
***Apartemen Mewah Bara***
Bara melihat sejenak ke arah Cira, lalu berkata.
"Buatkan aku kopi dan aku juga mau potongan buah. Bawa ke ruang kerjaku." Perintah Bara.
"Iya tuan." Balas Cira yang masih berdiri pada ruang makan.
Bara melangkah menuju ke ruang kerjanya yang ada di lantai bawah, dekat ruang keluarga. Cira melakukan apa yang Bara inginkan. Ia menyiapkan potongan buah Apel, semangka, dan anggur yang ada di kulkas. Tidak lupa kopi pahit untuk Bara.
Sedangkan Bara kini tengah berbicara pada mamanya yang menghubungi lebih dulu.
"Aku masih ada di kantor." Jawab Bara berbohong saat mamanya bertanya keberadaannya kini.
"Mona pergi lagi."
"Iya Ma…"
"Mery ada di sini, karena tidak ada orang di apartemen mu. Jadi tempat itu tidak memerlukan Mery untuk sementara waktu. Mama akan mengirim satu pelayan untuk merawat apartemen mu."
"Tidak perlu Ma…Biarkan saja sampai Mery datang."
"Baiklah."
"Bara…!" Panggil sang mama. Bara tahu apa yang akan mamanya katakan.
"Ma…Bara tahu apa yang ingin mama bicarakan. Tolong Ma, berikan Bara waktu untuk berpikir."
"Sampai kapan Bara? Sudah terlalu banyak waktu yang mama dan papa berikan padamu dan juga Mona. Ingat sayang, waktu terus berjalan dan usia terus bertambah. Usia mu sudah sangat matang untuk memiliki seorang anak."
"Aku tahu Ma.…!"
"Bara…mama sudah memiliki calon untuk mu. Mama tidak ingin ada penolakan lagi." Keputusan sang mama ingin semuanya jelas.
"Ma…!"
"Sudahlah Bara. Mama tahu kamu sangat mencintai Mona. Tapi cinta tidaklah cukup untuk hidup di masa depan, kamu harus memiliki seorang keturunan untuk melanjutkan masa depan keluarga Daimos."
Bara terdiam, percuma ia terus melawan keinginan sang mama.
"Setidaknya temuilah satu kali calon yang mama maksudkan. Mama akan bicarakan ini juga pada Mona. Keputusan kalian meminta waktu lebih lama, tidak dapat mama berikan lagi. Kami selaku orang tua kamu, akan bertindak tegas untuk kebaikan kita bersama."
Bara terdiam, Urusan pribadinya sangat menguras emosi, pikiran, dan juga perasaannya. Bara melihat kedatangan Cira masuk ke dalam ruang kerjanya. Ia pun berpikir, untuk apa ia menemui calon dari sang mama kalau sudah ada Cira di sini. Dia sudah memiliki istri kedua yang akan melahirkan anak untuknya. Cira lah yang sudah di pilih oleh Mona untuk melahirkan anaknya, dan itulah kenyataanya saat ini.
"Berikan aku waktu satu bulan lagi Ma…setelah itu lakukan apapun yang mama inginkan." Balas Bara sembari melihat ke arah Cira.
"Tapi nak…itu terlalu lama."
"Satu bulan Ma.... Hanya satu bulan."
__ADS_1
"Baiklah nak…Mama berikan kamu waktu selama satu bulan, setelah itu keputusan sudah final dan tidak dapat di ganggu gugat lagi."
"Baik Ma…."
Saat mamanya akan membalas, Bara memutuskan sambungan tersebut terlebih dahulu. Bara melangkah mendekati di mana Cira berdiri melihat ke arahnya.
'Ada apa lagi dengannya?' Gumam Cira di dalam hatinya melihat tatapan mata Bara yang tidak biasa.
"Pergilah ke kamar. Persiapkan dirimu, satu jam lagi aku akan menyusul. Kau mengerti." Ucap Bara berterus terang.
Dalam pikiran Bara saat ini ingin melakukan yang seharusnya di lakukan oleh sepasang suami-istri yang ingin memiliki seorang anak. Bara harus lebih giat dan bekerja keras lagi untuk mewujudkan apa yang ia dan Mona inginkan dari Cira. Seorang anak yang menjadi masalah dalam hubungannya bersama Mona.
Cira mengerti apa maksud dari keinginan Bara. Dia tidak bodoh dan bukan anak remaja yang masih polos. Cira adalah wanita dewasa yang sudah mengerti apa itu artinya kedewasaan dalam menjalankan hidup.
"Baik tuan. Saya mengerti." Balas Cira sembari menelan salivanya.
Sungguh Cira sangat malu, jika Bara meminta secara terang-terangan seperti ini. Namun itu tidak ada gunanya. Pasrah dan mengikuti permainan mereka, itulah yang sekarang akan Cira lakukan.
Cira melangkah pergi keluar dari ruangan itu. Meninggalkan Bara yang diam terpaku di tempatnya melihat kepergian Cira.
"Kau harus cepat hamil anakku dalam satu bulan ini. Jika tidak, semuanya akan menjadi kacau." Gumamnya. Perkataan sang mama cukup mempengaruhinya sekarang.
Bara duduk pada sofa yang ada di sana. Pria itu menikmati kopi buatan Cira yang sangat pas dengan seleranya. Bahkan Mona yang sudah menjadi istrinya selama 5 tahun lebih, tidak bisa membuat kopi senikmat yang Cira buat sekarang.
Bara duduk merenungi semua yang telah terjadi di dalam hidupnya. Kebahagiaannya bersama Mona perlahan memudar, tidak ada canda tawa dan kehangatan seperti dulu.
Sejak Mona kehilangan rahimnya, ia yang putus asa dan merasa bersalah pada Bara. Mulai menyibukkan dirinya dengan karir yang ia miliki. Bara hanya bisa mendukung apa yang di sukai oleh Mona, agar wanita yang ia cintai itu tidak terus menerus menyalahkan dirinya karena tidak bisa memberikan Bara seorang keturunan.
Semakin lama, Bara menjadi terbiasa akan sikap Mona yang berubah sesuka hatinya. Namun karena rasa cintanya dan merasa bersalah Mona telah kehilangan rahimnya. Bara berusaha menerima perubahan itu hingga saat ini. Apakah itu dapat di katakan sebuah cinta atau rasa iba? Bara pun tidak menemukan jawaban atas itu.
Satu jam telah berlalu. Bara masuk ke dalam kamarnya, ia melihat ke arah Cira yang sedang duduk berselojor di atas ranjang sembari bermain ponselnya. Cira sudah menggunakan gaun santai dan terlihat segar setelah mandi.
Saat Bara mendekatinya, Cira turun dari ranjang. Tatapan mata Bara kini berbeda dari sebelumnya. Tatapan sendu dan terlihat lelah. Cira tahu itu dan dapat melihat dengan jelas.
"Akan saya siapkan air hangat untuk anda mandi, tuan." Ucap Cira tahu harus melakukan apa.
Tidak ada jawaban dari Bara. Cira menjadi gugup akan tatapan berbeda Bara kepadanya. Wanita itupun ingin menghindar dan pergi ke arah kamar mandi. Baru beberapa langkah, lengannya di tarik dari arah belakang dan sebuah tangan besar melingkar pada perutnya.
Cira diam terpaku. Bara kini memeluk Cira dari arah belakang. Kepalanya ia rebahkan pada bahu Cira, dan berkata.
"Tetap seperti ini." Gumam Bara pelan.
Terdengar rapuh dan lelah. Itulah yang Cira tangkap dari nada bicara Bara. Pria yang biasa ketus dan kejam, kini terlihat lemah dan lesu.
"Apa tuan sakit?" Tanya Cira memberanikan diri.
"Sakit. Sangat sakit." Balasnya masih dengan nada yang sama.
Cira diam dan berpikir. Apakah Bara benar-benar sakit? Ataukah ada yang membuatnya merasa sakit?
__ADS_1
"Tuan sakit apa?" Tanya Cira ingin tahu.
Bara diam sejenak. Di saat hatinya merasa begitu lelah, Bara merasakan rasa nyaman saat memeluk tubuh Cira. Aroma tubuh Cira mampu menenangkan hati dan jiwanya. Begitu lembut dan wangi. Rasa sakit itu sebenarnya ada di hati dan pikirannya, bukan pada bagian tubuhnya yang terlihat.
"Hatiku sakit. Semua membuatku sakit." Ucap Bara terdengar benar-benar begitu rapuh.
Kini Cira tahu, jika Bara saat ini benar-benar rapuh dan sakit akan apa yang terjadi dalam hidupnya. Bukan dia saja yang menderita, tapi pria yang memeluknya juga menderita. Apakah ini kesempatan Cira untuk membalas semua perbuatan mereka.
Cira ingin mencobanya. Pembalasannya harus terlaksana dengan sukses. Mereka harus merasakan apa yang Cira kini rasakan. Sakit, putus asa, dan kehilangan. Mereka harus merasakannya juga.
Perlahan Cira membalik tubuhnya menghadap ke arah Bara. Begitu gugup, sehingga ia harus menelan salivanya dengan susah payah. Matanya memandang teduh Bara yang juga melihat ke arahnya. Dapat Cira lihat dalam sorot mata itu ada kesedihan dan kelelahan yang mendalam.
"Apa saya boleh menyentuh anda, tuan?" Tanyanya.
Bara yang begitu dalam memandang mata Cira hanya mengangguk tanda mengiyakan. Perlahan Cira mengalungkan kedua tangannya pada leher Bara, dengan gerakkan yang lembut Cira mendekatkan bibinya pada bibir Bara.
Kecupan demi kecupan Cira lakukan, Bara masih diam tanpa perlawanan. Hanya lengannya yang masih setia melingkar pada pinggangnya. Beberapa kali kecupan yang Cira lakukan, tidak di balas oleh Bara.
Cira melepaskan ciumannya dan memandang dalam mata Bara.
"Tuan tidak menginginkannya?" Tanya bisik Cira terdengar lembut dan sedikit manja.
Bara diam tidak membalas. Cira menjadi malu sendiri, pada akhirnya Cira menghentikan semua gerakkannya. Namun dengan tiba-tiba, Bara menahan tengkuknya dengan satu tangan dan mencium bibirnya dengan panas.
Tentu saja perlakuan Bara akan di sambut dengan senang hati oleh Cira. Jalan pembalasannya akan di mulai, hingga pada akhirnya Cira ingin menjadi pemenangnya. Walaupun ia harus menjadi wanita murahan di mata Bara, Cira tidak peduli. Balas dendam adalah tekat dan tujuannya sekarang.
Pagutan panas mereka saling menyambut dan membalas. Pelukkan keduanya begitu erat seakan tidak ingin lepas. Perlahan tapi pasti Cira melepaskan satu per satu kancing kemeja yang di pakai oleh Bara, hingga kemeja itu terlepas dari tempatnya.
Pagutan panas mereka berdua meminta lebih dari itu. Resleting belakang dress yang Cira gunakan terbuka perlahan oleh tangan Bara. Menurunkan Ciumannya pada leher jenjang dan putih Cira, memberikan sebuah kecupan panjang yang meninggalkan bekas kemerahan di sana.
Dress yang di gunakan Cira jatuh melorot ke atas lantai. Sedangkan celana Bara sudah tidak ada pada tempatnya lagi. Keduanya kini hampir polos, hanya tertinggal penutup yang menutupi bagian sensitif mereka.
Bara menuntun Cira ke atas tempat tidurnya. Perlakuan lembut Bara membakar tubuh Cira hingga merasakan panas ingin meminta lebih. Bara membuka pengait kedua benda kenyal milik Cira dan membuangnya ke sembarang tempat.
Tubuh Cira kini telah rebah ke atas ranjang. Remasan lembut pada dua benda kenyalnya, membuat Cira mengeluarkan suara yang mampu membakar hasrat Bara.
"Aaaaa… tuan…!" Rintihnya.
Bara semakin menggila saat merasakan hangat dan kenyal benda lembut itu. Melahapnya dengan beberapa kali sesapan lembut Bara, mampu membakar tubuh Cira yang merasakan kenikmatan luar biasa. Tanpa sadar tangan Cira memeluk kepala Bara, memperdalam apa yang Bara lakukan pada dua benda kenyalnya yang telah mengeras dengan sempurna.
Apa yang terjadi selanjutnya…? Sesuatu hal yang membawa keduanya ke Nirwana. 🤭🤭Baca kelanjutannya di bab selajutnya ya…
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
__ADS_1
Jangan lupa vote dan like nya.