GURUN Merindukan PELANGI.

GURUN Merindukan PELANGI.
37. Hukuman Malam Ini.


__ADS_3

***Apartemen Mewah Bara Daimos***


Setelah makan malam bersama. Bara masuk ke dalam ruang kerjanya, sedangkan Cira kembali ke kamarnya setelah selesai membersihkan dapur dan peralatan yang tadi ia gunakan.


Malam ini ia lakukan semuanya sendiri, tidak ada Mery yang membantunya di sana. Cira sama sekali tidak merasa keberatan akan pekerjaan rumah itu, karena sudah terbiasa melakukannya pada saat masih tinggal di kediaman keluarga Santoso.


Cira yang baru terbangun pukul 7 malam tadi, kini susah untuk tertidur cepat seperti biasanya. Dia yang sudah selesai mengganti pakaian tidurnya, kini memutuskan untuk bermain ponsel sembari duduk berselojor di atas ranjang.


Dia mendapatkan panggilan tidak terjawab beberapa kali dari Sarah, dan satu notifikasi pesan untuk segera menghubungi Sarah. Cira segera melakukan panggilan tersebut.


"Hallo Cira…!!" Sapa Sarah dari seberang telepon.


"Iya sarah…ada apa?" Balas Cira masih terlihat santai.


"Apa siang ini kamu bertemu dengan tuan Rama Ricardo?" Tanya Sarah langsung pada intinya.


"Iya. Apa dia yang memberitahukannya padamu?"


"Iya. Dia mengatakan, jika cukup terkejut mengetahui kalau kamu bekerja di perusahaan Daimos grup sebagai sekretaris presdir."


Cira masih diam menyimak.


"Tuan Rama juga bertanya, apakah ada kerja sama antara organisasi kita dengan perusahaan Daimos grup."


"Lalu kamu menjawab apa?"


"Aku jawab apa adanya. Tidak ada kerja sama apapun antara kita dengan perusahaan Daimos grup. Memang itu kenyataan kan…!"


"Lalu apa lagi?"


"Tuan Rama mengatakan, jika data rahasia milik perusahaan Harmony grup yang kita lindungi, sebagian besar adalah data kerja sama yang di milik Harmony grup dan Daimos grup. Jadi dengan otomatis situs kita juga terhubung pada beberapa data perusahaan Daimos grup." Ungkap Sarah membawa angin segar padanya, sekaligus ancaman kecil kerja samanya dengan Harmony grup.


"Jadi maksudmu, kita dapat dengan mudah mengetahui beberapa rahasia yang di milik perusahaan Daimos grup, karena kita telah terhubung. Sekaligus sebagai ancaman kecil jika kita mencoba mengguncang perusahaan Daimos grup, begitu maksudmu?"


"Iya Cira, kamu benar. Namun aku tidak peduli. Ada untungnya kamu memutuskan pembayaran kontrak baru kita di bayarkan per bulan. Jadi tidak akan merugikan kita terlalu besar."


"Kamu benar Sarah. Jika kita mengguncang perusahaan Daimos grup, itu artinya kita juga mengguncang Harmony grup. Situasi yang sangat sulit."


"Kamu tahu Cira, ada pertanyaan yang di katakan oleh tuan Rama yang mengusik ku sedikit."


"Apa itu?"


"Dia bertanya apakah kamu dan tuan Bara Daimos memiliki hubungan khusus? Dia melihat ada yang aneh dari sikap Bara padamu tadi siang. Sebenarnya apa yang terjadi?"


Cira mengingat kembali, bagaimana sikap Bara yang tidak menyukai sikap ramah Rama terhadapnya, dan seakan tidak ingin Rama melakukan pendekatan kepadanya. Bara juga tiba-tiba menyeretnya keluar restauran dengan cara menggenggam erat tangannya.


"Tidak ada yang terjadi. Bara hanya tidak suka melihat tuan Rama terlihat ramah padaku. Itu saja." Penjelasan Cira sedikit.


"Apa hanya itu yang terjadi?" Tanya Sarah tidak percaya.


"Iya hanya itu." Tiba-tiba Cira kembali teringat bagaimana adegan panasnya tadi sore bersama Bara, dan tidak mungkin ia menceritakan hal itu kepada Sarah.


Wajah Cira menghangat karena malu.


"Sudahlah. Apa lagi yang di katakan oleh tuan Rama padamu?" Tanya Cira mencoba mengalihkan pembicaraan mereka.


"Cira, sebenarnya kamu tahu jika tuan Rama sudah menaruh perhatian dan memiliki perasaan suka padamu sejak satu tahun yang lalu. Apa kamu tidak menyadari itu?"

__ADS_1


"Aku tahu. Tapi kamu tahu kan…pada saat itu aku sudah memiliki Bayu yang menjadi kekasih ku. Bagaimana mungkin aku membalas perasaan pria lain. Lagi pula aku sudah mengatakan yang sebenarnya kepada tuan Rama, kalau aku sudah memiliki seorang kekasih. Pria itu saja yang mempersulit dirinya sendiri untuk tidak ingin melupakan perasaannya padaku. Jadi itu bukan salahku."


"Aku tahu itu. Tapi kamu juga tahu, jika perasaan tuan Rama tulus padamu. Buktinya, begitu kamu menolak perasaannya. Ia masih sendiri dan tidak pernah melupakanmu. Itu juga yang membuat aku terganggu pada setiap pesan dan telepon darinya yang selalu ingin berbicara dan bertemu denganmu." Keluhnya terdengar berat.


Cira tersenyum lucu pada sikap Sarah.


"Mengapa kamu tidak mengalihkan perasaannya kepadamu saja, Sarah?" Cira mencoba mengalihkan sekaligus menggoda sang sahabat, yang ia ketahui diam diam memiliki perasaan terpendam kepada Rama Ricardo.


"Apa maksudmu?" Elaknya. Sarah tahu maksud perkataan Cira, dan ia pun malu.


"Aku tahu kamu diam diam suka padanya. Tuan Rama yang bodoh tidak bisa melihat gadis cantik dan cerdas seperti dirimu."


Sarah malu karena telah tertangkap basah oleh Cira. Wajahnya menghangat dan merah karena malu. Tentunya tidak dapat di lihat oleh Cira.


"Apa perlu aku membantu mu, Sarah. Untuk menjadi lebih dekat dengan tuan Rama?"


"Tidak. Jangan lakukan apapun Cira." Tolak Sarah cepat. Dia benar-benar malu.


"Sudah dulu ya Cira. Cafe malam ini sedang ramai. Kita sambung lagi lain kali." Ucapnya segera menutup sambungan telepon mereka.


Cira tersenyum akan sikap Sarah yang salah tingkah karena malu. Tanpa ia sadari Bara melihat senyum manis itu. Bara baru saja masuk ke dalam kamar di saat Cira sedang asyik menggoda sahabatnya, Sarah. Bara terpesona akan senyum cantik Cira malam ini.


"Kau terlihat bahagia sekali malam ini." Ucap Bara yang cukup membuat Cira terkejut akan kedatangan pria itu.


Cira sontak turun dari ranjang, dan berdiri kaku melihat ke arah Bara. Dia takut ketahuan jika sedang membicarakan tentang Rama Ricardo.


'Apa dia tahu pembicaraan ku bersama Sarah mengenai Rama Ricardo? Sejak kapan dia masuk, dan aku tidak tahu.' Gumam Cira di dalam benaknya melihat curiga ke arah Bara.


"Ada apa? Apa kau sedang melakukan kesalahan?" Curiga Bara akan perubahan sikap Cira. Senyuman cantiknya menghilang ketika ada teguran darinya.


"Tidak tuan. Saya tidak melakukan kesalahan apapun?"


"Yakin tuan. Apa di mata tuan saya melakukan kesalahan?" Tanya balik Cira mencoba mengalihkan pembicaraan mereka.


Bara tersenyum lucu akan sikap Cira yang tidak biasa.


"Kau sudah berani menjawab dan mengkritik ku sekarang, apa kau ingin mendapatkan hukuman dariku?" Ungkap Bara, sukses membuat tubuh Cira menegang karena kata kata hukuman.


Masih segar dalam ingatannya, bagaimana sakit dan tersiksanya dia akan hukuman tindakan kekerasan yang Bara lakukan di awal pernikahan mereka. Cira tegang, kaku dan mulai gemeteran. Tubuhnya merespon ketika otaknya mengingat apa yang membuat dirinya trauma.


Bara menyadari itu. Diapun tahu Cira sekarang sedang ketakutan akan hukuman yang ia katakan. Bara sebenarnya hanya bercanda dan ingin sedikit menggoda Cira. Namun apalah daya, Cira menganggapnya serius.


"Naik ke atas ranjang, kau harus mendapatkan hukuman mu malam ini." Ucap Bara hanya sekedar ingin menggoda Cira yang terlihat sangat ketakutan sekarang.


"Apa tuan. Hukuman!" Katanya terbata-bata, dia semakin gemeter ketakutan.


"Iya hukuman, apa kau tuli dan tidak dapat mendengar dengan jelas?"


Cira hanya menggeleng dengan mata yang sudah terlihat benar-benar ketakutan.


"Cepat, naik ke atas ranjang…!" Perintah Bara sedikit menaikan volume suaranya.


Tubuh Cira tersentak kaget.


"Jika kau tidak juga patuh pada perintah ku, hukuman berat akan kau dapatkan malam ini."


"Tidak tuan. Maafkan saya, saya akan patuh." Takutnya dengan nada yang benar-benar gemetaran.

__ADS_1


"Cepat lakukan, naik ke atas ranjang…!" Perintahnya dengan nada yang biasa saja.


Cira dengan cepat melakukan apa yang Bara perintahkan, dia benar-benar takut akan ancaman Bara. Mematuhi Bara untuk menghindari hukuman adalah hal yang baik saat ini bagi Cira. Itulah pikirannya.


Sedangkan Bara diam diam tersenyum tipis, melihat sikap Cira yang patuh dan takut padanya. Terlihat lucu dan menghibur bagi Bara. Bara naik ke atas ranjang setelah menyibakkan selimut yang akan ia pakai menutupi tubuhnya.


'Apa melakukan itu tadi sore belum cukup untuknya? Apa dia meminta melakukannya malam ini lagi? Sebenarnya tubuhku lelah sekali jika harus melakukannya lagi. Ya ampun mengapa dia kuat sekali dalam bercinta.' Gumam Cira salah paham.


"Jangan berpikir yang aneh aneh tentangku…!" Tebak Bara yang sudah duduk di dalam selimut.


Cira cukup terkesan karena Bara tahu, jika ia serang berpikir yang aneh tentangnya.


'Pria ini seorang cenayang, yang tahu isi hati orang.' Gumamnya melirik sekilas ke arah Bara.


"Cepat tidur dan mendekat ke sini." Perintahnya.


Cira menghela nafasnya untuk merilekskan tubuhnya yang masih menegang, beberapa kali ia menelan salivanya dengan susah payah.


"Cepat ke sini." Ucapnya sedikit keras.


Cira segera mendekat seperti tertarik kuat oleh suara keras dan tegas Bara, begitu tubuhnya telah menyentuh tubuh Bara. Bara tersenyum tipis kemudian melakukan apa yang ingin ia lakukan terhadap Cira. Istri keduanya itu.


Bara memeluk hangat tubuh Cira. Cira kembali kaku dan mulai takut akan kedekatan mereka.


"Jangan kaku begini. Aku tidak suka. Seperti tidur dengan patung kayu." Ucap Bara tahu begitu kakunya tubuh Cira di dalam pelukkannya.


"Peluk tubuhku, dan tidurlah." Perintah Bara.


Cira menelan salivanya dengan susah payah. Bara meminta dia untuk memeluk tubuhnya. Cira hanya dapat mengikuti dengan patuh, dan memeluk tubuh pria yang ada di dekatnya itu.


Kepala Cira berada pada lengan dan bersandar ke dalam dada bidang Bara. Satu tangan Bara memeluk pinggang Cira. Cira hanya dapat melingkarkan satu lengannya pada perut dan pinggang Bara. Satu tangannya ada di depan dada bidang Bara.


Bara kemudian membelai rambut panjang Cira sebagai mainan pengantar tidur untuknya. Cira dapat merasakan kelembutan yang di berikan oleh Bara kepadanya malam ini. Perlahan tubuh Cira mulai rileks dan tidak kaku seperti tadi.


"Sudah lebih rileks sekarang?" Tanya Bara di sela-sela matanya yang terpejam dan terus membelai rambut Cira.


"Iya, tuan." Angguk Cira membenarkan apa yang ia rasakan.


"Aku benci tidur sendiri." Ucapnya.


Cira hanya diam menyimak.


"Tetap patuh padaku seperti ini. Agar semuanya baik baik saja, kau mengerti?"


"Iya tuan saya mengerti."


"Kita berdua sama-sama tahu. Jika keadaan kita saat ini adalah keadaan yang di paksakan oleh keadaan yang tidak dapat kita tolak. Walaupun tidak ada perasaan apapun di antara kita, setidaknya hidup damai adalah pilihan yang terbaik untuk kita berdua. Kau harus tahu, sebenarnya aku tidak suka bersikap kasar kepada seorang wanita." Ungkapnya. Bara terus membelai lembut rambut Cira, memainkan rambut halus yang memiliki aroma khas yang di sukai oleh Bara malam ini.


Cira diam menyimak dan mencoba mengerti apa yang Bara katakan. Dia cukup heran dengan sikap Bara yang tiba-tiba berubah malam ini, ada apa dengan Bara? Apa yang ingin di rencana pria ini terhadap Cira? Hanya Bara dan Tuhan yang tahu. Cira hanya dapat waspada akan tindakan Bara selanjutnya.


Apakah perlakuan Bara yang lembut padanya dan tidur saling memeluk, adalah hukuman dari Bara untuk Cira malam ini?


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…

__ADS_1


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....


Jangan lupa vote dan like nya.


__ADS_2