
***Rumah Sakit***
Selama tiga hari Cira telah di rawat pada rumah sakit yang memiliki kerja sama dengan perusahaan Daimos grup, kini kondisinya mulai stabil kembali. Selama tiga hari juga, Bara selalu menemani Cira di sana dengan membawa serta pekerjaannya ke rumah sakit oleh bantuan dari asistennya Kai.
Di siang hari Kai dan Bara akan bekerja untuk beberapa jam di dalam salah satu ruang tunggu pasien yang ada di dalam ruang perawatan Cira, sehingga tidak membuat istirahat Cira terganggu. Selama tiga hari juga, Cira tidak di ijinkan untuk memegang ponselnya yang telah Bara tahan dan sita.
Bara tidak ingin Cira melakukan kontak dengan siapapun. Bara ingin Cira tenang tanpa gangguan dari orang lain. Bara menonaktifkan ponsel tersebut, agar Cira tidak mendapat notifikasi apapun. Bara melakukan itu agar Cira cepat pulih dengan istirahat yang cukup dan tenang tanpa gangguan dari orang lain. Walaupun Cira tersiksa akan rasa bosan, tetapi dia berhasil untuk bertahan selama tiga hari ini.
Setelah selesai pemeriksaan dokter spesialis kandungan, dan mengetahui kondisi bayi yang ada di dalam kandungannya sehat, serta mendengarkan detak jantung bayinya. Cira terharu serta bahagia mengetahui jika bayinya sangat sehat dan berkembang dengan baik tanpa masalah sedikitpun. Bara yang juga selalu setia menemaninya ikut senang dan bahagia.
Mereka pulang dengan hati yang gembira atas kondisi bayi mereka yang terlihat sehat dan berkembang baik.
...--------------------------------...
***Apartemen Mewah Bara Daimos***
Kini di sinilah mereka berada, di apartemen mewah Bara, tempat Cira seharusnya berada. Kedatangan mereka sore itu di sambut oleh Mery dan juga Mona yang datang berkunjung.
Bara dan Cira cukup terkejut akan kehadiran Mona di sana, tetapi baik Cira dan Bara dapat menyembunyikan keterkejutan mereka di hadapan Mona yang menyambut kedatangan mereka dengan senyum manisnya. Mona memberikan sebuah pelukkan dan ciuman hangat untuk Bara tepat di hadapan Cira.
Cira mulai terbiasa akan pemandangan itu. Suami istri yang terlihat bahagia dan harmonis serta serasi. Cira hanya dapat mengalihkan pandangan matanya ke arah lain dan juga sesekali menundukkan kepalanya.
Cira merasa tidak suka melihat pemandangan itu, tetapi dapat ia tahan sekuat hatinya. Wanita itu sadar di mana posisinya. Ada rasa sakit melihat kemesraan mereka, apakah Cira mulai cemburu? Iya, rasa cemburu itu mulai timbul di hatinya. Namun dapat Cira tahan dan pura-pura terlihat biasa saja di hadapan dua orang dewasa itu.
Bara sempat melirik Cira sekilas. Dia merasa cukup tidak nyaman akan sikap intim dan mesra Mona di hadapan Cira. Bara merasa seperti suami yang tengah terang-terangan berselingkuh di hadapan istrinya. Walaupun kedua wanita itu adalah istrinya yang sah saat ini. Bara cukup aneh akan perasaannya yang kini timbul dan ia rasakan berbeda.
Malam itu tiba-tiba Mona ingin menginap dan tidur di apartemen, untuk mencari suasana baru. Baik Cira dan Bara tidak dapat membantah, hanya dapat menerimanya. Namun anehnya, Mona menginginkan dirinya dan Bara tidur di dalam kamar tamu yang berada di depan kamar Cira dan Bara.
Tanpa bantahan apapun, Cira hanya bisa setuju. Lagi pula dia tidak memiliki hak untuk mengatakan pendapatnya.
Setelah makan malam bersama yang sangat menyiksa Cira, dengan pemandangan mesra dua insan yang terlihat hangat, bahagia dan mesra di hadapannya. Membuat selera makan Cira terganggu, tetapi karena memikirkan tumbuh kembang sang bayi Cira terpaksa menelan makanannya malam ini.
Malam semakin larut, suasana malam yang dingin membuat setiap insan akan terlelap tidur di dalam selimut hangat mereka. Jam sudah menunjukkan pukul satu malam di saat Cira merasakan sebuah sentuhan di tubuhnya.
Cira sontak membuka matanya karena pelukkan hangat dari arah belakang tubuhnya. Saat Cira ingin berontak bangun, tangan besar itu menghalangi pergerakkan tubuhnya.
"Diam sebentar. Biarkan seperti ini untuk beberapa saat saja." Ucap Bara dari arah belakang tubuh Cira.
Bara datang malam itu ke dalam kamarnya, ingin memeluk tubuh Cira dan membelai sayang bayi yang ada di dalam perut Cira saat ini. Tidurnya bersama Mona gelisah, karena pikirannya terus terfokus pada Cira dan bayinya.
"Tuan…ini sudah malam, kenapa tuan datang ke sini? Nanti tante Mona mencari tuan." Balas Cira.
__ADS_1
"Mona sudah tidur, hanya sebentar. Biarkan seperti ini…!" Balasnya.
Bara meresapi aroma rambut Cira yang sudah menjadi candu barunya. Aroma yang mampu menenangkan pikirannya yang gelisah. Selama tiga hari bersama setelah kabar kehamilan Cira, Bara nyaman membelai perut datar Cira sebelum tidur. Itulah yang kini Bara lakukan, dan hatinya benar-benar nyaman akan hal itu.
Cira tahu ada yang berubah pada sikap Bara beberapa hari ini. Dia pun mencoba keberuntungannya untuk terus melancarkan rencana balas dendamnya. Cira perlahan membalik tubuhnya menghadap ke arah Bara.
Tatapan keduanya kini saling memandang, Cira melihat tatapan teduh itu terlihat berbinar rindu kepadanya. Cira suka melihat itu. Bara selalu merindukan suasana nyaman itu dari Cira.
Tuhan begitu berkuasa akan anugrah dan kebesaranNya. Mudah dengan cepat membalikkan setiap perasaan manusia, begitulah yang Bara alami sekarang. Awal membenci dan tidak suka terhadap kehadiran Cira. Kini Bara selalu merasakan rasa nyaman akan kehadiran Cira, Bara seakan tidak bisa jauh terlalu lama dari wanita itu.
"Tuan merindukan saya atau adek bayi?" Tanya nya dengan sedikit berbisik.
Bara menatap mata teduh Cira dengan penuh binar bahagia dapat memeluk tubuh istri keduanya tersebut.
"Dua duanya." Balasnya begitu saja tanpa pikir panjang.
Cira tersenyum mendengar jawaban itu. Ia pun mencium bibir Bara dengan sedikit pagutan yang cukup dalam untuk Bara. Tentunya Bara menyambut dengan senang hati ciuman manis yang selalu ia nantikan.
"Apa sudah cukup seperti ini?" Tanya Cira setelah melepaskan ciuman hangat mereka.
Bara memandang wajah Cira di dalam remangnya cahaya lampu kamar. Begitu terlihat cantik di matanya, walaupun wajah itu polos tanpa polesan apapun. Cukup cantik dan manis yang tidak akan bosan untuk Bara pandang.
"Akan cukup jika kita melakukan sesuatu malam ini. Aku menginginkannya." Balas Bara dengan kilat yang mulai terlihat n*fsu di dalamnya.
Tentunya Mona akan marah jika mengetahui hubungan yang terlihat hangat dan selalu intim antara Bara dan Cira. Hubungan dekat yang di perlihatkan oleh Cira dan Bara, hubungan yang seharusnya di ketahui hanya sebatas pernikahan kontrak saja.
"Tapi tuan, malam ini ada tante Mona. Saya takut jika ketahuan." Balas Cira mencari alasan agar malam ini mereka tidak melakukan hubungan itu.
"Mengapa mesti takut, kau adalah istriku. Mona tahu itu, jadi tidak ada alasan dia harus marah." Balas Bara tidak ingin ada penolakan dari Cira.
"Tapi tuan…Kenapa tidak melakukan itu dengan tante Mona saja…?" Pertanyaan yang sungguh membuat Bara mati kutu.
Cira benar. Ada Mona malam ini di apartemen mereka, mengapa Bara tidak melakukan hal itu bersama Mona jika memang menginginkannya? Bara kembali pada pikiran dan keinginannya, Bara hanya menginginkan hubungan itu bersama Cira malam ini. Itulah keinginan kuat Bara malam ini.
"Aku menginginkannya darimu. Apakah salah…?" Tanya balik Bara yang membuat Cira membulatkan matanya tercengang.
'Ada apa dengan pria ini? Apakah istri pertamanya sudah tidak menarik lagi di matanya? Itu tidak mungkin. Ada tante Mona di sini, mengapa dia ingin melakukan itu dengan ku jika ada istri pertama yang sangat ia cintai di sini. Apakah hanya ada n*fsu jika melihat ku? Apakah tidak ada sedikit saja perasaan hatinya kepadaku?' Gumam Cira di dalam benaknya.
"Kenapa diam? Jangan bilang kamu tidak menginginkan aku." Tebak Bara melihat Cira hanya diam saja.
"Tidak tuan. Tentu saja saya selalu menginginkan tuan. Tuan tahukan, saya selalu suka berada dekat dengan tuan." Balasnya dengan suara mesra, dia tahu jika Bara mulai kesal akan setiap alasannya.
__ADS_1
Cira menampilkan senyum manisnya untuk membuat hati Bara meleleh kepadanya.
"Jika memang tuan menginginkan itu dari saya. Ayo kita lakukan, dengan senang hati saya akan memberikannya." Balas Cira tidak peduli jika dia terdengar murahan akan perkataannya itu.
Menaklukkan Bara saat ini lebih penting. Jadi Cira akan melakukan apapun untuk itu, walaupun harus menentang Mona sekalipun.
"Aku suka jika kamu patuh seperti ini. Kamu tahu bagaimana harus bersikap." Balasnya sembari membelai lembut pipi Cira dengan punggung tangannya.
'Aku terpaksa melakukan itu agar kau tidak marah padaku, agar kau bisa jatuh cinta padaku. Walaupun itu akan sangat sulit, karena aku tahu cinta mu hanya untuk tante Mona. Sesulit apapun jalanku saat ini, semua usaha akan aku lakukan. Sekalipun harus menghadapi tante Mona dan kemarahannya jika tahu semua ini.' Gumam Cira di dalam benaknya.
Cira tidak ingin membuang waktunya lebih lama lagi. Perlahan ia mendekatkan wajahnya untuk memberikan sebuah ciuman hangat pada bibir Bara, beberapa kecupan dan pagutan mulai mereka lakukan. Hingga ciuman hangat itu berubah menjadi ciuman panas, tanpa sadar posisi tubuh Cira sudah berada di atas tubuh Bara atas tuntunan dari pria itu.
Cira duduk di atas pangkuan Bara. Keduanya saling membantu melepaskan semua yang mereka gunakan saat ini, hingga terlihat polos tanpa sehelai benangpun. Ciuman Bara mengabsen setiap inci tubuh Cira, Bara memperlakukan tubuh itu begitu hati-hati dan lembut. Ia takut membahayakan bayi yang ada di dalam perut Cira saat ini.
Perlahan penyatuan tubuh mereka memberikan kenikmatan bagi keduanya. Beberapa rintihan dari mulut keduanya terdengar sebagai bukti kenikmatan yang mereka dapatkan bersama.
Pergerakan Bara lembut agar Cira tetap nyaman di masa awal kehamilannya. Tubuh Cira sungguh nikmat dan candu bagi Bara selama beberapa bulan ini, kenikmatan yang tidak dapat ia ungkapkan dengan kata-kata.
Keduanya begitu menikmati olah raga malam mereka. Hingga mendapatkan puncak kenikmatan yang seakan membawa terbang keduanya ke nirwana. Posisi Bara yang berada di belakang tubuh Cira, melepaskan puncak kenikmatannya sembari memberikan sebuah kecupan panjang dan mendekap tubuh wanitanya dengan erat.
"Aaahhh…Kamu selalu memberikan kenikmatan yang begitu membuat aku puas. Terima kasih." Ucap Bara di sela-sela mengatur nafasnya yang terengah-engah karena lelah.
Kecupan hangat di berikan Bara pada kening Cira setelah membalik tubuh wanita itu menghadap ke arahnya. Cira hanya dapat diam akan perlakuan hangat dan perkataan Bara kepadanya.
'Aku hanya mampu memberikan sebuah kenikmatan yang membuatnya puas. Hanya seperti itu aku di matanya.' Gumam Cira di dalam benaknya menanggapi perkataan Bara.
"Tidurlah. Aku akan menemanimu sampai kamu tertidur." Ucap Bara sembari memeluk tubuh Cira dan mulai membelai rambutnya yang tergerai sedikit berantakan.
Cira tidak banyak bicara, dia hanya menganggukkan kepalanya dan mulai mencoba untuk tidur kembali. Tidak membutuhkan waktu yang lama, Cira tidur dengan lelap. Itu semua pengaruh dari lelahnya olahraga raga malam mereka dan belain lembut Bara membuat matanya mudah mengantuk dan tertidur.
Tanpa mereka ketahui, jika Mona tahu segalanya. Kepalan kuat kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih menahan amarahnya malam ini. Mona kecolongan malam ini, sekaligus tahu satu hal. Mona mengetahui hubungan keduanya cukup baik, dan akan berbahaya bagi hubungannya dengan Bara.
Mona tahu harus seperti apa? Mona tidak ingin semua rencananya sejak awal gagal hanya karena semua ini. Mona akan melakukan sesuatu untuk mempertahankan apa yang sudah ia rencanakan? Mona adalah pemegang kendali dari semuanya.
Wanita itu kembali masuk ke dalam kamar tamu sebelum Bara keluar dari kamar panas itu. Mona akan bersikap tidak tahu apapun tentang kejadian malam ini? Walaupun di dalam hatinya sakit dan marah akan sikap Bara yang tidak pada biasanya. Mona akan menahan semua perasaan marah dan kecewanya malam ini terhadap sikap Bara yang mulai berubah.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
__ADS_1
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya.