
***Perusahaan Daimos Grup***
Cira sangat lemas hari ini. Tubuhnya tidak bertenaga seperti merasa kekurangan zat besi. Cira bertahan siang itu, setelah selesai makan siang di kantin kantor bersama Lian. Keduanya kembali ke tempat mereka, untuk mempersiapkan berkas kerja sama yang akan di tanda tangani oleh Harmony grup dan Daimos grup.
"Maaf mbak. Apakah hari ini, aku bisa tidak ikut pergi bersama kalian?" Tanya Cira kepada Lian.
Ia merasa tidak akan kuat untuk berada di dalam ruang aula untuk menyaksikan tanda tangan berkas kerja sama itu. Kerja sama yang akan di abadikan oleh beberapa stasiun televisi dan wartawan lokal.
"Kau tambah lemas. Sudah ku katakan. Minta ijin pulang lebih cepat, kamu terlihat pucat dan lemas sekali, Cira." Balas sekaligus saran dari Lian untuk teman kerjanya itu.
"Tidak mbak, tidak perlu ijin. Kalau bekerja di tempat, aku masih kuat. Hanya saja tidak akan kuat jika beraktivitas di dalam ruang aula. Bisakah aku diam di sini saja."
"Baiklah. Aku yang akan pergi, kau diam saja di sini." Balasnya mengerti dan tersenyum.
Kai datang mendekati mereka berdua.
"Apakah semuanya sudah di siapkan? Satu jam lagi acara akan di mulai. Para wartawan sudah berdatangan." Ucap Kai memberitahukan.
Pria itu melihat ke arah Cira yang terlihat lesu dan duduk pada tempatnya, berusaha mengerjakan sesuatu pada layar komputernya, dengan sesekali ia akan memijat pelipisnya.
"Ada apa dengannya?" Bisik Kai kepada Lian sembari melihat ke arah Cira.
"Lagi kurang sehat." Balas Lian melihat sekilas ke arah Cira, kemudian kembali ke arah berkas yang ada di tangannya.
Kai diam hanya mengamati dengan tatapan dinginnya. Kai membenarkan perkataan Lian, Cira sangat pucat dan terlihat lesu. Namun Kai hanya acuh saja, dan tidak memperpanjangnya lagi.
"Ayo. Kita sudah di tunggu oleh tuan Bara." Ajak Kai kemudian melangkah masuk ke arah ruangan Bara. Lian pun ikut menyusul, Cira hanya diam saja duduk dengan menahan kondisi tubuhnya yang semakin lemas.
Di dalam ruangan. Kai menyerahkan berkas kerja sama yang harus Bara koreksi. Lian siap untuk mencatat semua keluhan dan perintah Bara.
Bara belum menyadari jika Cira tidak ada di hadapannya. Bara tengah serius melihat berkas yang ada di tangannya.
"Para wartawan yang sudah di undang, semuanya sudah berada di aula, tuan." Laporan Kai kepada Bara.
"Ruang tunggu untuk tuan Rama Ricardo sudah di siapkan." Tanya Bara sembari masih melihat berkas yang ada di tangannya.
"Sudah siap semuanya, tuan." Balas Lian.
"Jangan sampai tuan Rama memiliki keluhan dan mengulur waktu untuk kerja sama ini. Saat ini dia terlalu sensitif." Ucap Bara.
"Baik tuan." Balas Lian dan Kai dengan serempak.
"Apakah persiapan di dalam aula sudah selesai, Cira?" Tanya Bara, karena ia tahu itu tanggung jawab Cira darinya.
"Sudah siapa semua, tuan." Balas Lian yang mewakili, karena Cira tidak hadir.
Bara yang mengenal suara Lian menjadi heran, mengapa bukan Cira yang menjawab pertanyaannya? Pandangannya pun di alihkan ke depan, mencari seseorang yang ia inginkan.
Bara tidak melihat Cira sama sekali.
"Di mana Cira?" Tanya Bara melihat ke arah Lian dan Kai secara bergantian.
"Maaf tuan. Cira kurang sehat hari ini, setelah menyelesaikan pekerjaannya di dalam aula. Dia meminta ijin pada saya untuk istirahat sejenak di meja kerjanya." Balas Lian apa adanya.
"Kurang sehat?" Tanya Bara dengan mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Iya tuan, wajahnya pucat dan terlihat lemas." Balas Lian membenarkan.
"Kalian boleh keluar. Pergilah ke ruang tunggu, sambut kedatangan tuan Rama. Aku akan mengusul setelah menyelesaikan pekerjaan ku, dan panggil Cira ke sini." Perintah Bara kemudian kembali kepada pekerjaannya.
Bara menyerahkan berkas kerja sama itu kepada Kai untuk di bawa.
"Baik tuan. Permisi." Balas keduanya dan berlalu dari ruangan itu.
Beberapa saat kemudian, Cira masuk dan berdiri di hadapan meja kerja Bara.
"Permisi, tuan. Anda memerlukan sesuatu?" Ucap Cira begitu hadir di sana.
Bara tidak menjawab, dia yang masih fokus pada pekerjaannya hanya memberikan isyarat dengan melambaikan tangannya, memanggil Cira untuk datang mendekat.
Cira datang mendekat dan kini berdiri tidak jauh di samping Bara. Kembali Bara memberikan isyarat tangan kepada Cira untuk datang lebih dekat lagi.
"Iya tuan." Ucapnya begitu berada sangat dekat dengan Bara. Cira yang tidak mengerti hanya mengikuti apa yang Bara inginkan.
Bara tidak mengucapkan apapun, begitu pria itu selesai dengan pekerjaannya. Tiba-tiba Bara menarik pergelangan tangan Cira, yang membuat tubuh Cira kini jatuh pada pangkuan Bara.
Cira yang memang sedang lemas, begitu saja jatuh tanpa dapat melawan. Wanita itu terkejut akan perbuatan Bara padanya, apalagi mereka sedang berada di area kantor.
"Ada apa ini tuan…!" Ucap Cira sembari berusaha turun dari pangkuan Bara. Namun laki-laki itu mengeratkan pelukkannya pada pinggang Cira yang langsing.
"Diam." Perintah Bara tegas karena Cira berusaha untuk lepas dari pangkuan dan pelukkannya.
Cira diam akan perintah tegas Bara. Kedua tangannya berada pada dada bidang Bara. pandangan mata mereka bertemu dan saling menatap. Bara melihat dan mengabsen intens seluruh wajah Cira. Benar kata Lian, wajah Cira terlihat pucat dan lesu.
"Wajahmu pucat sekali. Apa kau sakit?" Tanya Bara dengan raut wajah yang terlihat biasa saja.
"Tidak tuan. Bukan sakit, hanya tidak enak badan saja sejak kemarin." Balasnya.
"Mengapa tidak katakan padaku. Apa kau kelelahan karena melayani ku setiap malam?" Tanya Bara yang sukses membuat Cira malu luar biasa.
Bisa-bisanya Bara membahas soal pelayanannya setiap malam saat ini. Wajah Cira kini memerah karena malu. Bara tersenyum melihat rona merah itu, pria itu tahu jika Cira kini sedang malu akan perkataannya.
"Tidak tuan. Bukan seperti itu…!" Elaknya cepat, Cira tidak ingin membuat Bara marah.
"Lalu seperti apa, mengapa kau terlihat pucat dan lemas seperti ini?"
Bara begitu betah melihat wajah Cira yang tetap cantik walaupun terlihat pucat. Mata dan hatinya nyaman melihat wanita cantik yang ada di pangkuannya itu.
"Tidak tahu tuan. Mungkin benar kelelahan dan kurang beristirahat. Maaf tuan…!" Cira terlihat takut, dan menundukkan pandangannya ke arah tangannya yang sedang menyentuh dada bidang Bara saat ini.
"Jadi kau tidak enak badan karena kurang istirahat dan kelelahan. Itu artinya benar, kau tidak enak badan karena kelelahan harus melayani ku setiap malam?"
Cira terdiam. Dalam hatinya berkata, Bara pasti akan marah padanya sekarang.
"Maaf tuan, saya tidak bermaksud seperti itu." Ucap Cira dengan tatapan mata yang memohon agar Bara tidak marah kepadanya.
Bara melihatnya dengan intens, wajah memohon Cira begitu lucu dan menggemaskan di matanya.
'Cup…!' Sebuah kecupan mendarat di bibir Cira.
"Tuan…!" Cira ingin protes akan ciuman Bara itu.
__ADS_1
'Cup cup…!" Dua kali kecupan kembali Cira dapatkan pada bibirnya dari Bara.
Cira tahu jika itu isyarat untuknya diam dan tidak melakukan protes apapun.
Cira yang hanya diam dengan memandangnya teduh, mengundang Bara ingin melakukan tindakan lebih dari sekedar ciuman.
Bara mendaratkan ciuman panjangnya ke arah bibir Cira, beberapa kecupan Bara lakukan. Tentunya Cira membalasnya dengan hal yang sama. Masih lekat dalam ingatannya, semua yang Bara katakan, perintahkan, dan inginkan dari Cira jika mereka sedang bermesraan seperti itu. Untuk selalu merespon dan memberikan balasan.
Pagutan keduanya semakin dalam dan saling membalas. Bara begitu candu terhadap bibir Cira yang terasa manis setiap ia mengecupnya. Beberapa detik kemudian, Cira merasa perutnya seakan di aduk aduk oleh sesuatu dan merasakan mual akan hal itu. Dia pun menghentikan pagutan mereka dan menutupi mulutnya yang ingin muntah karena mual.
"Ada apa?" Tanya Bara melihat heran akan sikap Cira yang menutupi mulutnya dengan memejamkan matanya untuk meredam rasa mual yang kini wanita itu rasakan.
"Maaf tuan. Perut saya terasa mual dan ingin muntah." Balas Cira di sela sela mulutnya yang ia tutupi. Cira berusaha menahan rasa mualnya.
"Apa kau belum makan siang?" Tanya Bara terlihat cemas ke arah Cira.
Tidak biasanya Cira seperti itu.
"Sudah tuan. Sepertinya saya masuk angin." Ucapnya masih berusaha menahan sesuatu yang akan keluar dari mulutnya.
"Maaf tuan." Kata Cira segera turun dari pangkuan Bara, dan berlari secepatnya ke arah toilet yang ada di dalam ruangan Bara.
Bara bangkit dan menyusul Cira. Sedangkan Cira kini tengah memuntahkan isi perutnya ke dalam closed dengan duduk bersujud di sana. Cira menahan perutnya saat memuntahkan isi perutnya yang keluar hanyalah air saja.
"Apa kau baik baik saja?" Tanya Bara khawatir melihat Cira begitu tersiksa akan mual dan mantannya.
Cira melambaikan satu tangannya, dia tidak dapat mengeluarkan kata-kata akan rasa mual yang kembali datang. Cira benar-benar tersiksa akan rasa mual dan muntahnya saat ini, hingga air matanya keluar mengalir.
Bara tidak mengerti apa yang terjadi pada Cira, hanya membantu untuk menyeka anak rambut Cira yang jatuh ke depan wajahnya. Bara juga memberikan pijatan lembut pada tengkuk Cira agar sedikit mengurangi penderitaan Cira.
Cira duduk lemas di depan closed. Bara dengan cepat meraih sekotak tisu untuk Cira gunakan membersihkan sisa air di sekitar mulutnya. Cira meraih beberapa tisu yang di sodorkan oleh Bara. Wanita itu berusaha menetralkan mual yang ia rasakan dengan memejamkan matanya kuat.
"Apa sudah baikan?" Tanya Bara terlihat cemas.
Cira hanya menganggukkan kepalanya lemah. Untuk mengeluarkan suaranya, Cira tidak sanggup. Cira berusaha bangkit dan di bantu oleh Bara untuk memapahnya.
"Saya ingin membasuh wajah saya tuan." Katanya setelah berdiri dan selesai membersihkan sesuatu yang ia muntahkan ke dalam closed.
"Ayo, aku bantu." Balasnya. Bara memegangi pinggang Cira agar wanita itu bisa melangkah dengan benar setelah kehabisan tenaganya.
"Terima kasih, tuan. Maaf saya menggunakan toilet anda." Ucapnya, ia lupa meminta ijin karena tidak dapat menahan rasa mualnya.
"Tidak masalah. Apa kau bisa membasuh wajahmu sendiri?"
"Iya tuan, bisa. Maaf merepotkan anda." Ucapnya. Cira segera membasuh wajahnya agar terasa segar kembali dari rasa mual.
Cira keluar dari toilet dengan bantuan dari Bara. Pria itu menuntun Cira untuk duduk bersandar pada sofa yang ada di sana. Bara kini melihat wanita yang sedang memejamkan matanya dengan terus memijat pelipisnya. Ia terlihat cemas sekaligus heran ke arah Cira.
Ada apa dengan Cira? Sedangkan tadi pagi dia baik baik saja. Apakah Cira benar-benar sakit? Itulah yang kini ada di pikiran Bara melihat cemas dan iba kepada istri keduanya itu.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
__ADS_1
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya.