
***Apartemen Mewah Bara Daimos***
…Elcira Ardelia…
Tiba-tiba om Bara menghentikan langkahnya di hadapanku, dia menatapku dari ujung kaki hingga ke ujung kepalaku. Tatapan dingin dan datarnya sungguh menakutkan, lebih menakutkan dari raut wajah papa angkatku Mike Santoso.
Tatapan mata kami bertemu, aku diam terpaku dan hanya dapat memasang wajah datar tanpa senyum sedikitpun.
"Apa kau tidak bisa berpakaian dengan layak?" Ucapnya tiba-tiba dengan pandangan remeh dan seakan jijik melihat ke arahku.
Aku melihat kembali ke arah penampilan ku, apa yang salah dengan penampilan ku saat ini? Aku merasa tidak ada yang salah, aku menggunakan setelah piyama celana dan baju lengan panjang kain yang biasanya aku pakai untuk tidur.
“Maaf om Bara, apa yang salah? Pakaian saya sudah sopan dan layak.” Jawabku dengan tenang.
“Kau berani menjawabku?” Ucapnya dengan tatapan tajam ke arahku.
“Sepertinya kau harus di beri sedikit pelajaran, agar tahu siapa kau dan siapa aku?” Ucapnya kembali.
Tiba-tiba saja om Bara menarik kasar lenganku dan menarikku ikut dengannya, aku yang terkejut masih berusaha mengimbangi langkah cepat dan panjangnya.
Aku di bawa masuk ke dalam kamar yang berada di lantai dua, tempatku seharian ini berada. Kemudian om Bara membanting keras pintu kamar saat menutupnya. Tubuhku di dorong dengan kasar ke atas lantai, aku tersungkur dengan lengan yang terbentur lantai. Lenganku terkilir dan terasa sakit, namun aku harus menahan rasa sakitnya.
Tatapan tajam membunuh terlihat dari sorot mata om Bara, aku tidak mengerti kesalahan apa yang aku perbuat? Sehingga om Bara marah padaku, aku hanya bisa diam dan takut melihatnya. Ya Tuhan apa yang akan terjadi padaku?
Perlahan-lahan aku menarik mundur tubuhku di atas lantai, tatapan tajam devil om Bara masih menatapku dengan bengisnya. Kilat kebencian terlihat jelas pada sorot matanya, aku takut dan tidak mengerti apa yang sudah terjadi?
Om Bara membuka kasar jas luaran hitam yang ia gunakan dan membuangnya ke sembarang arah. Aku dengan susah payah menelan salivaku, aku benar-benar takut saat ini. Tubuhku bergetar sembari terus merangkak mundur, hingga tubuhku terbentur pinggiran ranjang.
Perlahan om Bara terus melangkah mendekatiku, ikat pinggang yang tadi dia gunakan kini sudah terlepas dari tempatnya. Aku yang sudah terdesak tidak dapat bergerak sedikit pun, ketakutanku semakin menjadi.
Apa yang akan di lakukan oleh om Bara padaku? Ya Tuhan aku takut sekali, tolong aku Tuhan. Hanya berdoa yang dapat aku lakukan saat ini.
Om Bara merendahkan tubuhnya, lalu tiba-tiba mencekik kuat leherku. Aku tidak dapat bernafas, leherku sakit dan tubuhku gemetaran dengan isak tangis yang mulai keluar dari mulutku.
“Jangan pernah menjawab dan melawan semua perkataanku dengan ucapan dan panggilan yang tidak sopan.” Ucapnya dengan tatapan devil dan tekanan yang semakin kuat pada leherku.
Aku mengerti apa maksud om Bara kali ini. Hanya karena aku menjawab perkataannya dengan panggilan yang tidak sopan kepadanya tadi, dia sudah semarah itu padaku. Kini aku tahu dan percaya bahwa rumor yang aku dengar tentang om Bara adalah benar. Dia pria yang kejam, angkuh, dan juga bengis pada siapa pun yang tidak ia sukai.
Om Bara begitu mudah marah kepada siapa pun? Di mana pun dan kapan pun? Hanya karena sebuah jawaban dan panggilan kecil yang menurutnya salah, sedangkan menurutku bisa di rubah dengan sebuah teguran jika memang dia tidak suka. Namun dia tega dan kejam berbuat kasar padaku. Bagaimana jika aku melakukan kesalahan besar? Mungkin saja dia akan membunuhku.
“Maaf....!!” Ucapku dengan susah payah karena cekikkan pada leherku membuat suaraku susah untuk keluar.
“Kau hanya wanita rendahan yang aku beli untuk melunasi hutang keluarga Santoso, jadi ingat posisimu bahkan lebih rendah dari seorang pelayan.” Ungkapnya sembari menekan setiap kata-katanya.
__ADS_1
Hatiku sakit akan perkataannya yang kasar menghinaku. Aku semakin bergetar akan isakkan tangisku, di matanya aku hanya wanita rendahan yang dia beli mahal untuk melunasi semua hutang keluarga angkatku, aku bahkan lebih rendah dari seorang pelayan.
Tatapan iba dari mata dan isakkan tangisku tidak dapat mempengaruhinya sama sekali untuk merasa iba kepadaku, om Bara masih betah pada apa yang ia lakukan padaku? Untuk sekedar menjawab saja aku bahkan tidak berani sama sekali. Aku keluar dari rumah keluarga Santoso dan masuk ke dalam lingkungan keluarga Daimos yang ternyata lebih kejam dari sebuah neraka.
Apakah aku bisa bertahan di dalam lingkungan keluarga Daimos? Apakah aku bisa bertahan menjadi istri kedua dari om Bara yang kejam? Tuan yang kejam dan tidak memiliki rasa iba kepada siapa pun?
“Jangan kau pikir menikah denganku, aku akan bersikap baik padamu. Ingat posisimu, kau bukanlah istriku yang sebenarnya. Kau hanya wanita yang akan menjadi pemuas nafsu dan memberikan aku seorang keturunan.” Ungkapnya dengan tatapan devil sembari menekankan beberapa kata-katanya.
“Dengarkan aku baik-baik wanita rendahan, jika kau tidak bisa memberikan aku seorang anak. Aku akan buat kau mati secara perlahan, karena aku membelimu dengan harga yang sangat mahal untuk bisa melahirkan keturunan yang kami inginkan. Setelah itu kau akan aku buang seperti sampah.” Ucapnya.
Hatiku benar-benar terluka, aku wanita rendahan, aku sampah baginya. Aku hanya sebuah mesin pembuat anak bagi mereka dan pemuas nafsu untuk tuan yang kejam ini.
Ya Tuhan apa salah dan dosaku? Sehingga aku selalu menderita dan memiliki masalah yang tidak pernah kunjung selesai.
Aku berpikir, jika aku menikah hidupku akan menjadi lebih baik. Ternyata aku salah, hidupku bahkan lebih buruk dari sebelumnya.
“Apa kau mengerti perkataanku?” Tanyanya menatapku tajam.
Aku hanya mengangguk dengan pasrah, tidak ada lagi yang bisa aku lakukan. Aku terdesak, aku terpaksa, dan aku tidak memiliki pilihan lainnya lagi.
Om Bara melepaskan dengan kasar cekikkan yang membuat aku terbatuk, leherku benar-benar sakit.
“Ganti pakaian burukmu itu, malam ini layani aku. Apa kau mengerti...??!!” Bentaknya padaku.
“Baik tuan.” Jawabku dengan cepat dan menggunakan panggilan yang sopan menurutnya, karena aku tidak ingin membuat masalah lagi.
Aku mengutuk diriku sendiri, persetujuan yang aku ucapkan adalah hal yang sangat rendah bagiku. Itu artinya aku setuju begitu saja untuk melayaninya malam ini. Aku benar-benar benci situasi ini, namun tidak dapat melakukan apa pun?
“Aku ingin mandi.” Perintahnya menatapku dingin.
Aku mengerti maksudnya, tanpa menjawab perkataannya. Aku bergegas untuk masuk ke dalam kamar mandi. Aku segera menyiapkan air hangat di dalam bathtub, tidak lupa aku menambahkan liquid soap aroma therapi yang tersedia di sana ke dalam air hangat.
Saat aku ingin keluar untuk memberitahukan kepada om Bara, aku tersekat dan terkejut karena kedatangan om Bara yang masuk ke dalam kamar mandi tanpa sehelai benang pun menempel pada tubuhnya.
Aku ingin teriak tetapi aku tidak berani, yang bisa aku lakukan hanyalah menundukkan kepalaku, mataku yang suci ternodai akan pemandangan yang tidak pernah aku lihat dan bayangkan sebelumnya.
“Angkat kepalamu...!! Apa yang kau lakukan?” Ucapnya memberikan perintah.
Aku tidak berani melihat apa yang tidak ingin aku lihat? Aku masih bertahan pada posisi kepala yang masih menunduk.
“Angkat kepalamu...!!” Bentaknya yang sukses membuat aku terkejut dan langsung melihat ke arah wajah om Bara yang mulai marah dan kesal.
Aku sungguh malu saat ini, namun harus aku telan sedalam-dalamnya rasa malu yang aku rasakan. Aku takut om Bara marah dan berbuat kasar lagi kepadaku, rasa sakit pada leherku masih dapat aku rasakan.
__ADS_1
“Apa kau malu melihatku seperti ini?” tanyanya sembari melihatku dingin.
Aku diam tanpa menjawab apa pun? Wajahku terasa sudah menghangat karena rasa malu melihat pemandangan yang menodai mata suciku. Mungkin saat ini wajahku sudah merah padam karena rasa malu yang aku tahan.
“Seharusnya wanita rendahan seperti dirimu sudah pasti sering melihat pemandangan seperti ini. Sudah berapa pria yang menjamah tubuh kotormu itu?” Tanyanya dengan tatapan remeh dan seolah jijik melihatku.
Aku terdiam, untuk ke sekian kalinya perkataan yang di ucapkan oleh om Bara melukai hatiku. Di matanya aku bukanlah wanita baik-baik, aku adalah wanita nista yang kotor dan tidak ada harga dirinya. Aku seakan tidak pantas ada di hadapannya.
Segala kata-kata penghinaan yang aku terima, penghinaan yang aku tidak tahu karena apa dia tega mengucapkannya? Aku hanya diam, rasa sakit akan hinaannya mengalahkan rasa maluku yang tadi aku rasakan.
“Lepaskan semua pakaian kotormu itu, bantu aku menggosok dan membersihkan tubuhku.” Perintahnya sembari melangkah melewati tubuhku dan masuk ke dalam bathtub.
Aku masih diam terpaku pada tempatku berdiri, aku harus melepaskan pakaianku. Bagaimana bisa? Aku tidak bisa melakukan itu.
“Apa kau sudah tuli, cepat...!!” Perintahnya dengan sebuah bentakan lagi.
Om Bara yang sudah berada di dalam bathtub duduk dengan tenang, aku sungguh takut mendengarkan bentakan darinya. Aku melangkah ke arah samping bathtub, posisiku berdiri ada di belakang om Bara.
Aku menelan salivaku sembari menyentuh kancing baju tidurku. Aku terpaksa mengikuti semua perintah dan permintaan om Bara kali ini, tanganku gemetar saat aku berusaha membuka kancing bajuku hingga terlepas semuanya.
“Apa kau tidak bisa bergerak dengan cepat.” Ucapnya dengan nada suara yang masih sama. Bentakan demi bentakan terlontar keras dari dalam mulutnya.
Aku dengan cepat melepaskan semua pakaianku, kini hanya tersisa kain yang menutupi bagian dada dan bagian bawah tubuhku.
“Lepaskan semuanya...!! Jangan coba untuk membantah perkataanku.” Perintahnya lagi.
Sungguh tuan yang sangat suka sekali memberi perintah dan membentak, tentunya semua itu harus aku ikuti tanpa perlawanan sedikit pun.
Aku terpaksa melepaskan semuanya, rasa malu yang aku rasakan saat ini aku telan sedalam mungkin. Lagi pula sesuci apa pun aku, tidak akan mengubah pandangan matanya terhadapku.
Perlahan aku masuk ke dalam bathtub, dan duduk membelakangi om Bara. Ini adalah pengalaman pertamaku mandi bersama seorang pria, dan aku masih dapat bersyukur pria yang bersama denganku saat ini adalah suami sahku sendiri.
Pria yang mempunyai hak penuh akan diriku, walaupun aku tidak menyukainya. Pria yang kini harus aku patuhi dan hormati karena dia adalah suamiku, suami kontrak yang datang secara tiba-tiba. Pria dewasa yang kejam dan dingin, pria yang tidak akan pernah menganggap aku sebagai istrinya.
Pria dewasa yang sangat masih mencintai istri pertamanya, pria yang akan menjadi pengalaman pertamaku dari segi segalanya pengalaman hidupku menjadi seorang wanita yang sudah menikah.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
__ADS_1
Jangan lupa vote dan like nya.