GURUN Merindukan PELANGI.

GURUN Merindukan PELANGI.
52. Karina Richard Daimos.


__ADS_3

***Panti Asuhan***


Cira dan wanita paruh baya yang ia kenal, tengah duduk pada bangku beton yang ada di taman area bermain anak anak panti. Nyonya itu begitu senang bertemu gadis di hadapannya itu, seorang gadis yang di harapkan dapat membantu keluarganya yang sedang dalam masalah.


"Sayang. Beberapa bulan ini, tante ingin sekali menemuimu. Ada yang ingin tante bicarakan kepadamu. " Ucap wanita paruh baya itu.


"Iya tante, ada apa?" Tanya Cira dengan raut wajahnya yang teduh dan ayu, terlihat sangat cantik di mata sang nyonya.


"Kamu begitu cantik dan ayu. Apa kamu sudah memiliki seorang kekasih, sayang?" Tanya sang nyonya langsung pada inti tujuannya.


Nyonya tersebut memiliki tujuan untuk menjadikan Cira anggota keluarganya. Wanita paruh baya itu ingin menjodohkan Cira dengan putranya. Ia berharap jika Cira dan putranya dapat menikah dan memberikannya seorang cucu ahli waris keluarganya.


Cira yang mendapatkan sebuah pertanyaan pribadi, diam terpaku. Tidak pada biasanya wanita di hadapannya itu akan bertanya masalah pribadi jika mereka berjumpa.


Dia bertanya apakah Cira memiliki seorang kekasih? Tentu dulunya iya, dia memilikinya. Bahkan sangat mencintai kekasihnya itu yang merupakan cinta dan kekasih pertamanya. Sekarang tidak lagi, lebih tepatnya tidak mungkin mereka akan bersatu, setelah apa yang Cira jalani saat ini.


Bukan seorang kekasih yang Cira miliki, tapi seorang suami. Bagaimana cara Cira mengatakannya? Apakah harus dia jujur akan pernikahan kontrak itu? Pernikahan yang akan berakhir pada waktu yang telah di tentukan. Bisakah itu di sebut dengan sebuah pernikahan.


Sebaiknya ia mengatakan jawaban yang menurutnya aman saja.


"Ada apa sayang? Kenapa kamu diam? Kamu tidak memiliki seorang kekasih kan?" Tanya dan tebak sang nyonya. Itulah yang ia harapkan dari Cira yang menjadi target utamanya. Dia berharap gadis di hadapannya itu tidak memiliki seorang kekasih, agar memudahkannya untuk perjodohan yang ia rencanakan.


"Tidak tante. Saya tidak punya seorang kekasih. Tepatnya lagi, sudah berakhir beberapa bulan yang lalu." Balasnya mengenang Bayu yang belum ia berikan sebuah keputusan dalam hubungan mereka, hubungan yang harus berakhir karena masalah pernikahan kontraknya bersama Bara sang paman.


"Pria mana yang bodoh telah putus darimu? Kamu begitu cantik dan terlihat sempurna, dia begitu bodoh harus kehilangan gadis seperti kamu sayang."


"Tidak tante. Bukan dia yang bodoh, tapi saya yang bodoh karena meninggalkan pria sebaik dia. Dia adalah cinta dan pacar pertama saya." Ungkapnya merasa tidak nyaman jika ada yang mengumpat Bayu yang tidak bersalah.


"Benarkah. Mengapa kamu meninggalkan dia?" Tuturnya terlihat sedih karena melihat raut kesedihan dari wajah Cira.


"Saya berbuat kesalahan kepadanya. Kesalahan yang tidak dapat di maafkan, saya telah mengkhianatinya, tante." Jujur Cira. Sukses membuat sang nyonya terkejut karena pengakuan Cira akan pengkhianatannya.


"Mengkhianatinya." Ulangnya.


Ada rasa yang tidak nyaman pada hatinya mendengar gadis secantik dan sebaik Cira telah berkhianat. Kembali ia berpikir apakah mungkin Cira cocok menjadi istri dari putranya? Namun perasaan yang paling dalam tidak percaya jika Cira telah berani berkhianat.


"Tante terkejut karena mendengar saya telah mengkhianati kekasih saya ya…!" Ucapnya tersenyum getir melihat raut terkejut sang nyonya.


"Iya tentu saja tante terkejut. Tapi tante yakin kamu memiliki alasan sendiri kan berani berbuat seperti itu?"


Cira tersenyum. Ia senang karena masih ada yang percaya kepadanya, jika dia bukanlah ada di posisi yang salah. Keadaan serta ulah Bara dan Mona yang bersalah di sini, mereka bersalah di kehidupannya sekarang.


"Tante benar. Saya memiliki alasan tersendiri karena berbuat seperti itu." Ucap Cira menimpali ucapan sang nyonya.


"Sudahlah tante. Lupakan masalah saya. Apa yang ingin tante bicarakan kepada saya?" Tanya Cira pada niat awal wanita paruh baya itu.

__ADS_1


Sang nyonya terdiam. Bagaimana mengatakan ide perjodohan itu kepada Cira yang baru saja putus? Dia tidak yakin jika Cira mau melakukan perjodohan tersebut. Namun dia harus mencobanya.


"Sebenarnya, tante bertanya kamu sudah memiliki kekasih atau belum, karena ingin menjodohkan kamu dengan putra tante, sayang. Tante ingin kamu menjadi menantu dan memberikan keluarga kami seorang cucu ahli waris selanjutnya."


Sukses membuat Cira terkejut. Bagaimana ia bisa melakukan ide perjodohan itu? Sedangkan sekarang ia sudah menikah dan sedang hamil. Itu tidak akan mungkin bisa terjadi.


"Maaf tante, sepertinya itu bukan ide yang bagus. Terima kasih sebelumnya, jika tante memiliki harapan ingin menjadikan saya menantu tante. Saya tidak pantas untuk itu. Saya tidak bisa mempermalukan orang sebaik tante dan keluarga. Masih ada gadis dan wanita yang lebih pantas untuk putra tante." Tolaknya secara halus.


"Mengapa kamu mengatakan tidak pantas untuk menjadi istri dari putra tante. Kamu bahkan sangat pantas dan cocok menjadi istrinya dan menantu tante. Besar harapan tante padamu untuk setuju. Tante sudah memikirkan ini selama berbulan-bulan. Bahkan tante sudah membicarakan ini pada putra tante, dan ingin mempertemukan kalian berdua." Ungkapnya terlihat sedikit kecewa.


Cira mencoba tersenyum untuk menghiburnya. Nyonya itu terlihat sangat serius akan hal ini.


'Seandainya anda tahu akan pernikahan kontrak yang saya jalani. Saya yakin, anda pasti akan memandang jijik dan rendah kepada saya. Orang sebaik anda tidak baik memiliki hubungan dengan orang seperti saya.' Gumam Cira di dalam benaknya.


"Terima kasih, tante adalah orang yang sangat baik yang saya kenal di dalam hidup ini. Saya merasa tersanjung akan niat baik tante. Maaf, bukan maksud membuat tante kecewa atau meremehkan niat baik tante. Saya benar-benar orang yang tidak tepat dan pantas untuk niat baik tante ini." Jelas Cira secara halus dengan tutur katanya yang lembut agar sang nyonya tidak tersinggung.


Wanita paruh baya itu terdiam kecewa. Pupuslah sudah harapannya. Apakah putranya tidak akan memiliki seorang keturunan? Cira adalah gadis yang sangat ia yakini dapat memberikan seorang keturunan dari benih sang putra. Namun penolakan Cira begitu halus dan tidak dapat ia paksakan lagi.


"Setidaknya, bisakah kamu berjumpa sekali saja dengan putra tante. Setidaknya kalian saling mengenal karena kita adalah teman yang baik. Kita berteman kan sayang." Rayunya masih ingin membuka celah.


Sang nyonya masih memiliki keyakinan, jika Cira belum menikah. Harapan untuk perjodohan itu masih ada, dan dia masih akan berusaha semaksimal mungkin.


Cira terdiam, dia menarik dan menghembuskan nafasnya secara perlahan. Ia tahu jika nyonya di hadapannya itu masih terus berusaha. Penolakan yang ia lakukan secara halus, tidak mampu mengurungkan niatnya.


"Maafkan saya tante, saya tidak bisa. Maaf…!" Ucapnya terputus karena kedatangan seseorang yang mungkin lama menunggu mereka.


"Selamat siang nyonya…!" Sapa seorang pria yang sangat Cira kenal.


Mereka datang bersama-sama, karena lelah menunggu di dalam ruang kerja ibu kepala. Mereka adalah Bayu, Caroline, ibu Sofia dan Ibu Nadia. Wanita paruh baya yang di sapa dan Cira bangun dari duduk mereka.


"Selamat siang Bayu. Apa kabar sayang…!" Balas nyonya itu sangat ramah dan telihat bahagia bertemu dengan Bayu, ia mencium kedua pipi Bayu dan memeluknya dengan hangat.


Tentunya Cira tercengang tidak percaya akan apa yang ia lihat. Apakah Bayu dan nyonya ini saling mengenal? Itulah pertanyaan yang ada di dalam hatinya. Saat Bayu dan wanita paruh baya itu saling memeluk, tatapan teduh dan senyum Bayu melihat ke arah Cira yang juga melihatnya.


"Selamat siang nyonya…!" Kini giliran Caroline yang menyapa dengan ramah dan tersenyum.


"Selamat siang sayang. Apa kabarmu? Sudah lama kita tidak berjumpa." Balas sang nyonya.


Wanita paruh baya itu juga melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan kepada Bayu terhadap Caroline. Ada apa ini? Apakah mereka saling mengenal? Gumam Cira di benaknya.


"Kabar saya baik, nyonya." Balas Caroline sembari melerai pelukkan mereka.


"Kalian ini, jangan panggil nyonya. Ini bukan perusahaan." Tegur sang nyonya terlihat memasang wajah tidak sukanya mendengar panggilan tersebut. Tentunya itu hanya rajukan bagai candaan yang di perlihatkan oleh sang nyonya.


"Baiklah Oma." Balas Bayu.

__ADS_1


"Baik Oma." Balas Caroline.


Mereka mengikuti apa yang di inginkan oleh sang nyonya. Siapa sebenarnya nyonya ini?


'Deg Deg'. Mereka memanggilnya dengan sebutan Oma. Terdengar akrab dan hangat. Siapa sebenarnya mereka?


'Apakah yang aku pikirkan ini benar? Mereka memanggilnya Oma. Apa jangan jangan, nyonya ini adalah Omanya Bayu?' Dari pihak mamanya atau dari pihak papanya?' Gumam Cira di dalam benaknya sembari menelan salivanya akan kemungkinan yang ia curigai.


"Cira, aku pikir kamu kemana? Kamu pergi lama sekali, ternyata ada di sini bersama Oma." Ucap Bayu menegur Cira yang telah membuat mereka menunggu lama.


Cira tersadar dan melihat ke arah Bayu, Caroline dan nyonya itu secara bergantian dengan raut wajah yang kebingungan.


"O…Oma…Dia Oma anda tuan Bayu?" Tanya gugup Cira karena takut akan kemungkinan yang sekarang ia pikirkan.


"Iya ini Oma ku." Balas Bayu membenarkan.


Perasaan Cira seketika tidak nyaman.


"Kalian saling mengenal?" Kini giliran sang nyonya yang bertanya.


"Iya Oma, kami teman satu kantor. Kami bertiga yang di utus oleh tante Mona, untuk menemani Oma di sini." Balas Bayu jujur tanpa tahu apa yang Cira cemaskan saat ini.


Wajah Cira kini memucat karena terkejut. Jadi nyonya kaya raya ini adalah nyonya besar keluarga Daimos yang harus mereka temani. Nyonya Karina Richard Daimos, itulah nama sang nyonya yang sebenarnya. Cira baru tahu hari ini tentang siapa sebenarnya wanita paruh baya yang ia kenal itu.


"Tante…Nyonya besar keluarga Daimos. Nyonya Karina Richard Daimos." Ucap Cira dengan terbata-bata.


"Iya sayang. Itu nama tante. Jangan bilang kamu baru tahu hari ini, siapa tante sebenarnya?" Ucap nyonya Karina mencoba untuk menebaknya.


"Iya tante, saya baru tahu siapa tante sebenarnya hari ini." Balas Cira jujur dan terlihat jelas di matanya.


Mereka saling memandang karena aneh melihat Cira terkejut akan kebenaran siapa Karina sebenarnya?


'Ini masalah besar. Jadi nyonya ini adalah mama dari tuan Bara. Suami kontrak ku sendiri. Pria yang ingin di jodohkan olehnya dengan ku. Apa sebenarnya yang sudah terjadi? Mengapa dunia ku ini sangat sempit sekali?' Gumam Cira benar-benar terkejut.


Cira sangat terkejut akan kebenaran dan keadaannya yang tidak pernah baik. Kepalanya pening karena debaran jantung yang tidak beraturan. Tubuh Cira lemas dan hampir saja terhuyung ke arah belakang, jika saja Bayu tidak dengan cepat menahan tubuhnya.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....


Jangan lupa vote dan like nya.

__ADS_1


__ADS_2