
***Rumah Sakit***
Kai datang membawa semua keperluan yang di butuhkan oleh kedua pasangan suami istri tersebut. Tidak lupa makan malam untuk mereka berdua, makanan khusus yang sehat untuk ibu hamil dan juga susu hamil yang akan mulai di minum oleh Cira mulai malam ini.
Cira yang memang sudah kelaparan menghabiskan semua makanannya dengan lahap. Bara dan Kai melihat heran, tetapi juga senang jika Cira makan banyak makanan bergizi yang akan baik untuk kesehatannya dan tumbuh kembang bayinya.
Kai pergi berlalu setelah dia rasa tidak ada lagi yang di perlukan dan perintahkan oleh Bara. Kini tinggal Bara dan Cira di dalam kamar perawatan itu. Bara memberikan susu hamil buatannya untuk Cira minum sebelum tidur.
"Minum susu ini dulu, sebelum kamu tidur." Ucap Bara sembari menyerahkan segelas susu hamil itu kepada Cira.
Cira hanya bisa patuh dan mengikuti apapun yang di perintahkan oleh Bara.
"Terima kasih, tuan." Balas Cira setelah menghabiskan susunya dan menyerahkan gelas kosong kepada Bara.
Bara meletakkan gelas kosong itu di atas nakas yang ada di samping ranjang.
"Ada satu hal lagi yang harus kamu ingat." Ucap Bara ingin meminta Cira untuk merahasiakan kehamilannya dari Mona.
Bara ingin mengatakan kabar baik itu kepada Mona jika kehamilan Cira sudah lebih kuat lagi. Kira-kira dalam satu bulan lagi, setelah lewat tiga bulan usia kandungan wanita yang ada di hadapannya itu.
"Apa itu tuan?" Tanya Cira memandang intens pria yang selalu tidak dapat di tebak akan bersikap seperti apa kepadanya.
"Rahasiakan kabar ini dari Mona untuk sementara waktu. "
"Mengapa seperti itu tuan?" Heran Cira. Bukankah kabar ini yang sedang di tunggu-tunggu oleh tantenya itu.
"Aku ingin kandungan mu lebih kuat lagi, atau usianya lewat dari tiga bulan, setelah itu baru akan aku katakan kepada Mona."
Perkataan Bara membuat Cira tidak mengerti, mengapa harus seperti itu? Mengapa harus tunggu kandungannya lebih kuat lagi dan lebih dari tiga bulan usianya. Ada apa ini? Itulah pikiran Cira saat ini.
Sedangkan Bara masih teringat dan merasa trauma akan kandungan Mona yang lemah. Kandungan Mona tidak dapat bertahan lebih dari satu bulan, akan gugur dan pendarahan. Sudah tiga kali Mona mengalami itu, sehingga Bara merasa trauma akan hal tersebut jika itu juga terjadi pada kandungan Cira. Itulah alasan Bara untuk tidak mengatakan kabar tersebut kepada Mona.
"Turuti semua perkataan ku." Balas Bara dengan raut serius dan tatapan matanya yang sedikit tajam.
Cira tahu harus patuh jika Bara sedang berada pada mode seperti itu. Tidak ada bantahan ataupun pertanyaan selanjutnya.
"Baik tuan. Saya mengerti." Balas Cira pada akhirnya mengalah.
"Kamu juga tahu jika ini harus di rahasia dari semua orang."
"Saya mengerti tuan."
"Bagus, aku senang jika kamu patuh seperti ini." Balas Bara senang melihat Cira patuh padanya.
Cira mencoba tersenyum untuk menanggapi perkataan Bara. Senyum yang palsu yang di paksakan untuk terlihat tulus.
"Satu lagi yang harus kamu lakukan dan selesaikan."
"Apa lagi tuan?" Tanya Cira.
'Banyak maunya ini tuan…!' Gumam Cira di dalam benaknya.
"Selesaikan urusan kisah cinta mu bersama Bayu. Kamu harus berkata jujur jika sekarang kamu sudah menikah, jika perlu katakan jika kamu juga sedang hamil sekarang." Ucap Bara memberikan sesuatu yang sangat berat untuk Cira lakukan.
"Tapi tuan…!" Ucap Cira terputus. Cira berat untuk melakukan hal itu, dan Bara tahu itu tidak akan mudah di lakukan oleh Cira.
"Jika kamu tidak bisa mengatakan itu semua. Aku yang akan mengatakannya kepada Bayu. Apa kamu mau seperti itu?" Tanya Bara memberikan sebuah pilihan sekaligus solusi untuk Cira sekarang.
Cira tahu jika Bara akan melakukan apa yang ia katakan saat ini. Cira tidak ada pilihan lagi dan tidak memiliki waktu untuk mengundur semua itu. Bayu berhak tahu ini semua. Cira tidak berhak menggantungkan perasaan Bayu dan hubungan mereka seperti itu.
"Baiklah. Saya yang akan mengatakannya kepada Bayu." Balas Cira pada akhirnya mengalah. Dia ingin mengatakan itu sendiri kepada Bayu, sekaligus ingin meminta maaf untuk rasa kecewa dan sakit hati yang akan di rasakan oleh Bayu. Dia pun sama terluka dan sakit seperti Bayu.
"Kapan?"
__ADS_1
"Secepatnya. Bila perlu setelah saya keluar dari rumah sakit ini." Mantap Cira.
"Bagus. Pertemuan mu dan Bayu akan aku awasi, jadi katakan kapan dan di mana kalian akan bertemu. Aku harus melihatnya langsung sebagai bukti kesungguhan mu melakukan itu, Kamu mengerti…!?"
"Mengerti tuan." Mengalah adalah hal yang terbaik untuk Cira lakukan. Demi Balas dendamnya.
"Kalau begitu tidur lah. Tidak baik ibu hamil tidur larut malam." Balas Bara sembari membantu Cira untuk berbaring dan merapikan selimut wanita itu.
"Tuan akan tidur di sini malam ini?" Tanya Cira ingin tahu.
"Iya, aku akan tidur di sini malam ini. Menemani dan mengawasi mu." Ucapnya sembari mencoel ujung hidung Cira.
"Mengawasi saya…?" Sebuah perkataan yang tidak Cira mengerti maksudnya.
"Mengawasi mu dari kedatangan Bayu yang mungkin saja tahu kamu berada di sini."
"Memangnya Bayu tahu saya sedang di rawat, tuan?"
"Entahlah…!" Balas Bara sembari mengedikkan kedua bahunya tanda tidak tahu.
"Anda saja tidak tahu, tapi tetap saja ingin mengawasi saya." Gumam Cira pelan yang masih dapat Bara dengarkan.
"Sudah jangan banyak menggerutu. Cepat tidur, aku juga sudah mengantuk." Balasnya dengan segera membaringkan tubuhnya di samping tubuh Cira.
Cira terkejut akan tindakan Bara, dia berpikir jika Bara akan tidur pada kamar tunggu yang ada di ruangan itu. Di dalam kamar perawatan VVIP Cira, memiliki kamar lain yang bisa di tempati oleh penunggu pasiennya.
"Tuan tidur satu ranjang bersama saya?" Tanya Cira heran melihat ke arah Bara yang sudah nyaman pada tidurnya dengan memeluk tubuh Cira, seperti malam malam biasanya mereka tidur bersama.
"Kamu tahu kan, aku benci tidur sendiri." Balas alasan Bara.
Cira terdiam akan jawaban Bara. Dia tahu kalau Bara benci dan tidak suka tidur sendiri semenjak dirinya menikahi Mona. Sudah terbiasa tidur bersama Mona, jadi Bara merasa nyaman dan akan tertidur nyenyak jika ada yang menemaninya untuk tidur. Jika dia di tinggalkan oleh Mona untuk pekerjaan, tidurnya tidak akan pernah nyenyak. Bara akan melakukan video call bersama Mona hingga pria itu tertidur pulas, itulah yang di lakukan pasangan itu jika tidur terpisah selama ini.
"Jangan banyak berpikir yang aneh aneh. Cepat tidur…!" Balas Bara sembari menutup matanya, dan membelai lembut kepala Cira agar wanita itu cepat tertidur.
"Apa tante Mona tidak akan mencari tuan?" Tanya Cira ingin tahu.
"Aku sudah mengatakan padanya, jika aku dan kamu melakukan perjalanan bisnis bersama." Balas Bara apa yang sebenarnya ia katakan kepada Mona.
Mona hanya menjawab baik dan menerima alasan itu tanpa banyak bantahan.
"Itukan bohong tuan. Apa tante Mona percaya?"
"Tentu saja dia percaya. Sudahlah, lagi pula dia yang mengharapkan kalau kita harus selalu dekat dan bersama supaya kamu cepat hamil. Jadi dia akan percaya semua yang aku katakan, ini demi rahasia kita juga, mengapa akhir akhir ini kamu cerewet sekali?" Ucap Bara melihat ke arah Cira yang mendongak melihat ke arahnya.
'Benar, mengapa aku cerewet sekali. Seperti bukan aku yang biasanya.' Gumam Cira di dalam benaknya.
"Tidak tahu tuan. Mungkin karena pengaruh kehamilan saya." Balas Cira mencari alasan yang tepat. Cira mencoba untuk membuat Bara percaya akan perkataannya.
Bara melihat datar ke arah Cira mendengar alasan wanita itu. Cira tahu jika Bara sangat mencurigakan, jadi ia tidak ingin ada masalah lagi. Perlahan Cira memeluk dan mendekatkan tubuhnya masuk ke dalam dada bidang Bara yang selalu terasa hangat dan nyaman baginya.
"Ayo kita tidur tuan. Saya sudah lelah dan ingin tidur dengan nyenyak." Ucapnya pelan sembari mendekap dan membelai dada bidang Bara, seperti yang biasanya ia lakukan setiap mereka tidur bersama.
"Kamu ingin menghindari perkataan ku."
"Tidak."
"Benarkah?" Tidak percaya Bara.
"Benar tuan. Saya sangat mengantuk sekali." Balas Cira menekan kata-katanya.
"Baiklah. Tapi kamu melupakan sesuatu?"
"Apa itu tuan…?" Tanya Cira tidak mengerti dan berpikir dengan cepat. Apa yang ia lupakan.
__ADS_1
"Apa itu…?" Tekan Bara melihat tajam ke arah Cira.
Wanita itu mendengar nada tegas Bara. Sekarang ia baru ingat apa yang di lupakannya? Cira dengan cepat melihat kembali ke arah Bara, tangan kirinya membelai lembut pipi Bara dan mendaratkan sebuah kecupan yang cukup lama pada bibir Bara.
"Maaf, saya lupa tuan. Jangan marah…!" Ucapnya dengan nada lembut dan manja, agar Bara tidak marah kepadanya akan hal itu.
Dasar pria aneh dengan kebiasaannya yang juga aneh. Itulah perjanjian dan perintah Bara untuk di lakukan oleh Cira sebelum mereka akan tidur. Cira harus memberikan sebuah kecupan selamat malam sebelum mereka tidur, dan itu sudah terjadi selama beberapa bulan mereka tidur bersama setiap malamnya.
"Lakukan dengan benar." Perintah Bara tegas. Bara ingin menghukum Cira yang sudah melupakan kebiasaan mereka. Lebih tepatnya lagi menginginkan kecupan yang lebih hangat dan lama dari biasanya.
Cira melakukan apapun yang Bara inginkan, dengan sedikit merubah posisi tidurnya untuk lebih dekat pada wajah Bara. Cira memberikan ciuman dengan sedikit pagutan yang tentunya mendapatkan balasan dari Bara.
Pagutan mesra mereka begitu nikmat untuk keduanya, saling mengabsen setiap inci yang ada di dalam rongga mulut mereka masing-masing. Pagutan yang begitu panjang dan nikmat untuk keduanya, Cira lebih dulu menghentikan ciuman mereka karena merasakan sesuatu mulai bergejolak di dalam perutnya.
"Ada apa?" Tanya Bara melihat khawatir ke arah Cira yang menutup matanya rapat.
"Perut saya mual lagi tuan." Balas Cira mencoba meredam rasa mual yang mulai ia rasakan.
"Mual lagi." Tanya Bara.
"Iya tuan." Angguknya.
"Apakah setiap kita ciuman akan selalu begitu?" Ucap Bara sedikit kecewa. Ciumannya bersama Cira adalah candu baru yang terasa manis untuk Bara beberapa bulan mereka bersama.
"Saya tidak tahu tuan, maaf…!" Balas Cira dengan mimik wajahnya yang terlihat menyesal.
Bara merasa iba melihat raut wajah Cira yang sedang berusaha menahan rasa mualnya. Sepertinya dia harus mengalah kali ini. Agar Cira merasa nyaman.
"Apa yang bisa aku lakukan untuk menghilangkan rasa mualnya?" Tanya Bara ingin sedikit membantu wanita hamil itu.
"Tidak tahu tuan. Mungkin untuk sementara waktu kita tidak bisa berciuman dulu."
"Tidak bisa." Bantah Bara tidak setuju. Ciuman bersama Cira adalah hal yang sangat ia sukai. Mana mungkin tidak akan melakukan hal itu.
"Terus saya harus bagaimana dengan mual ini tuan. Setiap kita ciuman terlalu lama, perut saya bergejolak, dan mual ingin muntah." Balas Cira dengan mimik sedihnya yang ia buat sesedih mungkin.
Bara melihatnya, dan iba. Tidak ada pilihan lagi, dia harus mengalah.
"Sepertinya anak kita tidak suka papanya menikmati ciuman dari mamanya." Rajuk Bara sembari membelai lembut perut Cira. Seketika rasa mual Cira mereda dan perutnya yang tadi bergejolak mulai menghilang.
"Tuan, mual saya sedikit mereda saat tuan membelai perut saya. Sepertinya anak ini suka papanya selalu perhatian dan membelai lembut dia seperti ini." Balas Cira dengan senyum yang merekah melihat ke arah Bara.
"Oya…!"
"Iya tuan. Kasih sayang anda pasti dapat ia rasakan."
Bara tersenyum mendengar kata kata manis dari Cira tentang anaknya. Cira tahu trik itu akan berhasil pada Bara. Anaknya adalah segalanya bagi Bara Daimos. Sekaligus senjata utama untuknya.
"Jika seperti itu, tetap lakukan seperti biasanya sebelum kita tidur, ciuman panjang yang nikmat. Setelah itu aku akan membelai perutmu untuk meredakan rasa mualnya. Adil bukan?"
'Mampus aku, ini yang namanya senjata makan tuan. Berniat untuk menjebak agar tidak ada ciuman lagi. Malah aku yang kena batunya. Dasar tuan mesum, sekali mesum ya tetap mesum.' Gumam Cira menangis di dalam hatinya akan jebakannya sendiri.
"Sudahlah, tidur yang nyenyak dan bermimpi yang indah." Balas Bara sembari memeluk tubuh Cira dan mencium sayang pucuk kepala wanita itu. Mereka mencoba untuk mengistirahatkan tubuh dan pikiran mereka berdua. Malam yang begitu penuh akan perasaan yang tercampur aduk menjadi satu kesatuan.
Malam di mulainya hubungan yang tidak terlihat jelas masa depan seperti apa yang akan mereka dapatkan. Jalan yang begitu berliku-liku, dengan tujuan dan rencana mereka masing-masing. Siapa di antara mereka berdua yang akan menjadi pemenangnya? Hanya mereka dan waktu yang tahu.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
__ADS_1
Jangan lupa vote dan like nya.