
***Kediaman Keluarga Santoso***
Cira hanya diam mengamati mama dan papa angkat yang ada di hadapannya sekarang. Gadis itu tidak pernah berani berkata lebih dulu sebelum dirinya di tanya.
Mike menarik dan menghembuskan nafasnya secara perlahan. Sebelum akhirnya diapun mengutarakan maksudnya dengan cepat, singkat dan padat.
"Cira akan segera menikah." Ucap Mike dengan cepat. Sukses mengalihkan pandangan terkejut kedua gadis yang ada di ruang tamu.
"Apa pa…kak Cira akan menikah?" Ucap Caroline tidak percaya.
"Iya. Cira akan segera menikah, karena papa sudah setuju dia di jodohkan." Balas Mike masih dengan tenang tanpa beban sedikitpun. Ini demi perusahaan dan adiknya yang terkena masalah.
Caroline dan Cira saling memandang. Mereka masih terkejut dan tidak percaya akan pendengaran mereka. Cira dan Caroline mencoba melihat ke arah sang mama untuk meminta kebenarannya. Namun sang mama hanya mengedipkan matanya lemah, lalu berpaling ke arah lain. Mereka tahu semua itu benar dan serius.
"Kak Cira akan menikah, sama siapa pa…?" Tanya Caroline, sedangkan Cira hanya diam melihat ke arah sang mama yang tertunduk.
Cira tahu dari sorot mata mamanya ada kesedihan. Cira tahu ini terdengar berat bagi sang mama. Cira tahu ada sesuatu yang tidak beres tentang pernikahannya. Dia gadis yang cukup cerdas dan cepat mengerti.
"Cira akan menikah dengan tuan Bara Daimos." Lolos begitu saja tanpa beban.
Kembali kedua gadis itu terkejut, mereka tahu siapa Bara Daimos? Suami dari tante mereka, tante Mona.
"Apa tidak salah, pa…?" Tanya Caroline, mungkin saja papanya salah menyebutkan sebuah nama.
Mereka juga tahu, jika Bara Daimos tidak memiliki saudara laki-laki lainnya. Pria itu hanya memiliki satu orang kakak perempuan, ibu dari Bayu Dirgantara yaitu Serly Daimos.
"Tidak. Tante Mona juga sudah tahu, dan dia setuju akan pernikahan Cira dan tuan Bara." Balas Mike kembali membuat dua gadis itu terkejut.
"Bagaimana mungkin tante Mona setuju suaminya menikahi kak Cira, ada apa ini sebenarnya pa…?" Lagi lagi Caroline yang bertanya.
Bagaimana juga Cira adalah kakak perempuannya. Mereka sudah bersama sejak kecil, walaupun mereka tidak begitu dekat. Cira dan Caroline hanya akan berbicara seperlunya saja. Caroline terkadang tidak menyukai Cira di saat kakaknya itu mendapatkan prestasi yang bagus. Terkadang Caroline sangat iri akan kecantikan alami yang di miliki oleh Cira.
"Kalian tidak perlu tahu banyak, intinya Cira akan segera menikah dengan Bara Daimos." Balas Mike tidak ingin di bantah.
Cira yang sedang di bicarakan hanya diam menyimak, apakah dia bisa menolak?
"Ingat satu hal, pernikahan ini adalah rahasia yang hanya di ketahui oleh keluarga inti saja." Peringatan Mike sudah sangat jelas.
"Papa tidak ingin ada bantahan dan banyak pertanyaan dari kalian. Apa kalian mengerti?" Ucap tegas Mike.
Caroline dan Cira hanya bisa diam saja. Saat di rasa tidak ada lagi yang di bicarakan, Mike ingin bangkit. Namun tiba-tiba Cira membuka suaranya.
"Pa…Aku tidak mau menikah dengan om Bara…!" Ucap Cira menolak.
Mike, Sindi dan Caroline melihat ke arah Cira. Wajahnya terlihat sedih dengan mata yang sudah memerah dan berkaca-kaca.
Cira menolak, karena tidak akan mungkin dia menikah dengan suami tantenya sendiri. Walaupun mereka tidak ada ikatan darah. Ini tidak boleh terjadi dan tidak mungkin untuk terjadi. Itulah yang ada di dalam pikiran Cira.
Saat ini Cira memiliki seorang kekasih, dan mereka saling mencintai. Tidak mungkin Cira menikah dengan orang lain, apalagi suami dari tantenya.
"Apa yang kamu katakan?" Tanya Mike ingin di perjelas.
"Aku tidak mau menikah dengan om Bara, papa…." Ucap Cira memberanikan dirinya.
__ADS_1
Sindi terlihat khawatir. Dia sangat tahu jika suaminya itu tidak suka untuk di bantah, apalagi oleh Cira.
"Kamu tidak mau, apa kamu mau melihat perusahaan papa bangkrut dan menghilang. Begitu…?" Ucap Mike dengan tatapan tajam.
"Apa maksud papa, apa hubungannya perusahaan papa dengan pernikahan ini?" Tanya Cira memberanikan diri. Setidaknya dia harus mencoba mempertahankan haknya.
"Perusahaan papa terkena masalah dan membutuhkan dana yang sangat besar. Tuan Bara mau membantu papa, asalkan menyerahkan kamu padanya untuk di jadikan istri keduanya."
"Tidak mungkin pa…Papa menjualku…" Ucap Cira tidak percaya jika dirinya di jadikan bahan pertukaran.
"Terserah apa yang kamu pikirkan. Setidaknya kamu bisa membantu keluarga ini di saat dalam masalah."
"Tapi pa…!"
"Tidak ada bantahan."
"Mama…!" Panggil Cira melihat ke arah Sindi. Namun Sindi hanya menggeleng lemah dan segera menundukkan kepalanya.
Cira tahu mamanya tidak bisa berbuat apapun.
"Ingat Cira. Kamu sudah kami jadikan anak angkat dan mengasuhmu sejak kecil hingga dewasa, tidak bisakah kamu membalas budi dengan tubuhmu itu? Seharusnya kamu senang bisa menikah dengan pria kaya raya seperti tuan Bara Daimos. Banyak wanita yang menginginkan posisi itu, dan itu jatuh padamu." Ungkap Mike dengan menunjuk ke arah Cira.
Air mata yang ia tahan, jatuh begitu saja. Sedangkan Caroline hanya diam mengamati. Sang mama memejamkan matanya untuk meredam rasa kecewa dan sakit akan perkataan suaminya. Remasan kuat pada gaunnya terlihat jelas, Sindi menahan gejolak yang ada di hatinya.
"Setidaknya, jangan menjadi beban kami terlalu lama." Ucapnya kembali dengan tatapan tajam melihat putri angkatnya.
Cira diam terpaku. 'Aku hanya beban bagi mereka.' Gumam Cira dalam benaknya.
"Baiklah, akan aku terima pernikahan ini. Setidaknya aku sudah membalas budi kepada kalian. Jika dengan cara menjualku kepada keluarga Daimos bisa membuat kalian senang dan menyelamatkan perusahaan papa. Akan aku lakukan, aku akan mengurangi beban kalian." Ucap Cira membalas perkataan Mike, sekaligus mengabulkan permintaan mereka.
Mereka melihat ke arah Cira yang sedang bangkit dari duduknya.
"Apa kalian puas…!!" Ucapnya dengan tatapan mata sedih dan kecewa kepada kedua orang tua angkatnya.
Cira berbalik dan lari menaiki tangga menuju ke kamarnya. Tempat ternyamannya di saat dia merasa marah, sakit, sedih dan kecewa.
Mike kembali ke dalam kamarnya, dan di susul oleh Sindi. Caroline tidak ada pilihan lainnya, diapun bangkit dan kembali ke dalam kamarnya. Dia tidak peduli akan pernikahan itu, dalam pikiran dan hatinya saat ini hanya ada Bayu Dirgantara.
...--------------------------------...
***Mansion Keluarga Daimos***
Mona bahagia dan merasa lega menerima berita yang baru saja dia terima. Cira telah setuju, dan mereka hanya tinggal menyiapkan hari pernikahan dan tanda tangan kontrak. Semuanya selesai dengan rapi.
Mona mengatakan berita tersebut kepada Bara. Mona menceritakan semuanya dari awal, jika kakaknya setuju dan mengizinkan Cira putri angkatnya menjadi ibu pengganti sekaligus istri kontrak dari Bara.
Bara yang awalnya terkejut, tidak setuju karena yang akan ia nikahi adalah keponakan dari istrinya sendiri. Walaupun gadis itu hanyalah putri angkat dari kakak laki-lakinya.
Namun dengan sedikit raut wajah sedih dan rayuan dengan mengatakan, jika tidak ada calon ibu pengganti sebaik keponakannya. Bara yang jarang bertemu dengan anggota keluarga Mona, bahkan tidak tahu bagaimana wajah dari keponakan Mona tersebut.
Bara pasrah dan kalah akan raut kesedihan serta kecewa yang di perlihatkan oleh Mona. Ia pun setuju, agar semuanya berjalan seperti yang Mona inginkan. Semua yang di butuhkan dalam acara pernikahan akan di persiapkan oleh Mona sendiri, Bara hanya perlu datang saat hari pernikahan mereka di berkati dan menanda tangani berkas dan kontrak pernikahannya.
...--------------------------------...
__ADS_1
Hari pernikahan telah di sepakati, akan berlangsung satu minggu setelah keputusan tersebut. Elcira tidak bisa membantah ataupun kabur dari pernikahan itu, air mata dan hangatnya pelukkan rapuh dari sang mama angkat membuat Cira luluh tidak berdaya.
"Mama minta maaf sayang…!!" Ungkap Sindi menggenggam kedua tangan Cira.
Sindi berada di dalam kamar kecil Cira. Duduk bersama di atas ranjang kecil yang cukup untuk satu orang saja, tetapi cukup nyaman bagi Cira.
"Maafkan mama yang tidak bisa berbuat apapun untukmu, Cira…!!" Ungkap Sindi dengan linangan air matanya.
Sorot kesedihan di dalam mata Sindi begitu terluka dan ada kekecewaan di dalamnya. Cira dapat melihat sang mama juga terluka dan kecewa akan pernikahan yang terpaksa Cira lakukan. Cira tahu jika mama angkatnya itu begitu tulus sayang dan cinta kepadanya.
Walaupun Cira tahu jika terkadang papa angkatnya selalu membatasi interaksi antara dirinya dengan sang mama. Sindi adalah sosok mama yang begitu Cira hormati, segani, sayangi dan cintai sepanjang hidupnya.
Sehingga Cira tidak akan sanggup melihat air mata kesedihan dan terluka di dalam sorot mata sang mama.
"Mama…!!" Hanya panggilan itu yang mampu Cira ucapkan di sela-sela pelukan dan isak tangisnya.
Keduanya saling memeluk, memberikan kekuatan pada hati mereka masing-masing, tanpa mereka sadari ada seorang gadis lainnya yang melihat. Dia adalah Caroline, dia melihat dan mendengarkan sejenak dan segera berlalu dari tempat itu.
"Tidak mama, jangan menangis. Aku tidak apa apa…walaupun aku kecewa akan keputusan papa padaku." Ungkap Cira setelah melepaskan pelukkan mereka.
Sindi tahu jika putri sulungnya itu begitu baik dan selalu patuh akan perintah kedua orang tuanya. Semakin membuat sesak hati Sindi meratapi nasib putri angkatnya yang malang.
Sindi menghapus air mata Cira. Dia sadar, jika dia terlihat rapuh di hadapan Cira, putrinya akan semakin terbebani. Dia harus kuat, ada hal yang harus ia katakan.
"Sayang…!!" Panggil lembut Sindi, Cira menatap teduh sang mama.
"Mama hanya ingin kamu bahagia, dan hidup seperti yang kamu inginkan." Ungkapnya.
Cira melihat intens mata sang mama, ia tahu ada sesuatu yang ingin di katakan oleh mamanya.
"Cira…mama ingin kamu tahu tentang pernikahan yang akan kamu jalani." Ucap Sindi, Cira masih diam mengamati.
"Cira, pernikahan ini hanyalah pernikahan kontrak untuk menjadikan kamu seorang ibu pengganti agar dapat melahirkan anak kandung dari tante Mona dan om Bara." Ungkap Sindi tidak ingin merahasiakan apapun dari putrinya.
Cira terdiam dan mencoba mencerna apa yang mamanya katakan. Pernikahan kontrak dan ibu pengganti, sebuah kalimat yang dapat di mengerti sangat jelas oleh Cira. Dia bukanlah gadis bodoh yang tidak tahu maksud dari kalimat tersebut.
"Setelah anak itu lahir, kamu akan bebas. Mama harap kamu bisa hidup seperti yang kamu inginkan. Cira, kejarlah kebahagiaan mu, mama tidak ingin melihatmu menderita seperti selama ini. Mama ingin kamu menjadi wanita yang kuat dan tidak mudah di kendalikan lagi." Ungkap Sindi dengan linangan air matanya lagi.
"Mama ingin kamu menjadi wanita yang selalu bahagia, mama ingin kamu lepas dari belenggu. Pergilah sejauh mungkin nak…kejarlah impian dan tujuanmu selama ini. Setelah lepas dari pernikahan kontrak itu, menghilanglah dari kota ini dan raih kebahagiaanmu sendiri, mama mohon…maafkan mama…!" Ungkapnya sedih dengan beberapa isakkan tangis yang tidak dapat Sindi tahan.
Cira dapat mengerti kesedihan dan keinginan sang mama. Cira tidak tahu apa yang harus ia lakukan? Apakah bisa ia melakukan semua yang mamanya katakan? Apakah mampu Cira bertahan di dalam pernikahan kontrak yang akan ia jalani? Mampukah ia akan pergi setelah melahirkan seorang anak dari rahimnya, dan meninggalkan anak kandungnya sendiri begitu saja?
Hanya waktu dan takdir hidupnya di masa depan yang akan menjawab semuanya.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya.
__ADS_1