GURUN Merindukan PELANGI.

GURUN Merindukan PELANGI.
34. Bertemu Rama Ricardo.


__ADS_3

***Restaurant Mewah***


Dua mata saling memandang dan mengenali. Satu pria sudah lama sekali ingin bertemu dengan wanita yang ada di hadapannya sekarang. Satu wanita malah menghindari pertemuan mereka. Namun sepertinya kali ini, mereka berdua tidak dapat menghindari pertemuan itu.


Cira berusaha bersikap tenang saat melihat pria yang ada di hadapannya. Sedangkan Rama Ricardo tersenyum senang dapat bertemu Cira hari ini. Pasalnya setelah selesai akan urusan perpanjangan kontrak yang mereka lakukan satu minggu yang lalu. Cira tidak dapat di hubungi untuk sekedar bertemu atau mengajak wanita itu makan malam sebagai rekan bisnis.


Bara tahu ada yang tidak beres pada keduanya. Apalagi melihat sikap ramah Rama yang terus tersenyum ke arah Cira. Rama adalah sahabat sekaligus rekan bisnisnya selama ini. Jadi Bara tahu jika Rama tidak akan mudah ramah kepada seseorang, tetapi kali ini Bara melihat sikap Rama yang berbeda dari biasanya.


"Apa kalian saling mengenal?" Tanya Bara langsung pada apa yang ia pikirkan dan curigai.


Pandangan matanya melihat tajam dan dingin ke arah Rama yang ada tepat di hadapannya. Sedangkan Cira duduk tepat di sampingnya.


Tanpa sepengetahuan Bara, Cira menggeleng pelan untuk memberikan isyarat kepada Rama, agar pria itu bisa berpura-pura untuk tidak mengenal dirinya. Tentunya Rama dan asisten pribadinya melihat isyarat tersebut. Rama semakin tersenyum senang, melihat Cira terlihat takut ketahuan. Terlihat lucu dan menggemaskan di matanya.


"Apa maksudmu Bara? Mengenal siapa?" Tanya balik Rama.


"Apa kau mengenal sekretaris ku ini?" Tanya Bara kembali. Dia tidak puas akan jawaban Rama.


Kembali Rama melihat intens ke arah Cira yang terlihat memohon dari sorot matanya. Benar-benar terlihat lucu dan menggemaskan di mata Rama.


"Tidak. Baru kali ini aku melihatnya. Setidaknya kamu kenalkan aku dengan sekretaris baru mu ini. Kau pandai memilih seorang sekretaris. Dia cantik dan manis." Ucap pujian Rama.


Bara semakin terlihat dingin mendengar pujian Rama untuk Cira. Sedangkan Cira semakin salah tingkah di buatnya. Cira takut ketahuan jika dia kenal dengan Rama Ricardo. Cira mencoba untuk mengalihkan perhatiannya ke arah berkas, dan baru kali ini ia membaca berkas tersebut. Berkas kerja sama dengan perusahaan Harmony Grup.


Inilah kesalahannya hari ini, mengapa tidak membaca berkas itu tadi. Seharusnya dia membaca berkas kerja sama itu, agar tahu mereka akan bertemu dengan siapa?


"Sejak kapan kau bisa memuji seorang wanita yang baru saja kau temui, Rama Ricardo?" Tanya Bara tidak puas akan jawaban Rama. Tepatnya tidak suka mendengarkan pujian Rama untuk Cira, istri keduanya itu.


"Sejak melihat dia." Tunjuk Rama ke arah Cira dengan menggunakan ujung matanya.


Mata Cira membulat sempurna karena sikap Rama yang berterus terang.


Kini Bara melihat ke arah sampingnya. Melihat Cira sangat terkejut akan sikap berani Rama.


"Jaga sikapmu." Bisik Bara untuk memberikan peringatan keras terhadap Cira.


Cira berusaha menetralkan dirinya dan melihat ke arah Bara. Tatapan mata keduanya kini bertemu, memandang sejenak dengan pikiran mereka masing-masing. Baik Cira maupun Bara segera memalingkan pandangan mereka.


"Sebaiknya kita selesaikan ini dengan cepat." Kata Bara sembari menyerahkan berkas kerja sama yang harus Rama baca dan teliti lagi.


"Mengapa harus terburu-buru. Kita bisa berbincang sejenak, lagi pula kita sudah lama tidak berjumpa Bara." Balas Rama mencari alasan untuk bersama dan melihat Cira lebih lama lagi.


Rama Ricardo sudah lama menyukai wanita yang ada di hadapannya itu. Sejak satu tahun yang lalu, ketika pertemuan pertama mereka untuk menanda tangani berkas kontrak kerja sama di antara perusahaannya dan organisasi IT milik Elcira Ardelia. Namun sayangnya, wanita yang ia sukai begitu dingin dan bersikap acuh. Membuat seorang Rama Ricardo, semakin merasa penasaran dan ingin terus mendekatinya dengan berbagai cara yang tentunya selalu gagal.


"Aku sibuk hari ini. Ada pertemuan lain yang harus aku hadiri. Jadi cepat baca berkas itu dan kita selesaikan dengan segera." Balas Bara ingin cepat pergi dari hadapan Rama.


Bara kesal melihat Rama tebar pesona kepada Cira. Pria itu tahu Rama tertarik pada istrinya, dan Bara tidak suka melihat sikap Rama yang begitu ramah kepada Cira.


Sedangkan Cira yang mengetahui semua jadwal Bara, cukup heran mendengar perkataan Bara yang mengatakan jika hari ini pria itu memiliki pertemuan lainnya. Cira tahu tidak ada pertemuan apapun setelah pertemuan mereka bersama Rama Ricardo. Itu pertemuan terakhir di hari ini, sesuai jadwal yang Bara miliki.

__ADS_1


Cira melihat ke arah Bara yang terlihat kesal. Cira melihat Bara dan Rama secara bergantian. Ada sesuatu terlihat aneh yang Cira rasakan terhadap dua pria yang ada di dekatnya kini.


"Ayolah Bara. Mengapa kau begitu kaku dan dingin kepadaku." Ucap Rama bersikap biasa dengan duduknya yang santai dan tenang.


"Kau dan aku tahu. Kita sama sama sibuk. Jadi jangan mengulur waktu berharga kita. Cepat baca dan selesaikan itu." Balas Bara tidak mau mengerti apapun yang terjadi.


Rama menghela nafasnya. Ia merasa ada yang tidak beres pada sikap Bara. Kali ini Bara seakan menghindarinya, dan terlalu dingin kepadanya.


"Baiklah. Sebenarnya tidak ada gunanya kau menghindar. Kita akan sering untuk bertemu." Ucapnya, tetapi tatapan mata Rama melihat ke arah Cira.


"Itu berkas yang harus kau baca. Sesuai perjanjian yang sudah kita sepakati. Tidak ada yang berubah dari perjanjian itu, jika tidak ada kendala atau perubahan lagi. Besok atau lusa kita bisa tanda tangani berkas kerja samanya." Ungkap Rama setelah asistennya menyerahkan berkas kepada Bara.


"Akan aku baca nanti. Kalau begitu aku permisi." Tanpa melihat berkas yang di berikan. Bara bangkit dan pamit untuk pergi.


Cira ikut bangkit dan tahu maksud dari tindakan Bara. Wanita itu hanya meraih berkas yang ada di hadapan Bara. Rama ikut bangkit dari duduknya, karena tahu maksud dari sahabatnya itu.


"Sampai bertemu lagi." Ucap Rama sembari mengulurkan tangannya ke arah Bara.


"Sampai bertemu lagi." Balas Bara menyambut uluran tangan Rama.


Rama segera melerai jabatan tangan mereka. Lalu mengulurkan tangannya ke arah Cira. Cira melihat uluran tangan itu dan wajah Rama secara bergantian.


"Sampai bertemu lagi, nona." Kata Rama masih dengan uluran tangannya yang belum di sambut oleh Cira.


Demi kesopanan Cira akhirnya menyambut uluran tangan Rama dengan ragu. Rama menyambar tangan Cira dengan cepat.


Cukup lama mereka saling berjabat tangan. Rama tidak juga melepaskan tangan Cira. Dia hanya tersenyum dan terus memandang ke arah wajah cantik yang selama ini ingin ia temui dan lihat. Sedangkan Cira cukup risih dan berusaha melepaskan tangannya, tetapi tidak bisa.


Ia pun melirik ke arah Bara yang kebetulan juga melihat ke arahnya. Bara tahu maksud lirikan Cira, dengan cepat melerai tangan mereka. Tanpa berkata apa pun Bara menggenggam tangan Cira dan menariknya keluar dari ruangan tersebut.


Tanpa mereka sadari, Rama melihat curiga akan sikap Bara yang tidak biasa. Sedangkan yang terjadi pada Bara dan Cira, mereka berdua melangkah menuju ke parkiran mobil dengan tangan yang terus saling bergandengan.


"Tuan…!" Panggil Cira sembari melihat ke arah tangannya yang di genggam erat oleh Bara. Bara tidak melepaskan genggaman tangan mereka walaupun sudah ada di depan mobil yang akan mereka kendarai.


Bara ikut melihat ke arah tangannya. Kini baru menyadari jika ia tengah menggenggam tangan Cira. Bara menghempaskan tangan Cira begitu saja tanpa rasa bersalah.


"Kau saja yang mengemudikan mobilnya." Ucap Bara mengalihkan perhatian Cira.


Bara melemparkan kunci mobil ke arah Cira. Cira repleks menangkap kunci tersebut dengan herannya. Kemana perginya supir yang tadi mengantarkan mereka?


"Supirnya ke mana tuan?" Tanya Cira ingin tahu.


"Tadi ijin pulang. Anaknya masuk ke rumah sakit." Balas Bara tanpa melihat ke arah Cira.


"Ooooo!" Angguk Cira mengerti.


"Cepat buka. Di sini panas." Keluh Bara karena tidak bisa membuka pintu mobil. Cira belum mengaktifkan tombol buka pada kunci yang ia pegang.


"Cepat…"Bentak Bara.

__ADS_1


"Iya tuan." Sontak Cira terkejut, dan langsung mengaktifkan tombolnya.


Bara masuk dengan membanting pintu mobilnya.


"Kenapa dia selalu marah marah sih. Selalu saja aku yang salah. Dasar pria kejam." Gerutu Cira sembari melangkah masuk dan duduk di balik kemudi mobil.


Cira hanya bisa menghela nafasnya, untuk dapat terus bersabar menghadapi sikap Bara.


"Kita ke kantor tuan?" Tanya Cira pada tujuan mereka.


"Tidak. Pulang." Balasnya singkat.


"Baik tuan." Balasnya dan berpikir. Pulang ke mana jam segini? Cira melihat jam tangannya dan menunjukkan pukul 4 sore. Ini masih jam kerja, apa benar Bara ingin pulang.


"Pulang tuan. Ini masih jam kerja." Ucapnya memberitahukan.


Bara sontak melihat tajam ke arah Cira yang menoleh ke arahnya.


"Aku presdirnya. Aku yang mengatur, kita pulang ke apartemen. Kau mengerti." Balas ketus Bara dengan bentakan demi bentakan.


"Baik tuan." Perkataan Bara cukup baik untuk Cira mengerti.


Cira menghidupkan mobilnya dan mengikuti apa yang di perintahkan oleh Bara. Tanpa mengatakan apapun Cira membawa mereka pulang menuju ke apartemen.


Tanpa Cira ketahui, Bara beberapa kali melirik ke arah depan. Melihat cara Cira mengemudikan mobilnya begitu santai dan cukup ahli membawa mereka dengan nyaman.


Beberapa menit kemudian, mereka sampai di apartemen. Cira melakukan tugasnya sebagai seorang asisten sekaligus sekretaris. Dari menekan tombol lift, hingga menekan tombol kunci apartemen. Mereka masuk ke apartemen yang terlihat sepi.


Cira mencoba mencari keberadaan Mery. Ternyata Mery tidak ada di apartemen, ada sebuah catatan dari wanita itu yang di letakkan di atas meja makan.


"Ada apa?" Tanya Bara melihat Cira sedang memegang sebuah catatan.


"Ini catatan dari Mery, tuan. Dia pergi ke mansion keluarga Daimos. Ada panggilan dari nyonya besar." Jawabnya melihat ke arah Bara.


Bara terdiam sejenak. Ia berpikir, untuk apa Mery datang ke mansion? Apa ada yang di inginkan mamanya? Bara pulang ke apartemen karena tidak ada Mona di mansion. Tadi pagi Mona berangkat ke luar negeri untuk sesi pemotretan dan pembuatan iklan yang sudah lama ia tunggu.


Mona akan pergi selama satu bulan ke depan. Itulah yang dia katakan, dan tertera di dalam kontrak yang Bara ketahui. Jadi untuk apa Mery datang ke mansion jika tidak ada Mona di sana?


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....


Jangan lupa vote dan like nya.


"

__ADS_1


__ADS_2