GURUN Merindukan PELANGI.

GURUN Merindukan PELANGI.
46. Perasaan Bimbang, Luka Hati Dan Cinta.


__ADS_3

***Rumah Sakit***


Bara melepaskan pelukkannya setelah merasakan ketenangan Cira. Tatapan mata mereka kini bertemu dan saling mengerti, apa yang mereka berdua rasakan atas kehamilan yang sudah di tunggu tunggu sangat lama oleh keluarga Daimos.


"Apa sudah lebih baik." Tanya Bara kepada Cira.


"Iya." Balas Cira dengan anggukkan kepalanya.


"Jangan pernah menangis lagi. Kamu harus selalu bahagia dengan perasaan yang nyaman. Itu baik untuk perkembangan bayi kita." Balas lembut Bara.


Cira terpaku tidak percaya akan kata 'kita' yang di ucapkan oleh Bara. 'Bayi kita'. Apakah itu bayinya dan Bara? Bukankah bayi itu bayi Bara dan Mona Daimos. Apakah bayi itu dapat di katakan bayi miliknya?


"Bayi ini sangat sehat di dalam perutmu." Ucap Bara sembari menyentuh dan membelai lembut perut Cira yang masih terlihat datar.


"Aku bahagia mengetahui dia telah hadir di dalam perutmu, dan sangat terharu bahagia mendengar detak jantungnya yang sangat sehat." Ceritanya mengingat apa yang tadi ia saksikan.


Bara ingin Cira juga tahu apa yang telah ia lihat dan dengarkan tadi. Bara ingin berbagi kebahagiaan yang ia rasakan kepada Cira. Senyum bahagianya tidak dapat ia sembunyikan saat menyentuh dan membelai perut datar itu.


"Detak jantungnya, apakah sudah terdengar?" Tanya Cira ingin kejelasan.


Wanita itu tahu jika kebahagiaan yang terlihat di wajah Bara adalah yang sebenarnya. Cira tahu betapa bahagianya Bara saat ini.


"Iya, jantungnya sangat sehat dengan detak jantung yang begitu teratur dan terdengar keras." Balasnya dengan senyuman yang begitu bahagia.


"Tuan bahagia…"


"Iya, tentu saja aku bahagia." Bara terus tersenyum untuk menanggapi perkataan Cira.


"Terima kasih, kau telah mengandung anak kita." Ucapnya sembari membelai lembut pipi Cira dengan tangan kanannya. Binar bahagia di dalam sorot mata Bara terlihat jelas.


"Anak kita. Bayi kita…" Ucap Cira dengan nada lemah. Dia masih sadar pada perjanjian kontrak yang mereka lakukan. Cira sadar bayi itu bukanlah miliknya, tapi milik Bara dan Mona Daimos.


"Tidak tuan…" Geleng Cira dengan lemah melihat ke arah Bara dengan tatapan yang begitu sedih dan terluka.


Tangan kirinya menyentuh tangan Bara yang ada pada pipinya, kemudian mengarahkan tangan itu ke arah perutnya. Bara melihat sejenak ke arah tangan mereka, lalu melihat kembali ke dalam sorot mata yang penuh akan luka dan kesedihan.


"Bayi ini bukan bayi kita. Bayi ini anak tuan dan tante Mona." Jelasnya dengan nada sedih dan pelan. Cira terluka saat mengatakan kebenaran itu, hatinya sakit saat mengatakan kalau bayi kandungnya bukanlah miliknya. Sakit dan penuh luka yang tidak terlihat.


"Selamat tuan. Selamat anda akan menjadi seorang ayah." Ucap Cira terdengar parau menahan sekuat tenaga kesedihannya. Namun air matanya tidak dapat berbohong, meluncur begitu saja akan rasa sakit dan luka yang ia rasakan saat ini.


Bara diam terpaku, hatinya seketika dapat merasakan rasa sakit dan luka itu saat ini. Bara dapat merasakan betapa rapuh dan sakitnya Cira untuk mengatakan jika bayi kandungnya adalah bukan miliknya, tetapi milik dirinya dan juga Mona. Bara sadar akan perjanjian itu.

__ADS_1


"Selamat juga untukmu, kamu akan menjadi seorang ibu." Balas Bara ingin menghibur Cira. Namun pada kenyataannya Cira semakin terluka mendengar kata 'menjadi seorang ibu' untuknya.


Sekuat tenaga Cira menahan isakkan tangisnya. Walaupun beberapa tetes air mata berhasil meluncur begitu saja tanpa dapat ia cegah.


"Terima kasih tuan. Terima kasih atas ucapan anda. Setidaknya saya menjadi seorang ibu selama masa kehamilan saya, setelah itu tidak lagi." Balas Cira masih mengingatkan mereka akan perjanjian yang nyata mereka jalani dan setujui.


Bara tahu Cira sangat terluka dan sedih akan kenyataan itu. Pria itu meraih tubuh Cira masuk ke dalam pelukkan dadanya yang bidang dan hangat. Membelai lembut rambut panjang Cira hingga ke punggungnya, ingin memberikan sebuah dukungan dan kenyamanan agar sedikit mengurangi rasa luka itu.


Bara memberikan Cira waktu untuk melepaskan semua kesedihannya dengan menangis puas di dalam dekapan hangatnya.


"Menangis lah…keluarkan semuanya…Setelah ini jangan pernah lagi menangis seperti ini. Aku mohon…!" Ucapnya dengan nada yang penuh akan kasih sayang. Bara menciun lembut pucuk kepala Cira yang terus bergetar akan isakan yang kini wanita itu keluarkan.


'Aku tahu kau terluka dan sedih akan kenyataan ini. Aku mengerti ini berat untuk mu. Seorang ibu yang mengandung anaknya, tetapi tidak dapat memiliki bayinya sendiri karena keadaan. Mengapa seperti ini jadinya? Akupun sakit melihat luka dan kesedihan di matamu. Apa aku bisa setegar dirimu? Apa aku bisa memisahkan mu dengan anak kita? Apa yang harus aku lakukan?' Gumam Bara bimbang dan bingung di dalam hatinya.


Bara tidak dapat melakukan apapun saat ini? Perjanjian kontrak di antara mereka adalah nyata dan memang itulah yang mereka inginkan. Namun mengapa kini Bara harus berada pada situasi yang terasa sulit di dalam hati dan pikirannya saat ini.


Satu sisi ada Cira dan bayinya di dalam perut wanita itu, Cira adalah istri kontrak yang akan menjadi ibu pengganti untuknya dan Mona. Satu sisi lagi masih ada Mona istri pertama yang sangat ia cintai dan menginginkan bayi itu. Dua wanita yang kini sama sama memiliki posisi penting di dalam hidup Bara.


Memilih tetap bersama Mona. Ia akan mendapatkan seorang bayi dan kebahagiaannya kembali bersama Mona. Itu artinya kehancuran untuk Cira yang akan kehilangan anak kandungnya. Sejak awal itulah rencana Bara dan Mona, jadi mereka tidak dapat mengubahnya lagi.


Namun entah mengapa? Luka dan kesedihan yang ia lihat dari sorot mata Cira membuat hatinya juga sakit. Bara sakit dan tidak rela melihat Cira berada di dalam kesedihan itu seorang diri, pria itu ingin melindungi dan membuat Cira selalu berada di dekatnya.


Kini hati Bara bingung dan bimbang, ia ada di dalam dua pilihan perasaan yang sulit untuk ia pilih saat ini. Antara Cira dan bayinya, atau Mona dan bayinya. Kebahagiaannya bersama Mona dan juga bayinya, atau kehancuran dan kesedihan Cira yang akan kehilangan bayinya. Hati Bara teremas sakit dan merasa merinding akan dua pilihan tersebut.


Saat ini Bara memutuskan hanya akan menjalankan semuanya dengan alur yang akan terjadi. Masih ada banyak waktu untuknya berpikir dan mengambil keputusan yang baik untuk mereka semua.


"Iya tuan. Maaf saya terbawa suasana hati yang kurang baik. Maaf kemeja anda jadi basah karena air mata saya." Balas Cira mencoba untuk tegar dan menerima semuanya.


Cira mengingat kembali akan balas dendam yang ingin ia lakukan. Rasa sakit dan luka tadi ia rasakan, membuatnya semakin yakin akan balas dendam yang ia rencanakan. Bayinya adalah salah satu senjata untuk menaklukkan Bara Daimos. Itulah yang kini ia pikirkan.


'Maafkan mama sayang…maafkan mama karena menggunakan mu untuk jalan balas dendam kepada mereka. Mama tidak ingin kehilangan mu sayangku…kamu adalah satu-satunya keluarga yang mama miliki di dunia ini, jadi mama akan berusaha sekuat yang mama bisa lakukan untuk mempertahankan mu nak…Bertahan lah dan sehat selalu di dalam perut mama…! Mari kita sama-sama berjuang untuk masa depan kita…!' Gumam Cira di dalam hatinya berbicara kepada bayinya. Itulah janjinya.


"Tidak apa apa. Jangan terlalu banyak pikiran dan berusahalah untuk menjaga perasaan mu agar tetap bahagia. Kamu dan bayi ini harus tetap sehat dan bahagia sampai pada waktunya ia lahir ke dunia. Kamu mengerti…!" Ucap Bara ingin mencairkan suasana di antara mereka.


Bara tahu jika suasana hati Cira begitu sensitif karena barada pada masa awal kehamilan. Suasana hati ibu hamil sering berubah-ubah mengikuti situasi yang terjadi di sekelilingnya. Bara ingin mengerti itu, dan hanya ingin yang terbaik untuk Cira dan bayinya.


"Iya, saya mengerti tuan. Maafkan saya…!"


'Cup.' Satu ciuman mendarat pada bibir Cira untuk menghentikan perkataan wanita itu.


Cira diam terpaku melihat ke arah Bara.

__ADS_1


"Jangan katakan maaf, karena kamu tidak memiliki salah apapun." Ucapnya. Cira tahu jika sekarang ia harus patuh pada semua perkataan Bara. Menaklukkan Bara adalah tujuannya saat ini, dengan cara membuatnya bahagia dan nyaman, agar Bara jatuh cinta kepadanya.


'Cup.' Satu kecupan Cira mendarat pada bibir Bara untuk membalas pria itu.


"Terima kasih tuan." Balas Cira mencoba senyum yang ia paksakan setulus mungkin.


Bara tersenyum melihat Cira kembali ceria dengan senyum yang memperlihatkan dua lesung pada pipinya. Menghangatkan hatinya yang tadi bimbang dan bingung akan permasalahan hati dan perasaan yang ia pikirkan.


"Jalani semuanya dengan nyaman dan bahagia. Aku harap kamu akan menjaga bayi ini dengan tumbuh kembangnya dengan baik."


Kembali Bara membelai perut datar Cira. Perlahan Bara menundukkan kepalanya ke arah perut Cira, lalu berkata.


"Sehat terus di dalam perut mama ya sayang. Jangan nakal dan buat mama susah. Jadilah anak yang baik dan pintar. Mama dan papa akan selalu menyayangimu, dan menantikan kehadiran mu ke dunia ini." Ucap lembut Bara yang kembali menusuk hati Cira akan kehangatan yang bukan nyata untuknya, itulah yang saat ini Cira rasakan.


Air matanya kembali meluncur begitu saja, segera Cira hapus dan berusaha membalikkan perasaannya untuk baik baik saja. Bertahan di dalam rasa sakit itu.


Bara mengecup sayang perut Cira, seakan ingin memberikan sebuah ciuman sayang kepada bayinya yang ada di dalam perut Cira.


"Iya papa…Adek bayi akan selalu sehat dan tidak akan nakal. Adek bayi juga sayang sama papa dan mama." Balas Cira ingin merubah suasana mereka yang sempat tidak nyaman.


Bara mendongak melihat ke arah Cira yang tersenyum ke arahnya.


"I love you…!" Balas Bara tersenyum ke arah Cira.


Cira diam terpaku akan kata-kata cinta yang di lontarkan oleh Bara melihat ke arahnya.


'I love you. Tidak mungkin kan kata-kata itu di tujukan untuk ku, itu pasti untuk bayinya. Apa yang ada dalam pikiran ku…? Sialan…!!' Gumam Cira di dalam benaknya.


"I love you papa…!" Balas Cira dengan senyum dan mencoba mengatakan kata cinta itu untuk anaknya.


Bara tersenyum dan kembali mencium sayang perut Cira. Ada perasaan yang begitu berbeda dan hangat yang Bara rasakan saat ini. Kata cinta yang terlontar dari wanita lain selain Mona, kata cinta yang di tujukan untuk bayinya.


Tanpa mereka sadari, jika perasaan dan kata cinta itu sudah tertanam jauh di dalam hati mereka yang tidak terlihat. Mereka menutup semuanya dengan alasan dan tujuan mereka masing-masing. Apakah akan ada benih yang akan tumbuh dan berkembang? Ataukah perasaan itu hanya bibit yang tertanam dalam dan akan segera mati serta menghilang begitu saja? Hanya mereka dan waktu yang akan menjawabnya.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....

__ADS_1


Jangan lupa vote dan like nya.


__ADS_2