GURUN Merindukan PELANGI.

GURUN Merindukan PELANGI.
51. Mendapatkan Tugas Keluar.


__ADS_3

***Perusahaan Daimos Grup***


Beberapa pejabat tinggi, pemegang saham, manager cabang, dan perwakilan dari perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaan Daimos grup tengah berkumpul di dalam ruang rapat.


Bara dan Mona masuk ke dalam ruang rapat dengan langkah yang beriringan. Semua yang hadir di sana bangkit dari duduk mereka, untuk menyambut kedatangan presdir sekaligus pewaris tahta kerajaan Daimos grup.


Setelah Bara dan Mona duduk pada tempat yang sudah di siapkan khusus, barulah mereka semua duduk. Bara segera mengedarkan pandangan matanya mencari seseorang yang sejak tadi tidak terlihat. Siapa lagi jika bukan Elcira Ardelia. Istri keduanya yang tengah hamil dan mendapatkan perhatian penuh dari seorang Bara Daimos.


Pria berkuasa itu memberikan isyarat kepada Rey yang ada tidak jauh di dekatnya. Rey tengah duduk berdampingan bersama Lian sekretaris Bara, dan Cira tidak bersama mereka. Bara menjadi bertanya-tanya kemana perginya wanita hamil itu?


"Iya tuan?" Tanya Rey datang mendekati tuannya tersebut.


"Di mana Cira?" Tanya bisik Bara langsung pada intinya. Tentunya Mona yang duduk tepat di samping Bara dapat mendengarkan hal tersebut.


Rey tidak langsung menjawab. Pandangan matanya melirik sejenak ke arah Mona. Pasalnya dia mendapatkan informasi dari Lian, kalau Cira di perintahkan oleh Mona untuk pergi ke salah satu panti asuhan menemui nyonya besar keluarga Daimos. Jika Bara bertanya mengenai Cira, itu artinya Mona tidak mengatakan hal itu kepada Bara.


"Nona Cira mendapatkan tugas keluar tuan." Balas Rey apa adanya.


"Mendapatkan tugas keluar?" Tanya Bara tidak mengerti. Seingat dirinya, ia tidak memiliki urusan di luar sana yang harus di selesaikan oleh salah satu anak buahnya.


Jika pun benar ada tugas di luar kantor, Bara tidak akan mungkin mengirim Cira yang pergi menanganinya. Tugas itu akan di berikan Bara kepada Rey atau salah satu pejabat tinggi di perusahaannya untuk melakukan pekerjaan itu. Jadi bagaimana bisa Cira melakukan tugas di luar kantor? Tugas apa dan dari siapa?


"Tugas apa, di mana dan siapa yang memberikan perintah itu?" Tanya Bara terlihat memasang wajah tidak sukanya.


"Nyonya Mona yang memberikan tugas itu tuan. Nona Cira di minta pergi ke panti asuhan untuk menemani nyonya besar yang sedang berkunjung ke sana." Jelas Rey.


'Mona…!' Gumamnya di dalam hati sekarang mengerti.


"Apa kau sudah lakukan seperti yang aku perintahkan tiga hari yang lalu?" Tanya Bara mengingatkan Rey akan pengawasan untuk Cira.


"Sudah tuan."


"Periksa di mana dia sekarang, dan laporankan keadannya. Ingat keselamatannya adalah yang utama, kau mengerti."


"Siap tuan, saya mengerti. Akan saya laksanakan." Balas Rey mengerti maksud dari tuannya.


Keselamatan Cira dan bayinya adalah yang utama sekarang. Tugas Rey dan para pengawal yang diam diam mengikuti Cira, sekarang terasa berat. Mengawasi keselamatan dari ibu dan calon pewaris tahta kerajaan Daimos grup adalah pekerjaan yang tidak mudah.


Di dalam hati Bara kini kesal terhadap tindakan Mona yang ada di luar perkiraannya. Mona tidak memberitahukannya terlebih dahulu, sehingga Bara tidak dapat mencegah kepergian Cira tanpa ijin darinya.


Sedangkan Mona memang sengaja mengirim Cira ke panti asuhan untuk menemui dan menemani mama mertuanya. Hari ini wanita itu ingin menjauhkan Cira dari Bara, setelah melihat kejadian semalam. Dia sedang melampiaskan rasa kesal dan kemarahannya dan membalasnya kepada Cira.


"Baiklah." Balas Bara sembari memberikan isyarat tangannya untuk Rey pergi.


Bara segera mendekati Mona dan berbisik. Dia sungguh khawatir terhadap Cira.

