
***Perusahaan Daimos Grup***
Cira berdiri tegak di hadapan meja kerja Bara. Dia di minta untuk menghadap Bara selaku presdir dari perusahaan Daimos grup. Dengan di dampingi oleh Lian, Cira merasa dirinya aman dan harus bersikap profesional dalam pekerjaannya.
"Semua berkas dan beberapa laporan yang sudah kamu perbaiki, sangat bagus dan memuaskan. Jadi mulai besok dan seterusnya kamu menjadi sekretaris sekaligus asisten kedua untuk ku di perusahaan ini. Aku harap kamu bekerja dengan baik sampai waktu yang telah di tentukan, ini sudah masuk ke dalam perjanjian kontrak yang sudah kamu tanda tangani. Apa kamu mengerti?" Tanya Bara dengan raut wajahnya yang terlihat serius dan tatapan matanya yang dingin.
Cira memandang pria dingin yang ada di hadapannya tersebut dengan raut wajah yang berusaha dia atur seramah mungkin. Pria dingin yang merupakan suami sahnya sejak kemarin, kini akan menjadi atasannya untuk beberapa bulan ke depan. Nasib dan takdir apa yang sedang ia jalani serta terima saat ini?
"Iya tuan. Saya mengerti." Balas Cira pada akhirnya, dengan sikap sopan selayaknya bawahan dengan atasannya.
"Baiklah, kamu tanyakan pada Lian apa saja pekerjaan yang harus kamu lakukan selanjutnya, dan semua jadwal ku yang harus kamu ketahui." Ucapnya melihat ke arah Lian sebagai perintah untuk wanita yang ada di samping Cira.
"Baik tuan." Balas Cira singkat.
"Lian, arahkan dia menjadi sekretaris seperti dirimu, dan bukan seperti sekertaris-sekertaris ku yang lainnya dulu. Kamu mengerti…!!" Ucap Bara tegas kepada Lian.
Lian tahu apa yang di maksudkan oleh Bara? Bara ingin Lian memperingati dan memberitahukan Cira agar bekerja dengan serius dan bukan bekerja dengan modus untuk menggoda Bara.
"Baik tuan. Saya mengerti." Balas Lian mengerti.
"Baiklah, lanjutkan pekerjaan kalian." Balas Bara ingin Cira segera pergi dari hadapannya, dia masih tidak nyaman berada dekat dan berlama-lama bersama Cira. Bara butuh waktu untuk menyesuaikan situasi mereka.
"Baik tuan, kami permisi." Balas Lian menganggukkan kepalanya tanda mengerti, kemudian menuntun Cira untuk keluar dari ruangan tersebut.
Lian dapat menangkap jika Bara tidak nyaman melihat Cira berlama-lama berada di hadapannya. Lian cukup ahli dalam melihat situasi dan perubahan sikap dari tuan sekaligus temannya tersebut. Dari pada akan menjadi masalah bagi Cira, Lian lebih cepat menarik kembali Cira agar pergi menyingkir dari hadapan pria dingin dan arogan tersebut.
Cira dan Lian dapat bernafas lega setelah mereka duduk pada kursi mereka masing-masing. Terdengar jelas kedua wanita itu menghembuskan nafas leganya secara perlahan.
"Selamat ya Cira, pekerjaan mu mendapatkan pengakuan dari tuan Bara." Ucap Lian memberikan selamat kepada Cira.
Cira melihat ke arah Lian, dia pun tersenyum melihat Lian tersenyum tulus kepadanya.
"Terima kasih mbak." Balas Cira tersenyum melihat keramahan dari wanita yang akan menjadi teman sekantornya mulai sekarang.
"Pekerjaan mu pasti sangat bagus dan rapi. Tidak biasanya tuan Bara dengan mudah mengakui sebuah pekerjaan yang di lakukan oleh karyawannya, apalagi kamu adalah karyawan baru di sini. Itu artinya, cara kamu bekerja sangat memuaskan bagi tuan Bara." Jelas Lian panjang lebar. Sedangkan Cira yang tahu bagaimana kemampuannya? Hanya bersikap biasa saja. Dia tidak ingin besar kepala, Dia tahu bagaimana profesionalnya Bara dalam bekerja.
"Tidak juga mbak. Mungkin tuan Bara merasa tidak enak hati terhadap tante Mona yang sudah merekomendasikan saya kepada tuan Bara. Sehingga tuan Bara mengakui pekerjaan saya." Balas Cira berusaha merendahkan dirinya.
Dia tidak ingin menjadi pusat perhatian, dia ingin bekerja dengan tenang tanpa masalah, hingga batas waktu yang sudah di tentukan oleh Mona dan Bara.
__ADS_1
"Sepertinya bukan seperti itu, aku sangat tahu bagaimana sifat dan sikap tuan Bara yang tegas dan tidak mudah untuk mengakui sesuatu yang memang perlu di akui olehnya. Jika tuan Bara mengakui pekerjaan orang tersebut, itu artinya pekerjaannya memang bagus dan memuaskan bagi tuan Bara."
"Saya bersyukur jika pekerjaan yang saya lakukan, dapat memuaskan untuk tuan Bara. Jadi saya tidak mengecewakan dan membuat malu tante Mona yang sudah memberikan kepercayaan ini kepada saya."
Cira hanya bisa menjawab dengan sikap dan perkataan yang tidak mencurigakan, mulai sekarang Cira harus bisa terbiasa akan kondisi dan situasi yang akan dia hadapi ke depannya.
"Seperti yang aku lihat, caramu bekerja cukup membuat tuan Bara harus berpikir dua kali jika ingin menolak kehadiran mu di perusahaan ini. Tidak banyak orang memiliki kemampuan yang dapat di akui oleh tuan Bara. Aku harap kamu bisa bekerja lama di perusahaan ini." Harapan Lian terhadap Cira.
Cira tidak bisa menjawab banyak, dia hanya tersenyum dan kembali melanjutkan pekerjaannya. Begitu juga Lian, tidak lupa ia juga memberikan semua daftar jadwal Bara kepada Cira. Sebagai seorang sekretaris sekaligus asisten pribadi, Cira harus tahu segalanya tentang perkejaan dan jadwal Bara yang akan mereka atur setiap harinya.
Beberapa jam telah berlalu, notifikasi pesan masuk ke dalam ponsel Cira. Ia pun melihat pesan tersebut berasal dari Kai, dengan segera Cira melihat pesan apa itu?
"Nona, nanti akan ada supir yang menjemput anda untuk pulang. Mobil dan supir anda menunggu di parkiran basement. Pulanglah tepat waktu, persiapkan semua kebutuhan tuan, dan makan malam untuk tuan Bara." Pesan Kai.
Cira melihat dan mengerti akan pesan tersebut. Bagaimana bisa ia pulang lebih dulu jika presdir perusahaan itu saja belum pulang. Situasi yang sulit kembali Cira dapatkan, itu semua ulah dari keinginan Bara yang tidak melihat situasi dan kondisi Cira saat ini.
"Bagaimana bisa pulang cepat, kalau dia saja tidak pulang lebih dulu." Gumam Cira pelan sembari menggenggam erat ponselnya yang sudah ia matikan.
"Ada apa Cira?" Tanya Lian yang mendengar suara Cira bergumam tidak jelas.
Cira sontak melihat ke arah Lian di sampingnya, dia tersenyum getir. Takut apa yang ia gumamkan terdengar oleh Lian.
"Tidak. Tidak ada apa-apa. Hari ini saya di minta segera pulang, mama meminta saya untuk cepat pulang. Tapi itukan tidak mungkin, bagaimana bisa cepat pulang jika tuan Bara masih belum pulang lebih dulu." Balas Cira berbohong.
"Iya mbak, saya mengerti. Saya akan katakan pada mama jika tidak mungkin bisa pulang cepat hari ini karena tuan Bara masih berada di kantor."
"Lebih baik seperti itu. Beri tahu mama mu agar beliau mengerti kondisi mu saat ini."
"Baik mbak." Angguknya mengerti harus berbuat apa akan saran Lian.
Cira segera membalas pesan Kai, sekaligus mencari keamanan untuknya. Dia cukup lelah hari ini dengan begitu banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan.
"Maaf tuan Kai… bagaimana bisa saya pulang lebih dulu, jika tuan Bara belum pulang. Maaf itu aturan yang saya tahu sebagai sekretaris tuan Bara. Tolong berikan saran anda untuk saya. Terima kasih." Balasan pesan Cira kepada Kai.
Pesan masuk lagi, balasan dari Kai.
"Tuan tidak mau tahu, anda harus melakukan apa yang tuan perintahkan. Pesan dari tuan, mulai belajar mengatur segalanya dari sekarang." Balasan pesan Kai.
Rahang Cira mengeras menahan marah akan balasan pesan dari Kai. Bagaimana bisa ia mengatur waktunya yang memang tidak bisa di atur seperti keinginannya. Cira tahu ini hanyalah hukuman dari Bara untuknya, lebih baik pasrah karena tidak bisa berbuat apapun.
__ADS_1
"Baik tuan." Balasan singkat Cira. Dia sudah pasrah, mau di hukum ataupun tidak. Itu terserah pada Bara sendiri.
Cira cukup kesal setelah membaca pesan yang tidak masuk akal baginya. Ponselnya pun di masukkan ke dalam tas, dia hanya akan menunggu waktunya pulang sembari melanjutkan pekerjaan hingga atasannya juga telah selesai dengan pekerjaannya.
Waktu berlalu begitu cepat, jam sudah menunjukkan waktunya untuk pulang bahkan lebih satu jam. Bara tidak kunjung keluar dari ruangannya. Lian yang sudah terbiasa pada jam kerja Bara, sudah menyelesaikan pekerjaannya dan bersiap untuk pulang begitu Bara keluar dari ruangannya.
Cira juga melakukan hal yang sama, dia harus cepat berlalu dari tempat itu begitu Bara keluar dari ruangannya untuk pulang. Cira harus bergerak secepat kilat, sedikit tidaknya ia berusaha untuk mencegah masalah baru yang akan muncul dan yang akan ia dapatkan.
Beberapa menit kemudian, Bara dan Kai keluar dari ruangannya. Lian dan Cira berdiri tegak di balik meja sekretaris yang ada di depan ruangan presdir. Bara dan Kai dapat melihat jika Cira mengikuti peraturan yang sudah ada.
Tanpa berkata, hanya melirik sekilas. Bara melangkah begitu saja melewati Lian dan Cira. Begitu Bara masuk ke dalam lift khusus untuk presdir, Cira dengan cepet berlari ke dalam lift untuk para karyawan tanpa pamitan sama sekali kepada Lian. Dia harus mengejar waktu untuk menipiskan masalah yang akan timbul.
Lian hanya diam terpaku melihat sikap Cira, namun ia tidak ambil pusing. Lianpun pulang tanpa curiga ataupun berpikir aneh tentang Cira.
Sedangkan Cira, begitu sampai pada parkiran basement. Dengan secepat kilat ia mencari mobil yang di maksudkan oleh Kai. Begitu bertemu dengan supir yang kemarin mengantarkan dirinya ke apartemen setelah acara pernikahan, dengan secepat kilat Cira meminta sang supir untuk duduk pada bangku samping kemudi, karena dia sendiri yang akan mengemudikan mobilnya.
Cira ingin lebih dulu berada di apartemen sebelum Bara. Dia cukup mengemudikan mobilnya dengan secepat yang ia bisa, hingga tanpa sadar ia mendahului beberapa mobil yang akan keluar dari parkiran basement. Hingga terdengar beberapa klakson dan umpatan dari pemilik mobil yang terkejut akan laju mobilnya yang cepat mendahului mereka.
Cira tidak peduli akan umpatan dan suara klakson di belakangnya, yang ia inginkan cepat berada di apartemen sebelum Bara pulang, dan tidak mendapatkan masalah atau hukuman. Cira cukup lelah dan letih yang tentu saja tidak akan kuat menerima hukuman dari Bara.
"Sial…Aku seperti anak kecil yang sangat takut akan di hukum." Gumam Cira di sela-sela mengebut saat ia mengemudikan mobilnya.
"Nona…pelan sedikit, berbahaya…ini jam pulang kantor. Jalanan begitu padat kendaraan." Ucap sang supir terlihat takut dan berpegangan erat pada sabuk pengamannya.
Cira begitu mengebut dan mengemudikan mobilnya seperti seorang pembalap di sirkuit. Supir yang sudah lama bekerja bersama Bara tidak percaya, melihat seorang wanita muda yang begitu ahli mengemudikan mobilnya dengan cepat dan meliuk-liuk mendahului beberapa kendaraan lainnya. Supir tersebut takut jika ajal sewaktu-waktu menjemputnya saat ini.
Beberapa doa ia lontarkan, dan terus berteriak memperingati Cira untuk menurunkan kecepatan laju mobilnya.
"Tenang pak. Kita akan sampai dengan selamat. Begitu pun hari ini, aku akan selamat dari hukuman." Balas Cira berusaha menenangkan sang supir yang terlihat takut dengan mulut yang bekomat kamit membaca beberapa doa, berharap agar mereka selamat hari ini dan di jauhkan dari kecelakaan lalu lintas.
Cira mengemudikan mobilnya di atas kecepatan rata-rata, untungnya tidak ada aparat yang sedang berjaga di jalan raya. Cira begitu ahli dan cekatan dalam mengatur laju dan jarak mobil yang ia kendarai, hingga selamat sampai tujuan dalam waktu 15 menit. Waktu perjalanan pulang ke apartemen yang seharusnya di tempuh 25 menit perjalanan. Cira mampu sampai dengan selamat hanya dalam 15 menit saja.
Cira berlari masuk ke dalam loby, dan segera masuk ke dalam lift untuk menuju ke dalam apartemen yang ia tempati sekarang. Meninggalkan sang supir yang masih gemeteran karena takut akan ulah Cira.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
__ADS_1
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya.