GURUN Merindukan PELANGI.

GURUN Merindukan PELANGI.
13. Pagi Yang Sulit.


__ADS_3

***Apartemen Mewah Bara Daimos***


Cira kini sedang berada di dapur yang cukup mewah dengan semua peralatan dapur yang mahal dan serbaguna, Cira di sambut langsung oleh wanita yang menjadi penjaganya di apartemen itu, yaitu Mery.


"Selamat pagi nona...!!" Sapa Mery dengan wajahnya yang selalu datar.


Walau sikapnya selalu sopan dan hormat kepada Cira, tetapi wajahnya tetap datar dan tidak ingin senyum pada Cira sekalipun Cira menampilkan senyum menawan yang ia miliki.


"Selamat pagi Mery...!!" Sapa balik Cira pada Mery.


"Ada yang bisa saya bantu nona?" tanya Mery ingin tahu maksud kedatangan Cira yang masuk ke dalam dapur sepagi itu.


"Saya akan membuat sarapan untuk tuan Bara." Balas Cira masih dengan senyum yang di tampilkan di wajahnya, dan berharap jika Mery akan membalas senyumnya dengan senyuman juga.


"Biar saya saja, nona. Tuan Bara ingin sarapan apa?" Tanya Mery masih dengan wajah yang setia dengan datarnya.


"Tidak Mery, tuan Bara ingin aku yang membuatkan sarapan untuknya. Ini perintah langsung darinya, dan aku tidak boleh untuk membantah perintahnya." Kataku ingin Mery mengerti dan tidak akan mempersulit dirinya.


Cira masih sadar jika Mery adalah anak buah dari Mona yang tidak bisa untuk di bantah atau pun di lawan. Namun ia lebih takut akan penyiksaan hukuman yang ia dapatkannya dari Bara. Cira lebih memilih untuk mengikuti perintah yang di katakan oleh Bara.


Mery ingin menjawab perkataan Cira, tetapi dengan cepat wanita itu mengucapkan sesuatu yang mampu membuat Mery terdiam sejenak.


"Tolong Mery, jangan mempersulit diriku. Jika aku tidak mengikuti semua perintah tuan Bara, aku akan mendapatkan hukuman seperti tadi malam. Kau lihat leherku ini,...!!!" Ungkap Cira sembari membuka kerah dressnya yang menutupi leher Cira, terlihat masih memerah kebiruan akibat cekikan yang di lakukan oleh Bara tadi malam.


"Ini adalah hukuman dari tuan Bara karena aku tidak ingin mengikuti perintah darinya semalam, dan juga berkata tidak sopan kepadanya. Jadi tolonglah Mery....jangan memprsulitku hari ini, aku mohon...!!" Mohon Cira pada Mery yang masih diam sembari mengamati leher Cira yang di perlihatkan.


Mery sangat mengenal bagaimana tabiat tuannya yang kejam dan keras kepada orang yang tidak di sukainya itu? jadi ia percaya apa yang di tunjukan dan di katakan oleh Cira adalah benar.


"Maaf nona, tapi saya ada di sini atas perintah dari nyonya muda yang harus melayani semua kebutuhan nona dan juga tuan." Balasnya yang juga tidak ingin mendapatkan masalah dari Mona.


Perintah Mona untuknya sudah sangat jelas, dia yang menjadi bawahan dari keluarga bangsawan Daimos sejak lama harus tetap patuh akan perintah dari semua anggota keluarga bangsawan Daimos. Sedangkan pada Cira yang merupakan istri kedua Bara, kalah kuasa dari Mona yang tentu saja perintahnya akan selalu di ikuti oleh Mery.


Cira sudah tahu jika untuk menghadapi Mery tidak akan mudah, karena wanita paruh baya itu akan selalu mendengarkan apa yang di perintahkan oleh Mona sebagai tuannya. Tuan yang memiliki kuasa paling tinggi dari dirinya yang hanya berstatus istri kedua, istri yang baru saja di nikahi oleh Bara.


"Aku mohon Mery...!!" Cira mencoba untuk memohon padanya sekali lagi.


Mery masih terdiam dengan raut wajah yang tidak berubah sama sekali.


"Biarkan saja, dengarkan katanya Mery..!" Ucap seorang pria yang tiba-tiba datang dan berdiri tidak jauh dari ruang makan.


Cira cukup terkejut melihat kehadiran pria tampan yang ia ketahui menjadi asisten pribadi Bara. Pasalnya saat tadi dia melangkah menuju ke arah dapur, Cira sama sekali tidak melihat ada siapa pun di meja makan ataupun ruang tengah yang ia lewati saat ke dapur. Kini tiba-tiba pria tampan yang wajahnya datar dan dingin sama seperti tuannya itu berdiri di samping meja makan melihat ke arahnya.


"kapan dia datang, dari mana datangnya pria ini? perasaan tadi aku datang ke dapur tidak melihat siapa pun?" Gumam Cira pelan yang masih dapat di dengarkan oleh kedua orang yang ada di sekitarnya.


Namun keduanya hanya diam saja menyimak.

__ADS_1


Cira melihat intens pria itu, Cira berharap mendapatkan pertolongan darinya. Cira berharap Mery mau mendengarkan saran dari pria tersebut.


"Ayolah Mery...biarkan aku yang membuat sarapan untuk tuan Bara, lagi pula tante Mona tidak akan tahu jika anda tidak memberitahukan kepadanya." Ucap Cira berharap Mery setuju akan apa yang ia ucapkan.


Bukannya Mery yang menjawab setuju, tetapi malah pria itu yang menjawabnya.


"Apa nona pikir bisa menutupi semua yang terjadi di sini dari nyonya muda?" Ungkapnya dengan tatapan matanya yang dingin.


Cira tidak habis pikir, bagaimana hidupnya untuk ke depan yang harus bertemu setiap hari dengan dua pria dingin seperti Bara dan asistennya itu. Bahkan Cira tidak tahu siapa nama dari asisten tersebut.


"Apa maksud anda tuan?" Balas Cira dengan pertanyaan yang ingin kejelasan dari ucapan pria itu.


"Di sini banyak di pasang camera CCTV di beberapa sudut ruangan, dan CCTV itu akan terhubung pada ponsel tuan Bara dan nyonya Mona. Jadi jangan berharap untuk menutupi semua yang terjadi di sini dengan begitu mudah." Balasnya dengan beberapa lirikkan matanya ke sudut di mana ada camera CCTV.


Cira mengikuti ke mana lirikkan mata pria itu, Cira kini tahu dia benar-benar sedang di awasi. Kepalan kuat tangannya meremas kain dressnya tidak luput dari pandangan mata sang asisten pribadi. Cira sungguh frustasi di buatnya saat ini.


Bagaimana mungkin dia berani menentang dua perintah dari orang yang tidak dapat ia lawan, yang satu terus mengawasi dengan mengirim seorang penjaga, dan yang satunya lagi memiliki perintah yang tidak dapat di tentang yang memiliki hukuman langsung Cira dapatkan jika tidak mengikuti perintah dari Bara, belum adanya CCTV yang menambah sulit hidupnya di apartemen itu.


Cira tidak dapat menahan gejolak hatinya saat ini, ia takut, kesal dan frustasi akan hidupnya pagi ini, sungguh sulit.


"Lalu aku harus bagaimana sekarang?" Kata Cira terdengar frustasi sembari duduk berjongkok di tempatnya tadi berdiri. Dua orang yang ada di sana cukup heran melihat sikap Cira.


Cira mencoba melihat ke arah dua orang yang ada di sana dengan mata yang sudah berkaca-kaca menahan air matanya yang sudah sangat frustasi.


"Apa kalian tahu hidupku saat ini sungguh sulit...Apa hanya untuk membuat sarapan saja, aku harus sesulit ini?" Tanya Cira kepada keduanya dan melihat mereka secara bergantian.


"Bahkan kalian berdua juga membuat hidupku sulit." Gerutunya.


"Kendalikan sikap anda nona, karena kita sedang di awasi saat ini." Balas sang asisten.


"Bagaimana caranya aku mengendalikannya, sedangkan aku sekarang sedang dalam kesulitan?" Balas Cira tidak ingin kalah, dia sungguh frustasi hingga air matanya pun meleleh begitu saja.


Mery yang seorang wanita tentunya dapat merasakan penderitaan Cira saat ini, hanya saja dia juga kalah akan perintah yang harus ia ikuti. Sedangkan sang asisten sangat tahu kesulitan apa yang sedang di hadapi oleh Cira? Mery dan pria yang bernama Kaisar Abian, dan biasa di panggil dengan panggilan asisten Kai. Akan melakukan apa yang bisa membantu kesulitan Cira saat ini.


"Mery biarkan nona yang membuat sarapan untuk tuan, karena itu adalah perintah langsung dari tuan Bara." Ucap Kai memberikan perintah kepada Mery.


"Baiklah tuan Kai." balas Mery dengan menganggukkan kepalanya menerima perintah dari Kai.


Cira melihat keduanya dengan heran, mereka semudah itu mempermudah urusannya sekarang.


"Benarkah....!" Ungkap Cira masih tidak percaya.


"Bangunlah nona, dan lakukan apa yang tuan perintahkan kepada anda. Tuan tidak punya banyak waktu karena sebentar lagi harus segera berangkat ke kantor." Balas Kai sembari melihat ke arah jam tangannya.


"Baiklah, aku mengerti." Sahut Cira segera bangkit dari jongkoknya, lalu segera melakukan apa yang harus ia lakukan pagi ini setelah menghapus air matanya. Intinya ia tidak ingin mendapatkan hukuman dari Bara lagi.

__ADS_1


Beberapa menit telah berlalu, semua interaksi Cira menjadi pengawasan khusus dari Kai dan Mery. Keduanya memiliki pikiran mereka masing-masing terhadap Cira.


Cira dengan cekatan membuat sarapan yang di inginkan oleh Bara pagi ini. Tanpa kesulitan seperti sudah terbiasa melakukan hal tersebut.


'Nona muda ini sangat cekatan dan terlihat biasa dengan semua peralatan dapur yang ia gunakan.' Gumam Mery di dalam benaknya.


'Nona muda ini akan menjadi saingan terberat nyonya Mona jika dia benar-benar bisa mengandung dan melahirkan anak untuk tuan Bara.' Gumam Kai di dalam benaknya.


Keduanya memiliki penilaian mereka masing-masing saat mengamati semua aktivitas Cira di dapur.


Begitu selesai memasak dan sarapan telah tersaji di meja makan, Cira tersenyum senang. Namun dia pun masuk lagi ke dalam dapur, lalu kembali dengan membawa sepiring nasi goreng yang ia buat dan di berikan ke pada Kai yang sedang duduk di meja makan.


"Tuan…ini untuk anda, jika anda belum sarapan. Kebetulan saya membuat lebih. Silahkan di nikmati." Kata Cira dengan senyum manis menghiasi wajah cantiknya.


Kai masih diam dengan wajah yang datar, dia melihat nasi goreng yang di suguhkan dan Cira secara bergantian. Kai cukup terkesan akan sikap ramah Cira dengan senyum yang sedikit menggetarkan hatinya, karena Kai kini dapat melihat wajah Cira dari jarak yang cukup dekat dan jelas terlihat cantik alami dengan hanya memakai polesan sedikit bedak dan lipstik.


"Terima kasih sudah membantu kesulitan saya pagi ini. Baiklah, saya akan panggil tuan Bara untuk sarapan." Ucap Cira kembali karena Kai hanya diam saja.


Cira segera berlalu dari hadapan Kai, karena pria yang ia ajak bicara hanya diam saja dan mamandangnya dingin.


Cira masuk ke dalam kamar setelah mengetuk pintu kamar tersebut, ia melihat Bara telah selesai bersiap dan cukup tampan dengan setelah jas yang tadi ia pilihkan. Cira berpikir jika pilihannya tidak akan di sukai oleh Bara, tetapi ternyata tidak seburuk pikirannya. Bara memakai apa yang menjadi pilihannya.


"Tuan sarapan anda sudah siap." Ucap Cira memberitahukannya.


Bara yang cukup malas berdebat dan berbicara banyak kepada Cira hanya menganggukkan kepalanya saja. Bara segera berlalu dengan melewati tubuh Cira dan keluar dari kamar tersebut. Begitu juga Cira yang ikut menyusul dari arah belakang.


Mereka berdua menuju ke ruang makan, di mana ada Kai yang sedang duduk di sana.


"Selamat pagi tuan." Sapa Kai bangkit dan segera menarik kursi untuk tuannya duduk.


"Selamat pagi, Kai…!" Balas ramah Bara walaupun tanpa senyum.


Cira masih berdiri dan melihat ke arah nasi goreng yang ada di piring Kai, masih utuh yang artinya tidak di makan sama sekali. Begitu juga Bara yang melihat ke arah piring Kai yang tersaji nasi goreng buatan Cira, terlihat enak dan lezat.


"Kau sarapan nasi goreng pagi ini, Kai…?" Tanya Bara sembari menyeruput kopi hangatnya.


Cira berdiri tidak jauh dari meja makan, dia tahu diri dan sudah menjadi kebiasaan jika belum di perintahkan untuk duduk dia tidak akan berani untuk ikut duduk bersama.


Kai melihat ke arah nasi goreng yang di maksudkan oleh Bara dan ke arah wajah Cira secara bergantian. Cira hanya melihat kecewa ke arah Kai yang tidak menyentuh sama sekali nasi goreng buatannya. Cira yang memiliki niat baik untuk berterima kasih, ternyata di tolak begitu saja oleh Kai. Tentu saja Cira kecewa.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…

__ADS_1


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....


Jangan lupa vote dan like nya.


__ADS_2