatkan oleh Indri merasa malu, karena seharusnya dialah yang menjaga perempuan, bukan malah dia yang merepotkan seorang perempuan
Setelah semua selesai yuba mencoba berdiri dengan dibantu oleh guru Sanusi
Arda hanya menjadi penonton saja dalam acara ini, mungkin dia lagi males karena honornya kurang, jadi dia hanya diam dan mengawasi setiap gerakan teman teman nya
"Apa yang terjadi..??" Guru Sanusi mencoba menanyakan apa yang terjadi dengan yuba
"Yang aku ingat sebuah ledakan besar terjadi dan setelah itu mataku sulit untuk terbuka, tubuhku terasa lemas tapi sebelum aku pingsan aku sempat melihat dua orang dengan jubah putih dan merah berdiri di hadapanku tapi aku tak tau siapa mereka, karena aku berada di belakang mereka berdiri" jawaban yuba membuat guru Sanusi berfikir sejenak tentang siapa sosok berjubah putih dan merah itu
__ADS_1
Di dalam istana neraka, para penjaga berjaga dengan sangat ketat karena menurut informasi dari Intel mereka, akan ada musuh yang datang menyerang istana
Raja iblis hanya terdiam melihat hal yang sedang di alami oleh kerajaan nya, seolah sudah siap dengan apa yang akan terjadi
"Maaf yang mulia, apa kita hanya menunggu disini saja,,?? , Bukankah lebih baik kita menghancurkan mereka di luar istana, itu akan membuat istana kita tidak akan mengalami kerusakan" seorang panglima perang iblis berbicara dia adalah Lucifer
"Aku ingin pertarungan terakhir di lakukan di istana ku ini" mendengar jawaban raja iblis membuat ekspresi Lucifer sedikit kecewa karena takut kalau nantinya asuransi istana lambat dalam memperbaiki jika ada kerusakan dalam istana
Jauh dari tempat guru Sanusi tepatnya di dunia nyata, sekelebat bayangan hitam berlari cepat di sebuah ruangan besar
Mengendap endap seperti memiliki maksud tersembunyi dan seorang lelaki berumur lebih dari setengah abad sedang menikmati secangkir kopi susu
"Siapa yang berani mengusik ketenangan ku"
Mata ketua guru dirman mengarah ke segala arah bersiap dengan segala kemungkinan
__ADS_1
Satu serangan datang dari arah samping, sebuah pisau kecil mengarah tepat ke tubuh nya
Tangkisan ketua guru dirman mampu membelokkan serangan dari sosok yang masih tersembunyi
"Elemen tanah guncangan tanah"
Seketika tanah bergerak seperti sebuah gempa, sekelebat bayangan hitam terlihat keluar dari dalam ruangan
Ketua guru dirman yang menyadari hal itu langsung mencoba mengejar sampai keluar jauh area padepokan
Ternyata di sana sudah di tunggu beberapa orang dengan menggunakan topeng untuk menutupi wajahnya
"Hanya pecundang yang bertarung dengan cara seperti ini" suara ketua dirman memecah keheningan diantara mereka
"Kalau kau takut katakan saja" salah satu dari mereka mencoba menanggapi perkataan Ketua guru dirman
__ADS_1
"Kalau kalian sudah tak mau melihat indahnya sinar matahari esok majulah" kelima orang yang berdiri di depan ketua guru dirman semakin emosi mendengar perkataan Ketua guru dirman
Tak hanya satu persatu, kali ini mereka berlima langsung secara bersamaan menyerang ke arah ketua guru dirman berdiri