
***Perusahaan Daimos Grup***
Pepatah mengatakan. Jika tak kenal, maka tak sayang. Apakah pepatah ini akan berlaku pada hubungan Elcira Ardelia dan Bara Daimos. Hanya waktu dan takdir hidup mereka yang akan menjawabnya.
Suatu hubungan yang di awali dengan apapun alasannya, jika sebuah hubungan pernikahan yang sudah di dasari akan kata SAH di mata Tuhan. Akan mendapatkan berkat dariNYA. Tuhanlah yang akan menentukan, apakah ikatan hubungan itu akan terputus di pertengahan ataukah berlanjut hingga maut memisahkan mereka. Tidak akan ada yang tahu.
Dua insan yang mulai dekat dan saling mengenal di antara mereka. Seiring berjalannya waktu, ikatan sebuah hubungan dekat akan mulai tumbuh sebuah perasaan yang tanpa mereka sadari. Hubungan yang akan terjalin kuat dan mulai saling membutuhkan.
Hubungan yang memiliki tujuannya sendiri, akan mendapatkan hasil yang terkadang berbeda dan berada pada hasil yang tidak mereka harapkan. Kesalahan bisa saja terjadi di dalam sebuah hubungan. Kegagalan bisa tercapai jika sebuah hubungan tidak sesuai dengan yang di inginkan. Keberhasilan dalam hubungan akan di dapatkan ketika mereka menemukan kebahagiaan cinta.
Begitu juga dengan tujuan Bara Daimos yang mengikuti keinginan Mona, mereka menginginkan seorang anak dari jasa ibu pengganti dalam pernikahan kontrak yang kini mereka jalankan. Apakah Bara benar-benar murni tidak akan memiliki perasaan apapun terhadap Cira, istri keduanya? Jika wanita yang tidak ia sukai dan benci dapat memberikannya seorang anak kandung.
Begitu juga dengan Cira yang merasa menjadi korban akan keegoisan Bara dan Mona. Cira yang tidak bersalah mendapatkan begitu banyak rasa sakit hati akan kejamnya perlakuan Bara. Kehilangan cinta dan kekasih hatinya, di paksa melakukan semua yang tidak ia inginkan. Cira berada di dalam balas dendam yang ingin ia lakukan. Apakah Cira mampu membalas dendam dengan membawa nama Cinta dan Anak yang akan ia lahirkan di masa depan.
Tidak ada yang tahu akhir dari cerita mereka. Takdir dan waktu yang akan menjawab siapa yang akan menjadi pemenangnya, dan mendapatkan kembali kebahagiaannya di dalam hidup.
...--------------------------------...
Sepanjang pagi Cira berusaha membuat perasaannya nyaman dari rasa malu akan kejadian semalam. Sedangkan Bara cukup terhibur akan sikap malu Cira, terkadang ia akan tersenyum tipis secara diam-diam.
Cira yang sedang berusaha bersikap biasa kepada Bara, melakukan tugasnya sebagai seorang istri. Menyiapkan air hangat untuk Bara mandi, pakaian kantor untuk Bara gunakan, makanan untuk Bara sarapan, dan bahkan Bara meminta Cira untuk memasangkan dasi kepadanya. Cukup aneh bagi Cira, tetapi cukup menghibur bagi Bara.
"Apa kau tidak nyaman?" Tanya Bara ketika Cira tengah memasangkan dasi untuk Bara.
"Tidak tuan. Saya cukup nyaman." Balas Cira dengan senyum manis yang berusaha ia tampilkan.
"Kalau begitu kan bagus." Ucap Bara sembari menarik pinggang Cira mendekat padanya.
Cira tidak dapat menolak, hanya dapat pasrah saja.
"Lakukan ini setiap pagi, kau mengerti."
"Mengerti tuan." Balas Cira setelah selesai memasangkan dasi kepada Bara.
"Terima kasih." Bara mengecup sekilas bibir yang kini terlihat segar dengan waran merah muda yang cocok pada wajah Cira.
Cira terdiam kaku akan perlakuan manis Bara di pagi hari. Mulutnya terbuka karena tidak percaya, sedangkan Bara berlalu keluar dari kamar dengan senyum senangnya pagi ini. Bara merasakan kebahagiaan tersendiri ketika berhasil menggoda Cira, istri keduanya itu.
"Cepat, nanti kita terlambat." Kata Bara dari ambang pintu saat akan keluar kamar.
__ADS_1
"iya tuan." Gerakkan Cira secepat yang ia bisa, meraih tasnya dan menyusul Bara.
Mereka akan sarapan berdua, sekaligus berangkat kerja bersama. Tentunya sudah ada Kai yang menunggu mereka di dalam mobil pada parkir basement apartemen.
Begitu lah yang mereka lakukan setiap harinya, seperti yang Bara inginkan. Bara sementara akan tinggal di apartemennya bersama Cira, selama Mona berada di luar negeri untuk urusan pekerjaan modelingnya selama satu bulan.
Datang ke kantor dan pulang bersama mereka lakukan setiap hari, satu orangpun tidak ada yang curiga. Bara mulai terbiasa akan kedekatannya dengan Cira, bahkan Bara akan meminta Cira untuk makan siang dengannya jika ada kesempatan ketika Lian tidak ada. Lian belum mengetahui hubungan dekat antara bosnya dan Cira beberapa minggu ini.
Hari demi hari telah berlalu menjadi minggu. Minggu demi minggu telah berubah menjadi bulan. Hubungan antara Cira dan Bara mengalami peningkatan, walaupun masih terasa aneh bagi Cira yang terkadang selalu mendapatkan sikap manis dan baik Bara kepadanya. Cira hanya dapat pasrah dalam menjalani apa yang Bara inginkan darinya.
Cira belum menyadari, jika perasaan Bara yang sudah tergantung pada sikap patuh dan baik Cira dalam melayaninya. Merubah perasaan Bara menjadi nyaman dan terus ingin selalu dekat dengan istri keduanya itu. Cira hanya terus berusaha untuk membuat Bara jatuh cinta kepadanya, tanpa mereka sadari sebuah benih cinta dan kasih sayang kini tumbuh di dalam diri mereka masing-masing.
Ketika hubungan Cira dan Bara mulai dekat dan baik baik saja. Tidak dengan hubungan Cira dan Bayu yang berjalan sulit saat ini.
Bayu yang berusaha ingin selalu dekat bersama Cira, selalu mendapatkan kendala. Baik dari Bara, Kai dan juga Cira sendiri. Bayu selalu gagal pada setiap kesempatan yang ia usahakan. Namun bayu tidak pernah putus asa, selama hampir dua bulan ini Bayu terus mencari kesempatan untuk bisa mendekati kekasihnya itu.
Kesempatan itu pun datang, ketika Bayu dan Cira tidak sengaja bertemu di dalam lift yang akan membawa mereka turun ke lantai bawah.
Cira meminta ijin kepada Lian untuk pergi ke ruang kesehatan. Sejak kemarin Cira merasa tubuhnya kelelahan dan tidak memiliki tenaga. Bagaimana bisa memiliki tenaga ekstra ataupun tenaga cadangan. Kalau Bara selalu meminta jatahnya kepada Cira hampir setiap malam. Cira kewalahan akan hasrat Bara yang tinggi, tetapi Cira tidak dapat melakukan apapun atau menolak keinginan Bara.
"Mau ke mana? Kamu pucat, apa kamu sakit sayang?" Tanya khawatir Bayu melihat betapa pucat wajah Cira yang terlihat lemas.
"Aku merasa tidak enak badan." Jujur Cira dengan apa yang ia rasakan pada tubuhnya.
"Iya." Angguk Cira lemah.
"Aku antar ya."
Saat Cira ingin menolak niat baik Bayu. Pria itu lebih dulu berkata.
"Tolong jangan tolak niat baikku ini. Aku sangat merindukan mu." Ungkap apa yang Bayu rasakan di hatinya selama ini.
"Om Bara terlalu kejam padaku. Kamu juga sama." Ucapnya merajuk. Cira merasa bersalah.
"Apa maksudmu kami kejam?" Tanya Cira, dia berpikir apakah Bayu sudah curiga akan pernikahannya bersama Bara?
"Om Bara kejam selalu saja menghalangi jalanku untuk mendekatimu di kantor ini. Ada saja ulahnya dengan memakai atas nama jabatan tingginya, membuat aku tidak dapat berkutik. Kamu juga kejam padaku, tidak pernah memberikan waktu untuk kita sekedar bertemu sedetik saja. Kamu memiliki banyak alasan yang membuat aku selalu mengalah." Ungkap Bayu akan perasaannya selama ini.
Cira terdiam. Ia tahu Bayu kini menderita akan ulah Bara yang terus berusaha memisahkan mereka berdua. Cira juga merasa bersalah pada setiap penolakannya kepada Bayu selama dua bulan ini. Cira menolak Bayu, agar hatinya mulai belajar untuk menjauh dari Bayu dan mulai memudarkan perasaan cintanya kepada Bayu.
__ADS_1
"Maafkan aku. Aku bersalah padamu." Balas Cira dengan menundukkan kepalanya, wanita itu tidak berani untuk menatap wajah dan mata Bayu.
Cira benar-benar bersalah kepada Bayu. Bersalah telah berbohong dan menghindari pria yang dulu sangat ia cintai.
Bayu melihat kesedihan itu pada wajah kekasihnya, ia pun luluh akan rasa cintanya yang besar terhadap Cira.
"Maafkan aku yang egois. Aku tahu kamu ada pada posisi yang juga sulit. Kita berdua tidak bersalah, Om Bara lah yang bersalah di sini." Balas Bayu dengan senyum yang ia tampilkan mencoba untuk menghibur Cira.
Cira melihat ke arah Bayu. Senyum tulus Bayu begitu menghangatkan hatinya. Itu menandakan hatinya masih dapat merasakan cinta untuk Bayu. Cira semakin merasa bersalah.
"Lihat betapa pucatnya wajahmu ini. Om Bara terlalu kejam, karena membuatmu bekerja keras selama dua bulan ini." Ucap Bayu sembari melihat intens ke arah wajah Cira yang terlihat pucat.
"Aku antar kamu sampai ke ruang kesehatan ya. Tolong jangan menolak, tidak ada Om Bara di dini. Jadi kita aman." Ucap Bayu dengan cepat.
Cira yang merasa iba pada niat baik Bayu kepadanya, hanya mengangguk setuju dan tersenyum tipis ke arah Bayu.
Bayu begitu bahagia ketika tidak ada penolakan dari Cira. Hatinya yang merindukan Cira kini terobati oleh kata setuju dari wanita yang begitu sangat ia cintai selama ini.
Bagaimana jika Bayu mengetahui tentang pernikahannya bersama Bara? Apa yang akan terjadi kepada Bayu? Apakah Bayu dapat menerima kenyataan itu dengan baik? Apakah senyum itu akan terus ada di wajahnya yang tampan? Cira tidak dapat membayangkan semua kenyataan akan kebenaran hidupnya sekarang.
Bayu menepati janjinya untuk mengantar Cira sampai ke ruang kesehatan. Di ruangan itu kosong setelah seorang perawat yang berjaga pergi untuk membelikan Cira minyak kayu putih yang ia perlukan. Kebetulan persediaan minyak kayu putih di ruangan itu habis.
Bayu yang sejak tadi telah mendapatkan banyak panggilan dari ponselnya, akhirnya mengalah dan pamit untuk pergi meninggalkan Cira sendiri di ruang kesehatan agar dapat beristirahat sejenak.
Namun sebelum pergi, Bayu yang sudah terbiasa untuk berpamitan dengan mencium sekilas bibir Cira, Gerakkan Bayu itu tidak dapat Cira cegah begitu saja. Itu terjadi dengan cepat atas keinginan Bayu sendiri.
Cira hanya dapat diam terpaku akan ciuman Bayu yang sudah lama tidak ia rasakan. Cira berkali-kali menghembuskan nafasnya yang terasa sesak dan berat.
"Maafkan aku Bayu. Aku banyak berbohong padamu. Aku belum bisa jujur kepadamu. Maaf jika aku sudah egois, karena tidak bisa berkata jujur yang akan membuat mu terluka. Aku bersalah kepadamu. Suatu saat nanti, semoga kamu dapat mengerti keadaan ku dan menerima semua keputusan pahit ini. Aku juga terluka di sini Bayu, aku sakit dan tidak berdaya." Ungkap Cira pelan dengan air mata yang tidak dapat ia tahan, ketika melihat Bayu begitu memiliki cinta yang tulus dan besar untuknya.
Cira belum sanggup berkata jujur kepada Bayu, dia tidak sanggup melihat Bayu terluka karenanya. Cira menangis dalam diam untuk waktu yang cukup lama, hingga tenang kembali sebelum seorang perawat datang membawakan minyak kayu putih yang di perlukan oleh Cira.
Cira kembali ke lantai atas dan duduk di balik mejanya, setelah membawa serta minyak kayu putih yang dapat membuat tubuhnya nyaman.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
__ADS_1
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya.