
***Perusahaan Daimos Grup***
Tanpa banyak kata Mona menyusul Bara masuk ke dalam ruangan itu, tentunya dengan sikap angkuhnya dan tatapan sedikit sinis melihat ke arah Lian dan Cira.
"Dasar nenek lampir. Bunglon betina…!" Umpat Lian pelan mencurahkan ketidak sukaannya terhadap Mona.
Cira dapat mendengar dengan jelas. Dia pun melihat ke arah Lian.
"Mbak bisa mengumpat juga. Hati-hati terdengar lo mbak…!" Tegur Cira melihat heran ke arah Lian.
Lian menghela nafasnya yang terdengar berat.
"Dia memang seperti bunglon betina. Bisa berubah-ubah dengan cepat. Apa lagi jika tidak ada tuan Bara, sikap aslinya akan muncul. Lain halnya jika ada tuan Bara, dia akan pandai bersikap baik dan ramah. Sangat cocok bukan di katakan dengan sebutan bunglon betina." Ungkap penjelasan Lian.
Cira tersenyum lucu akan perkataan Lian.
"Mbak ada ada saja. Namanya juga nyonya muda keluarga Daimos. Akan bersikap sesuka hatinya. Itukan biasa di lakukan oleh orang kaya sekelas keluarga Daimos." Balas Cira masih dengan senyum lucunya melihat wajah Lian yang di tekuk kesal akan kehadiran Mona.
"Justru dia nyonya muda keluarga Daimos, makanya sikapnya sesuka hati seperti itu. Maaf ya Cira, kamu belum tahu saja sikap kejamnya. Maaf lo.... bukannya aku ingin menjelekkan tante mu itu…!" Balas Lian.
"Tidak apa apa. Santai aja mbak…!"
"Dia sifatnya sama seperti adikmu Caroline. Angkuh dan sombong. Tuan Bara matanya buta akan cintanya kepada istrinya itu, sehingga tidak dapat melihat sifat asli dari wanitanya." Keluh Lian merasa kasihan akan nasib Bara yang memiliki istri licik seperti Mona, menurutnya.
Cira hanya diam sembari melakukan aktivasi seperti biasanya.
"Hati-hati mbak dengan ucapanmu. Dinding terkadang memiliki telinga yang dapat mendengar perkataan buruk kita tentang orang lain." Tegur Cira tidak ingin Lian mendapatkan masalah karena ucapannya tersebut.
"Aku tahu. Tetap saja aku tidak suka padanya. Aku terlihat munafik yang harus berpura-pura baik di hadapannya. Entah kapan tuan Bara akan sadar…!" Ungkapnya.
Cira dapat menangkap jika Lian benar-benar tidak suka kepada Mona. Dia hanya bisa diam saja dan berusaha tidak ingin ikut campur akan perasaan tidak suka Lian terhadap Mona Daimos.
"Oya Cira, bagaimana kabarmu hari ini? Apa kamu sudah lebih baik?" Tanya Lian terlihat khawatir akan kondisi Cira.
"Saya baik mbak." Balasnya dengan senyum, karena senang masih ada yang perhatian kepadanya.
"Kamu tahu Cira, di saat kamu pingsan tiga hari yang lalu. Tuan Bara sendiri yang mengangkat tubuhmu dan membawamu ke rumah sakit. Bahkan dia melarang keras tuan Bayu yang ingin mengangkat tubuhmu untuk mewakili tuan Bara." Jelas Lian memberikan informasi yang Cira tidak tahu sama sekali.
"Oya…mengapa begitu!?"
"Maksudmu?"
"Mengapa tuan Bara melarang tuan Bayu mengangkat tubuh saya mbak?"
"Tidak tahu. Menurut tuan Bayu, tidak baik jika tuan Bara terlihat dekat bersama salah satu karyawannya, tetapi tuan Bara tidak peduli akan perkataan tuan Bayu. Mungkin maksud tuan Bayu untuk mencari aman, agar tidak ada gosip yang aneh-aneh tentang kamu dan tuan Bara di perusahaan ini."
"Gosip…memangnya ada gosip seperti apa mbak?" Tanya Cira penasaran.
Sebenarnya beberapa bulan Cira bekerja di perusahaan itu. Sudah banyak gosip yang ia dengar mengenai dirinya.
Entah tentang dirinya bersama Bara yang mudah dekat. Entah tentang Bayu yang terus berusaha mendekatinya. Bahkan ada gosip tentang dirinya yang rela menjajakan tubuhnya kepada Bara, agar bisa di sukai oleh Bara Daimos.
Gosip yang cukup meresahkan. Banyak juga beberapa karyawan wanita yang memandang remeh dan rendah dirinya. Bahkan ada juga karyawan pria yang memandang rendah dan lapar melihat ke arahnya. Seakan Cira adalah wanita murahan yang mudah untuk di beli begitu saja oleh banyak pria yang menginginkannya.
Cira berusaha menutup telinga, mata dan hatinya agar tidak mudah terpengaruh akan gosip gosip itu. Namun pada kenyataannya tidak mudah untuk Cira lakukan, rasa sakit dan luka di hatinya akan banyaknya hinaan itu dapat dia rasakan dengan sangat jelas.
__ADS_1
Bagaimana jika mereka mengetahui kebenaran tentang hubungannya bersama Bara Daimos? Apakah akan ada gosip yang akan semakin panas ke depannya. Pandangan apa yang akan mereka perlihatkan jika mengetahui tentang kehamilannya saat ini? Cira tidak dapat membayangkannya.
"Apa kamu tidak mendengar gosip tentang dirimu, tuan Bara dan tuan Bayu?" Tanya Lian melihat intens ke arah Cira.
"Tidak…!" Gelengnya bohong.
Lian lagi lagi menghela nafasnya.
"Mereka bergosip tentang tuan Bayu yang terlihat jelas mengejar-ngejar dirimu. Terlihat jelas jika tuan Bayu suka padamu Cira."
Cira hanya diam menyimak.
"Apa jangan jangan di antara kalian memang memiliki hubungan khusus?" Tebak Lian terlihat curiga, dia kembali mengingat bagaimana pertemuan pertama Bayu dan Cira. Bagaimana Bayu beberapa bulan ini tidak pernah absen untuk datang berkunjung sekedar melihat keberadaan Cira di mejanya.
Lian curiga akan sikap Bayu yang benar-benar terlihat sangat menyukai Cira. Dari tatapan mata Bayu beberapa kali Lian tangkap dengan jelas, seperti sangat memuja sosok Cira. Dari sikap Bayu yang terkadang mencuri-curi pandang ke arah Cira, dan sikap Bayu yang beberapa kali memberikan minuman ataupun makanan ringan ke atas meja kerja Cira. Lian menangkap jelas perlakuan Bayu yang tidak pada biasanya selalu dingin dan acuh terhadap orang lain.
"Tidak mbak. Kami tidak memiliki hubungan apapun?" Balas Cira pada akhirnya menutupi hubungannya bersama Bayu. Itulah pilihan yang terbaik saat ini.
"Sebenarnya, walaupun kalian memiliki hubungan yang dekat. Itukan wajar, kalian berdua sama-sama masih sendiri dan wajar jika saling menyukai." Ungkap Lian mendukung jika benar Cira dan Bayu memiliki hubungan spesial.
"Tidak mbak. Kami benar-benar tidak memiliki hubungan sedekat itu?" Tolak Cira keras. Dia harus bisa menjauhkan Bayu dari hati dan pikirannya.
"Sayang sekali. Padahal kalian terlihat serasi banget. Aku pasti akan mendukung kalian jika bisa menjadi pasangan."
Cira kembali terdiam. Dulu dia berharap seperti itu. Memiliki hubungan yang harmonis bersama Bayu. Cinta dan kekasih pertamanya, tetapi keadaannya saat ini tidak mengijinkan itu terjadi.
"Cira…ada apa…?" Tanya Lian aneh melihat Cira terdiam.
Cira mengangkat wajahnya dan melihat ke arah Lian.
"Cira, apakah kamu tidak suka kepada tuan Bayu? Banyak wanita yang menginginkannya, tapi yang aku lihat sepertinya dia suka padamu. Apa kamu tidak sadar itu?"
Cira kembali menghela nafasnya.
"Mbak, mana berani saya menyukai tuan Bayu. Pria kaya raya, dan mapan seperti dia. Saya tidak pantas untuk tuan Bayu."
Cira berusaha untuk membuat jarak yang jauh untuknya dan Bayu.
"Mengapa tidak pantas, kamu baik dan cantik. Kalau tuan Bayu yang menyukai mu lebih dulu, mengapa tidak kamu sambut dengan baik."
"Tidak mbak. Itu tidak akan mungkin terjadi."
"Kenapa? Kenapa itu tidak akan mungkin terjadi? Apa kamu sudah memiliki seorang kekasih?"
Cira diam sejenak. Dia harus mencari alasan yang tepat agar Lian tidak lagi membahas tentang dirinya dan Bayu.
"Mbak, sebenarnya…!" Bisik Cira mendekati Lian.
Lian mendekatkan wajahnya lebih dekat lagi.
"Sebenarnya saya sudah menikah." Ungkap Cira berbisik yang sukses membuat Lian sangat terkejut.
"Apa…sudah menikah…!" Ucap Lian sedikit meninggikan volume suaranya, tetapi dapat di cegah oleh Cira dengan menutup mulut Lian dengan cepat.
"Sssttt…Pelan mbak…ini rahasia…!" Bisik Cira.
__ADS_1
Lian melihat intens ke arah Cira, sorot mata Cira terlihat tidak ada kebohongan sama sekali akan perkataannya tadi. Lian tahu jika Cira jujur kali ini.
"Apa itu benar Cira? Apa tuan Bara tahu status mu ini?" Tanya Lian.
Lian juga curiga akan sikap Bara yang baik kepada Cira beberapa bulan ini. Lian berpikir jika Bara juga menyukai sekretaris barunya itu. Tentunya Lian akan mendukung Bara jika benar-benar suka kepada Cira.
"Iya mbak. Itu benar, saya tidak bohong. Saya sudah menikah sebelum masuk ke perusahaan ini. Jadi tidak mungkin saya dan tuan Bayu memiliki hubungan dekat. Lagi pula tuan Bara tahu itu kok…!" Balas Cira ingin menempatkan dirinya pada posisi yang aman.
"Jadi tuan Bara juga tahu kamu sudah menikah." Ulangnya.
"Iya mbak. Tuan Bara tahu status saya ini."
'Karena dialah suami saya mbak.' Gumam Cira di dalam benaknya.
"Padahal aku berharap tuan Bara suka padamu, dan dapat berpaling dari bunglon betina itu." Gumamnya pelan dan terlihat kecewa.
Cira mendengarkan dengan jelas gumaman Lian tersebut. Dia hanya diam saja.
"Jadi mereka semua memiliki mulut ember. Berani bergosip tentang mu, tuan Bara dan tuan Bayu yang tidak tidak." Ucap Lian terlihat kesal akan gosip yang ia dengan tentang temannya itu.
"Biarkan saja mbak. Gosip itu nantinya juga akan berlalu begitu saja seperti angin."
"Kamu terlalu baik dan banyak mengalah. Aku yakin kamu pasti tahu dan sudah mendengar tentang semua gosip gosip itu kan…!"
Cira kembali melihat ke arah Lian.
"Lagi pula, saya tidak akan lama bekerja di perusahaan ini. Sebentar lagi kontrak kerja saya selesai."
"Mengapa seperti itu?" Kembali Lian kecewa.
"Sejak awal, tante Mona hanya menjadikan saya sekretaris dan asisten sementara untuk tuan Bara. Jika sudah pada waktu yang di tentukan oleh tante Mona, saya juga akan berhenti bekerja dari perusahaan ini."
"Sayang sekali jika perusahaan ini kehilangan karyawan yang jenius seperti kamu."
Cira tersenyum mendengar sanjungan Lian.
"Tidak juga mbak. Lagi pula, tuan Bara kadang-kadang bersikap keras dan kejam padaku. Saya tidak betah." Bisiknya sebagai alasan pendukung.
"Kamu benar. Tuan Bara tidak bisa di tebak akan bersikap seperti apa terhadap bawahannya seperti kita ini."
Cira hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya tanda setuju akan perkataan Lian tentang Bara.
"Sebaiknya kita bekerja, sebelum tuan dingin dan kejam itu akan marah kepada kita." Ajak Lian.
Mereka berdua kembali ke pekerjaan yang harus di selesai hari ini juga, sebelum rapat di mulai. Cira tidak tahu nasib seperti apa yang sedang menantinya.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya.
__ADS_1