
***Apartemen Mewah Bara Daimos***
…Elcira Ardelia…
Aku yang sudah berada di dalam bathtub bersama om Bara terpaku dan tidak tahu harus berbuat apa. Perlahan aku yang duduk di belakang tubuh om Bara, segera meraih spon mandi dan gel soap untuk membersihkan tubuh dan punggung om Bara, dengan tangan yang masih gemetar aku menggosok punggungnya dengan lembut. Aku tidak ingin membuat masalah, walaupun hatiku saat ini dongkol karena melakukan hal itu.
Sungguh sangat memalukan bagiku, karena ini adalah pengalaman pertama untukku. Apa yang aku lakukan dan setiap gerakkan lembutku ternyata membuat om Bara menikmatinya. Terlihat dia cukup diam dengan tenang dan mata yang terpejam, menikmati semua sentuhanku pada seluruh punggungnya.
“Cuci rambutku dengan benar.” Ucapnya memberikan aku perintah kembali.
Aku masih diam membisu, karena tidak berani untuk menjawab yang akan membuat om Bara marah padaku. Lebih baik diam dan melakukan apa yang ia inginkan, itu lebih baik saat ini. Aku hanya bisa melakukan apa pun yang dia perintahkan kepadaku. Aku meletakkan sedikit gel shampo pada telapak tanganku dan menggosoknya, untuk aku pakaikan pada rambut om Bara.
Perlahan aku tekan lembut kepalanya, memberikan sedikit sensasi rileks padanya. Om Bara memejamkan matanya menikmati sentuhan dan pijatan tanganku pada kepalanya.
Posisiku harus bersimpuh karena tubuh om Bara lebih tinggi dariku, aku tidak peduli pada kondisiku yang memalukan. Sembulan dadaku bergerak turun naik seirama setiap aku melakukan pergerakan, sungguh memalukan sekali bagiku.
Aku terus melakukannya, begitu aku rasa cukup. Aku bilas dengan perlahan menggunakan air hangat yang teratur menggunakan sebuah selang shower di samping bathtub, aku bilas secara perlahan agar airnya tidak banyak mengenai wajah suamiku itu. Aku berusaha menahan aliran air yang akan ke arah depan. Aku sungguh berada di dalam kesulitan, tanpa sadar tubuhku mendekati punggungnya dan sentuhan antara kulit itu pun terjadi begitu saja. Tanpa bisa aku cegah.
Dadaku dengan begitu saja menyentuh kedua pundak om Bara. Aku mematung karena sentuhan yang tidak terduga itu, sehingga air yang aku semprotkan mengalir begitu banyak pada wajah om Bara. Dia yang tadinya sedang terpejam kini langsung berbalik badan karena semburan air yang banyak pada wajahnya.
Aku diam terpaku dan terkejut melihat tatapan tajam om Bara padaku, mulutku sedikit terbuka karena terkejut, tubuhku repleks mundur dan bersandar pada ujung bathtub. Aku menelan salivaku akan rasa malu pada posisiku saat ini, kini semua milikku dapat ia lihat dengan jelas.
Kedua tanganku sedang memegangi sebuah selang shower dan spon mandi. Kedua tanganku tidak dapat aku gunakan untuk menutupi apa pun yang aku perlihatkan dari bagian tubuhku yang terlihat jelas. Tatapan mata dari pria dewasa itu yang tadinya tajam, kini berubah dengan tatapan lapar melihat ke arahku.
“Kau memang wanita penggoda rupanya...!!” Ucapnya dengan nada suara yang terdengar berbisik.
‘Aku wanita penggoda, apa maksudnya?’ Gumamku di dalam hati.
Tatapan laparnya masih memandangku intens, aku sudah tersudut dan tidak bisa melakukan apa pun?
“Apa kau sudah tidak tahan untuk aku sentuh?” Ucapnya dengan senyum miring dan lapar meremehkan melihat ke arahku.
Aku merengutkan pangkal alis melihat pria tersebut, aku kesal di dalam hati akan ucapannya. Siapa yang sudah tidak tahan untuk di sentuh olehnya? Aku tidak memiliki pemikiran seperti itu sama sekali, jika bisa untuk aku menghindarinya sudah pasti aku lakukan sejak tadi.
Aku tidak sudi berada pada posisi yang memalukan seperti itu, aku bagaikan wanita murahan yang sedang menjajakan tubuhnya pada seorang pria haus akan belaian seorang wanita.
Tidak pernah ada di dalam bayangan dan pikiranku sama sekali, jika aku merasa sudah tidak tahan lagi untuk di sentuh oleh om Bara, aku yang sudah tidak memakai sehelai benang pun, hanya bisa menelan rasa maluku sedalam mungkin.
__ADS_1
Aku sontak menyilangkan kedua lenganku untuk menutupi tubuh bagian atasku, sedangkan tubuh bagian bawahku sudah tertutup oleh air busa yang ada di dalam bathtub. Posisi kami berdua saat ini sedang berada di dalam bathtub yang penuh dengan air busa sabun.
Om Bara tersinggung akan tindakan yang aku lakukan, dengan gerakan cepat dia meraih kasar satu lenganku dan menarik tubuhku untuk mendekat padanya. Rahangku terasa sakit akan cekikan kuat tangan kanannya.
Aku hanya bisa meringis akan tindakan om Bara yang tidak terduga dan secara tiba-tiba tersebut, aku menahan dengan sekuat tenaga agar tidak menangis, namun apalah dayaku. Air mataku seakan tidak dapat di ajak untuk bekerja sama sekali, air mataku luluh begitu saja di atas pipiku.
“Jangan pernah berbuat sesuatu yang tidak aku sukai.” Ucapnya dengan menekan setiap kata-katanya.
Tatapan tajam membunuhnya membuat aku gemetar ketakutan, aku hanya bisa menangis dan tidak bisa berbicara apa pun, aku takut kepadanya.
“Ingat dengan jelas, kau wanita murahan dan rendahan yang aku beli dengan harga yang sangat mahal. Apa yang coba untuk kau tutupi dari tubuh kotormu ini.” Ucapnya lagi dengan kasar dan tekanan pada cekikan di rahangku yang semakin terasa sakit.
‘Aku wanita murahan dan rendahan dengan tubuh yang kotor, aku sungguh tidak ada harganya di hadapan om Bara.’ Hanya itu gumaman yang bisa aku lontarkan di dalam hatiku.
“Ingat satu hal wanita kotor, kau bahkan lebih rendah dari seorang pengemis di jalanan. Kau ingat itu...!!” Ungkap om Bara sembari membuang kasar wajahku ke arah samping.
Aku menunduk menangis, hanya itu yang bisa aku lakukan. Air mata sialan ini, bahkan tidak bisa bekerja sama denganku. Untuk menatap matanya pun aku tidak sanggup.
‘Ya Tuhan, apa dosa dan kesalahan yang pernah aku perbuat, sehingga nasibku seperti ini?” Tanyaku di dalam hati.
“Dasar wanita bodoh, kau hanya bisa menangis saja. Bahkan untuk menyenangkan seorang pria saja kau harus memakai trik murahan seperti ini.” Ungkapnya dengan tatapan yang terlihat jijik melihat kepadaku.
“Apa kau pikir, tangisanmu yang memuakkan itu, bisa membuat aku iba kepadamu. Cuih...sungguh malang aku mendapatkan wanita seperti dirimu.” Ungkapnya sembari berdiri dari duduknya.
Om Bara bangkit dan keluar dari dalam bathtub, dia pergi menuju ke bawah air shower dan membasuh dirinya. Aku masih duduk berusaha untuk menghapus jejak air mataku.
“Lakukan tugasmu dengan benar malam ini. Jangan sampai kau melakukan kesalahan lagi. Semakin cepat kau mengandung anakku, semakin cepat aku lepas dari wanita kotor dan murahan seperti dirimu.” Ungkapnya lagi-lagi dengan tatapan mata yang tajam dan jijik melihat ke arahku.
Aku hanya bisa diam dengan menundukkan kepalaku. Aku takut melihat tatapan bengisnya, walaupun aku melihatnya dengan sekilas. Mampu membuat aku gemetar ketakutan.
‘Apa katanya tadi?’ tanyaku di dalam hati.
‘Aku harus melayaninya dengan benar, dan harus cepat melahirkan anak untuknya. Lebih cepat lebih baik. Lebih cepat pula dia lepas dariku. Apakah itu tidak terbalik? Seharusnya aku yang mengatakan itu, aku pun tidak tahan dan tidak sudi tinggal dengannya lebih lama lagi.’ Teriakku tentunya di dalam hatiku, mana berani aku mengeluarkan kata-kata itu.
Bisa-bisa aku akan habis di siksa lagi olehnya karena kelancangan itu. Aku hanya bisa pasrah dan melakukan semua yang ia inginkan. Benar katanya, lebih cepat aku memberikannya seorang anak, lebih cepat pula aku lepas darinya.
Itulah pikiranku sat ini, tanpa bisa berpikir panjang ke depannya. Apakah bisa berpisah dari anakku sendiri? Mungkin aku bisa berpisah dari pria ini, tetapi aku tidak bisa berpisah dari anak yang aku lahirkan dan kandung sendiri.
__ADS_1
Dia sungguh orang yang sangat kejam, tidak memiliki perasaan peka sama sekali. Pria yang masih memiliki seorang istri dan masih sangat mencintai istri pertamanya itu, namun memiliki istri yang tidak mampu memberikan seorang anak keturunan untuk keluarga Daimos.
Semua imbas itu datang kepadaku, semuanya harus aku yang menanggungnya seorang diri. Tidak bisakah hidupku tenang dan bahagia. Itu hanyalah harapanku yang semu dan tidak akan pernah terkabul.
Begitu dia selesai membasuh bersih tubuhnya, segera dia lilitkan sebuah handuk pada pinggangnya hingga menutupi pinggulnya. Lalu berkata kepadaku tanpa membalik tubuhnya ke hadapanku sama sekali.
“Cepat dan jangan sampai aku menunggumu terlalu lama.” Ungkapnya dan segera berlalu keluar dari kamar mandi.
Kini tinggallah diriku sendiri, tangisku pun pecah. Aku membekap kuat mulutku agar suara tangisanku tidak terdengar olehnya. Aku menangis sedih akan nasib yang aku dapatkan saat ini.
Sembari bangkit perlahan, aku dengan cepat mengguyur tubuhku dan membersihkan sisa sabun yang menempel. Air mataku bercampur menjadi satu dengan air shower yang membasuh tubuhku.
Aku menangis pilu akan semua ucapannya yang kasar menghinaku. Aku menangisi nasib malangku, yang akan kehilangan mahkota kesucian yang selama ini aku jaga, kehilangan hal yang paling berharga milikku dengan cara yang tidak pernah aku bayangkan. Namun setidaknya, aku memberikan kesucianku kepada laki-laki yang sudah menjadi suami sahku. Walaupun tidak ada cinta di antara kami berdua.
Setelah selesai aku membasuh tubuhku, aku mengeringkan tubuhku dengan cepat menggunakan handuk yang tersisa di dalam sana. Handuk yang bisa aku pakai menutupi sebagian tubuhku dari dada hingga atas pinggulku.
Baju tidur yang tadi aku kenakan sudah basah dan tidak bisa di pakai lagi. Aku terpaksa keluar dari dalam kamar mandi dengan handuk tersebut. Sudah tidak terhitung, berapa kali aku menghela nafasku yang berat. Sekedar untuk melonggarkan beban berat di dalam hatiku.
Aku masuk ke dalam kamar, dan aku melihat om Bara sudah duduk berselojor di atas ranjang yang ukurannya king size. Aku lagi-lagi menelan salivaku dan menghela nafasku. Jujur aku gugup, aku belum siap dan aku tidak ingin seperti ini.
Tapi apakah aku bisa menolak dan melawannya? Tentu saja jawabannya, tidak sama sekali. Aku adalah wanita yang sudah dia beli dengan harga yang sangat mahal, dan aku tidak berhak untuk menolak apalagi berbicara sembarangan.
Jika tidak. Siksaan darinya, lontaran kasar darinya dan sebuah hukuman yang tidak pernah aku bayangkan, itulah yang akan aku dapatkan dari om Bara. Tuan kejam yang kini menjadi suami sahku.
Tatapan tajam om Bara menatap intens diriku yang melangkah mendekatinya. Aku bahkan hanya berani menatapnya sekilas, lalu tertunduk lagi.
“Hai wanita...!! Tidak bisakah kau lebih cepat lagi. Jangan sok suci, seperti wanita yang masih perawan yang belum pernah melayani seorang pria.” Ungkapnya ketus dengan tatapan yang terlihat jelas tidak suka terhadapku.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya.
__ADS_1