
***Perusahaan Daimos Grup***
Dua wanita cantik nan anggun yang berbeda usia kini menjadi pusat perhatian dari beberapa orang yang mereka lewati. Beberapa karyawan perusahaan Daimos grup, tahu siapa Mona Daimos? Nyonya muda keluarga Daimos.
Namun mereka terlihat penasaran pada seorang wanita muda yang terlihat tidak kalah cantik dari nyonya muda mereka, terlihat sama anggun dan elegan dari Mona Daimos. Wanita yang melangkah tepat di belakang istri dari presdir mereka.
Beberapa bisikkan dapat di dengar oleh Mona dan Cira. Banyak yang mempertanyakan siapa wanita muda yang bersama dengan artis papan atas yang sedang naik daun itu? Pasalnya tidak sembarangan orang yang bisa berada dekat dengan wanita populer tersebut.
Baik Mona maupun Cira tidak ambil pusing tentang bisikkan mereka, karena hal itu tidak terjadi terlalu lama. Semua mata yang memandang dan mulut yang berbisik segera menghindar akan kedatangan seseorang yang menyambut kedatangan sang artis.
"Selamat datang sayang." Sambut Bara sembari mengecup sekilas bibir ranum Mona dan memeluk tubuh yang sangat ia rindukan sejak semalam.
Tanpa Bara sadari akan sosok Cira yang melihat sikap mereka berdua. Terlihat jelas jika Bara begitu mencintai istrinya itu, terlihat jelas betapa mereka berdua saling menyayangi dan mencintai.
Cira terpaku pada tempatnya menyaksikan semuanya dengan raut wajah datar. Dalam hatinya begitu banyak pertanyaan yang terlintas akan hubungan rumah tangga yang sebenarnya di jalani oleh Bara dan Mona.
'Mereka terlihat jelas saling menyayangi dan mencintai. Tapi mengapa tante Mona begitu saja setuju untuk mengizinkan suaminya menikah lagi dengan ku? Ada apa sebenarnya pada hubungan mereka?' Gumam Cira di dalam benaknya.
Matanya melihat sikap mesra Bara begitu jelas terlihat tidak ingin kehilangan wanitanya. Sehingga Bara sendiri yang langsung menyambut kedatangan dari sang istri dengan sikap ramah dan hangat. Cira melihat jelas tidak ada sikap angkuh dan dingin itu dari pria yang terlihat berbeda jika bersamanya. Sikap Bara terhadap Mona hangat dan lembut, sikap Bara sangat berbanding terbalik kepada Cira.
"Mengapa kamu turun sayang. Aku bisa naik menemuimu di ruangan." Balas Mona tersenyum senang karena sambutan dari Bara.
"Aku merindukan mu sayangku." Sahut Bara dengan senyum yang menambah aura ketampanan wajahnya. Beberapa karyawan yang melihatnya terpesona akan raut wajah yang begitu langka berada pada wajah presdir mereka.
Bara menggenggam erat tangan Mona. Begitu juga Mona yang tidak ingin lepas dari suaminya tersebut.
"Aku juga merindukanmu." Kata kata Mona membahagiakan bagi Bara.
"Ayo…!" Ajak Bara sembari menarik lembut tangan Mona.
Mereka mulai melangkah beriringan. Tetapi tidak dengan Cira yang masih terpaku pada tempatnya, Cira masih betah pada pemikirannya saat ini. Hingga teguran dari asisten Kai membuyarkan lamunannya, sukses juga mengalihkan pandangan Mona dan Bara yang baru beberapa langkah.
"Nona…! Nona…!" Tegur Kai mencoba menyadarkan Cira dari lamunannya.
"Nona Elcira…!!" Tegur Kai sukses menghentikan langkah Mona dan Bara hingga melihat ke arah belakang mereka.
Kini Bara baru menyadari kehadiran Cira di sana. Tatapan mata Cira dan Bara bertemu di saat Cira sadar, dan tanpa sengaja melihat ke arah Bara untuk beberapa detik.
"Iya…!" Balas Cira segera mengalihkan pandangan matanya.
"Mari nona…!" Ucap Kai mempersilahkan Cira untuk ikut melangkah.
Cira berusaha menetralkan perasaan dan sikapnya, sembari menganggukkan kepalanya tanda setuju ia pun ikut melangkah. Pandangan matanya kembali melirik ke arah mata dingin Bara saat melihat ke arahnya. Segera Cira alihkan ke arah Mona yang juga melihatnya.
"Ada apa?" Tanya Mona kepada Cira yang datang mendekat.
Bukan Cira yang menjawab, tetapi Bara yang malah bertanya akan kehadiran Cira di sana.
"Dia datang bersamamu?" Tanya Bara melihat ke arah Mona.
__ADS_1
"Iya." Balas Mona sembari menganggukkan kepalanya melihat ke arah suaminya tersebut.
Dapat Mona lihat bagaimana perubahan mimik wajah Bara saat melihat kehadiran Cira di sana, begitu dingin dan terlihat tidak suka. Mona tahu jika suaminya itu benar-benar tidak suka akan kehadiran Cira bersama mereka.
"Untuk apa dia ke sini?" Tanya Bara begitu terdengar jelas ketidak sukaannya terhadap kehadiran Cira di sana.
"Nanti aku jelaskan padamu, ayo kita ke ruangan dulu. Tidak baik menjadi pusat perhatian beberapa karyawan mu di sini." Peringatan Mona sedikit berbisik saat kalimat terakhirnya sembari melihat ke sekeliling mereka. Beberapa lirik mata memang memperhatikan mereka.
Bara tahu maksud dari Mona. Tanpa banyak berkata, pria itu segera menarik tangan istrinya dan melangkah masuk lift khusus presdir menuju ke ruangannya yang ada di lantai paling atas.
Di dalam lift atau perjalanan menuju ke ruangan tidak ada suara sedikitpun. Semuanya diam seribu bahasa, raut wajah Bara masih setia datar dengan tatapan matanya yang dingin. Sang asisten terlihat datar datar saja. Cira terlihat terus berusaha menyembunyikan kegelisahannya di balik wajah datarnya. Sedangkan Mona tersenyum tipis melihat sikap Bara yang tidak suka akan kehadiran Cira.
Mona menangkap sikap Bara benar-benar tidak peduli dan terlihat jelas benci akan kehadiran istri keduanya itu. Mona puas jika Bara tidak memiliki rasa peduli terhadap Cira sedikitpun, yang artinya perhatian dan perasaan hati Bara masih hanya untuknya.
Mereka masuk dan segera duduk pada sofa yang ada di dalam ruang presdir yang di tempati oleh Bara. Cira melihat takjub pada ruangan mewah dengan interior mahal tersebut.
"Apa maksud mu membawanya ke sini?" Tanya Bara tanpa basa basi dengan lirikkan matanya sinis melihat ke arah Cira yang masih berdiri di belakang sofa Mona.
Bukannya menjawab pertanyaan suaminya, Mona melihat ke arah Cira yang ada di belakang.
"Cira, duduklah…!!" Perintah Mona kepada Cira.
Cira yang tidak dapat membantah hanya mengikuti apa yang di katakan oleh Mona. Ia pun duduk pada sofa tunggal yang ada tepat di hadapan Bara. Tatapan matanya melihat ke arah Mona dan Bara secara bergantian.
"Aku membawa Cira ke sini, agar dia tahu dan mengenal perusahaan ini." Ucap Mona menatap serius Bara yang mengerutkan keningnya melihat ke arah istrinya tersebut.
Cira terdiam dengan menundukkan kepalanya, belum jelas tujuan kedatangannya ke perusahaan itu. Bara menolaknya terlebih dahulu, ada yang terasa nyeri teremas akan penolakan yang sudah ia duga akan terjadi.
"Sayang. Bagaimana juga kalian berdua harus menjadi dekat, agar apa yang kita inginkan cepat terwujud dan semua ini akan cepat berlalu." Balas Mona.
"Apa maksudmu?" Tanya Bara serius.
"Sayang…!" Ucap lembut Mona melihat serius suaminya tersebut.
"Jika kalian selalu bersama untuk beberapa bulan, itu akan baik agar kalian memiliki sedikit kedekatan, bagaimana juga rencana kita yang ingin memiliki anak harus cepat terlaksana." Jelas Mona yang membuat Bara semakin tidak mengerti.
"Apa hubungannya anak dengan menjadi dekat dan selalu bersama di perusahaan ini?"
"Sayang…aku hanya ingin kalian dekat sebatas saling mengenal. Bagaimana bisa ingin memiliki seorang anak, tapi kalian berdua tidak saling mengenal di antara kalian?" Jelas Mona terlihat serius.
"Hanya beberapa bulan saja Cira akan bekerja di sini bersamamu, sampai kalian berdua cukup saling mengenal, atau sampai Cira berhasil hamil." Jelas Mona pada apa yang menjadi keinginannya.
"Apa…?" Bara terkejut akan perkataan Mona.
"Sayang…tolong jangan membantah dulu, ini demi anak yang kita inginkan. Lagi pula tidak ada salahnya kalian saling mengenal dan menjadi sedikit dekat. Lagi pula kalian sudah sah…!!" Ucap Mona terdengar berbisik saat kalimat terakhirnya.
"Mona…apa kamu sadar dengan apa yang kamu bicara sekarang?" Tanya Bara yang tidak dapat mengerti jalan pikiran istrinya tersebut.
"Aku sadar sayang. Aku tahu jika kamu tidak akan sering-sering datang menemui Cira di apartemen, jika seperti itu bagaimana bisa Cira bisa cepat hamil." Sahut Mona dengan sedikit merajuk ke arah Bara, dia tahu Bara tidak setuju akan idenya tersebut.
__ADS_1
Bara terdiam, dia tahu keinginan Mona tidak akan dapat di belokkan lagi. Bara yang memang tidak menyukai Cira, tentu saja tidak akan setuju. Namun dia tidak bisa juga untuk membantah ide Mona, yang akan membuat wanitanya kecewa terhadap dirinya.
"Mona…!!"
"Sayang aku mohon… hanya beberapa bulan saja sampai Cira berhasil mengandung anak kita. Setelah itu kalian tidak akan bertemu lagi, dan kembali ke kehidupan kalian masing-masing." Ucap Mona memotong bicara Bara.
Bara tahu semua larangan dan sikap protesnya tidak akan berhasil. Rahangnya mengeras dan genggaman tangan Bara kuat menahan rasa marah akan ide gila istrinya tersebut. Bagaimana bisa ia akan bertemu dan bersama seseorang yang tidak ia sukai setiap detiknya?
"Apa yang bisa ia lakukan di perusahaan ini? Pekerjaan apa yang akan cocok untuknya?" Ucap tegas Bara dengan tatapan tajam matanya melihat ke arah Cira yang hanya menundukkan kepalanya.
Tanpa mereka ketahui jika Cira tengah menahan gejolak rasa sakit dan marah yang bersamaan hadir di hatinya, akan perdebatan sepasang suami-istri yang sedang membicarakan dirinya.
Semua perkataan Mona dan Bara menorehkan rasa sakit di dalam hati Cira. Keduanya menggampangkan kehidupan Cira, mengatur jalan hidupnya. Cira hanya dapat diam menyimak dan menerima dengan menahan semua gejolak sakit dan marah yang ia rasakan.
"Asisten pribadi atau sekretaris pribadi juga boleh." Sahut Mona menyarankan.
"Keduanya aku sudah punya." Tolak Bara masih berusaha menggagalkan niat Mona.
"Cira akan menjadi asisten sekaligus sekretaris pribadi kedua yang kamu miliki mulai sekarang." Balas Mona mutlak dengan tatapan tegas.
Bara terdiam, dia tahu tidak bisa membantah. Jika tidak pertengkaran yang akan terjadi di antara mereka.
Bara menghela nafasnya yang terdengar berat.
"Mona…ini perusahaan besar, aku tidak bisa mempekerjakan seseorang yang tidak profesional pada pekerjaan yang akan mereka jalankan." Bara masih berusaha menggagalkan niat Mona secara halus.
"Sayang…!" Ucap Mona meraih tangan Bara.
"Aku tahu bagaimana dirimu yang sangat profesional dalam pekerjaan. Jadi aku tidak akan memberikan masalah kepadamu." Balas Mona dengan senyum, kemudian melihat ke arah Cira yang masih menundukkan kepalanya.
"Kamu harus tahu, jika Cira memiliki kemampuan yang kamu inginkan dalam perusahaan ini. Dia cukup baik di dalam dunia bisnis. Cira adalah lulusan terbaik pada universitas ternama, dia akan banyak membantu di perusahaan ini. Lagi pula hanya menjadi asisten dan sekretaris pribadi selama beberapa bulan saja, tidak akan lama." Jelas Mona masih ingin menjalankan apa yang sudah ia rencanakan.
"Sedikit informasi yang akan membuat mu menerima Cira di perusahaan ini." Ucap Mona sembari menyerahkan sebuah flashdisk ke tangan Bara dengan senyum kemenangan.
Bara masih terlihat datar melihat ke arah Mona, lalu melihat ke arah flashdisk yang ada di tangannya.
Bara menyerahkannya kepada Kai untuk pengecekan, apa yang ada di dalamnya? Kai segera melakukan apa yang harus ia lakukan.
Begitu flashdisk menampilkan sesuatu di dalam laptop, Bara terlihat serius dan sesekali melihat ke arah Cira yang masih setia pada tunduknya. Mona tersenyum puas akan rencana yang berjalan lancar seperti keinginannya.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya.
__ADS_1