
***Apartemen Mewah Bara Daimos***
Setelah sehari sakit, infusnya di lepas oleh Mery karena sudah tidak di perlukan lagi. Mery ternyata adalah mantan perawat, yang bekerja di rumah keluarga Daimos untuk merawat almarhum nyonya tua keluarga Daimos.
Dua hari telah berlalu, kondisi tubuh Cira sudah lebih baik. Dua hari juga Bara tidak pulang ke apartemen. Cira merasa jika dirinya tenang di saat tidak ada Bara di sana.
Dua hari ini Bayu terus menghubunginya, Cira hanya menjawab seadanya saja. Ia tidak ingin terlalu banyak bicara, Cira belajar untuk menghindari Bayu.
Dua hari masa tenangnya, ternyata hanya kebaikan sesaat dari Bara. Kini terbukti betapa kejamnya pria itu kepada Cira. Hari ketiga ijin sakitnya, wanita itu di berikan setumpuk pekerjaan yang harus Cira selesaikan dengan segera.
Tumpukan beberapa berkas dan laporan kini ada di atas meja kaca di hadapannya. Cira sedang duduk dengan mulut yang terbuka dan mata yang membulat sempurna karena tercengang akan pekerjaan yang ada di hadapannya.
Kembali ia teringat akan perkataan Kai kepadanya tadi.
"Selesaikan semuanya dengan segera. Itu perintah dari tuan Bara." Ucap Kai memberitahukan pesan yang di berikan oleh Bara.
"Dasar pria kejam. Bahkan dia memberikan pekerjaan kantor di saat aku ijin sakit seperti sekarang." Gumam Cira kesal bukan main.
"Lihatlah pekerjaan ini. Kalau begini, lebih baik aku masuk kantor dan bekerja seperti biasanya. Tidak perlu untuk ijin sakit."
Cira benar-benar kesal pada Bara yang begitu kejam tanpa perasaan iba sedikitpun padanya.
"Baiklah. Akan aku buat kau tidak akan bisa memandangku remeh. Kau belum tahu siapa aku, tuan Bara Daimos. Benar kata Sarah, aku harus mulai menjalankan rencana untuk menaklukkannya. Aku harus bisa membuat dia ada di dalam genggaman ku. Jika tidak…terpaksa aku menggunakan cara licik dengan mengguncang perusahaannya." Gumam Cira berbicara sendiri.
Wanita itu mencurahkan kekesalannya sembari terus melakukan pekerjaan yang sudah tersedia di hadapannya.
Beberapa jam berlalu. Cira hanya istirahat saat Mery membawakan makan siangnya. Kembali ia berkutat dengan berkas dan laporan yang harus di selesaikan. Setiap berkas dan laporan yang sudah di selesaikan, segera ia kirim kepada Kai untuk di print atau di cetak.
Cira tidak lagi menggerutu, mulutnya lelah saat harus mengumpat suami kejamnya itu. Dia kini serius pada pekerjaannya, hingga selesai.
Begitulah setiap harinya. Setiap pagi Kai datang membawakan berkas dan laporan yang harus Cira selesaikan, itu berlangsung selama satu minggu. Setidaknya selama satu minggu hidupnya damai tanpa kehadiran Bara.
Bara tidak pernah datang ke apartemen selama satu minggu Cira ijin sakit. Cira tidak di berikan ijin keluar dari apartemen sama sekali oleh Bara. Tentunya ada Mery yang akan terus mengawasi semua pergerakkannya. Bahkan untuk membuka perban di kaki Cira, Kai datang membawa seorang dokter yang kini ada di hadapan Cira.
Dokter David Nixon, tersenyum melihat ke arahnya. Cira hanya diam dan bingung melihat ke arah Kai dan David secara bergantian.
"Halo nona, apa kabar?" Sapa David ramah dan tersenyum padanya.
"Kabar saya baik, tuan." Balas Cira dengan raut kebingungan akan sikap ramah David.
"Sepertinya sangat baik, sehingga anda cukup bingung melihat kedatangan saya ke sini." Ucapnya.
"Saya dokter David Nixon, dokter yang menangani nona satu minggu yang lalu." Ucapnya, kini Cira mengerti.
"Oooo…Terima kasih dokter." Itulah yang bisa Cira katakan.
David tersenyum melihat kebingungan Cira, terlihat lucu dan menggemaskan. Wajah Cira yang sekarang terlihat lebih segar dan merona, terlihat lebih cantik saat pertama kalinya mereka bertemu. David cukup terpesona melihat wajah cantik Cira yang menurutnya istimewa.
__ADS_1
"Baiklah. Mari kita lihat kakimu. Bara mengatakan, kamu terkilir dan sudah di perban selama satu minggu yang lalu. Aku akan lihat apakah sudah lebih baik ataukah harus di perban kembali." Ungkapnya.
Cira duduk berselojor pada ranjang di dalam kamarnya. Mereka tidak berdua, karena ada Kai dan Mery yang mengawasi. Tentunya itu perintah dari Bara sendiri.
'Apa dokter ini tahu siapa aku? Telihat jelas dia begitu tenang dan tidak terkejut sama sekali melihat ku ada di apartemen ini.' Gumam Cira di dalam hatinya, sembari meneliti wajah ramah dokter yang cukup tampan dan berkharisma, mata Cira masihlah normal. Dapat membedakan mana wajah yang tampan dan jelek. Apalagi melihat wajah blesteran sang dokter.
"Ada apa?" Tanya dokter melirik sekilas ke arah wajah Cira yang melihat selidik ke arahnya.
"Tidak ada dokter." Balasan Cira kembali bersikap tenang.
"Sepertinya kamu penasaran, siapa aku? Atau kamu penasaran apakah aku tahu siapa kamu sebenarnya?" Ucapnya menebak benar apa yang Cira pikirkan saat ini.
Cira hanya diam saja. Lirikkan mata David tahu jika tebakkannya benar. David tersenyum, melihat betapa berbedanya wanita yang di miliki oleh Bara saat ini.
'*Pria bodoh. Bahkan kau tidak dapat melihat keistimewaan dari istri barumu ini. Bara, kau pria yang paling bod*oh di dunia, jika mengabaikan wanita secantik dan semanis ini. Aku dapat melihat bagaimana dia begitu tenang dan terlihat pandai menempatkan dirinya.' Gumam David di dalam hatinya.
"Aku tahu siapa kamu. Kamu adalah istri kedua Bara Daimos, tenang saja…Rahasia kalian aman padaku." Ungkap David yang cukup membuat Cira terkejut, tetapi dapat ia sembunyikan dengan segera.
Cira hanya diam. Dia berusaha bersikap tenang dan tidak banyak bicara.
David terus melakukan pekerjaannya. Cira tidak lagi melihat ke arah wajah David. Ia teralihkan pada kakinya yang kini terlihat lebih baik.
"Apakah sakit?" Tanya David saat menyentuh kakinya yang sakit.
"Tidak dokter." Balas Cira apa adanya.
"Kalau begini, apa sakit?" Tanya David sedikit menekan kaki Cira yang sakit. Kini pandangan matanya melihat ke arah Cira yang melihat ke arahnya sejenak.
"Baiklah. Coba berdiri dan melangkah perlahan. Aku ingin lihat apakah kamu masih merasakan rasa sakit atau tidak."
"Baik dokter."
David membantu Cira bangkit dan turun dari atas ranjang. Gerakkan yang repleks untuk mereka berdua. Tidak ada masalah bagi Cira jika tangannya berada pada genggaman tangan David. Namun aneh menurut David yang merasakan kehangatan saat Cira menggenggam erat tangannya.
David berusaha menelan salivanya saat melihat Cira tersenyum manis yang memperlihatkan dua lesung pada pipinya. Cira bahagia karena kakinya saat di ajak berdiri dan mulai melangkah, tidak sakit sama sekali.
"Tidak sakit dokter. Kaki saya sudah sembuh." Ucapnya senang dengan senyum bahagia melihat ke arah David dan kakinya secara bergantian.
David diam terpaku pada tempatnya berdiri. Dia benar-benar terpesona akan senyum manis berlesung pipi yang Cira tampilkan. Sungguh wanita yang sangat cantik dengan postur tubuh tinggi langsing berisi. Cira benar-benar cantik di mata David, hatinya bergetar dan menghangat.
'Ada apa denganku?' Gumam David dalam hatinya, dia aneh dengan apa yang hatinya rasakan saat ini.
"Dokter, apa saya sudah boleh masuk kerja lagi?" Tanya Cira sembari datang mendekat.
David kembali tersadar.
"Tentu saja. Tapi sebaiknya, jangan menggunakan sepatu hak tinggi dulu. Gunakan sepatu yang nyaman untuk melangkah." Balas David mengalihkan perhatiannya dari wajah Cira.
__ADS_1
"Baik dokter. Akan saya ingat saran dokter." Balas Cira masih tersenyum ke arah David.
David merapikan semua peralatannya, setelah melihat sejenak ke arah Cira. Ia pun ingin segera pergi dari tempat itu untuk menghindari Cira. Wanita yang mampu menggetarkan dan menghangatkan hatinya hanya dengan senyuman saja. Aura dan kharisma Cira begitu kuat padanya, itu sangat berbahaya bagi David. Cira adalah istri dari sahabatnya.
"Baiklah, semuanya sudah selesai. Aku permisi." Pamit David ingin segera pergi.
"Terima kasih dokter." Balas Cira tulus dari hatinya.
Kembali David melihat ke arah wajah cantik itu. Kembali ada perasaan yang tidak seharusnya ia rasakan, kini timbul di hatinya. David segera membalikkan tubuhnya setelah menganggukkan kepala ke arah Cira. Pria itu berlalu dan segera keluar dari apartemen mewah milik Bara.
"Aku bisa pergi sendiri Kai…tidak perlu kau antar." Ucap David pada Kai saat mereka ada di depan pintu apartemen.
"Baik dokter." Balas Kai mengerti. Pria itu segera masuk kembali setelah memberikan sikap hormatnya kepada David.
David bersandar pada dinding apartemen Bara. Ia memegangi dadanya yang berdebar hebat akan pesona Cira padanya.
"Ada apa dengan diriku?" Tanyanya pada diri sendiri.
David melihat ke arah pintu apartemen Bara yang ada di sampingnya. Sudah beberapa kali ia harus berusaha menelan salivanya dan mengatur debar jantungnya yang tidak beraturan.
"Wanita itu…Hanya dengan tersenyum saja bisa membuat aku terpesona padanya. Ada apa dengan hatiku. Apa aku sakit?" Gumamnya pelan. David kembali membelai lembut dadanya yang mulai lebih tenang.
"Sial. Tidak mungkin aku tertarik pada istri sahabat ku sendiri. Ini tidak boleh terjadi padaku."
"Mengapa Bara tidak menyukainya? Aku saja bisa dengan mudah di buat bergetar begini. Apa Bara buta? Sehingga tidak bisa melihat istrinya yang penuh akan aura kuat seperti itu. Bara, kau harus menjaga baik baik istrimu itu. Jika tidak ingin pria lain meraihnya." Gumamnya lagi.
David segera berlalu dari tempat itu. Ia tidak ingin berlama-lama ada di sana. Membuat jantungnya menggila.
Kembali ke dalam apartemen.
"Nona, tuan berpesan. Jika anda sudah baikkan, segera kembali ke kantor." Ucap Kai memberikan informasi yang Bara katakan.
"Iya aku tahu. Apa tuan pikir, selama aku ijin sakit. Aku benar-benar istirahat di rumah." Balas Cira dengan menggerutu sinis melihat ke arah Kai.
"Baiklah, kalau anda memang sudah mengerti. Mobil pribadi anda sudah ada di parkiran basement."
"Iya saya tahu." Ketusnya.
"Kalau begitu, saya permisi nona. Selamat malam." Pamit Kai.
Pria itu segera pergi meninggalkan apartemen Bara. Cira hanya melihatnya dengan dingin.Cira ingin segera beristirahat setelah rutinitas pekerjaan rumah yang begitu banyak ia kerjakan hari ini. Selesai makan malam, Cira segera tidur lebih awal. Besok pagi adalah hari yang akan melelahkan baginya.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
__ADS_1
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya.