
***Perusahaan Daimos Grup***
Ketiganya saling memandang dengan pikiran mereka masing-masing. Sama-sama memikirkan keadaan Cira sekarang.
"Nona Cira sakit apa?" Tanya Rama dengan cepat melihat ke arah Bara.
Bayu cukup heran karena Rama mengenal Cira.
"Kau mengenal Cira?" Tanya Bayu melihat ke arah Rama.
Bara dan Rama kini melihat ke arah Bayu.
"Iya aku mengenalnya, saat bertemu dengannya dan Bara beberapa bulan yang lalu." Balas Rama berbohong. Tidak mungkin ia mengatakan jika mengenal Cira dan sedang melakukan kerja sama dengan wanita itu.
"Oooo begitu…" Balas Bayu mengalihkan perhatian mereka.
'Sakit apa dia?' Gumam Rama di dalam hatinya.
"Sayang sekali tidak dapat bertemu dengannya." Gumam Rama pelan, tetapi masih dapat terdengar oleh mereka yang ada di dalam ruangan itu.
"Jangan berharap banyak darinya. Akan membuat mu sakit hati nantinya." Ucap Bara sembari meletakkan cangkir kopinya ke atas meja kaca yang ada di depannya.
Perkataan Bara dapat di mengerti baik oleh Bayu dan Rama. Namun dengan pikiran yang berbeda.
Rama dengan pikiran yang mengetahui jika Cira telah menolaknya setahun yang lalu, karena mengatakan sudah memiliki seorang kekasih hati. Namun Rama tidak ingin menyerah, karena ia benar-benar menyukai dan tulus mulai jatuh cinta pada wanita cantik berlesung pipi itu.
Sedangkan Bayu dengan pikiran, Cira adalah kekasihnya yang tidak mungkin akan di raih oleh pria lain. Bayu senang kalau dialah pria yang akan mendapatkan Elcira Ardelia. Bukan laki-laki lainnya.
Sedangkan Bara berpikir, kalau Cira saat ini adalah istri keduanya. Tidak mungkin kedua laki-laki di hadapannya akan ia biarkan untuk meraih wanitanya begitu saja.
"Tidak masalah untuk ku. Itu sebuah tantangan tersendiri. Lagi pula, selama ia belum menikah, itu akan aman." Balas Rama dengan santainya.
Bayu yang tidak setuju akan perkataan Rama.
"Mana bisa seperti itu. Jika dia sudah miliki seorang kekasih, itu artinya dia adalah milik seseorang." Bayu membalas untuk mempertahankan Cira.
Bara terdiam. Benar tebakkannya, Bayu dan Rama benar-benar menyukai Cira. Bahkan mungkin saja keduanya sangat mencintai Cira, istri keduanya itu. Ini bahaya untuk Bara.
"Mengapa kau berkata seperti itu? Kau seperti kekasihnya saja." Balas Rama melihat remeh ke arah Bayu.
"Aku memang benar…!" Ucapan bayu yang terputus karena terhenti akan perkataan Bara.
"Sudahlah. Sudah waktunya kita ke aula." Balas Bara cepat menghentikan perkataan Bayu.
Tatapan tajam Bara melihat ke arah Bayu. Pria itu tahu maksud dari tatapan sang paman.
Semuanya diam sejenak akan situasi yang penuh perdebatan menyangkut seorang wanita.
Lian yang kemudian mencairkan suasana tersebut.
"Mari tuan tuan. Acara akan segera kita mulai. Para wartawan dan pemegang saham sudah menunggu di dalam aula." Ucap Lian mencairkan suasana tegang mereka.
"Baiklah…" Rama yang mengalah.
Kemudian mereka pun bangkit. Mereka menuju ke aula di mana semuanya telah berkumpul untuk menyaksikan tanda tangan kerja sama terbesar di tahun ini. Dua perusahaan besar kembali melakukan kerja sama mereka untuk ke tiga kalinya, dan meningkatkan lagi keuntungan untuk dua perusahaan tersebut.
Beberapa sambutan di berikan oleh Bara dan Rama, sebagai pembukaan dalam acara tersebut. Hingga pada susunan acara terakhir yang akan mereka lakukan, yaitu tanda tangan di atas berkas kerja sama.
__ADS_1
Sebenarnya itu adalah tugas yang akan di lakukan oleh Cira sebagai sekretaris yang memegang kendali acara tersebut. Sekarang di gantikan oleh Lian, karena Cira kurang sehat.
Beberapa wartawan dari stasiun televisi besar dan lokal mengabadikan momen penting tersebut, untuk di sebarkan melalui media elektronik. Mengesahkan kerja sama yang akan mengangkat nama baik dari dua perusahaan semakin melambung tinggi. Itulah tujuan di adakannya acara tersebut yang melibatkan para wartawan pemburu berita.
Setelah acara tersebut selesai. Mereka yang hadir di suguhkan beberapa makanan lezat dari salah satu restauran milik Bara. Sebagai jamuan dan tanda terima kasih atas kehadiran semua orang.
"Acara mu kali ini sukses besar. Aku cukup terkesan. Dua tahun lagi, jika kita melakukan kerja sama ini kembali. Itulah kesempatan ku untuk mengadakan acara yang lebih besar dan meriah dari ini." Ucap Rama yang duduk berdampingan bersama Bara.
Dua pria tampan dan mapan yang menjadi idaman para kaum hawa yang hadir di tempat itu. Mereka berdua memiliki aura dan kharismanya masing-masing.
"Lakukan sesukamu…!" Balas Bara terdengar dingin.
Rama tahu sikap Bara yang akan selalu dingin seperti itu. Itu bukan masalah baginya.
"Kau tidak pernah berubah. Selalu dingin tanpa perasaan."
"Untuk apa memakai perasaan padamu. Kurang kerjaan."
"Hahahaha…Aku juga tidak menginginkan perasaan dari mu Bara Daimos. Aku pria normal yang masih menyukai seorang wanita."
"Baguslah kalau begitu. Sebaiknya cepatlah kau menikah, agar ada yang menemanimu."
"Ini sedang usaha. Hanya ada saja yang menghalangi."
Bara melihat ke arah sahabatnya itu. Rama pun melihat ke arah Bara, lalu berkata lagi.
"Salah satunya, kau lah penghalangnya." Ucapnya dengan tatapan tajamnya.
Bara terdiam sejenak. Kecurigaannya jika Rama menyukai Cira benar.
"Kau menyukai sekretaris ku, Cira…" Kata Bara ingin memastikan.
Bara terdiam dengan tatapan matanya yang dingin melihat Rama, sahabat yang sangat berterus terang menyukai istri keduanya.
"Ayolah Bara…Aku serius kali ini. Aku menyukai Cira sudah sejak lama, tepatnya satu tahun yang lalu. Saat pertama kalinya kami bertemu." Jujur Rama ingin Bara tahu.
Bara mengepalkan tangannya, untuk menahan amarahnya akan perkataan jujur Rama.
"Satu tahun yang lalu. Kalian sudah saling mengenal satu tahun yang lalu…?!" Ucap Bara seakan tidak percaya.
Rama dan Cira telah membohonginya saat pertemuan mereka beberapa bulan yang lalu. Rama dan Cira seolah olah bersikap tidak saling mengenal. Cira juga tidak mengatakan apapun mengenai ini.
"Iya." Balas Rama singkat. Dia merasa bodoh akan rasa sukanya kepada Cira, pada akhirnya ia mengakui perkenalan mereka yang seharusnya di rahasiakan dari orang lain.
"Bagaimana kalian bisa saling mengenal?" Tanya Bara ingin tahu dengan jelas.
Namun belum sempat Rama untuk menjawab pertanyaan Bara, Bayu datang dengan raut wajahnya yang serius dan cemas.
"Permisi pak presdir." Sapa sopan Bayu tahu di mana mereka berada.
"Ada apa?" Tanya Bara melihat ke arah Bayu yang terlihat cemas dan serius.
"Data perusahaan bocor, ada kebobolan dari serangan sebuah virus. Pihak manajemen Operation Center kita sedang berusaha untuk mencegah kebocoran yang lebih parah lagi." Ungkap Bayu memberikan informasi penting.
Bara dan Rama bangkit seketika dari duduknya. Tanpa banyak berkata mereka berlari secepat mungkin ke arah ruang operator. Ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi?
Bara dan Rama datang, kemudian melihat dengan serius beberapa layar monitor yang menampilkan jika data perusahaannya sedang di serang oleh virus dari pihak lawan yang tidak mereka kenal. Semua karyawan yang ahli di bidang Operation Center sedang berusaha menghentikan penyerangan itu.
__ADS_1
Jika tidak di hentikan dengan cepat. Perusahaan Daimos grup akan mengalami kerugian yang sangat besar. Bara melihat serius dan menahan emosinya akan serangan itu.
"Lakukan dengan benar." Ucap bentakkan Bara karena serangan itu tidak berhenti juga.
Bara tidak ahli dalam menangani tehnologi seperti itu. Bara tidak bisa menangani serangan virus, sedangkan Kai yang cukup ahli di bidang IT masih berusaha untuk menghentikan serangan itu. Namun tidak ada perubahan sama sekali. Hampir 25% data dan saham perusahaan terserang virus.
Di saat Bara sedang marah akan situasi tersebut. Rama mendapatkan panggilan dari perusahaannya yang mengatakan, jika perusahaan Harmony grup juga mengalami hal yang sama seperti yang di alami oleh perusahaan Daimos grup.
"Apa…bagaimana mungkin. Bukankah data kita memiliki pelindung lunak yang sudah di pasang satu tahun yang lalu." Kata Rama terkejut, bagaimana bisa data perusahaan mendapatkan serangan yang sama, jika dia sudah menggunakan perlindungan data lunak yang di berikan oleh organisasi milik Cira.
"Baik aku mengerti." Balas Rama sembari menutup sambungan tersebut.
"Ada apa?" Tanya Bara curiga.
"Perusahaan ku juga sama. Mendapatkan serangan sebuah virus. Kebocorannya sekarang sudah masuk 30%." Balas Rama terlihat frustasi dan marah.
"Di mana Cira?" Tanya Rama seketika mengingat Cira sebagai tanggung jawab untuk perlindungan data perusahaannya.
Mengapa Rama bertanya keberadaan Cira di saat seperti sekarang ini. Saat Bara ingin membalas pertanyaan Rama, tiba-tiba Cira datang dan mendekati mereka.
"Aku di sini tuan." Balas Cira begitu ia datang mendengar namanya di sebut oleh Rama.
Mereka semua melihat ke arah Cira yang datang dengan nafasnya yang terengah-engah karena lelah berlari. Cira segera datang begitu mendapatkan panggilan dari Sarah yang mengatakan informasi tersebut. Informasi serangan virus baru.
"Lakukan sesuatu nona Cira." Kata Rama dengan raut wajahnya yang serius.
Cira melihat ke arah mereka satu per satu, lalu bertanya sembari mengikat dengan benar rambut panjangnya. Waktunya untuk berperang kali ini.
"Seberapa parah kebocorannya?" Tanya Cira yang sudah tidak bisa diam saja. Ini masalah serius dari pada kerahasiaan organisasinya. Dua perusahaan besar kini sedang terancam.
"25% untuk Daimos grup, dan 30% untuk Harmony grup." Kini asisten pribadi Rama yang menjawab. Asisten Rio.
"Baiklah, aku mengerti."
Saat Cira ingin melangkah mendekati salah satu layar monitor. Bara mencegahnya, tidak mengerti akan situasi mereka.
"Apa yang akan kau lakukan?" Tanya Bara terlihat cemas karena melihat wajah Cira yang masih pucat tapi datang ke ruangan itu.
"Biarkan dia menyelesaikannya." Balas Rama.
"Bagaimana bisa?" Bara tidak percaya karena tidak mengenal baik siapa Cira sebenarnya, begitu pun Bayu. Hanya Rama yang tahu kalau Cira ahli di bidang itu.
"Percaya padaku. Dia mampu." Cegah Rama sekaligus meyakinkan Bara akan kemampuan Cira.
Rama melihat ke arah Cira dan menganggukkan kepalanya, tanda untuk menyetujui apapun yang akan Cira lakukan.
Cira mengerti apa yang harus ia lakukan. Ia menulis sesuatu pada dua lembar kertas kecil. Menyerahkannya kepada Kai dan Rio yang ia ketahui sangat ahli di bidang IT.
"Gunakan kode ini untuk memperlambat kebocorannya, saya akan melacak dari mana serangan itu berasal. Kita harus menemukan akarnya untuk dapat menghentikan dan mematikan Virus itu." Kata Cira menjelaskan kepada Kai dan Rio yang melihat sejenak ke arah kode yang di maksudkan Cira. Keduanya mengerti kode apa yang di berikan oleh Cira saat ini?
Semua yang hadir melihat ke arah Cira dengan tatapan yang berbeda. Apakah Cira mampu menangani kasus serangan virus itu? Tidak akan ada yang tahu jika belum terbukti.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
__ADS_1
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya.