
Alex hanya merebahkan tubuhnya diranjang sigle yang ada diruangan itu,tanpa berniat untuk tidur.
Pikirannya saat ini sangat penuh dengan berbagai hal,jadi jangankan untuk tidur untuk memejamkan mata saja rasanya terlalu sulit dia lakukan.
Tapi dia harus mengistirahatkan tubuhnya sebentar sebelum nanti sibuk dengan urusannya disini.
Tapi baru saja Alex mencoba memejamkan matanya tiba tiba pintu ruangan itu diketuk dari luar.
"Tok...tok..."
"Masuklah"jawab Alex sambil bangkit dari atas ranjang dan berjalan kejendela kecil berbentuk bulat seperti jendela yang berada diatas,kapal.
"Ceklek"
Suara handel pintu dibuka dan seseorang masuk keruangan itu.
"Tuan muda saya sudah sampai"ucap Scoth seorang pria berperawakan tinggi besar, dengan wajah penuh cambang ,serta rambut ikal panjang yang diikatnya asal, membuat penampilannya benar benar menyeramkan.
"Kau baru sampai?"tegur Alex karena melihat penampilan Scot yang sangat berantakan itu.
"Ya,saya baru sampai".jawabnya sambil duduk dikursi besi yang ada diruangan itu.
"Ada khabar apa?"tanya Alex langsung keinti permasalahannya.
"Masih seperti yang saya laporkan kemaren pada anda,komplotan mereka masih berusaha mencari cara untuk bisa segera mendapatkan bantuan dari kelompok Black Eangle agar segera bisa menguasai harta milik istri anda".
"Selain itu ada pergerakan apa yang akan mereka lakukan?"
"Mereka akan melakukan transaksi jual beli senjata ilegal dengan Mafia dari Meksiko".
"Kau sudah tau kapan tepatnya itu?".
__ADS_1
"Masih belum ,karena sepertinya pihak Mike yang akan jadi pihak pembeli senjata itu masih kekurangan dana untuk membeli senjata senjata itu".
"Selidiki terus kapan kira kira dia akan melakukan transaksi itu,aku akan menyuruh Miller untuk menyelidiki seberapa banyak Aliran dana yang mereka miliki saat ini,karena kurasa Mike tidak berani untuk menggunakan dana perusahaannya terlalu banyak dia khawatir kalau bisnis ini bisa menghabiskan dana perusahaanya,meskipun sebenarnya perusahaanya itu sudah aku bekukan".
"Anda jangan khawatir soal itu saya pasti akan menyelidikinya".
"Lalu bagaimana dengan pesanan yang aku minta kau carikan"tanya Alex sambil menatap kearah Scoth yang tampak ragu untuk menjawabnya.
"Anda yakin mau meminta benda itu?"tanya Miller tampak ragu.
"Kau sudah dapat belum benda yang kuminta itu?!"tanya Alex dengan tidak sabar.
"Ada,bagi saya untuk mencari benda yang anda minta bukan masalah besar,tapi bagaimana anda menggunakan benda itu,saya harap anda tidak bersungguh sungguh untuk memakainya ubtuk membunuh orang seperti Mike".
"Perlihatkan dulu padaku benda yang kuminta!"ucap Alex pada Scoth.
Dengan berat hati Scoth mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya.
Sebuah senjata berjenis revolver yang dipesan Alex padanya.
"Kuharap anda tidak akan menggunakannya untuk membunuh orang"ucap Scoth dengan khawatir.
"Kenapa,kau takut aku akan melakukannya seperti Garandpa dan Miller?!"ucap Alex sambil mengambil senjata itu dari atas meja.
"Ini bukan bidang anda tuan muda,jangan kotori tangan anda yang masih bersih itu dengan darah orang orang rendah seperti mereka".
"Aku tidak tau,aku terlalu marah saat mengingat apa yang telah mereka lakukan terhadap hidupku selama ini"
"Tapi ingatlah ada orang yang menunggu kepulangan anda jadi biarkan semuanya serahkan pada kami dan pihak yang berwajib yang sudah siap akan membantu anda".
"Kalau kau berada diposisiku apa yang akan kau lakukan?"tanya Alex sambil menatap Scoth dengan intens.
__ADS_1
"Setiap orang tidak akan pernah bisa berada diposisi orang lain,mereka sudah menerima takdir mereka sendiri sendiri jadi tugas kita bagaimana kita menjalani takdir kita masing masing"ucap Scoth sambil menatap kosong keluar jendela.
"Jadi apakah aku harus terus membiarkan mereka yang ingin menghancurkan hidupku itu untuk terus tertawa dibelakangku,sementara aku bahkan untuk memejamkan mata saja aku takut!".
"Hidup anda masih panjang,masih akan banyak hal bahagia yang akan anda alami,setiap anda ingin melangkah dengan marah lihatlah kesamping ada seseorang yang sedang menanti anda dengan penuh harap".
"Kalau kau berada diposisiku apakah kau juga akan mundur".
"Saya pernah mengalami hal hal itu tapi saya tidak punya seseorang yang menghawatirkan keadaan saya,jadi mungkin lebih tepatnya anda sangat beruntung karena saat anda berada dititik terendah hidup anda,dan disaat itu anda menemukan tujuan anda".
"Kurasa kita baru sebentar tidak bertemu tapi ucapanmu tidak seperti Scoth yang kukenal dulu".
"Karena anda membuat saya iri".
"What!!,Apa yang kau irikan dariku,hey"ucap Alex sambil menepuk bahu kekar Scot yang sudah menemaninya selama setahun ini.
"Perasaan anda dan nona Almera yang membuat saya iri,karena saya tidak punya seseorang yang mencintai saya seperti itu,andai saya punya,saya pasti tidak akan melepaskannya,jadi pikirkan lah lagi apa yang akan anda lakukan dengan senjata ini,kuharap anda mengurungkan niat anda untuk terus mengejar mereka tapi memilih kembali kepada nona Almera dan anak anda,biarkan masalah ini saya dan yang lain yang menyelesaikannya".
"Keluarlah sepertinya aku butuh waktu untuk sendiri saat ini".ucap Alex mengusir Scoth untuk keluar dari ruangan itu.
"Hubungi saya lewat pin kalau anda memerlukan bantuan saya".
"Hem"gumam Alex tanpa bermaksud lagi bicara dengan Scoth yang membuat otaknya semakin runyam.
Scoth keluar meninggalkan Alex sendirin dikamar itu,berharap apa yang dikatakannya tadi dapat membuat pria yang menjadi majikan dan teman pertamanya selama ini, itu bisa berubah pikiran dan segera kembali ke Indonesia untuk berkumpul lagi dengan keluarganya.
Scoth tidak ingin tangan bersih Alex ternodai dengan darah seperti dirinya,karena dunia mafia tidak seperti apa yang terlihat dipermukaan saja dan sekali kita terjun kedalamnya akan sulit bagi kita untuk lepas dari jerat dunia hitam itu.
Seperti apa yang dialami Scoth,dia adalah keturunan mafia sejati,dendam turun temurun yang sulit untuk dihapuskan.
Alex mungkin hanya kehilangan tiga anggota keluarganya saja,tapi Scoth kehilangan seluruh Klannya akibat dendam turun temurun yang diwariskan keluarganya dan sekarang dia harus merahasiakan identitasnya agar tidak diburu oleh musuh musuh bebuyutan Klannya.
__ADS_1
Alex menatap senjata Revolver yang berada ditangannya,hatinya mulai bimbang saat mendengar apa yang dikatakan oleh Scoth tadi,dia tidak pernah menyangka dari mulut Scoth yang biasanya terkesan cuek dan hampir tak pernah bicara kalau tidak diperlukan itu bisa keluar kata kata bijak seperti itu.
Diletakakn kembali senjata itu diatas meja tempat dimana Scoth tadi meletakkannya,kemudian Alex duduk dipinggir ranjang mengambil ponsel yang tidak dihidupkannya lagi selama hampir 24 jam sejak dia terakhir kali mengirin pesan untuk Almera kemaren.