__ADS_1


"Kamu mengirim Cira pergi ke panti asuhan tanpa ijin dulu dariku?" Tanya bisik Bara tanpa membuat semua yang hadir di sana curiga.


Mereka berdua terlihat seperti pasangan suami istri yang sedang mesra dan hangat.


"Iya. Mama yang meminta seseorang datang untuk menemaninya di panti asuhan. Sedangkan aku harus berada di dalam rapat ini, jadi tidak bisa menemani mama. Jadi aku mengirim Cira ke sana, apa ada masalah dengan mu?" Tanya sekaligus penjelasan Mona.


Tatapan matanya melihat sejenak ke arah Bara sembari menampilkan senyum untuk memperlihatkan kepada semua orang, jika mereka berdua baik baik saja.


Mona dapat melihat jika Bara marah karena dia tidak memberitahukannya atas kepergian Cira hari ini. Mona tahu bagaimana harus menangani Bara, karena dia adalah pemegang kendali.


"Jika kamu ingin protes, katakan itu kepada mama." Bisik Mona dengan raut wajahnya yang tenang melihat ke arah depan.


"Aku memiliki begitu banyak bawahan di sini. Kenapa mesti dia?"


Mereka terus berbisik-bisik dengan memperlihatkan raut wajah yang terlihat baik baik saja. Pada kenyataannya, di dalam hati keduanya begitu bertentangan. Menahan marah dan kesal mereka.


"Mengapa dia tidak boleh pergi, ada apa denganmu?" Tanya bisik Mona. Kali ini tatapan mata Mona berbeda, terlihat curiga melihat ke arah suaminya itu.


Bara tahu arah pembicaraan Mona. Dia terlalu khawatir terhadap keadaan Cira dan bayi mereka, sehingga tanpa sadar tidak dapat menahan semua ucapannya.


"Apa kau khawatir kepadanya?" Tanya Mona kembali dengan tatapan curiga melihat ke arah Bara.


Bara diam melihat ke arah Mona, kemudian mengalihkan pandangan matanya ke arah depan. Bara tahu Mona melihat curiga kepadanya.


"Tidak." Bohong Bara mencari aman agar Mona berhenti curiga kepadanya.


"Sebaiknya mulailah rapatnya dengan segera. Lebih cepat lebih baik. Mama menunggu keputusan dari rapat ini, karena mama sangat peduli kepada anak anak panti asuhan. Mama begitu peduli dan baik kepada anak anak yang tidak memiliki kedua orang tua. Mama berharap kita segera memiliki anak. Sehingga mama selalu berbuat baik dan peduli kepada anak yatim piatu, semakin banyak yang mendoakan kita, akan semakin baik dan kita akan segera memiliki anak." Jelas Mona masih dengan nada yang berbisik kepada Bara.


Bara menarik dan menghembuskan nafasnya secara perlahan. Bara tahu itu.


Bara pun memulai rapat hari ini. Melupakan sejenak kepergian Cira, setidaknya sudah ada beberapa pengawal yang mengawasi Cira secara diam-diam. Bara dapat sedikit tenang untuk itu.


...--------------------------------...


***Panti Asuhan***


Sedangkan yang terjadi pada Cira di panti asuhan. Cira pergi ke tempat itu tidak sendiri, dia di temani oleh dua orang yang tidak ada pada pikirannya sama sekali. Caroline dan juga Bayu.


Tentunya tugas itu di sambut baik oleh Bayu, karena selalu berada dekat bersama sang pujaan hati adalah keinginannya selama ini. Apalagi selama tiga hari Cira tidak dapat ia temui karena sedang di rawat setelah pingsan tiga hari yang lalu. Bayu tentunya memiliki kerinduan yang mendalam kepada Cira.


Pria itu hanya sedikit kecewa karena Caroline juga ikut pergi bersama mereka atas perintah Mona. Tentunya Caroline memiliki dua perasaan yaitu bahagia dan tidak suka. Bahagia dapat pergi bersama Bayu, dan tidak suka akan keberadaan Cira bersama mereka.


Namun Caroline tidak bisa melawan perintah Mona. Caroline hanya dapat menerima dengan setengah hati, setidaknya dia akan selalu bersama Bayu hari ini.


Kedatangan mereka di sambut hangat oleh perwakilan dari panti asuhan yaitu ibu Sofia. Mereka duduk di dalam ruang kerja ibu kepala, untuk menunggu kedatangan nyonya besar keluarga Daimos yang sedang berkeliling menyapa anak anak panti asuhan.

__ADS_1


Sedangkan Cira pamit pergi ke toilet sebentar. Rasa mual melandanya lagi, agar tidak membuat orang curiga akan kondisinya, Cira dengan cepat menghindari mereka.


Setelah berhasil membuat tenang perutnya yang bergejolak dan selesai memuntahkan isi perutnya. Cira membasuh wajahnya agar terlihat segar kembali, sungguh itu menyiksa dirinya.


Cira yang tahu akan begini jadinya, dia sudah mengantisipasi hal tersebut. Cira membawa serta perlengkapan yang ia perlukan di dalam tasnya yang berukuran sedikit besar dari biasanya. Cira selesai membenahi make up wajahnya yang berantakan, tidak lupa ia mencium wangi parfum milik Bara yang ia semprotkan pada sapu tangan yang ia bawa.


Saat rasa mual melandanya, aroma parfum Bara yang maskulin dapat dengan cepat meredakan rasa mualnya. Sungguh aneh bagi Cira, karena bukan minyak angin aroma therapy, minyak kayu putih atau balsem yang membuat mualnya berkurang, tapi aroma parfum maskulin milik Bara Daimos yang dapat menenangkannya.


Apakah ini pengaruh dari bayi Bara yang ia kandung? Apakah bayinya ingin selalu bersama sang papa? Sehingga Cira tenang dari rasa mual jika mencium aroma parfum maskulin Bara.


Cira melangkah menuju ruang kerja ibu kepala pantai asuhan, dimana Bayu dan Caroline sedang menunggu di sana. Saat di pertengahan jalan, terdengar seseorang memanggilnya.


"Cira…!" Panggil seorang wanita paruh baya yang sudah ia kenal beberapa tahun ini.


Wanita paruh baya yang tetap terlihat cantik dan anggun di usianya yang tidak lagi muda. Wanita yang sangat menyukai dan menyayangi anak anak, wanita yang selalu ramah dan baik kepadanya. Namun sayangnya Cira tidak mengenal siapa sebenarnya wanita itu. Wanita dari keluarga kaya raya yang mana?


Wanita yang terlihat berkelas, elegant dan berwibawa. Wanita kaya raya yang selalu rutin setiap tiga bulan sekali datang berkunjung ke pantai asuhan itu untuk memberikan sumbangan darinya. Wanita yang menjadi donatur tetap di panti asuhan itu.


"Nyonya, anda datang hari ini." Balas sekaligus sambut Cira dengan senyum ramahnya kepada wanita itu.


Tentunya wanita itu sangat bahagia bertemu dengan Cira. Dia segera mengecup kedua pipi Cira dan memeluk tubuh wanita hamil itu. Pasalnya baru saja tadi sosok Cira tengah di bicarakan oleh ibu kepala dan wanita paruh baya itu, sekarang dapat bertemu dengan orang yang mereka bahas, tentunya ada kebahagiaan tersendiri akan pertemuan tersebut.


"Apa kabarmu sayang. Sudah lama kita tidak berjumpa?" Sapa wanita itu masih dengan senyum bahagianya dapat bertemu orang yang selama ini dia harapkan kehadirannya.


"Kabar saya baik, Nyonya." Balas Cira.


"Jangan panggil nyonya dong…, panggil tante saja."


"Baiklah, tante." Balas Cira dengan tersenyum, karena melihat senyum hangat wanita yang terlihat sangat penuh akan aura keibuan.


"Beberapa kali tante datang ingin bertemu dengan mu di sini. Tetapi ibu kepala mengatakan, kamu tidak pernah datang selama beberapa bulan ini. Ada apa sayang? Apa kamu sibuk dengan pekerjaan mu?" Tanya wanita itu.


Cira tersenyum akan keramahan dan sikap akrab wanita itu. Wanita kaya raya yang tidak sombong dan angkuh seperti nyonya nyonya kaya lainnya. Sungguh beruntung bagi mereka yang dapat kenal dengannya, seperti Cira pribadi.


"Iya tante, saya sangat sibuk akhir akhir ini. Ada pekerjaan baru yang harus saya kerjakan dan sangat menyita waktu saya." Balas Cira sopan sebagai basa basi di antara mereka.


Seketika Cira mengingat pekerjaan barunya. Pernikahan kontraknya sebagai ibu pengganti adalah pekerjaan barunya saat. Cira merasa sedikit kecewa sekalian lucu akan jalan hidupnya sekarang.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....

__ADS_1


Jangan lupa vote dan like nya.


__ADS_2